Tampilkan postingan dengan label Action. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Action. Tampilkan semua postingan

Jumat, 10 November 2023

Film Yang Mengubah Atau Mempengaruhi Perspektif Saya Terhadap Sesuatu

Hello, udah lama banget ga nulis ya, udah setahun gila! Rasanya kata-kata ini udah sering saya ucapkan karena memang sudah sangat jarang menulis beberapa tahun terakhir. Sutralah, let it flow aja, kapan mau buat ya buat, kapan ngga ya ngga, ga usah dipaksakan. Oche! Langsung aja, kali ini saya mau berbagi tentang film-film apa saja yang pernah saya tonton dan membawa dampak atau pengaruh dalam hidup saya, yang mengubah perspektif saya terhadap sesuatu. Dari yang tadinya tidak tahu menjadi tahu, dari yang tadinya berpihak pada A, bisa jadi sekarang berpihak kepada B, atau in the middle of grey area that is in doubt, atau bahkan secara tak langsung menjadi titik awal dalam membuat prinsip baru dalam hidup saya.


Apa saja itu? Berikut daftar dan ulasan singkatnya. Tapi saya warning dulu ya, karena tulisan ini mengharuskan saya menceritakan bagian filmnya yang mana yang telah mempengaruhi saya, maka artikel ini akan mengandung spoiler dari film-film berikut ini beserta level spoilernya minor atau major:
 
Jurassic Park (1993) : No Spoiler
V For Vendetta (2005) : No Spoiler
Mission Impossible II (2000) : Major Spoiler
Minority Report (2002) : No Spoiler
Shutter Island (2010) : Minor Spoiler
The Host (2013) : No Spoiler
A Clockwork Orange (1971) : Major Spoiler
Dogtooth (2009) : Major Spoiler
The Truman Show (1998) : Major Spoiler
Prometheus (2012) : No Spoiler
Alien : Covenant (2017) : No Spoiler
The Hunger Games : Mockingjay - Part II (2015) : Major Spoiler
Snowpiercer (2013) : Major Spoiler
Seobok (2021) : Major Spoiler
Tomorrowland (2015) : No Spoiler

1. Jurassic Park

Ketika saya SD, sekolah saya mengadakan "tur" ke bioskop dan saya ikut di dalamnya. Jurassic Park adalah film yang kami tonton, di bioskop Sumatra 21, Kota Jambi. Itu adalah untuk pertama kalinya saya ke bioskop dan mengenal yang namanya film bioskop. Dengan studio indoor, bangku yang nyaman, layar super besar dan suara menggelegar, ditambah pula dengan kebetulan film yang ditonton adalah film maha dahsyat saat itu, Jurassic Park, alhasil saya yang masih kecil itu pun sangat terkagum dengan apa yang telah mata saya konsumsi. Since then, saya tau rasanya pengalaman nonton film, dan itu lah yang menjadi katalis yang mengarahkan saya untuk punya hobi nonton, mulai dari Layar Emas RCTI, Bioskop Trans TV, Rental Odiva, hingga menjadi "saya saat ini". Dan saya yakin, I'm not the only 90s kid that had their life changed after watching this film. Bener kan? 😁

2. V For Vendetta (2005)

Meskipun saya suka nonton dari dulu, tapi selera tontonan saya sampai semasa kuliah itu masih saya batasi pada genre popcorn movie, seperti film-film superhero, action dan komedi, sebut saja masa itu Hancock, Green Hornets, Charlie's Angels, Rush Hour, Godzilla, White Chick, Click, even American Pie dan Scary Movie dkk. Suatu waktu, saya melihat ada cover VCD yang eye-catchy di barisan film action tempat saya biasa menyewa film, Odiva. Dengan jubah seperti Zorro, topeng badut dan dua bilah belati, I was totally thinking bahwa ini keknya film superhero baru deh, keknya keren deh, coba ah.

Setelah nonton barulah tahu kebenarannya ini film apa. Bener sih memang film superhero, but it wasn't  like my ordinary superhero jaman itu. V adalah sosok antihero dalam plot cerita yang tidak umum bagi sebuah film yang memiliki sosok superhero. Temanya cukup berat dan kompleks, tentang misteri identitas, konspirasi politik, tirani, anarkisme, fasisme dan hak asasi. Anehnya, meskipun temanya berat bagi saya yang masih lugu saat itu, tapi saya tetap bisa tenggelam dalam alur ceritanya yang intense, seperti terpesona oleh dialog V yang selalu diintonasikan dengan kharismatik itu. Terlebih lagi aksi fighting V yang super duper cool itu, epic, dan endingnya yang sangat klimaks itu, I was totally amazed. Sejak saat ini, perspektif saya tentang batasan film berubah, saya tidak lagi hanya mengkonsumsi popcorn movie tapi mulai merambah film-film misteri, yang kompleks, temanya ga umum, meskipun frekuensinya masih sekali-sekali, karena keterbatasan pilihan sumber daya kala itu, belum seperti saat ini. Thanks V.

3. Mission Impossible II (2000)

Meskipun ini sering tayang di TV, tapi saya nontonnya jaman rental VCD pasca V For Vendetta. Secara level ini masih tergolong popcorn movie dengan actionnya yang keren. Film ini yang menggugah pola pikir saya dalam melihat setiap fenomena atau kasus. Bagian yang mananya? Bagian opening kalau ga salah saat si profesor menjelaskan tentang virusnya yang kurang lebih artinya begini : 

"What is the thing that every hero need? A villain".

Dalam film itu, si profesor menciptakan virus mematikan sebagai "villain" agar antivirusnya sebagai "hero" dapat laku. Hmm...kok kayak familiar di masa Pandemi kemarin ya? 😏 Tapi film ini rilis sebelum itu, jangan-jangan....😅

Pola pikir seperti ini disebut dengan teori konspirasi. Saya yang masih lugu tiba-tiba tercerahkan. Sejak saat itu, setiap kasus selalu tak luput dari pola pikir konspirasi ini, yang bagi saya sangat membantu dalam mengambil tindakan secara bijak, untuk tidak terlalu terburu-buru mengambil kesimpulan dan menilai atau mengutarakan sesuatu. Saya selalu melihat sesuatu dari dua sisi berbeda, otak saya mensimulasikan secara fiktif segala kemungkinan skenario, yang menganggap bahwa sesuatu bisa saja ada dalangnya, yang ingin mengambil keuntungan dengan cara menciptakan masalahnya terlebih dahulu. Kalau dalam dunia perfilman sudah banyak yang menggunakan plot konspirasi sehingga terkadang predictable.

Teori ini bisa saja diterapkan dalam dunia nyata, namun akan menjadi pikiran yang sangat liar tanpa batas dan dapat menyasar ke sektor apapun. Contohnya seperti politik, incumbent dan koalisi harus membutuhkan oposisi agar mereka bisa terlihat sebagai protagonis dan baik untuk elektabilitas mereka, upsss.... seperti dalam video di channel Helmi Yahya dengan thumbnail "Koalisi dan Oposisi adalah Saudara Kembar Yang Pura-Pura Musuhan". 

Senin, 29 Agustus 2022

Review : Mencuri Raden Saleh (2022) - The best Indonesian film so far yang berkualitas Internasional.

Sinopsis :

Piko, adalah seorang mahasiswa yang punya "usaha sampingan" sebagai pelukis, tapi khusus hanya membuat lukisan tiruan yang akan dianggap seolah-olah itu asli dan bisa dijual mahal oleh galeri. Kali ini, dia butuh uang yang besar, jadi dia terpaksa ambil job besar pula. Yaitu menduplikat lukisan milik Istana Negara karya Raden Saleh.

Tapi job ini malah membawanya ke misi yang lebih dari sekedar "melukis".
Ini menjadi misi heist yang sulit. Dapatkah dia dan teman-temannya melakukan ini dengan sukses?

Review :

Gila! Keren parah! Saya ga ekspektasi apa-apa. Tapi dapatnya luar biasa. Ini film harus mendapat pujian setinggi langit. Harusnya ini yang "Udah 7 juta penonton ikut mencuri lukisan Raden Saleh". Tonton lah rame-rame. Jadikan ini film terlaris Indonesia. Jangan cuma larisin film-film setan. Agar film Indonesia makin berkembang. Untuk ukuran film Indonesia ini mah udah sangat jauh diatas rata-rata kualitasnya, bahkan boleh dibilang ini udah level internasional. Plot, twist, action dan komedinya bahkan ga berasa film Indonesia sama sekali. This is the best Indonesian film so far.

Alur ceritanya ga gampangan. Tapi bukan berarti rumit ya, tetap bisa dinikmatin oleh setiap orang. Cuma ada plot twist beberapa kali yang unpredictable. Cukup untuk membuat kita betah dan fokus pada filmnya. Rasanya udah lupa entah kapan terakhir kali saya bisa betah dan fokus nonton film Indonesia. Dan untungnya film ini tidak menggunakan bahasa yang kaku, mereka sangat natural dalam berdialog.

Jumat, 26 Agustus 2022

Review Gringo (2018) : Kisah orang paling sial dalam sebuah komedi mega kebetulan

Apa jadinya jika setiap orang yang sebenarnya profesionallo tapi malah bertindak amatiranno?? Ya film ini nih jadino..

