Tampilkan postingan dengan label Horror. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Horror. Tampilkan semua postingan

Jumat, 10 November 2023

Film Yang Mengubah Atau Mempengaruhi Perspektif Saya Terhadap Sesuatu

Hello, udah lama banget ga nulis ya, udah setahun gila! Rasanya kata-kata ini udah sering saya ucapkan karena memang sudah sangat jarang menulis beberapa tahun terakhir. Sutralah, let it flow aja, kapan mau buat ya buat, kapan ngga ya ngga, ga usah dipaksakan. Oche! Langsung aja, kali ini saya mau berbagi tentang film-film apa saja yang pernah saya tonton dan membawa dampak atau pengaruh dalam hidup saya, yang mengubah perspektif saya terhadap sesuatu. Dari yang tadinya tidak tahu menjadi tahu, dari yang tadinya berpihak pada A, bisa jadi sekarang berpihak kepada B, atau in the middle of grey area that is in doubt, atau bahkan secara tak langsung menjadi titik awal dalam membuat prinsip baru dalam hidup saya.


Apa saja itu? Berikut daftar dan ulasan singkatnya. Tapi saya warning dulu ya, karena tulisan ini mengharuskan saya menceritakan bagian filmnya yang mana yang telah mempengaruhi saya, maka artikel ini akan mengandung spoiler dari film-film berikut ini beserta level spoilernya minor atau major:
 
Jurassic Park (1993) : No Spoiler
V For Vendetta (2005) : No Spoiler
Mission Impossible II (2000) : Major Spoiler
Minority Report (2002) : No Spoiler
Shutter Island (2010) : Minor Spoiler
The Host (2013) : No Spoiler
A Clockwork Orange (1971) : Major Spoiler
Dogtooth (2009) : Major Spoiler
The Truman Show (1998) : Major Spoiler
Prometheus (2012) : No Spoiler
Alien : Covenant (2017) : No Spoiler
The Hunger Games : Mockingjay - Part II (2015) : Major Spoiler
Snowpiercer (2013) : Major Spoiler
Seobok (2021) : Major Spoiler
Tomorrowland (2015) : No Spoiler

1. Jurassic Park

Ketika saya SD, sekolah saya mengadakan "tur" ke bioskop dan saya ikut di dalamnya. Jurassic Park adalah film yang kami tonton, di bioskop Sumatra 21, Kota Jambi. Itu adalah untuk pertama kalinya saya ke bioskop dan mengenal yang namanya film bioskop. Dengan studio indoor, bangku yang nyaman, layar super besar dan suara menggelegar, ditambah pula dengan kebetulan film yang ditonton adalah film maha dahsyat saat itu, Jurassic Park, alhasil saya yang masih kecil itu pun sangat terkagum dengan apa yang telah mata saya konsumsi. Since then, saya tau rasanya pengalaman nonton film, dan itu lah yang menjadi katalis yang mengarahkan saya untuk punya hobi nonton, mulai dari Layar Emas RCTI, Bioskop Trans TV, Rental Odiva, hingga menjadi "saya saat ini". Dan saya yakin, I'm not the only 90s kid that had their life changed after watching this film. Bener kan? 😁

2. V For Vendetta (2005)

Meskipun saya suka nonton dari dulu, tapi selera tontonan saya sampai semasa kuliah itu masih saya batasi pada genre popcorn movie, seperti film-film superhero, action dan komedi, sebut saja masa itu Hancock, Green Hornets, Charlie's Angels, Rush Hour, Godzilla, White Chick, Click, even American Pie dan Scary Movie dkk. Suatu waktu, saya melihat ada cover VCD yang eye-catchy di barisan film action tempat saya biasa menyewa film, Odiva. Dengan jubah seperti Zorro, topeng badut dan dua bilah belati, I was totally thinking bahwa ini keknya film superhero baru deh, keknya keren deh, coba ah.

