Kamis, 27 Agustus 2020

Beribu Alasan Kenapa Old Boy Adalah Film Terbaik Korea Yang Kamu Pasti Ga Nyangka!

Perfilman Korea Selatan langsung naik daun ya abis Parasite menang Best Picture Piala Oscar. Nah..terkuaklah kalo film Korea Selatan itu banyak yang bagus-bagus, ga kalah ama Hollywood. Trus diantara yang bagus-bagus itu, setuju ga kalo Oldboy adalah yang paling bagus? Bahkan saya berani bilang Parasite telah "merampok" Piala Oscar yang seharusnya telah lama dimiliki oleh Oldboy. Orang-orang hanya ga tau aja Oldboy sebagus ini. Fyi, untuk masuk nominasi Piala Oscar memang pihak film harus gencar melakukan yang namanya "Kampanye" jelang pergelaran. Nah si produsen Parasite ini memang ngelakuin ini, marketing dan word of mouth dimana-mana, hasilnya opini member Academy Award sebagai voters, ikut tergiring. Sedangkan Oldboy dulu mereka ga melakukan kampanye semacam ini.


Nah berikut adalah alasan kenapa Oldboy layak disebut sebagai film terbaik Korea. And of course, ini isinya SPOILER ya, jadi kalo kamu belum nonton, ya nonton dulu sana, baru kesini lagi.

Cerita yang unik
Meskipun temanya tentang balas dendam, tapi pengembangannya bener-bener ga seperti film-film balas dendam pada umumnya, yang biasanya tuh motifnya karena keluarganya dibunuh atau pengkhianatan. Disini tuh unik, dendam timbul karena dia dikurung 15 tahun tanpa alasan, tanpa tau, siapa dan kenapa. Sebaliknya, di kubu sebelah, dendam juga bukan akibat pembunuhan secara langsung, tapi mulutmu harimaumu, hanya karena gosip, yang mengakibatkan butterfly effect kepada kematian seseorang. Jadi tambah unik, dendamnya dibuat bukan cuma dari satu pihak, tapi terdapat di kedua pihak yang berseberangan, jadi sama-sama saling ingin balas dendam. Masing-masing mereka pun ya memiliki cara mengeksekusi akhir yang unik. Scriptnya yang di ungkapkan lewat kata-kata juga bagus banget.

Twist Ending
Sebuah film kalo bisa kasi twist ending tuh gimana gitu, lebih berasa spesial aja, karene meninggalkan rasa shock jadi bakal teringat-ingat. Dan membuat twist yang bener-bener unpredictable itu sulit, twistnya juga ga sembarangan twist lah, yang cuma fan service, tapi twist yang bagus, meskipun harus sad ending atau ga berpihak pada penonton. Disini, twistnya sumpah edan banget! Dan banyak pula. First, Mido ternyata anak Oh Dae Su. Second, Oh Dae Su minta hipnotis ngilangin memori, itu artinya dia memilih untuk saling mencintai, ini sama aja dia akhirnya yang jadi reinkarnasi Lee Woo Jin, yang tetap mau melakukan hubungan meskipun itu terlarang. Ketiga, parahnya lagi, menurut ane, hipnotis yang di ending malah menghasilkan kemungkinan terburuknya, yaitu Oh Dae Su yang hidup dalam dirinya adalah yang "monster". Coba perhatikan baik-baik dalam kalimat yang dibilang ama si tukang hipnotis : "yang berjalan ke depan adalah si monster". Nah scene langkah kaki di salju dan Oh Dae Su udah beranjak dari kursinya itu artinya dia adalah yang si monster! Keempat, sepanjang film penonton digiring untuk menganggap bahwa ini adalah proses balas dendamnya si Oh Dae Su, padahal ternyata Oh Dae Su merupakan bagian dalam rencana balas dendam-nya si Lee Woo Jin. Semua twist ini banyak yang ga sadarin.