Harold adalah seorang manajer di sebuah perusahaan farmasi. Sedangkan temannya yang bernama Richard menduduki jabatan diatasnya sebagai CEO. Harold ini adalah tipikal orang yang lurus-lurus aja. Sementara Richard adalah seorang fakboy, yang punya affair dengan seorang manajer cewek bernama Elaine.

Saat ini perusahaan mereka sedang dalam masa proses merger dengan perusahaan lain. Dan jika proses udah memasuki tahap final, maka tentu akan ada pemangkasan karyawan, terutama di pos-pos penting seperti manajer. Oleh karena itu, Harold adalah salah satu yang bisa menjadi korban untuk kehilangan pekerjaannya.

Nah, sebelum deadline merger, mereka bertiga melakukan perjalanan dinas ke Mexico, tempat dimana pabrik obat mereka berada. Namun tanpa sepengetahuan Harold, ternyata Richard dan Elaine selama ini melakukan bisnis gelap, yaitu menjual bahan baku obat mereka yang berbahan marijuana ke kartel di Mexico. Dan perjalanan dinas mereka kesini tepatnya bertujuan untuk ngasih tau kepada kepala pabrik obat bahwa mereka tidak lagi bisa menyuplai marijuana kepada si bos kartel dikarenakan takutnya kalau ketahuan bisa menjadi penghambat proses merger perusahaan.

Mendengar hal ini, si bos kartel marah besar. Dia melakukan segala upaya demi tetap mendapatkan suplai marijuana tersebut. Alhasil, si bos berencana untuk menculik salah satu pejabat perusahaan dan memberikan ancaman untuk tetap mendapatkan suplai. Harold. lagi-lagi harus ketiban musibah, setelah kemungkinan besar akan dipecat, sekarang malah harus kena culik mafia.

Rabu, 10 Agustus 2022

Review film Alienoid (2022) : Tenet versi Korea

 
Alienoid (2022)

Nonton ini karena percaya dengan 2 film keren karya sutradaranya yang udah saya tonton : Assassination dan The Thieves. Dan juga diisi dengan castnya cukup bagus seperti Kim Tae Ri yang udah saya kenal dahulu di film karya sutradara hebat Park Chan Wook yang berjudul The Handmaiden, terus juga ada Lee Hanee yang keren di film Extreme Job. Sedangkan nama-nama lain, saya kurang familiar, mungkin main di drakor, saya hampir ga pernah nonton drakor soalnya. Hanya Kim Woo Bin yang sekali saya tonton di film Twenty. Selebihnya ya ada lah aktor-aktor yang pernah sesekali saya lihat di film Korea lainnya. Ada satu pemeran cilik yang mencuri perhatian yaitu Choi Yoo Ri yang berperan sebagai anak angkat alien.

Sinopsis :

Plot film dibagi menjadi 2 masa, yaitu masa kedinastian dan masa kini. Pada jaman kedinastian, ceritanya adalah tentang para master sihir yang sibuk mencari pedang sakti. Sedangkan pada jaman sekarang, ceritanya adalah ternyata selama ini bangsa alien memenjarakan tahanan mereka di dalam tubuh manusia. Dan para tahanan ini kalo kabur akan ditangkap oleh alien penjaga. Bangsa alien ini memiliki benda canggih yang bisa membuat portal waktu. Benda tersebut dapat memicu sebuah bencana besar bagi umat manusia.

Review :

Saya (dan sebagian penggemar drakor dalam teater itu) sangat beruntung bisa menyempatkan diri untuk menonton film ini di bioskop. Karena saat itu bioskop Indonesia kebanyakan "dihantui" oleh film-film setan dan membuat film ini tidak mendapatkan porsi yang semestinya, sebagaimana nasib film Gatotkaca kemarin.


Film ini sangat dahsyat, keren, epic, mereka punya segalanya untuk dapat dibilang selevel dengan film-film blockbuster Hollywood. Dengan budget terbesar hingga 300 milyar rupiah, mereka mampu menghadirkan visual effects yang TOP BGT. Trus juga scene-scene actionnya gila-gilaan, speechless.

Bayangin aja gimana kalo ada film scifi tapi settingnya di jaman kedinastian? Nah begini lah kira-kira. Sebuah ide yang unik bukan? Ide ini dituang ke dalam cerita yang kompleks, timeline yang dibolak-balik. Berasa seperti nonton film Tenet-nya sang baginda Lord Nolan versi Korea. Memang butuh konsentrasi untuk dapat mencerna plot yang agak rumit ini. Sepanjang 2,5 jam durasinya otak kita ga diberi waktu untuk istirahat mikir. Maka dari itu saran saya nikmatin aja dulu, kayak slogan film Tenet :

Don't try to understand it, feel it!

Setelah nonton baru deh enak untuk dibahas. Apalagi ternyata ini baru part 1 nya, tahun depan langsung rilis part 2 nya, keknya Lee Hanee beraksi, can't wait! Sudah diduga soalnya ada aktris sekelas Lee Hanee ga mungkin dikasih cuma peran segitu doank. Dengan pembagian seperti ini cukup memberi ruang pengenalan backstory yang layak, jadi penonton dapat memisahkan benang merahnya. Plotnya ga terkesan buru-buru ingin selesai.

Sekalipun film ini kompleks, namun tetap diselingi dengan beberapa scene komedi komikal, yang membuatnya jadi ringan dan para penonton pun tertawa. So, film ini dapat diterima oleh setiap kalangan.


Kamis, 18 November 2021

Review non spoiler film Tropic Thunder (2008) : Salah satu film komedi terbaik dengan satirisme tingkat tinggi terhadap Hollywood itu sendiri

Diisi cast yang megah seperti Robert Downey Jr., Ben Stiller, Jack Black, Tom Cruise dan Matthew McCoughnagey, film ini adalah film komedi yang sangat layak untuk diganjar Piala Oscar. Karena apa yang disajikan dalam film ini adalah level teratas pada masing-masing bidangnya hingga menghasilkan film komedi dengan kualitas humor tertinggi. Dimulai dari screenplay unik yang dibuat oleh Ben Stiller sendiri bersama dan Justin Theroux (penulis Iron Man 2), yang mana full referensi pop culture seperti film dan dunia bisnis film itu sendiri, trend piala Oscar, serta banyaknya line sarkastik dan smart jokes menjadikannya salah satu film komedi satir terbaik yang pernah ada, plotnya juga punya klimaks yang keren.
 
 
Disutradarai oleh Ben Stiller sendiri, yang saya anggap mampu membuat para aktor menampilkan mimik komedi tanpa harus terlihat melawak. Selain itu juga dia berhasil membuat film ini tidak melenceng dari target utamanya untuk menyindir "rumah" mereka sendiri, yaitu Hollywood. Ada banyak sekali sindiran tentang bagaimana lika-liku konflik antara produser, sutradara, produksi, aktor dan agennya sendiri, namun disampaikan dengan cara yang "kelewat batas". Masing-masing punya tuntutan sendiri dan saling ego memaksakan untuk terwujud sesuai keinginan. Kesemuanya berperan menjadikan film ini sebagai salah satu film komedi terbaik yang pernah ada, maka dari itu layak diganjar Piala Oscar.

Tapi ironisnya, sesuai yang mereka sindir di dalam film ini, pihak Academy Awards sangat jarang memberikan apresiasi terhadap film dengan genre komedi. Mereka selalu saja memberikan penghargaan kepada film drama. Sampai kita bertanya-tanya, apakah kualitas sebuah film hanya ada di film drama? Apakah dibidang perfilman, yang punya skill itu hanya orang-orang yang buat film drama? Apakah akting yang berkualitas hanya ada pada peran drama seperti tokoh biografi, LGBT dan disabilitas? Apakah akting yang sulit itu hanya akting drama, ngomong seriusan, banyak-banyak dan panjang-panjang, trus nangis-nangis, desperate, marah-marah, stres, dan melamun? Ga juga kan. Akting komedi itu juga sulit lho, ga semua aktor bisa menyampaikan humor, ga semua aktor bisa melucu, trus ga semua sutradara bisa men-direct sebuah film komedi, dan ga semua penulis bisa menuangkan script yang kocak. Untuk mendapatkan plot komedi yang bagus juga perlu mikir kali, meras otak juga. Jika ada cancel culture, trend Oscar yang sangat mendiskriminasi genre selain drama inilah yang mau saya cancel. Oscar harus bisa men-diversity-kan genre film juga, bukan hanya diversity in gender dan ras doank. Harusnya ada perwakilan masing-masing genre film dalam setiap nominasi, terutama Best Picture. Masa iya dari 8-10 nominasi, semuanya drama.
 
 
Kembali ke filmnya, sinopsisnya adalah dalam sebuah proses syuting film perang yang bersetting hutan belantara, para aktor yang berperan tidak mampu memberikan akting terbaik mereka, sehingga membuat kerugian di pihak sutradara dan produser. Untuk itu, sutradara diberikan sebuah ide, yaitu menempatkan para aktor ini ke hutan beneran! Dengan tujuan agar mereka bisa meresapi suasana perang dan memberikan akting yang maksimal. Caranya adalah sutradara tersebut membohongi para aktor dengan bilang bahwa hutan tersebut adalah lokasi syuting. Pura-puranya para kru dan set produksi ditempatkan di lokasi tersembunyi, dan mereka harus tetap akting sesuai skenario karena tetap direkam dengan (pura-puranya lagi) hidden cam dimana-mana. Namun tanpa diduga, ternyata di dalam hutan tersebut terdapat markas mafia narkoba. Alhasil, kondisinya jadi "perang beneran". Ada tembak-tembakan dan ledak-ledakkan. Tapi lucunya, para aktor ini ga tau kalo itu adalah beneran, mereka tetap ngira kalo itu adalah bagian dari proses syuting. Akan ada pergolakan batin dan situasi yang serba canggung bagi mereka untuk tetap percaya melanjutkan syuting atau tidak. Lantas, gimana nasib mereka di dalam "perang" tersebut"? Inilah yang menarik, hasil dari ide yang unik.