Setelah nonton barulah tahu kebenarannya ini film apa. Bener sih memang film superhero, but it wasn't  like my ordinary superhero jaman itu. V adalah sosok antihero dalam plot cerita yang tidak umum bagi sebuah film yang memiliki sosok superhero. Temanya cukup berat dan kompleks, tentang misteri identitas, konspirasi politik, tirani, anarkisme, fasisme dan hak asasi. Anehnya, meskipun temanya berat bagi saya yang masih lugu saat itu, tapi saya tetap bisa tenggelam dalam alur ceritanya yang intense, seperti terpesona oleh dialog V yang selalu diintonasikan dengan kharismatik itu. Terlebih lagi aksi fighting V yang super duper cool itu, epic, dan endingnya yang sangat klimaks itu, I was totally amazed. Sejak saat ini, perspektif saya tentang batasan film berubah, saya tidak lagi hanya mengkonsumsi popcorn movie tapi mulai merambah film-film misteri, yang kompleks, temanya ga umum, meskipun frekuensinya masih sekali-sekali, karena keterbatasan pilihan sumber daya kala itu, belum seperti saat ini. Thanks V.

3. Mission Impossible II (2000)

Meskipun ini sering tayang di TV, tapi saya nontonnya jaman rental VCD pasca V For Vendetta. Secara level ini masih tergolong popcorn movie dengan actionnya yang keren. Film ini yang menggugah pola pikir saya dalam melihat setiap fenomena atau kasus. Bagian yang mananya? Bagian opening kalau ga salah saat si profesor menjelaskan tentang virusnya yang kurang lebih artinya begini : 

"What is the thing that every hero need? A villain".

Dalam film itu, si profesor menciptakan virus mematikan sebagai "villain" agar antivirusnya sebagai "hero" dapat laku. Hmm...kok kayak familiar di masa Pandemi kemarin ya? 😏 Tapi film ini rilis sebelum itu, jangan-jangan....😅

Pola pikir seperti ini disebut dengan teori konspirasi. Saya yang masih lugu tiba-tiba tercerahkan. Sejak saat itu, setiap kasus selalu tak luput dari pola pikir konspirasi ini, yang bagi saya sangat membantu dalam mengambil tindakan secara bijak, untuk tidak terlalu terburu-buru mengambil kesimpulan dan menilai atau mengutarakan sesuatu. Saya selalu melihat sesuatu dari dua sisi berbeda, otak saya mensimulasikan secara fiktif segala kemungkinan skenario, yang menganggap bahwa sesuatu bisa saja ada dalangnya, yang ingin mengambil keuntungan dengan cara menciptakan masalahnya terlebih dahulu. Kalau dalam dunia perfilman sudah banyak yang menggunakan plot konspirasi sehingga terkadang predictable.

Teori ini bisa saja diterapkan dalam dunia nyata, namun akan menjadi pikiran yang sangat liar tanpa batas dan dapat menyasar ke sektor apapun. Contohnya seperti politik, incumbent dan koalisi harus membutuhkan oposisi agar mereka bisa terlihat sebagai protagonis dan baik untuk elektabilitas mereka, upsss.... seperti dalam video di channel Helmi Yahya dengan thumbnail "Koalisi dan Oposisi adalah Saudara Kembar Yang Pura-Pura Musuhan". 

Selasa, 30 Agustus 2022

Review dan penjelasan ending film : Nope (2022)


Sutradara Jordan Peele itu bener-bener spesial. Dia itu ibarat "Black Bong Joon Ho". Setiap karyanya itu sebenarnya simpel dan bisa dinikmati casual moviegoers, tapi kalo digali lebih dalam ternyata punya makna yang disisipkan. Tanpa banyak bacot lagi, lets get started.

Sinopsis :

Di sebuah daerah terpencil di Amerika, OJ dan Emerald adalah 2 kakak adik yang mengelola usaha turun temurun yaitu tempat pelatihan kuda. Kuda-kudanya dipakai untuk industri perfilman Hollywood atau periklanan. Suatu saat, OJ melihat penampakan yang tak biasa diatas langit. Penampakan ini membuat kuda-kuda di dalam lahannya pada takut bahkan kabur. Apakah sebenarnya penampakan di atas langit itu?

Review non spoiler :

Film ini sekilas bukan merupakan "film berat". Plot seperti itu adalah plot yang sangat umum dan dapat diterima oleh berbagai kalangan, sangat ringan. Scene-scene dan dialog-dialog komedinya juga mudah untuk disukai. Jadi ga usah khawatir apakah filmnya bakal bisa dimengerti atau ngga. Temanya malah pasaran banget, tentang serangan alien. Cuma ya dimodifikasi aja sedikit menjadi lebih unik. 

