Thursday, July 6, 2017

Review Film 3 Alif Lam Mim : Film Indonesia Bertema Futuristik Pertama Namun Dekat Dengan Realita Hidup Kita (By Nendra Pratama - JMFC 069)

Huft setelah sekian lama absen dari mencoret – coret blog kita tercinta ini, akhirnya saya megang laptop lagi buat nulis review ini, bukan film baru memang, namun sebagai seseorang yang mengaku menyukai film saya merasa harus menyampaikan sedikit apa yang saya rasakan ketika melihat film ini, ya, film 3 (Alif Lam Mim) yang previewnya pernah ditulis oleh Agent 001 disini memang merupakan film yang unik untuk ukuran perfilman negara kita, mengapa? Karena apa yang ditampilkan dalam film ini sangat berbeda dari film dalam negeri kebanyakan yang selama ini kita tau. Jadi mari kita kupas satu persatu mengapa film ini begitu membekas buat saya. J


Gambar : imdb.com

Jajaran Pemeran Yang Memiliki Jaminan Mutu
Film yang ditulis dan disutradarai oleh Anggi Umbara dan diproduseri oleh Arie Untung ini memang memiliki nama – nama pemeran yang layak jual, coba aja liat deretan list pemeran film ini, dimulai dari Cornelius Sunny, Abimana Aryasata, Agus Kuncoro, Prisia Nasution sampai Cecep Rahman. Setiap cast mendapat peran yang pas dengan akting yang memang wajar dan sangat natural, Cornelius Sunny yang berperan sebagai Alif, seorang aparat negara berperan sesuai namanya, Alif, yang berbentuk lurus, tidak neko – neko, ikut garis komando dan sangat disiplin serta memiliki loyalitas yang tinggi, sedangkan Agus Kuncoro sebagai Mim seorang pengajar disebuah padepokan berperan sangat misterius dan mencurigakan, dan Abimana Aryasata yang mendapat jatah sebagai Lam seorang jurnalis surat kabar terkemuka berperan memang seakan dia adalah wartawan yang benar – benar ingin mengetahui suatu pristiwa dari berbagai sisi, dan khusus untuk Abimana, saya sangat suka karakter dia di film ini, saya menunggu setiap kemunculannya di layar dan menurut saya karakternya benar – benar menginspirasi, bagaimana dia memperlakukan sahabatnya, Alif dan Mim, bagaimana cara dia bekerja mencari berita, bagaimana cara dia menghadapi bos dan rekan kerjanya, tapi yang paling memukau adalah bagaimana cara dia berkomunikasi dengan istrinya, sangat susah melupakan adegan Lam dan istrinya berbincang tentang masalah pekerjaan, bahkan saya masih ingat dialog Gendis, istri Lam, saat itu, kurang lebih begini : “ Inget Lam, kamu dulu datang ke papa aku bukan untuk ngajak aku bahagia, tapi untuk ngajak aku berjuang, itu yang membuat kamu dipilih oleh papa aku Lam” ohhh so sweet banget kan? Ahhh jadi baper saya huhuhu. Disamping ketiga karakter utama diatas maih ada banyak nama – nama besar yang ikut ambil bagian dalam film ini, dan memiliki peran dan karakter yang pas, sehingga membuat jalan cerita menjadi hidup dan terjalin apik.



Tema Yang Diusung Film Ini Tidak Biasa
Ada yang pernah lihat film Indonesia yang bersetting masa depan? Saya belum pernah sampai saya melihat film ini, film ini sendiri bersetting di Jakarta pada tahun 2036, diceritakan bahwa negara ini aman dan damai sejak revolusi pada tahun 2026 yang mana sejak saat itu penggunaan senjata api oleh aparat sangat dilarang sebagai gantinya mereka menggunakan peluru karet, hal ini dilakukan atas nama Hak Asasi Manusia, jadi hukuman bagi seorang aparat yang kedapatan menembakan senjata api sangat berat. Disini juga digambarkan bagaimana kondisi Indonesia menuju ke tahun 2036 diawal film melalui potongan – potongan adegannya.