Selasa, 28 September 2021

15 Film/Serial Lain Seperti Squid Game Yang Sama-Sama Mengusung Konsep Permainan Sakit Jiwa : Battle Royale Game


Hokeh...keknya lagi trending nih ya orang-orang pada ngomongin dan posting konten tentang game yang ada dalam serial Squid Game. Serial ini baru aja rilis di Netflix, konsep game di dalamnya mengusung tema "Battle Royale". Kalau disebut battle royale movies, orang-orang pada umumnya akan menyebut nama The Hunger Games sebagai film yang jadi pelopor tema ini. Tapi taukah kamu bahwa sebenarnya mereka itu salah? Karena yang menjadi perintis tema ini adalah film Jepang tahun 2000 yang berjudul Battle Royale. Film ini menceritakan tentang permainan dimana peserta harus membunuh satu sama lain untuk dapat menjadi pemenang. Makanya sejak saat itu, jika ada film yang memakai konsep ini, dia akan disebut battle royale movies. Bahkan sebelum The Hunger Games pun udah banyak film battle royale lain yang bagus-bagus, cuma ga booming aja. The Hunger Games itu cuma beruntung aja sih bisa lebih populer ketimbang film-film lain yang berkonsep sama.

Nah, disini saya akan sharing dan review film dan serial apa aja yang mengusung konsep battle royale selain Squid Game. Perlu diketahui bahwa saya mengklasifikasikan filmnya sebagai berikut :
  • Terdapat "permainan" di dalamnya, mengharuskan ada yang menang dan ada yang kalah.
  • Ada diiming-imingi hadiah, imbalan, ancaman atau hukuman.
  • Harus saling membunuh antar peserta, satu sama lain, bukan hanya diantara dua kubu saja.
Atas dasar unsur inilah saya menggugurkan judul The Purge dkk, karena meskipun dia itu saling bunuh tapi itu bukanlah permainan dan tidak ada imbalan atau hukuman. Kalopun ada pemenang dan imbalan seperti film Guns Akimbo, atau John Wick, film ini hanya saling bunuh antar dua pihak saja, si pemburu dan si target, bukan saling silang satu sama lain. Begitu pula film The Hunt dan Operation Endgame, mereka memang saling bunuh tapi hanya ada dua kubu. Ada juga film-film lain yang termasuk permainan seperti Escape Room, tapi masalahnya adalah dia tidak saling bunuh antar peserta, melainkan lebih tepat disebut sebagai film survival games, peserta hanya diminta menyelesaikan permainan dan bertahan hidup, tidak dipaksa atau terpaksa untuk saling bunuh.

So, tanpa banyak bacot lagi, lets scroll down ..


1. Battle Royale
Film ini udah saya tulis review panjangnya di blog ini, kalian bisa klik link ini : Review Battle Royale

2. The Hunger Games
Nah ini juga udah dituang reviewnya dimari : Review Hunger Games

3. The Belko Experiment
Menceritakan tentang sebuah perusahaan bernama Belko Industries, yang melakukan eksperimen dengan cara mengurung 80 orang karyawannya di dalam sebuah gedung tinggi yang jauh dari pusat kota. Lewat pengeras suara di dalam gedung, perusahaan menginstruksikan setiap karyawan untuk membunuh pegawai lain dalam tempo waktu yang perusahaan tentukan. Misalnya, dua orang harus mati setiap 30 menit, dan begitu seterusnya, jumlah dan waktunya bisa berubah-ubah. Kalo ga dilakuin, maka perusahaan akan membunuh satu per satu karyawan tersebut.
 

Awalnya tentu para karyawan menganggap ini hanya semacam prank, tapi semua berubah ketika dinding-dinding logam tiba-tiba menutupi setiap jalan keluar gedung, AC ruangan dimatiin, dan satu orang mati dengan kepala meledak untuk menjadi bukti keseriusan perusahaan. Panik ga? Panik ga? Panik lah..masa ngga! Gimana nasib para karyawan? Haruskah mereka membunuh rekan kerjanya sendiri untuk bisa selamat? Film ini bole dibilang sangat sadis, tipikal slasher movies, menonjolkan banyak darah dan luka yang menganga, terlihat sangat kontras dipermukaan pakaian kerja mereka yang serba putih. Cuma bedanya disini ga ada karakter villain yang bawa chainsaw atau kuku besi. Yang saling tusuk menusuk adalah teman sendiri, cukup seru dan menegangkan. Ada banyak tipe-tipe karyawan, karena beragamnya karakter inilah kita bisa sulit menebak siapa yang bertahan. Si bos kah? Si sexy kah? Si teknisi kah? Si pendiam kah?

4. Circle
Disini ga ada sadis-sadisan, karena setiap peserta hanya "musyawarah" meskipun tidak mufakat. Tapi meskipun ga sadis, tetep aja taruhannya nyawa. Jadi ceritanya nih, ada 50 orang yang tanpa diketahui asalnya dari mana dan sebabnya apa, dikumpulkan tanpa mereka sadar, di dalam sebuah ruangan yang unik. Ruangan itu ada ornamen bulat di lantainya dimana mereka berdiri berjejer membentuk lingkaran, dan di lantai bagian tengahnya ada banyak segitiga kecil berbentuk panah. Gunanya adalah sebagai lampu indikator "kearah" siapa mereka memilih. Iya, mereka tugasnya adalah memvoting, siapa diantara mereka semua yang harus mati setiap 2 menit sekali. Jika mereka ga ngelakuin itu, maka salah satu dari mereka akan ditembak mati secara random. Widih..panik ga? Panik ga? Paniklah..masa ngga..


Meskipun cuma di satu ruangan, tapi menurutku film ini sangat bagus. Mereka sengaja meletakkan banyak karakter peserta yang bervariasi agar tidak membosankan, mengingat hanya bersetting satu lokasi saja. Pesertanya ada yang dari berbagai usia dan latar belakang, baik pekerjaan, sosial maupun ekonomi. Kemudian diselipkan juga perwakilan setiap ras, suku bangsa dan agama, seperti Mongoloid (China dan sekitarnya), Kaukasoid (Eropa-Amerika), Arab atau Timur Tengah, Negro, Indian. Atau juga berbagai macam prinsip dan cerita masa lalu. Nah bisa kebayang kan gimana alotnya "musyawarah" yang harus mereka jalani untuk menentukan siapa yang "berhak" mati. Akan ada banyak benturan konflik pemikiran dan kepentingan. Disinilah letak praktek demokrasi pemungutan suara dilakukan dengan memperhitungkan segala pertimbangan, ada yang rasis, ada yang sexis, ada yang sinis.
 
5. Alice in Borderland
Serial ini merupakan campuran antara battle royale dan survival games. Karena ada banyak permainan yang mereka sajikan di dalamnya. Menceritakan tentang kota Tokyo, yang tiba-tiba aja jadi sepi, karena hampir semua penduduknya menghilang. Hanya tersisa beberapa orang secara random, mereka udah kayak Will Smith di kota mati dalam film I am Legend. Ada pihak misterius yang bertanggung jawab atas menghilangnya orang-orang, dan mereka menyelenggarakan permainan untuk orang-orang yang tertinggal. Hadiahnya adalah kartu remi dan "jatah waktu" untuk memperpanjang hidup, dalam satuan hari. Jika jatah waktunya habis, mereka akan dibunuh dengan laser dari langit.



Permainannya beragam, sesuai dengan tipe kartu remi yang dijadikan hadiah. Keriting berarti kerjasama tim, Sekop artinya ketahanan dan kekuatan fisik, Wajik berarti kecerdasan perhitungan dan probabilitas, sedangkan Hati adalah masalah hati, iya, seperti kepercayaan, pengkhianatan dan pertemanan. Serialnya cukup seru, menegangkan, dan tricky. Kadang yang terlihat sulit ternyata ga seperti itu, malahan sangat simpel dan mudah untuk menang jika tau maksud dari permainannya. Hal ini mengingatkan saya akan sebuah game show favorit saya  di tv jaman dulu bernama Crystal Maze.
 
6. The Werewolf Game
Nah, ini nih yang sebenarnya lebih dahulu hadir dari Among Us. Cuma Among Us hadir dimasa dimana sesuatu gampang banget viral, jadi ya dia yang lebih terkenal dan dicap orang-orang sebagai "social seduction game", game yang mencari tau identitas seseorang dan manipulatif sisi sosialnya. Saya jadi ingat sebuah quote Pablo Picasso dalam video channel youtube Vincent Ricardo yang berbunyi :
"Good artist copy, great artist steal"
Seniman yang levelnya "bagus" bisanya paling cuma plagiatin karya orang lain, tapi kalo seniman yang levelnya "hebat" dia tak hanya bisa meniru karya orang lain, tapi bisa membuat orang-orang percaya bahwa itu adalah karyanya. Inilah yang dilakuin Among Us, mereka "mencuri" ke-originalitas-an milik Werewolf game sehingga orang-orang lebih tau mereka ketimbang Werewolf (Sama kayak The Hunger Games terhadap Battle Royale). Namun sebenarnya si Werewolf game inipun juga "a great artist", karena game tersebut merupakan adaptasi dari Mafia Game, yang diciptakan pada tahun 1987 oleh Dmitry Davidoff, seorang guru SMA yang membuat game tersebut untuk tujuan penelitian di jurusan psikologi Universitas Moskow.