Sampai film ketiga ini, sutradara Peele masih tetap berada di jalur yang sama yaitu mystery-thriller. Yang mana memberikan perasaan penasaran sambil sesekali diberi ketegangan karena keselamatan para tokoh di dalamnya sedang dipertaruhkan. Letak genrenya adalah tepat di perbatasan antara thriller dengan horror, karena ini bukan hantu tapi mampu membuat penonton menahan nafas.

Pada separuh awal film mungkin akan terasa sangat biasa, tapi semuanya berbanding terbalik di paruh kedua film. Sayangnya saya ga bisa spoil lebih jauh soal plot. Let it suprise you a lot. Biar kalian lebih dapat feels-nya. Karena film ini memang mempunyai "kejutan yang sangat besar" untuk kalian. Untuk reviewnya lebih enak kalo ngebahas tentang apa saja makna-makna yang tersirat di dalam filmnya. Berikut adalah penjelasannya.

Penjelasan Film

Seperti biasa, kalau udah kepada bagian penjelasan, saya selalu kasih spoiler warning dahulu, karena yang mau dijelasin tentu adalah isi dari filmnya itu sendiri. Jadi bagian ini hanya untuk kamu yang udah nonton. Kalo kamu belum nonton sebaiknya stop, tonton dulu filmnya, baru kesini lagi. Penjelasan yang disampaikan disini adalah subjektif, sebagai bentuk dari sebuah interpretasi atas apa yang dilihat dan yang diketahui. Jika kalian merasa ada yang salah atau kalian punya persepsi sendiri, silahkan komen di kolom komentar ya.

Rabu, 08 Desember 2021

Review non spoiler film The Medium (2021) : Datar di awal, dahsyat di ending.

Di sebuah wilayah di Thailand sana, terdapat masyarakat rural yang dalam hidup mereka masih sangat percaya dengan dunia mistis. Mereka menyembah dewa dan melakukan ritual-ritual penyembahan. Perdukunan juga adalah hal yang lumrah, banyak warga yang datang untuk "berobat" ketika ada sakit yang ga bisa diobati secara medis. Bahkan ada satu jenis dukun khusus yang dipercaya bahwa dirinya sebagai tempat bersemayam roh baik, Dewa Ba Yan. Inilah kenapa judul film ini The Medium, ceritanya akan mengisahkan tentang gimana manusia sebagai medium tempat bersemayam roh.

Dewa Ba Yan ini dipuja dan dipercaya sebagai pelindung desa. Dia akan pindah tubuh dalam tiap generasi, secara turun temurun dari keluarga si dukun yang jadi mediumnya. Saat ini, Dewa Ba Yan bersemayam di diri Nim, seorang ibu-ibu yang memang menjadi dukun medium Ba Yan sebagai warisan dari keluarganya.
 
Pada suatu ketika, ponakan si Nim yang cantik bernama Mink, mulai menunjukkan gejala dan tingkah laku aneh yang ga biasa, seperti marah-marah emosian, lalu ada juga dia diam dengan tatapan kosong. Dugaan mereka adalah Mink sedang dirasuki roh, dan yakin bahwa roh tersebut adalah Dewa Ba Yan yang ingin berpindah medium ke diri Mink. Mereka pikir ini adalah saatnya bagi mereka untuk mewariskan "kedukunan" khusus tersebut kepada Mink.
 

Kamis, 25 November 2021

Review non spoiler film horor Shutter (2004) - Ada hantu dalam foto!

Sinopsis :
Sepasang kekasih yang sedang mengendarai mobil malam hari di jalanan sepi, tiba-tiba ada seseorang yang melintas di tengah jalan hingga mereka ga sengaja menabrak orang tersebut. Namun sayang, mereka lari dari tanggung jawab dan memilih kabur, menjadikan ini sebuah kasus tabrak lari.
 
Sejak kejadian ini, hidup mereka ga tenang. Mereka diikuti rasa bersalah, hingga akhirnya terbawa mimpi. Dalam tidurnya, mereka bermimpi didatangi oleh korban tabrak lari tersebut, dalam rupa wujud hantu wanita. Hal ini mulai membuat mereka panik.