Akting yang luar biasa
Choi Min Sik paling dikenal ya lewat aktingnya di film Oldboy ini. Karena memang disini dia dominan banget. Aktingnya paling bagus paling menonjol, screentime dia juga durasinya yang paling banyak, trus ekspresi dia juga variasi, mau sedih, mau marah, seneng, bingung, kaget, penasaran, muka jelek, dan lain-lain deh..adegan laganya juga dia sendiri yang lakuin..bahkan akting jadi anjing pun dijabaninnya. Trus juga dia sangat total, sampe-sampe berani makan gurita hidup-hidup! Yes..adegan itu real, bukan CGI. Choi Min Sik adalah aktor yang kenyang awards, dan menurut saya di film ini adalah prime-nya Choi Min Sik.

Cinematography level master
Jika kalian menilai baru Parasite inilah film Korea yang menyajikan sinematografi master level, kalian salah. Jauh sebelum Parasite, telah ada Oldboy. Film-film Park Chan Wook itu sudah pasti menerapkan sinematografi yang levelnya master, bukan hanya "standar umum" yang mengandalkan camera angle, lighting, lensa, atau color grading, seperti kebanyakan Director of Photography (DoP) Hollywood dalam menghasilkan komposisi, depth, fokus dan framing. Tapi film ini sudah merambah ke movement camera, set produksi, warna, pattern, yang menghasilkan visual storytelling dan film nod yang juga mendukung kondisi cerita dan karakter di scene tertentu.

Visual storytelling adalah gimana visual dapat memberi cerita dan makna kepada penonton secara tak langsung. Sedangkan film nod adalah scene atau dialog yang mereferensikan sesuatu. Hal ini merupakan elemen penting dalam film untuk mendukung cerita dan karakter. Dalam film Oldboy, ada banyak sekali visual storytelling dan film nod yang telah disematkan oleh tim produksi dan sinematografi. Bahwa setiap shot itu direncanakan dan disusun dengan presisi dan detail, bukan udah dari sononya ter-set begitu dan tinggal numpang syuting aja. Ada pepatah perfilman yang bilang "nothing in cinema is accidental". Visual storytelling ini nih yang sedikit banyak membuat Parasite menang Oscar. Jadi sebenarnya itu bukan sesuatu yang baru dari perfilman Korea. Sudah sepatutnya sebenernya Oldboy juga layak mendapatkan Oscar. Cuma pada masa itu perfilman Korea belum dianggap, karena pasca krisis 1998 industri perfilman sana masih mencoba bangkit, dan Oldboy termasuk salah satu pioner kebangkitannya.

Berani, kontroversi, sadis dan vulgar
Ya..filmnya tu ratingnya extremely dewasa, adegannya sadis-sadis, mukul, nusuk, darah dimana-mana, kekerasan yang sangat kental. Filmnya juga menyelipkan adegan dewasa, dan berani mengambil tema incest yang kontroversi. Penonton akan dibuat mempunyai 2 rasa berbeda setelah meliat endingnya. Pertama rasa salut karena filmnya bagus banget, tapi juga nyesel karena kebenaran misteri film ini susah di uninstall, apalagi bagi penonton yang punya anak perempuan.


Dibuat tahun jadul
Bayangin, tahun 2003 Korea Selatan udah bisa bikin film sebagus ini. Tahun jadul itu teknologi dan pola pikir manusia kan ga secanggih sekarang. Apalagi Korea Selatan saat itu baru juga siuman dari krisis ekonomi 1998. Jadi, ini merupakan nilai plus lah, dia menjadi salah satu perintis kebangkitan industri perfilman Korea.

8,4/10 di IMDB dan 82% Rotten Tomatoes dan Box Office Success
Kedua angka di range 80an ini bukti kalo filmnya dinilai bagus oleh kedua kubu, akur nih, baik penonton awam maupun kritikus. Film ini perpaduan antara popcorn movie yang alur dan action thrillernya mainstream, semua orang bisa mencerna, bahkan ada scene komedi komikalnya. And ditambah genre mystery yang menjadi cult jadi perbincangan orang-orang, dan dikemas dengan "nyeni" alias arthouse. Suksesnya film ini juga bisa diliat dari angka pendapatan box officenya, dia dapet $15 juta dari modal $3 juta, untung 5 kali lipatnya cuk..

Banjir award
Sudah pasti film sebagus ini diganjar banyak penghargaan sebagai pengakuan. Kalo disebutin ga bakal cukup disini. Beberapanya aja nih menang di Piala Oscar-nya Korea Selatan, Grand Bell Awards, menang di 5 kategori termasuk sutradara dan aktor terbaik.