Kembali ke filmnya, kalo kalian tau Among Us ya setidaknya sudah bisa nebak ini film tentang apa. Ya, dalam film ini, ada 1 grup berisi 10 orang remaja, yang harus menjalankan permainan Werewolf. Buat yang belum tau, permainan ini simpelnya begini, orang-orang dalam grup dibagi perannya menjadi dua kubu, yaitu yang baik dan yang jahat, misalnya 8 orang baik dan 2 orang jahat. Nah ga bole ada yang tau peran setiap orang, itu rahasia masing-masing. Tugas kubu jahat untuk memenangkan permainan adalah membunuh orang baik secara diam-diam saat "sesi malam", sampai mereka habis, dan mereka harus berpura-pura memasang tampang ga bersalah, berakting, bersandiwara, jangan sampai identitas mereka sebagai kubu jahat terungkap. Sedangkan tugas kubu baik kalo mau menang adalah mencari tau dan mengungkapkan siapa yang jahat. Selanjutnya saat "sesi pagi", mereka semua berkumpul dan berdiskusi untuk menentukan dan memvoting siapakah yang jahat yang telah melakukan pembunuhan di "sesi malam".
 
Kalau di permainan ya ga ada resiko ya, karena hanya pura-pura aja matinya, tapi di film ini resikonya dibuat nyata, bahwa yang dibunuh memang beneran harus mati. Jadi setiap peserta harus saling "bunuh" satu sama lain, vote yang mereka lakukan harus direalisasikan. Mereka tidak punya pilihan lain, karena mereka dikurung di dalam gedung dan ga bisa keluar. Kalo mencoba keluar, mereka akan mati akibat bom saraf yang dipasang di tubuh mereka. Jadi yang akan kalian saksikan adalah sebuah histeria masal, tekanan psikologi, ketakutan dan kesedihan yang ga bisa kalian bayangkan rasanya.
 
Bonus : Werewolf Game ini juga di rip-off ke dalam film pendek oleh youtuber Ferry Irwandi yang berjudul Manipulator. Apakah Ferry Irwandi juga mau jadi "a great artist"?

Jumat, 17 September 2021

9 Asian Superhero Movies Selain Shang-Chi

Marvel baru aja merilis film superhero Asia pertama yang berjudul Shang-Chi and The Legend of Ten Rings. Sayangnya, di Indonesia sampai hari ini belum bisa ditayangkan karena bioskop disini belum memperoleh ijin untuk dibuka kembali. Ya you know la karena pandemi. But, daripada meratapi kesedihan yang tak kunjung terobati, mari coba ubek-ubek film superhero Asia lainnya selain Shang-Chi. Karena, tahukah kamu, kita di Asia ini juga punya banyak film superhero selain bikinan Marvel atau DC Comics. Ya meskipun memang filmnya tak sehebat mereka, tapi ya setidaknya Asia juga punya dan berani mencoba untuk menyuguhkan film superhero yang penuh aksi, dengan segala kekurangan dan keabsurdan yang ada, hehe... 

Saya mengkategorikan film superhero ini adalah yang bener-bener "superhero" dan solo, bukan sekedar orang yang punya kekuatan super dan beramai-ramai. Superhero bahkan terkadang muncul dari orang yang tak punya kekuatan super tapi punya keahlian beladiri dan strategi yang mumpuni. Kalo film yang mengisahkan orang yang punya kekuatan super mungkin ada banyak, tapi temanya ga sama dengan superhero. Superhero itu kegiatan intinya adalah membela kebenaran, menegakkan keadilan dan menyelamatkan dunia atau orang-orang. Filmnya juga saya batasi hanya yang rilis mulai tahun 2000 dan setelahnya. Setting waktunya pun yang berada di jaman modern, bukan jaman kolosal. Dan tak lupa, yang utama, memakai kostum khusus atau topeng.

1. Gundala - Indonesia

Kita mulai dari negeri kita sendiri, Indonesia. Gundala adalah superhero yang rada mirip seperti Thor, karena sama-sama mempunyai kekuatan petir. Filmnya dimulai dengan origin story dari sang pengampu superpower tersebut, Sancaka. Sedari kecil dia udah hidup susah, miskin dan ditinggal orang tua. Hidup di jalanan yang keras dan sebatang kara. Namun, cerita yang sebenarnya baru dimulai saat Sancaka dewasa, tepat ketika dia baru benar-benar menyadari bahwa dia punya kekuatan super. Dan saat itu, banyak desakan agar dia dapat menggunakannya untuk membantu orang lain. Apalagi, kondisi negaranya juga sedang mengalami krisis politik dan kesehatan. Sancaka harus menjadi Gundala untuk menyelamatkan banyak nyawa. 

Menariknya adalah, tau ga kalo konflik yang diciptakan dalam film ini rada mirip ama cerita pandemi sekarang ini, dan "kebetulan" bangetnya, film ini di rilis 4 bulan sebelum kasus pertama Covid-19 muncul. Hmm..kebetulan? Urusan action, film ini mengandalkan adegan fighting ketimbang visual effect, dikarenakan Gundala belum sepenuhnya unjuk kebolehan, masih disimpan untuk penampilan selanjutnya dalam film-film superhero Indonesia yang tergabung dalam Bumi Langit Cinematic Universe.

2. Madame-X - Indonesia

Superhero itu biasanya bad-ass ya, pandai bertarung, garang, mau cowok ataupun cewek. Nah..gimana kalo superheronya adalah banci?? 😱Iya, banci..kok bisa? Ya bisa dong..kek di film ini. Apalagi yang jadi superheronya adalah aktor yang paling mahir berakting sebagai banci, siapa lagi kalo bukan Aming, yang berperan sebagai Adam. Jadi ceritanya tuh di suatu daerah, ada satu organisasi yang men-sweeping para banci, semacam ormas radikal gitu, disini mereka bernama Bogem. Pada suatu malam, mereka menculik rombongan si Adam, untungnya si Adam berhasil selamat meskipun dalam keadaan celaka. Adam akhirnya ditampung dan dirawat oleh sebuah keluarga yang kebetulan juga berisi banyak banci. Disana dia juga dilatih dan dibekali "modal" untuk menjadi seorang superhero. Tugasnya adalah memberantas kejahatan human-trafficking yang membahayakan orang-orang sekitarnya. Mampukah seorang bencong menjadi superhero?

Film ini akan sangat absurd dan kocak, belum pernah ada yang begini, tagline nya aja "Tegakkan keadilan jaga penampilan", senjatanya pun unik, menyesuaikan dengan perlengkapan yang biasa digunakan wanita, kek hairdryer dan lipstik. 😅 Apalagi saat melihat sutradara Gundala, Joko Anwar, berakting menjadi salah satu bancinya, bener-bener ga nyangka. Kalo kamu butuh kursus bahasa waria, film ini bisa jadi kamusnya. 😂

3. Cicakman - Malaysia

Setelah Indonesia, sekarang kita ke tetangga sebelah, Malaysia. Ternyata, mereka juga punya film superhero, bergenre komedi, superheronya kurus dan namanya pun lucu, Cicakman. 😆 Dari namanya aja sudah pasti kalian tau ini superhero berkekuatan apa. Cicakman bisa manjat dinding dan lidahnya panjang seperti cicak. Tapi ada satu yang paling akurat, dia takut sama karet cabe (karet gelang) 😅 Dia lemah kalo kena betet (bahasa sini), iItu ibarat "batu kripton"nya dia. Nah, Cicakman ini filmnya lumayan bertahan, karena dibuat sampe 2 sekuel.

Cicakman merupakan sosok low budget superhero, ala kadar, cuma rakyat biasa, ga pakai gadget canggih, bekerja sendirian dan otodidak. Tugasnya adalah melindungi kota tempat tinggalnya yang bernama Metrofulus. Ya, kalian ga salah baca, "Fulus", seperti kata alm. Wan Abud, artinya adalah duit. Jadi di kota ini ga ada yang gratis, semuanya bayar, seperti kata announcer radio di opening scene yang bikin ngakak banget. Situasi kota Metrofulus kurang lebih sangat mirip dengan dunia saat ini, lebih tepatnya mirip dengan rumor "Konspirasi Virus Corona". Cicakman harus berpacu dengan waktu untuk mencegah penyalahgunaan wewenang pemerintah terhadap wabah dan mengungkapkan dalangnya kepada publik.

Filmnya sangat ringan dan absurd. Ada banyak aksi konyol nan receh. Aksi Cicakman pun rada-rada mirip Spiderman, climbing and swinging. Dan taukah kamu, kalo artis Indonesia, Tamara Blezinsky, berperan sebagai salah satu villain Cicakman, yang karakternya sangat kontradiktif dengan apa yang kita tonton di layar kaca Indonesia.