Si pria bekerja sebagai fotografer, dan sekarang beberapa hasil jepretan dia terdapat bayang-bayang aneh berwarna putih di fotonya, seperti bayangan hantu yang melintas. Sebenarnya mereka sempat mikir kalo orang yang mereka tabrak itu mati dan jadi hantu gentayangan dan mendatangi dunia mereka, tapi mereka mencoba menepis rasa takut mereka, dengan menganggap kalo itu hanya kerusakan kamera semata. Tapi semuanya berubah ketika sang hantu mulai betul-betul menampakkan wujud ke hadapan mereka. Mereka sepakat bahwa itu hantu korban tabrak lari yang mencoba balas dendam.

Jumat, 29 Oktober 2021

Review non spoiler dan Penjelasan Ending Film : Censor (2021)

Review dan Penjelasan Ending Film : Censor (2021)
 
 
Review (Non Spoiler)
 
Censor (2021), sekilas akan seperti film horor biasa, malah mungkin ga begitu menakutkan. Karena memang fokus film ini bukan untuk memberikan kengerian bagi penontonnya, melainkan menghadirkan cerita dari perspektif tokoh yang selama ini rasanya belum pernah diangkat menjadi protagonis dalam sebuah film, padahal dia sendiri berperan penting dalam setiap film, dialah "Tukang Sensor". Saya ga tau sebutannya apa untuk seseorang yang pekerjaannya berada di lembaga sensor film dan bertugas nontonin film-film yang akan beredar dan memutuskan mana aja yang disensor dan ratingnya apa. Dalam film ini sih disebut sebagai "Censors". Bisa ga kalian bayangkan gimana rasanya jadi tukang sensor? Kalian harus melihat semua adegan yang ga semestinya diliat, termasuk adegan yang terlalu sadis, hari demi hari, jam demi jam, yang kalian konsumsi itu melulu. Sanggup? Ini adalah pekerjaan berat, harus kuat iman, kuat mental dan juga fisik. Karena kalo ga kuat, ya pasti bisa terpengaruh kejiwaannya, dan tubuh juga dapat mual dan muntah-muntah. Untungnya, dalam film ini, sang protagonis adalah wanita yang sangat "kuat", dialah Enid.

Bersetting di tahun jadul, mungkin sekitar 1980an, dimasa film-film masih dikemas dalam format kaset VHS, adalah Enid yang profesinya sebagai seorang censors. Dia adalah wanita "kuat", melihat adegan-adegan yang sangat sadis aja ga bergeming. Apa yang membuat dia kuat adalah prinsip tentang pekerjaannya, bahwa dia ingin melindungi masyarakat dari pengaruh buruk film. Jadi dia harus bekerja sebaik mungkin untuk mensensor adegan yang kira-kira tidak layak di konsumsi publik.
 

Perlu diketahui bahwa di era tersebut, memang sempat terjadi pergolakan di dunia perfilman, terutama di Inggris Raya. Orang-orang berhipotesis bahwa terdapat hubungan antara film yang mengandung unsur kekerasan terhadap meningkatnya angka kriminalitas di Inggris Raya. Saat itu memang beredar film-film yang disebut dengan istilah "video-nasty", sebutan untuk film-film horor yang terlalu sadis, frontal, vulgar dan sarat eksploitasi. Terlepas dari benar atau tidaknya hipotesis tersebut, tetap aja pada akhirnya membuat pemerintah mengeluarkan Undang-Undang Video Recordings Act 1984 yang isinya merupakan upaya sensor, pengklasifikasian, pengetatan dan persetujuan terhadap distribusi film komersil yang beredar. Dengan tujuan untuk menurunkan angka kriminalitas dan mengurangi pengaruh buruk film terhadap orang yang menontonnya. Memang ada beberapa film yang mengandung kekerasan dan secara kebetulan atau tidak, memberikan pengaruh terhadap seseorang. Contohnya seperti film Scream yang berpengaruh terhadap kasus terbunuhnya seorang ibu oleh anaknya sendiri pada tahun 1998, trus film Saw yang menginspirasi lebih dari satu kasus kejahatan. Dan tak lupa yang paling fenomenal adalah penembakan di bioskop saat pemutaran film The Dark Knight oleh seseorang yang mengaku sebagai "Joker".