Kritik Dan kehidupan Sosial Yang Relevan Pada Masa Sekarang
Banyak kritik yang disampaikan dalam film ini, kritik tentang aparat, media, dan opini orang yang merasa dirinya benar sendiri, semua disampaikan mengalir mengikuti dialog dan keadaan dalam film ini, dan saya rasa, Anggi Umbara memang sedang serius memikirkan negeri ini ketika menulis naskah untuk film ini. Karena apa yang disampaikannya terasa sangat familiar, seakan memang itulah yang kita hadapi, setting waktu yang berbeda dengan permasalahan yang sama. Sangat cerdas, cerdas sekali sehingga film ini hanya sempat nangkring tiga hari dibioskop, dan mirisnya, sesuai dengan judulnya : 3 (Alif Lam Mim). Dan kenapa hanya sempat tayang tiga hari? Tonton sendiri filmnya dan anda bisa menilainya J

Adanya Twist – Twist Kecil Yang Menyenangkan
Sudah menjadi kodratnya bahwa manusia pada dasarnya menyukai kejutan – kejutan kecil dan sedikit tarik ulur untuk tau mana jawaban yang benar dan mana yang salah, karena disitulah kita belajar menilai situasi dan menentukan sikap, sama seperti wanita yang sedang saya kejar, saya kadang bingung sendiri  karena dia bisa jadi wanita yang sangat ramah namun tak jarang dia bisa menjadi begitu dingin dan mecekam, sehingga saya berpikir, apakah dia mau menerima saya ketika saya mengutarakan isi hati. Dan yang terjadi adalah dia menganggap saya hanya teman, tak lebih dan tak kurang, padahal selama ini saya berusaha mati – matian mendapat hatinya. Nah, dari situ saya belajar bahwa, tak perlulah kita bertindak lurus, karena terkadang dibutuhkan sedikit tikungan agar kita tetap konsentrasi dan di butuhkan sedikit angin agar kita tetap dalam posisi siap dan tegak lurus, ais, nah kenapa saya malah jadi curhat? Hahhhh maaf, maaf, maaf, ok lanjut, begitupun dalam film, yang membuat saya betah menonton sebuah film adalah karena adanya ketidakpastian atau dalam bahasa kerennya twist, pemutarbalikan fakta, kita tidak tau siapa berperan sebagai apa sampai film benar – benar usai, nah di film 3 (Alif Lam Mim) ini, twist – twist kecil seperti itu berserakan, apalagi filmnya sendiri dibuat menjadi empat bagian, yaitu bagian Alif, Lam, Mim dan Alif Lam Mim. Sehingga kita akan tetap merasa nyaman duduk sambil menyaksikan apa yang selanjutnya akan terjadi.

Koreografi Silat Yang Memukau
Dengan adanya Cecep Rahman, maka tidak diragukan lagi bahwa koreo silat dalam film ini begitu memanjakan mata, pertaruang keroyokan? Ada. Satu lawan satu? Ada juga. Dan dijamin semuanya keren J

Nilai Minus Film
Daritadi ngomongin yang bagus – bagusnya aja nih, emang segitu bagusnya ya film ini? Oh tentu tidak, tak pernah ada gading yang tak retak, begitupun film ini, nilai minus film ini menurut saya ada dua yaitu :
Pertama : penggambaran Jakarta tahun 2036, ya boleh dibilang masih kasar dan kurang detail, hal yang paling mencolok adalah penggunaan gagdetnya yang memang terlihat bagus, selain itu, sorry to say, biasa aja.
Kedua  : adegan slow motion pada adegan aksi, buat saya ini sangat mengganggu, entahlah, apa karena kebanyakan atau bagaimana, tapi menurut saya ada adegan yang harusnya tidak perlu menggunakan slow motion.

Ahhhh udah panjang aja nih, hehehe, film ini saya rekomendasikan buat kalian yang ingin melihat film Indonesia yang beda dari yang pernah ada, ditulis dengan sangat cermat dalam observasi sosial kebudayaan kita dengan adanya bumbu twist serta adegan aksi yang keren maka film ini layak masuk daftar list tonton kalian. Akhirnya 9,0/10 untuk film 3 (Alif Lam Mim)

#JMFC069

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...