Jumat, 02 Oktober 2020

13 Film Korea Selatan Paling Esensial Yang Harus Kamu Tonton Sebelum Nyebur Ke Dalam Hallyuwood!

Kesuksesan Parasite dalam dunia perfilman global membuka mata penonton dunia ke arah Korea Selatan. Orang-orang mulai menjelajahi film-film asal negri ginseng tersebut, yang disebut dengan istilah Hallyuwood, sebagai "sinonim pelesetan" dari Hollywood-nya Korea. Ini terimbas juga kepada media penyiaran seperti tv dan video on demand yang ikut meramaikan bisnis mereka dengan mengisi film-film Korea di saluran mereka. Tapi, bagi kita sebagai penonton yang baru mau mulai, mau mulai dari mana? Ada sekian banyak film Korea yang bagus-bagus, tapi bagusnya nonton yang mana dulu nih? Nah..setelah saya tonton banyak film Korea, berikut ini adalah film-film Korea yang menurut saya paling esensial, yang harus kamu tonton terlebih dahulu, sebelum nonton film-film Korea lainnya.

Untuk list ini, saya perlu menyempitkan pilihan. Pertama saya sortir filmnya hanya yang dirilis maksimal tahun 2010 dan kebawahnya (sebelumnya). Karena mereka bukan film "baru", film lama, senior lah caknya, mereka yang lebih dahulu hadir. Kemudian, saya mencoba untuk memberikan keterwakilan untuk setiap genre film, baik murni satu genre di dalamnya maupun kombinasi beberapa genre. Dan saya pilih dari setiap genre itu, judul yang paling sering disebut oleh orang-orang alias yang lebih populer. Mungkin ada film yang bagus, tapi ga begitu populer seperti Il Mare, Shiri atau Going By The Book. Lalu jika ada satu sutradara yang punya banyak film bagus, maka saya juga hanya pilih satu atau dua saja sebagai perwakilan. Contoh, ada banyak film karya Park Chan Wook yang bagus-bagus yang rilis sebelum 2010, seperti Vengeance Trilogy, JSA, I am A Cyborg but That's OK, dan Thirst, tapi saya pilih hanya satu atau dua saja sebagai perwakilan. Dan terakhir saya jamin semua film ini sangat bagus dalam urusan teknis, seperti penyutradaraan, skenario, akting, sinematografi, scoring, dll, yang telah diakui karena dapat awards dimana-mana. So, without bacot lebih banyak lagi, lets go to the list.

1. Oldboy (2003) : Mystery-Thriller

Current rating : 8.4/10 IMDb, 82% Rotten Tomatoes, 21+

Ini wajib, super wajib! Penjelasannya sih udah saya buat di artikel berikut ini : Beribu Alasan Kenapa Old Boy Adalah Film Terbaik Korea Yang Kamu Pasti Ga Nyangka! Tapi itu hanya untuk yang udah nonton aja. Nah bagi kamu yang belum nonton, film ini merupakan misteri tentang proses balas dendam seseorang bernama Oh Dae Su. Tanpa tau kenapa dan sebab apapun, dia disekap dalam ruangan selama 15 tahun! Gila ga tuh! Jadi dia bertekad untuk balas dendam dengan mencari siapa dalang penyekapnya. Uniknya, pelakunya bukan bersembunyi, tapi berani untuk berkomunikasi dengan Oh Dae Su. Dengan dibantu oleh seorang gadis yang dia temui, Mido, mereka berdua melakukan penelusuran terhadap petunjuk-petunjuk yang mereka punya. Gimana endingnya? You will never see that coming! Selain dari segi misteri, film ini juga mempunyai unsur fight action yang keren. Soal teknis ga usah ditanya, banyak menang award, semuanya outstanding, mulai dari script, akting, penyutradaraan, sinematografi, dan set produksi.

2. Memories of Murder (2003) : Mystery-Suspense

Current rating : 8.1/10 IMDb, 91% Rotten Tomatoes, 21+

Sutradara Parasite, Bong Joon Ho, naik daun ya lewat film ini nih. Berdasarkan kisah nyata, film ini bercerita tentang dua polisi yang melakukan penyelidikan terhadap kasus pembunuhan berantai di sebuah desa. Uniknya si serial-killer ini kalo membunuh punya ciri khas, seperti timing dan target yang diincer. Proses investigasi ini sangat menarik ditelusuri, apalagi dua detektif ini berbeda gaya dan punya keyakinan sendiri terhadap keampuhan metode yang mereka pakai. Yang satu santai dan data-based-guy, yang satu temperamental-judgemental yang mengintimidasi para suspects. Memories of Murder adalah sebuah presentasi yang hebat dari sebuah kisah nyata, dengan penyutradaraan, akting dan sinematografi yang berkelas. Untuk film ini kita udah ada reviewnya oleh Nendra, klik disini untuk baca reviewnya.

3. A Bittersweet Life (2005) : Action-Thriller

Current rating : 7.6/10 IMDb, 100% Rotten Tomatoes, 17+

A Bittersweet Life diisi oleh aktor Korea paling terkenal, Lee Byung Hun. Dalam film ini ia berperan sebagai seorang bodyguard, yang ditugaskan untuk menjaga pacar simpanan bosnya. Alih-alih menjaga, dia malah sepertinya jatuh cinta ama tuh cewek. Siapa yang ga bakal jatuh cinta wong cantik gitu, hehe.. Rada-rada mirip ama The Bodyguard From Beijing lah. Cuma bedanya A Bittersweet Life dikemas dengan cinematography apik dan makna yang filosofis. Ini tak lepas dari tangan salah satu sutradara terbaik Korea Selatan, Kim Jee Won yang juga menahkodai film Tale of Two Sisters. Urusan action, udah jaminan mutu, Lee Byung Hun bukan sembarang main film, disini banyak sekali adegan action dan fighting yang dahsyat dan memacu adrenalin. Bahkan bisa jadi film ini banyak dijadikan referensi oleh filmmaker-filmmaker lain dalam membuat sequence action, seperti adegan dalam gedung terbengkalai itu sepertinya menginspirasi Gareth Evans dalam film The Raid.

Kamis, 27 Agustus 2020

Beribu Alasan Kenapa Old Boy Adalah Film Terbaik Korea Yang Kamu Pasti Ga Nyangka!

Perfilman Korea Selatan langsung naik daun ya abis Parasite menang Best Picture Piala Oscar. Nah..terkuaklah kalo film Korea Selatan itu banyak yang bagus-bagus, ga kalah ama Hollywood. Trus diantara yang bagus-bagus itu, setuju ga kalo Oldboy adalah yang paling bagus? Bahkan saya berani bilang Parasite telah "merampok" Piala Oscar yang seharusnya telah lama dimiliki oleh Oldboy. Orang-orang hanya ga tau aja Oldboy sebagus ini. Fyi, untuk masuk nominasi Piala Oscar memang pihak film harus gencar melakukan yang namanya "Kampanye" jelang pergelaran. Nah si produsen Parasite ini memang ngelakuin ini, marketing dan word of mouth dimana-mana, hasilnya opini member Academy Award sebagai voters, ikut tergiring. Sedangkan Oldboy dulu mereka ga melakukan kampanye semacam ini.


Nah berikut adalah alasan kenapa Oldboy layak disebut sebagai film terbaik Korea. And of course, ini isinya SPOILER ya, jadi kalo kamu belum nonton, ya nonton dulu sana, baru kesini lagi.

Cerita yang unik
Meskipun temanya tentang balas dendam, tapi pengembangannya bener-bener ga seperti film-film balas dendam pada umumnya, yang biasanya tuh motifnya karena keluarganya dibunuh atau pengkhianatan. Disini tuh unik, dendam timbul karena dia dikurung 15 tahun tanpa alasan, tanpa tau, siapa dan kenapa. Sebaliknya, di kubu sebelah, dendam juga bukan akibat pembunuhan secara langsung, tapi mulutmu harimaumu, hanya karena gosip, yang mengakibatkan butterfly effect kepada kematian seseorang. Jadi tambah unik, dendamnya dibuat bukan cuma dari satu pihak, tapi terdapat di kedua pihak yang berseberangan, jadi sama-sama saling ingin balas dendam. Masing-masing mereka pun ya memiliki cara mengeksekusi akhir yang unik. Scriptnya yang di ungkapkan lewat kata-kata juga bagus banget.

Twist Ending
Sebuah film kalo bisa kasi twist ending tuh gimana gitu, lebih berasa spesial aja, karene meninggalkan rasa shock jadi bakal teringat-ingat. Dan membuat twist yang bener-bener unpredictable itu sulit, twistnya juga ga sembarangan twist lah, yang cuma fan service, tapi twist yang bagus, meskipun harus sad ending atau ga berpihak pada penonton. Disini, twistnya sumpah edan banget! Dan banyak pula. First, Mido ternyata anak Oh Dae Su. Second, Oh Dae Su minta hipnotis ngilangin memori, itu artinya dia memilih untuk saling mencintai, ini sama aja dia akhirnya yang jadi reinkarnasi Lee Woo Jin, yang tetap mau melakukan hubungan meskipun itu terlarang. Ketiga, parahnya lagi, menurut ane, hipnotis yang di ending malah menghasilkan kemungkinan terburuknya, yaitu Oh Dae Su yang hidup dalam dirinya adalah yang "monster". Coba perhatikan baik-baik dalam kalimat yang dibilang ama si tukang hipnotis : "yang berjalan ke depan adalah si monster". Nah scene langkah kaki di salju dan Oh Dae Su udah beranjak dari kursinya itu artinya dia adalah yang si monster! Keempat, sepanjang film penonton digiring untuk menganggap bahwa ini adalah proses balas dendamnya si Oh Dae Su, padahal ternyata Oh Dae Su merupakan bagian dalam rencana balas dendam-nya si Lee Woo Jin. Semua twist ini banyak yang ga sadarin.