Kembali ke filmnya, suatu ketika, terjadi kasus kriminalitas yang mana pelakunya melakukan pembunuhan persis seperti adegan dalam sebuah film. Jadi beredarlah citra di masyarakat bahwa film dapat "menginspirasi" orang untuk berbuat jahat. Apesnya buat Enid, film tersebut diketahui oleh pers bahwa yang nyensor adalah dirinya. Berita ini menjadi beban pikiran buatnya dan bertanya-tanya, apakah sensor yang dia lakukan masih belum "sadis"? Padahal dia merasa sudah melakukan sensor yang semestinya. Apakah benar film dapat mempengaruhi perbuatan seseorang? Ini baru sekedar cerita pembangun, bukan masalah utama dalam film ini. Masih ada film lain yang akan memberikan dampak luar biasa terhadap diri Enid.
 

Film ini bukan tipikal film horor pada umumnya yang mengandalkan jump-scare atau sosok yang menyeramkan, tapi lebih tepat sebagai horor psikologi yang menerpa sang tokoh utama. Enid disini meskipun terlihat kuat, tapi dia punya kelemahan jika berhadapan dengan sesuatu yang membangkitkan trauma masa lalunya, yaitu dia pernah kehilangan adik kandungnya, Nina, yang sampai bertahun-tahun tidak ditemukan dan dinyatakan meninggal. Enid menjadi terlalu obsesif, terus mencari tau petunjuk tentang keberadaan Nina, bersikeras menepis kenyataan, dia merasa Nina masih ada. Dia ga bisa nerima kenyataan ini, karena dia sendiri ga bisa mengingat kejadian persisnya gimana, padahal sebelum hilang, Nina sedang pergi bersamanya.

Minggu, 01 November 2020

Film Paling Aneh di 2020 : Review Non Spoiler dan Penjelasan Ending I'm Thinking Of Ending Things (2020)

Judulnya tuh eye-catchy banget ya, I'm Thinking of Ending Things, jadi menggoda saya untuk langsung menontonnya. Entah ini genre apa, tentang apa, saya ga tau sama sekali, bahkan trailernya juga ga saya liat. Durasi demi durasi yang dilalui sebenarnya sangat membingungkan, tapi entah kenapa saya tetep aja terusin, mungkin karena narasi yang disampaikan dari perspektif si cewek dalam film ini menghipnotis sekali, jadi cukup membuat kepo ini sebenarnya ada apa gitu ya, gimana nasib ni cewek di ending. 

Filmnya menceritakan perjalanan sepasang kekasih, Lucy dan Jake, menuju rumah orang tua Jake, dalam rangka Jake yang mau ngenalin pacarnya ini ke ortunya. Mobil yang mereka kendarai harus melalui perjalanan jauh dan bersalju, menyiratkan suasana hati yang dingin dan terasa lama banget, scene yang sengaja dibuat demikian untuk "mendukung" ke-bete-an Lucy, menguatkan keinginannya untuk segera mengakhiri hubungannya dengan si Jake, karena pikiran "I'm Thinking Of Ending Things" ini yang terus berulang di pikirannya.

Selama perjalanan, percakapan terus diupayakan oleh Jake sehingga Lucy ga boring, atau Jake memang sengaja untuk mematahkan pikiran Lucy tadi, dengan selalu menyela dan menciptakan bahasan. Bahasannya ga tanggung-tanggung, dibungkus dengan dialog-dialog yang cerdas, mereka silih berganti saling lempar referensi pop-culture, sebut saja seperti review film, puisi, musikal, dan buku.

Sesampainya di rumah orang tua Jake, persepsi horor akan langsung tertancap di benak penonton, dikarenakan hadirnya Toni Collete, aktris yang peran horornya di Hereditary sangat membekas. Ditambah lagi dengan suasana awkward di meja makan, orang tua Jake mencoba untuk tampil ramah di hadapan calon mantunya, sedangkan Lucy ga tau ada apa sebenarnya di rumah mereka tersebut. Jake sendiri memang punya satu rahasia yang sangat tidak ingin terbongkar. Tak bisa dipungkiri filmnya memiliki unsur creepy yang cukup menakutkan.