Cult
Cult bagi saya adalah sebutan untuk sebuah film yang banyak dan terus-terusan diomongin orang di seluruh dunia. Kalo lu nanya ke orang film Korea apa yang bagus, judul Oldboy pasti ada sekali dua kali disebut dan diomongin orang-orang. Belum afdhol kalo lu nyebur ke Hallyuwood (korean wave for movies) tapi ga tau Oldboy.

One of the best one take shot
Ada banyak one take yang ikonik dalam perfilman, baik itu real one take ataupun diedit seamless seolah-olah itu one take, seperti kerusuhan dalam gereja di film Kingsman Secret Service, Atomic Blonde-nya si Charlize Teron, ato punyanya The Raid juga ada. Nah Oldboy juga termasuk salah satunya. Yaitu adegan fighting di koridor itu, hebatnya lagi tanpa CGI, kecuali bagian ditusuk pisau. Dan lu sadari ato ngga, adegan itu di syuting di tempat khusus yang dibuat sama dengan "koridor"nya. Coba deh perhatiin, scene saat dia menyandera si bos gigi itu, kita bisa liat itu koridor lebarnya cuma 1 meteran lho! Tapi saat fighting mereka di shot dari sisi dinding tapi jarak jauh. Kalo syut beneran di koridor ya ga bakal muat untuk narok kamera jauh-jauh. Fightingnya pun diinstruksikan kepada para pemeran bahwa mereka harus seolah-olah dalam area yang sempit. Itu yang menyusahkan mereka untuk ngeroyok, dan ini keuntungan battle 1 on 1 buat si Oh Dae Su, membuat perkelahian ini lebih rasional. Continuitasnya juga dijaga, seperti ada yang gendut di awal kelahi dia kena pukul di kaki, kemudian di akhir keliatan dia pincang.


Visual story telling dan film nod
1. Jam
Kenapa sering muncul scene yang ada "jam"nya, kenapa harus "toko jam", yang menjadi usaha dari si ibu-ibu yang jadi kerabatnya, bisa aja kan sebenernya toko lain, banyak pilihan, tapi filmmaker memilih "toko jam" bukan tanpa sebab, melainkan memang punya makna bahwa di film ini bahwa karakter dalam film ini tuh kayak waktu, waktu itu berjalan, berlalu, adalah sesuatu yang tak terelakkan, seperti para karakter yang tak bisa mengelak dari takdir. Dan jarum jam itu, kemanapun dia bergerak, tetap ga bisa kemana-mana, berakhir disitu-situ terus, kek di penjara, sama kek Oh Dae Su, keluar dari penjara kecil, dia berada di penjara besar, kemana hidup dia diawasi ama si Lee Woo Jin. Puncaknya di ending, dia ga bisa ngelakin takdirnya yang mengharuskan dia hidup dengan memorinya, terpenjara kan.


2. Hijau, merah dan ungu
Trus ngomongin warna yang dipilih untuk film ini secara konsisten adalah kombinasi hijau, merah, dan ungu, sebagai simbol dari keinginan untuk maju (hijau) meskipun akan penuh dengan kekerasan (merah) dan tragedi (ungu). Coba deh perhatiin, warna-warna ini sangat dominan dimana-mana.


3. Diamond pattern
Lalu pattern alias pola, ini bagian dari estetika yang bisa sekalian jadi visual storytelling. Liat pola wallpaper di kamar Mido, kamar Oh Dae Su, kamar hotel, ruang terbengkalai, saputangan, hingga pola dari bungkus kado. Khusus yang terakhir motifnya adalah refleksi garis-garis permata, mirip dengan lubang pecahan kaca dimana Oh Dae Su ngintip kejadian incest si Lee Woo Jin.


4. Sayap
Sayap melambangkan kebebasan, bisa pergi terbang kemana aja. Dalam film, saat Oh Dae Su pertama kali di culik, yang tersisa hanyalah sayap tergeletak di jalan, sebagai simbol sejak saat itu Oh Dae Su telah kehilangan kebebasannya. Begitupula Mido saat dikurung dalam ruangan bekas Oh Dae Su.