Rabu, 29 April 2020

Review Singkat Mortal Engines (2018) : Visual Astonishingnya Melelahkan Yang Menenggelamkan Drama Dan Karakter Yang Kurang Personal


Film ini mrupakan slah satu biggest box office bomb 2018. Pdhal mmbawa nama besar Peter Jackson (Lord of The Rings) sbgai produser. So, where it goes wrong? Here we go.. Ini adlh bukti jika hnya jualan visual aja ga ckup utk sukses. Sya akui visualnya "astonishing", one of the greatest visionary, dlm mnerjemahkan novel ke dlm live action. Kota yg brdiri diatas fondasi mesin yg bs brjalan mngunakan roda besi bergerigi itu. Tak hnya itu, kotanya jg pnya artileri. Mjdikannya sbuah kombinasi sempurna antara alat berat dgn armada tank brukuran sribu kali lapangan bola! Ibarat film Mad Max Fury Road dlm skala raksasa.

Brcrita ttg bumi di masa depan, kira2 tahun 3.000an dmn mnusia hidup pasca perang dunia yg mnghancurkan seisi bumi dlm 60 menit saja. Hukum rimbapun brlaku dsni, kota2 yg kuat "mmakan" kota2 yg lemah, demi mmperebutkan sumber daya utk terus mnyalakan mesin pnggerak kota.

Rabu, 19 Februari 2020

Review Extreme Job (2019) : Anying Gokil Parah Ni Film! Unik dan Komedi Tingkat Dewa!

Korea Selatan...selalu kontras antara film layar lebar dengan serial. Jika serial itu ceritanya selalu monoton itu ke itu aja, drama bucin cowok kaya naksir cewek miskin, nah film layar lebarnya malah selalu bisa menghadirkan sesuatu yang unik dan fresh. Termasuk yang satu ini. Saya dapat rekomendasi film ini sih pertama kali dari Maul anak JMFC juga, lalu kemudian ada video dari salah satu youtuber favorit saya, Kevin Anggara, yang dalam videonya menyebutkan film ini termasuk ke dalam list Film-Film Terbaik 2019 versi dia. Kalo panutan udah mention, itu berarti ni film udah dijamin kebagusannya, hehe.. Dan ini bukan pertama kalinya, tahun lalu dia masukin One Cut of The Dead, dan itu bener bagus banget, cuma belum direview aja dimari, ntar deh. Sekarang, kupas dulu film Extreme Job, yang berhasil menduduki peringkat kedua film terlaris sepanjang masa di korea ini! Tenang aja, ga spoiler kok..

Nb : Kalo di Korea ini fair ya, yang laris-laris juga yang punya kualitas, seperti ini atau Along With Gods. Coba kalo di Indonesia, yang laris tuh yang biasa aja, yang berkualitas malah ga disukai. Selera people+62 memang beda dengan people+82!

Film Terlaris Kedua Sepanjang Masa di Korea
Dari sinopsisnya aja ni film udah unik banget, liat trailernya klik disini. Begini ringkasannya, ada 1 tim dari divisi narkoba kepolisian sana, yang berisikan 5 orang pecundang, hidup juga pas-pas-an. Karena kegoblokan mereka dalam menciduk bandar narkoba kelas teri, akhirnya mereka kena skors. Tapi ada 1 kesempatan terakhir yang diberikan kepada mereka untuk memulihkan nama tim mereka, yaitu dengan menangkap bandar narkoba kelas kakap bernama Moo Bae. Tentu saja kesempatan ini akan mereka manfaatkan sebaik-baiknya toh. Segala daya upaya mereka lakukan demi suksesnya kasus ini, termasuk mencari lokasi penyelidikan. Yang ternyata, lokasi ini lah yang menjadi keunikan film ini, yaitu warung ayam goreng! What?? Yak..mereka rela sampai merogoh kocek demi membeli warung tersebut yang kebetulan berada persis di seberang basecamp bandar narkoba tadi. Agar kedok mereka tidak ketahuan, mereka berpura-pura sebagai pedagang ayam goreng dan membuka warungnya. Apa yang terjadi selanjutnya kalian tidak akan pernah duga, warungnya malah laris dan ayam goreng buatan mereka laku keras! Pendapatan melimpah! Nah...Selanjutnya apa yang akan mereka lakukan? Udah stop aja penyelidikan beralih profesi jadi pedagang aja? Atau lanjutkan penyelidikan? Dari ini aja sinopsisnya udah unik banget kan? 

Senin, 17 Februari 2020

Review 1917 (2019) : Cuma Perlu 30 Menit Buat Bilang Film Ini Sebagai One of The Best!


Foto : Poster 1917

Iye...cuma perlu 30 menit elu tonton ni film untuk kemudian lu bergumam..gile ni film bagus beuet yak..

Hai...long time no see...very-very long.. Apakah perlu dijelaskan kenapa? Hehe..

*Siapa elu?? Emang lu artis? Emang orang kepoin elu??!*

Ya ga sih..saya memang bukan artis, tapi ijinkanlah saya menjelaskan kenapa agar pembaca tau, karena saya menyadari masih ada teman-teman pembaca yang setia mampir disini sesekali.. Saya lama tak menulis karena sejak 2018 saya mulai berkarya di Youtube, yang cukup menyita waktu luang saya, yang biasanya saya pakai untuk menonton film dan menulis review, tapi saya pakai untuk menulis skenario, syuting dan editing.

Oke saya coba nulis review lagi deh, mudah-mudahan ada waktu saya yang cukup banyak untuk bisa menulis lagi disini, biar jari ga kaku ngetik, hehe.. Nah beberapa minggu lalu, saya menonton sebuah film yang sebenarnya digadang-gadang sebagai best contender dalam Piala Oscar, yaitu 1917. Saya nonton saat filmnya masih mode "Sneek Peak Preview", hanya satu-satunya showtime, late night pula, tapi demi kepuasan akhirnya tetep dijabanin dah nonton. Khawatir juga sih kalo-kalo malah ga tayang sama sekali di pekan-pekan berikutnya, karena film kekgini jarang laku di Indonesia, penontonnya dikit. Sudah menjadi kebiasaan kalo jelang Oscar bioskop di kota saya akan menayangkan satu atau beberapa film nominasi Oscar, dan tahun ini 1917 yang hadir duluan. Review global sih bilang ni film luar biasa. Penasaran? Tentu! Apo nian sih yang buat dio bagus? Hehe... Well...inilah dia.. yang mau liat trailernya klik disini.

Tenang aja, ga spoiler kok...

Senin, 19 Februari 2018

Review Black Panther (2018) : Wajah Baru Superhero Dari Luar Maupun Dalam

Ya, film Black Panther memang pantas untuk menjadi hits pekan ini. Apa yang coba ditampilkan disini adalah wajah baru seorang superhero, baik dari luar maupun dalam. Melihat dari luar, jika selama ini superhero kulit putih mendominasi, maka saat ini telah hadir superhero kulit hitam yang dapat diperhitungkan lewat penampilan Chadwick Boseman sebagai T’Challa. Tak tanggung-tanggung, dia hadir sebagai superhero paling kaya dan paling canggih dalam Marvel Cinematic Universe. Stark bole iri nih, kekayaanya yang milyaran dollar dibuat sangat kecil oleh triliunan dollar kekayaan T’Challa sebagai Raja Wakanda yang nilainya berasal dari logam terkuat bumi, Vibranium. Dan bisa juga sangat minder karena dia tak bisa lagi merasa paling pintar di bumi setelah mengetahui teknologi canggih Wakanda hasil otak T’Challa sebagai ahli fisika dibantu dengan adiknya Shuri yang lebih cerdas darinya. 

Gambar : twitter.com

Melihat ke dalam dirinya, Black Panther juga kuat raga dan kuat hati. Dalam darahnya mengalir cairan ajaib bernama Heart Shape Herb, tumbuhan pusaka yang ditanam di Wakanda, hanya bole diminum oleh Raja Wakanda, yang memberikan kekuatan super dalam bertarung, kuat dan gesit layaknya Panther. Hatinya pun juga kuat, dalam film ini, T’Challa berani keluar dari tradisi untuk memperjuangkan apa yang menurutnya baik. Jika superhero lain selalu menjunjung tinggi nilai-nilai patriotisme, maka lain halnya dengan Black Panther-nya T’Challa ini, dia lebih menunjukkan sisi moralitas bahwa benar itu belum tentu baik.

Fiuh...saking terseponanya dengan sosok T’Challa sampe lupa memberikan sinopsisnya, sebelum itu silahkan liat trailernya disini. Film ke...emm...ke-18 dalam Marvel Cinematic Universe ini adalah film yang memberikan kita profil dan origin dari Black Panther. Sebelumnya kita sudah pernah melihat aksinya dalam film Captain America – Civil War tahun 2016, hanya saja dalam fillm itu belum banyak diketahui profil dari superhero rendah hati ini. Diawal film kita diceritakan sejarah terciptanya negara Wakanda, dimulai dari jatuhnya meteor Vibranium ke bumi, yang kemudian dimanfaatkan oleh 5 suku di Afrika sana yang akhirnya sepakat untuk membentuk negara Wakanda. Wakanda dipimpin oleh seorang raja yang dengan bantuan dari Bast, dewa Panther, dan Heart Shape Herb, menjadi seorang yang super dengan julukan Black Panther, pemimpin dan pelindung Wakanda. 