Jumat, 02 Oktober 2020

13 Film Korea Selatan Paling Esensial Yang Harus Kamu Tonton Sebelum Nyebur Ke Dalam Hallyuwood!

Kesuksesan Parasite dalam dunia perfilman global membuka mata penonton dunia ke arah Korea Selatan. Orang-orang mulai menjelajahi film-film asal negri ginseng tersebut, yang disebut dengan istilah Hallyuwood, sebagai "sinonim pelesetan" dari Hollywood-nya Korea. Ini terimbas juga kepada media penyiaran seperti tv dan video on demand yang ikut meramaikan bisnis mereka dengan mengisi film-film Korea di saluran mereka. Tapi, bagi kita sebagai penonton yang baru mau mulai, mau mulai dari mana? Ada sekian banyak film Korea yang bagus-bagus, tapi bagusnya nonton yang mana dulu nih? Nah..setelah saya tonton banyak film Korea, berikut ini adalah film-film Korea yang menurut saya paling esensial, yang harus kamu tonton terlebih dahulu, sebelum nonton film-film Korea lainnya.

Untuk list ini, saya perlu menyempitkan pilihan. Pertama saya sortir filmnya hanya yang dirilis maksimal tahun 2010 dan kebawahnya (sebelumnya). Karena mereka bukan film "baru", film lama, senior lah caknya, mereka yang lebih dahulu hadir. Kemudian, saya mencoba untuk memberikan keterwakilan untuk setiap genre film, baik murni satu genre di dalamnya maupun kombinasi beberapa genre. Dan saya pilih dari setiap genre itu, judul yang paling sering disebut oleh orang-orang alias yang lebih populer. Mungkin ada film yang bagus, tapi ga begitu populer seperti Il Mare, Shiri atau Going By The Book. Lalu jika ada satu sutradara yang punya banyak film bagus, maka saya juga hanya pilih satu atau dua saja sebagai perwakilan. Contoh, ada banyak film karya Park Chan Wook yang bagus-bagus yang rilis sebelum 2010, seperti Vengeance Trilogy, JSA, I am A Cyborg but That's OK, dan Thirst, tapi saya pilih hanya satu atau dua saja sebagai perwakilan. Dan terakhir saya jamin semua film ini sangat bagus dalam urusan teknis, seperti penyutradaraan, skenario, akting, sinematografi, scoring, dll, yang telah diakui karena dapat awards dimana-mana. So, without bacot lebih banyak lagi, lets go to the list.

1. Oldboy (2003) : Mystery-Thriller

Current rating : 8.4/10 IMDb, 82% Rotten Tomatoes, 21+

Ini wajib, super wajib! Penjelasannya sih udah saya buat di artikel berikut ini : Beribu Alasan Kenapa Old Boy Adalah Film Terbaik Korea Yang Kamu Pasti Ga Nyangka! Tapi itu hanya untuk yang udah nonton aja. Nah bagi kamu yang belum nonton, film ini merupakan misteri tentang proses balas dendam seseorang bernama Oh Dae Su. Tanpa tau kenapa dan sebab apapun, dia disekap dalam ruangan selama 15 tahun! Gila ga tuh! Jadi dia bertekad untuk balas dendam dengan mencari siapa dalang penyekapnya. Uniknya, pelakunya bukan bersembunyi, tapi berani untuk berkomunikasi dengan Oh Dae Su. Dengan dibantu oleh seorang gadis yang dia temui, Mido, mereka berdua melakukan penelusuran terhadap petunjuk-petunjuk yang mereka punya. Gimana endingnya? You will never see that coming! Selain dari segi misteri, film ini juga mempunyai unsur fight action yang keren. Soal teknis ga usah ditanya, banyak menang award, semuanya outstanding, mulai dari script, akting, penyutradaraan, sinematografi, dan set produksi.

2. Memories of Murder (2003) : Mystery-Suspense

Current rating : 8.1/10 IMDb, 91% Rotten Tomatoes, 21+

Sutradara Parasite, Bong Joon Ho, naik daun ya lewat film ini nih. Berdasarkan kisah nyata, film ini bercerita tentang dua polisi yang melakukan penyelidikan terhadap kasus pembunuhan berantai di sebuah desa. Uniknya si serial-killer ini kalo membunuh punya ciri khas, seperti timing dan target yang diincer. Proses investigasi ini sangat menarik ditelusuri, apalagi dua detektif ini berbeda gaya dan punya keyakinan sendiri terhadap keampuhan metode yang mereka pakai. Yang satu santai dan data-based-guy, yang satu temperamental-judgemental yang mengintimidasi para suspects. Memories of Murder adalah sebuah presentasi yang hebat dari sebuah kisah nyata, dengan penyutradaraan, akting dan sinematografi yang berkelas. Untuk film ini kita udah ada reviewnya oleh Nendra, klik disini untuk baca reviewnya.