5. Tanpa alasan
Oh Dae Su ga tau kenapa dia diculik, kenapa ditahan, berapa lama, tanpa alasan apapun, Hal ini juga sama dengan Mido ga tau kenapa dia bisa jatuh cinta ama orang yang jauh lebih tua darinya, bahkan pengangguran, cakep juga ngga, tajir juga ngga, jadi tanpa alasan Mido dibuat jatuh cinta.

6. Monster
Oh Dae Su memakan gurita hidup-hidup adalah simbol dari "monster" yang image-nya kan suka makanin yang hidup-hidup. Kan bisa aja tuh sebenernya pilih makanan laen. Tapi, kenapa harus makanan hidup? Ya karena untuk mereferensikan "monster" dalam film ini. Seperti dialog dalam film, bahwa Oh Dae Su adalah monster yang diciptakan oleh Lee Woo Jin. Sebaliknya juga sebenernya Lee Woo Jin menjadi "monster" bagi Oh Dae Su di kehidupan dia selanjutnya setelah dia mengetahui kebenarannya. Sementara kalo di kehidupan sebelumnya, Oh Dae Su adalah "monster" bagi Lee Woo Jin, yang "memakan" hidupnya dan kakaknya. Selama 15 tahun si monster dalam "penjara" yang diibaratkan dikurung dalam pikiran Lee Woo Jin selama itu. Di ending pun saat Oh Dae Su di hipnotis juga disebutkan tentang dirinya yang menjadi "monster".


7. Meringkas waktu
Oh Dae Su terhadap pemilik kurungan : "Setiap gigi yang ane cabut adalah 1 tahun hidup ane yang elo renggut"
Tukang hipnotis ke Oh Dae Su : "Setiap langkah yang elo lewati adalah 1 tahun usia monster berlalu"
Makna nama Oh Dae Su : "Melewati sepanjang hari dalam satu waktu".

8. Anjing
Pria yang di atas gedung yang punya anjing putih, sebelum bunuh diri dia bilang "Meskipun aku monster, apakah aku ga bole punya hak untuk hidup?", kata-kata ini juga dipake Oh Dae Su di ending, dan anjing tersebut mereferensikan Oh Dae Su yang menggonggong saat memohon kepada Lee Woo Jin. 

9. Dasi
Adegan Oh Dae Su memegang dasi pria di atas gedung juga direferensikan menjadi adegan Lee Woo Jin memegang tangan kakaknya di jembatan. Keduanya sama-sama berakhir dengan bunuh diri.


10. Mulutmu harimaumu
Oh Dae Su merupakan karakter yang cerewet, terlalu banyak bicara, dan penyebar gosip, akibatnya sebagai hukuman ia harus kehilangan lidahnya.

11. Telingamu empatimu
Pengawal Lee Woo Jin sebenarnya adalah orang yang tau semua yang dikatakan Lee Woo Jin, tapi memilih untuk diam dan tidak mencegahnya. Maka adegan telinganya kena tusuk adalah simbol hukuman untuk "kebudekannya". 


12. Cermin
Ada refleksi cermin dalam scene-scene krusial, seperti saat Oh Dae Su memergoki adegan incest, dan di ending saat dia di hipnotis. Ini merupakan sebagai refleksi bahwa Oh Dae Su adalah Lee Woo Jin itu sendiri. Scene tersebut diantaranya jendela sekolah yang pecah, cermin rias kakak Lee Woo Jin, kaca apartemen Lee Woo Jin.

Semua hal diatas kan sebenernya bisa aja sang filmmaker memilih adegan lain untuk ceritanya, tapi dia tetap milih untuk sengaja seperti ini karena memiliki makna dan mendukung skenarionya.
 
Pokoknya ingat aja, nothing in cinema is accidental, semua terencana, yang membedakan film itu spesial atau biasa adalah apakah rencananya well design atau sekedar yang penting jadi. Yang well design ya kekgini nih, biasanya butuh waktu buat mikir, meras otak, otak yang cerdas. Gimana caranya bisa punya otak yang cerdas? Ya isi dengan hal-hal yang cerdas pula. Tonton film-film berkualitas!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...