Selasa, 24 Oktober 2017

Review Hardcore Henry (2015) : 2 Kata : Sokil Gob! Action Brutal Paling Gila dan Terbaik

Jika ada satu film action yang paling membuat saya penasaran bagaimana mereka membuatnya? Ini lah dia, Hardcore Henry. Sebelumnya tentu telah banyak rilis film-film action yang menawarkan adegan action brutal seperti The Raid, Crank, Ninja Assasins, 300, Kingsman The Secret Service dan lain sebagainya. Sesuai judul saya diatas, 2 kata yang saya ucap setelah menonton ini adalah gokil abisss! Standing applause deh, berani tarok angka 9/10, dijamin deh ini film keren pake banget, dengan syarat siapkan aspirin dan obat mual kalau nonton karena tidak semua orang sanggup menelan film ini mentah-mentah sepanjang 90 menitnya. Banyak hal yang membuat film ini spesial, namun yang pasti satu hal yang paling utama dan paling pertama yang membuat film ini sangat spesial adalah konsep point of view-nya yang FPS (First Person Shooter). Artinya, film ini disajikan dengan sudut pandang satu orang aktor utama saja, si Henry, sepanjang film, seperti kamu sedang bermain game Time Crisis buat kamu anak muda jaman 90an atau Call Of Duty buat kamu anak-anak jaman now. Udah kebayang kan gimana sensasinya menjadi “aktor” yang terlibat langsung dalam scenenya, kamu adalah dia dan dia adalah kamu. Untuk film lain dengan jenis point of view yang unik dapat juga kamu baca di artikel saya berikut ini : Film-Film Dengan Gaya Visual Unik.

Gambar : imdb.com

Film yang syuting dengan menggunakan kamera Action Cam ini menyajikan full-throttle-action sepanjang durasinya, gas terus, jangan harap bisa menghela nafas panjang, karena sutradara tak memberikan kesempatan tersebut. Dia tahu betul bahwa film ini all about action, dia memang tak mengeksplorasi banyak untuk tumbuh kembang karakter tokoh-tokohnya. Dia juga tak merangkai plot cerita yang kompleks karena yang dia ingin lakukan adalah memberikan sebuah pertunjukkan seru like everyone never seen before. Saya pribadi sangat suka film-film yang mengusung ide atau konsep yang original seperti ini, yang baru, yang beda, yang tidak mengikuti pasaran, out of the box atau anti mainstreamI’m sick of reboots and remakes, need something original. Dan atas dasar itu film ini bisa saya bilang adalah salah satu masterpiece.

Kamis, 05 Oktober 2017

Battle Royale (2000) : Sebelum The Hunger Games Ternyata Inilah Yang Lebih Dahulu Sang Pioner Teen Death Games

Kalau sebut judul film The Hunger Games, mungkin sebagian besar orang pasti kenal dan tahu itu film apa. Coba diajukan nama “Battle Royale”, tak semua orang yang tahu, termasuk saya sebelum ini, hehe... Orang-orang mengenal The Hunger Games sebagai film yang menampilkan teen death games yang bagus, namun jauh sebelum itu, telah hadir lebih dahulu film Battle Royale, yang menurut beberapa orang sebagai perintis alias pioner teen death games. Film-film sejenis death games yang muncul setelahnya yaitu The Purge, The Cabin In The Woods, The Belko Experiment, The Tournament dan The Condemned. Film dari negeri jepang ini menjadi sebuah film classic cult yang sampai saat ini terus menjadi perbincangan orang di seluruh dunia karena bagusnya dan tentu karena kontroversinya. Mana ada sih death games yang tidak kontroversi, hehe...


Bicara soal cerita, pada awal film, ada narasi yang menyebutkan bahwa negara sedang dalam kondisi buruk, pengangguran banyak, kriminalitas remaja meningkat dan orang dewasa kehilangan kepercayaan takut terhadap yang muda. Oleh karena itu pemerintah menciptakan Reformasi Pendidikan Milenium alias BR Act.  Nah setiap tahun digelar sebuah “death game”. Format gamenya adalah dimana sejumlah anak remaja sekitar 1 kelas, dikumpulkan di sebuah tempat terpencil seperti pulau tak berpenghuni. Permainannya adalah mereka diharuskan membunuh satu sama lain sampai tersisa hanya 1 orang yang kemudian dinyatakan sebagai pemenangnya. Persis seperti The Hunger Games bukan? Namun respon kritikus sedikit lebih baik dari beberapa yang membandingkannya dengan The Hunger Games. Sebut saja yang paling mencolok adalah ucapan dari sutradara favorit bro Ilham, Quentin Tarantino, yang menyatakan jika ada sebuah film yang ia harapkan untuk menyutradarainya sejak ia menjadi sutradara adalah film Battle Royale ini. 

Lalu, dimana sih letak lebih baiknya? Letak bagusnya?

Senin, 04 September 2017

Baby Driver (2017) : Gila Asik Bener Ni Film

Gila..Asik bener nih film, saya rate 9,4/10!

Ya, itulah kalimat pertama yang keluar dari mulut saya tepat selangkah setelah melewati pintu keluar teater sehabis nonton film Baby Driver. Bener-bener asik, pake banget. Wait..sebelum langsung kepada inti, kita pemanasan dulu. Film apa ini sebenarnya? Pertama kali saya ketemu film ini lewat Trailer Official di Youtube dengan backsound yang keren dari Boga - Nowhere To Run. Opening scene pada trailernya memperlihatkan seorang anak muda cute kayak saya, hehe..., sedang mendengarkan musik dengan headsetnya, wah...saya banget nih, hehe...sesama suka dengerin musik, kalo udah pakai headset berasa autis. Si anak muda ini diperankan oleh Ansel Elgort, yang biasanya suka main mewek-mewek di film drama, karena badannya yang kurus dan wajahnya yang imut kayak boyband. But...alih-alih nyanyi ataupun ngedance ala boyband, justru Ansel disini tampil beda dengan "boyband" yang beda pula, tepatnya boyband sangar dan bertato, kayak Jon Bernthal (Griff) dan Jamie Foxx (Bats). Boyband yang bernyanyi di belakang kemudi, berdansa dengan mobil sport, bergaya dalam merampok bank, lirik-lirikan saat sedang kebut-kebutan dan bunuh-bunuhan. Well...this is what I call love at the first sight.


Love at the second sight datang ketika rilis trailer "TeKillYah" dimana dalam trailer tersebut, selain lagu Tequila dari Vinnie Maniscalco yang diremix oleh The Champs memang asik betul, karena disana juga dicantumkan penggalan review positif dari media dan kritikus film, seperti "Beyond F*cking Awesome" dari Rolling Stone, "5 stars" dari Empire Magazine, bahkan termasuk 100% at Rotten Tomatoes (kala itu, sekarang 93%), WTF...!!! Film apa ini??? Kalo liat plot story kayaknya udah pasaran yah, perampokan bank, good guy and bad guy, tembak-tembakan dan kebut-kebutan, sampai adanya bumbu asmara dengan gadis cantik. Cuma dari trailernya saja saya udah suka banget. Bukan karena liat muka si Ansel ya, ane masih normal bookk...haha... Tapi melainkan karena film ini film action yang beda,.

Apa bedanya?

Minggu, 03 September 2017

Review American Made (2017) : Really Unbelievable True Story (by Muhammad Hasbiy - JMFC 066)

Pada awal penayangan, disebutkan bahwa film ini based on true story, sehingga saya sempat nyeletuk ''Owh...kisah nyata, kagak ada efek wah dong ini, bakalan krik..krik aja nih...''. Ini merupakan film ketiga Tom Cruise yang bergenre biografi, setelah Born on the Fourth of July (1989) dan Valkyrie (2008). But..ehm...ternyata lumayan keren juga. Tidak banyak komedi yang disajikan, itupun harus ''digali'' terlebih dahulu. Tetapi saya merasa cukup terhibur. Plot dibuat sedemikian rupa sehingga tidak terasa hambar. 

Gambar : imdb.com

Pengalaman sang sutradara film, Doug Liman, yang kita kenal dari karya film-film actionnya yang berjudul Edge Of Tomorrow dan Jason Bourne movies, berhasil menjaga konsistensi film ini sehingga penonton (atau dalam kasus ini, saya) tidak merasa bosan meskipun ini adalah sebuah biography. Twistnya juga lumayan bagus, ga ketebak-ketebak amat walaupun akhirnya ketebak juga (naon sih...). Endingnya juga bagus, ga kriuk-kriuk. Akhir kata tidak perlu film dengan efek yang membahana, cukup dengan alur cerita yang jujur dan sederhanapun sudah dapat membuat saya terpana.

Selasa, 11 Juli 2017

Penjelasan Film Alien : Covenant Dan Kronologi Hubungannya Dengan Film Prometheus (Review By Muhammad Ilham - JMFC 041)

Sekelompok kru kapal koloni bernama Covenant menjelajahi luar angkasa dan memiliki satu tujuan yaitu Origae-6 planet yang telah lama diamati dan diharapkan menjadi tempat koloni baru manusia, namun dipertengahan jalan mereka menemukan sebuah Planet asing yang amat mirip dengan bumi tanpa mengetahui bahwa sesuatu yang amat mengerikan menunggu mereka disana.

Ga banyak yang akan saya ceritakan mengenai sinopsis film ini karena memang artikel ini ditujukan bagi orang-orang yang telah menonton filmnya dan masih garuk-garuk kepala mencoba menelaah hal-hal yang ga dimengerti dalam film ini. And now saya akan mencoba menganalisa hal-hal ini yang walaupun belum tentu benar, dari artikel-artikel yang saya baca digabung dengan hipotesa saya sendiri.

Gambar : imdb.com

<Warning Spoiler Alert, bagian selanjutnya dari artikel ini mengandung bocoran cerita (spoiler)>

Dalam film ini terlihat bung Ridley Scott berusaha keras untuk memenuhi selera audience agar Alien Covenant mampu memberikan jawaban dari film Prometheus dan menonjolkan sisi Alien serta Xenomorph (Apa itu Xenomorph? Baca disini donk bro) lebih kuat lagi dalam satu bungkus, hasilnya? Hampir seperti nasi bungkus hehehehe. Banyak yang mencela dan memaki film ini, tidak realistis, kru ilmuwan super bodoh dan tak masuk diakal, repetitive, sadly its true.., what? Ya dapat kita bayangkan ilmuwan mana sih yang meresikokan seluruh koloni dengan tujuan planet yang sudah puluhan tahun diamati eh malah mampir ke planet yang memancarkan sinyal asing tak jelas tanpa tau disitu ada apaan?atau para ilmuwan yang menjelajahi planet tanpa pakaian pelindung ataupun masker? (Ada android kan disitu? Kenapa ga android aja), atau ilmuwan yang diajak ke lantai bawah gelap gulita oleh android jahat “mas ikut adek kebawah yok, adek mau nunjukkin sesuatu” anehnya Kang mas mau azza, terus kata sang android jahat “ada telur alien disitu mas, mas liatin deh bagus kok” eh kang mas mau lagi, yaelah kang disuruh nungging kali tu ilmuwan tetap aja mungkin nurut wae hehehehe. Tapi sutra lah, dibalik itu semua masih ada sedikit titik terang dalam Alien Covenant, visualnya mampu diacungi jempol, penampakan Aliennya pun sangat detail dan rapi. Namun yang paling saya sukai di film ini adalah bagaimana cara dari senor Scott memasukkan kandungan Filosofis, budaya dan kepercayaan serta agama lalu mengkoneksikan antara Saga Alien dan Prometheus secara bersamaan sehingga Alien Covenant dapat menjawab beberapa pertanyaan dalam film Prometheus dan membuat kita tetap intrigue menunggu seri selanjutnya. Apa aja yang dijawab disitu?

Kamis, 06 Juli 2017

Review Film 3 Alif Lam Mim : Film Indonesia Bertema Futuristik Pertama Namun Dekat Dengan Realita Hidup Kita (By Nendra Pratama - JMFC 069)

Huft setelah sekian lama absen dari mencoret – coret blog kita tercinta ini, akhirnya saya megang laptop lagi buat nulis review ini, bukan film baru memang, namun sebagai seseorang yang mengaku menyukai film saya merasa harus menyampaikan sedikit apa yang saya rasakan ketika melihat film ini, ya, film 3 (Alif Lam Mim) yang previewnya pernah ditulis oleh Agent 001 disini memang merupakan film yang unik untuk ukuran perfilman negara kita, mengapa? Karena apa yang ditampilkan dalam film ini sangat berbeda dari film dalam negeri kebanyakan yang selama ini kita tau. Jadi mari kita kupas satu persatu mengapa film ini begitu membekas buat saya. J


Gambar : imdb.com

Jajaran Pemeran Yang Memiliki Jaminan Mutu
Film yang ditulis dan disutradarai oleh Anggi Umbara dan diproduseri oleh Arie Untung ini memang memiliki nama – nama pemeran yang layak jual, coba aja liat deretan list pemeran film ini, dimulai dari Cornelius Sunny, Abimana Aryasata, Agus Kuncoro, Prisia Nasution sampai Cecep Rahman. Setiap cast mendapat peran yang pas dengan akting yang memang wajar dan sangat natural, Cornelius Sunny yang berperan sebagai Alif, seorang aparat negara berperan sesuai namanya, Alif, yang berbentuk lurus, tidak neko – neko, ikut garis komando dan sangat disiplin serta memiliki loyalitas yang tinggi, sedangkan Agus Kuncoro sebagai Mim seorang pengajar disebuah padepokan berperan sangat misterius dan mencurigakan, dan Abimana Aryasata yang mendapat jatah sebagai Lam seorang jurnalis surat kabar terkemuka berperan memang seakan dia adalah wartawan yang benar – benar ingin mengetahui suatu pristiwa dari berbagai sisi, dan khusus untuk Abimana, saya sangat suka karakter dia di film ini, saya menunggu setiap kemunculannya di layar dan menurut saya karakternya benar – benar menginspirasi, bagaimana dia memperlakukan sahabatnya, Alif dan Mim, bagaimana cara dia bekerja mencari berita, bagaimana cara dia menghadapi bos dan rekan kerjanya, tapi yang paling memukau adalah bagaimana cara dia berkomunikasi dengan istrinya, sangat susah melupakan adegan Lam dan istrinya berbincang tentang masalah pekerjaan, bahkan saya masih ingat dialog Gendis, istri Lam, saat itu, kurang lebih begini : “ Inget Lam, kamu dulu datang ke papa aku bukan untuk ngajak aku bahagia, tapi untuk ngajak aku berjuang, itu yang membuat kamu dipilih oleh papa aku Lam” ohhh so sweet banget kan? Ahhh jadi baper saya huhuhu. Disamping ketiga karakter utama diatas maih ada banyak nama – nama besar yang ikut ambil bagian dalam film ini, dan memiliki peran dan karakter yang pas, sehingga membuat jalan cerita menjadi hidup dan terjalin apik.

Rabu, 19 April 2017

Preview Guardians Of The Galaxy 2 : Welcome To The Freaking Guardians Of The Galaxy

Eh..dah lama banget ga nulis preview. *soksibuk* To the point saja, bagi sebagian kamu mungkin belum familiar dengan film yang satu ini. Wajar sih ya karena memang ini bukan superhero Marvel yang populer, di layar lebar pun baru 1 film yang telah dibuat. But, semestinya film inilah yang sangat pantas untuk kamu tunggu-tunggu di tahun 2017 ini, seperti saya. Kenapa? Pertama, karena film pertamanya yang sukses, seru dan kocak banget. Film kedua ini pun juga dipastikan kocak abis. Kedua, karena mendapat respon 100% positif dalam screening test para kritikus film seperti yang diberitakan oleh slashfilm.com. Ketiga, karena lagu-lagu jadulnya asik-asik, setelah Awesome Mix Vol. 1, next Vol. 2 nya donk. Keempat, karena ada Baby Groot. Kelima, yang paling penting karena GOTG adalah gerbang penghubung antara The Avengers dengan Marvel Universe yang luas.

 GOTG 2 Title
Gambar : bleedingcool.net

Yak, alam GOTG yang notabene adalah di galaksi, tentu membuat film ini mempunyai alternatif yang tak terbatas, ga kayak tetangga sebelah, judulnya sih Perang Bintang, tapi ceritanya itu-itu aja ga berkembang, uppssss *ngajakperangsomeone*. Segala lokasi yang antah berantah, makhluk yang aneh-aneh, plot cerita yang variatif, teknologi yang super canggih, spaceship yang keren-keren, kekuatan yang tak terbatas, segala faktor ini juga tentu membuat kamu wajib menonton film ini.

 GOTG 2 Poster
Gambar : imdb.com

Preview ini dibuat bukan untuk kamu yang belum nonton film pertamanya, karena saya akan langsung to the point saja membahas apa yang akan ada di film kedua ini. So, bagi kamu yang belum menonton film pertamanya, termasuk golongan orang-orang yang merugilah, haha...*colekhasbiy*, segera tonton dan kesini lagi untuk membacanya. Sebelum itu liat dulu trailernya ini, klik Trailer 1 dan Trailer 2.

Alright then, apa saja yang perlu kamu ketahui tentang film GOTG 2? Simak poin-poinnya berikut ini :

GOTG 2 bersetting waktu hanya beberapa bulan setelah event di film pertamanya dan beberapa bulan sebelum event di film Captain America – Civil War.

Yak, kita mesti mengabaikan tahun kapan filmnya rilis. Meskipun GOTG 2 dirilis 3 tahun setelah filmnya yang pertama dan setahun setelah Captain America – Civil War, bukan berarti timelinenya mengikuti tahun tersebut. Setelah mereka menyelamatkan galaksi satu kali (dari Ronan “The Accuser”) dan menjadi mitra Nova Corps, kali ini mereka harus menyelamatkan galaksi untuk kedua kalinya, hanya  beberapa bulan setelah event di film pertamanya. Berarti juga, film ini sebelum Doctor Strange dan Avengers – Age Of Ultron, yang tentu bisa saja mempunyai kaitan, seperti monster seperti gurita di trailer rada mirip ama Shuma Gorath, monster yang pernah dihadapi oleh Doctor Strange di komik, dan tentu saja hubungan antar Infinity Stone.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...