3. A Bittersweet Life (2005) : Action-Thriller

Current rating : 7.6/10 IMDb, 100% Rotten Tomatoes, 17+

A Bittersweet Life diisi oleh aktor Korea paling terkenal, Lee Byung Hun. Dalam film ini ia berperan sebagai seorang bodyguard, yang ditugaskan untuk menjaga pacar simpanan bosnya. Alih-alih menjaga, dia malah sepertinya jatuh cinta ama tuh cewek. Siapa yang ga bakal jatuh cinta wong cantik gitu, hehe.. Rada-rada mirip ama The Bodyguard From Beijing lah. Cuma bedanya A Bittersweet Life dikemas dengan cinematography apik dan makna yang filosofis. Ini tak lepas dari tangan salah satu sutradara terbaik Korea Selatan, Kim Jee Won yang juga menahkodai film Tale of Two Sisters. Urusan action, udah jaminan mutu, Lee Byung Hun bukan sembarang main film, disini banyak sekali adegan action dan fighting yang dahsyat dan memacu adrenalin. Bahkan bisa jadi film ini banyak dijadikan referensi oleh filmmaker-filmmaker lain dalam membuat sequence action, seperti adegan dalam gedung terbengkalai itu sepertinya menginspirasi Gareth Evans dalam film The Raid.

Selasa, 09 Juni 2020

Penjelasan Ending : The Wailing (2016)

Bagi temen-temen yang sudah nonton film The Wailing mungkin ada diantara kalian yang bertanya-tanya tentang ending dari film ini. Beberapa dari kita bahkan mungkin punya interpretasi sendiri. Disini kami akan mencoba memberikan penjelasan tentang apa aja yang terjadi dalam film The Wailing. Apa saja dia? Akan kita bahas disini.

Sebelum lanjut, kami pastikan bahwa ini hanya untuk yang udah nonton aja, karena penuh dengan spoiler, jadi buat temen-temen yang belum nonton filmnya bisa baca review non spoilernya di link yang ini. Dan buat yang udah nonton, yuk simak penjelasan ini sampai habis.

Apa yang sebenarnya terjadi?
Dukun Il-Gwang ternyata adalah temennya kakek Jepang. Ini dibuktikan dengan adegan ending yang memperlihatkan dukun Il-Gwang bongkar muat box kardus yang isinya adalah foto-foto para korban. Dalam video alternate ending, scene-nya malah dengan gamblang memperlihatkan dukun Il-Gwang menjemput kakek Jepang pake mobilnya. Ini juga dibuktikan dengan celana dalam yang mereka pakai sama. Mereka berdua berteman, bekerja sama untuk menjalankan semacam ritual pengambilan roh untuk memberi "makan" sang iblis, dan sekalian menjadikannya bisnis. Si kakek Jepang menebar santet kepada warga, warga kemudian nyewa dukun Il-Gwang untuk ngusir santet. Il-Gwang hanya perlu berpura-pura dan berbohong kepada warga dengan bilang bahwa dia akan melawan si kakek Jepang. So, mereka dapat uangnya, dapat rohnya juga, beginilah model bisnis konspirasi yang mereka jalankan. Roh korban mereka ambil melalui perantara kamera. Mereka mempercayai bahwa kamera dapat mengambil dan menyimpan roh-roh para korban setelah di jepret.
 

Siapa sebenarnya si kakek Jepang ini?
Sang kakek sebenarnya adalah manusia, namun ia sesekali dirasuki oleh iblis yang merupakan "tuan" mereka berdua. Ketika dalam mode manusia, sang kakek adalah seorang dukun juga, tapi dukun hitam alias jahat, yang bertugas menebar teror ke desa lewat santetnya. Ia melakukan ritual santet terhadap korban melalui perantara benda yang ia ambil, seperti sepatu Hyo Jin. Setelah korban kena santet maka korban akan mulai mengalami gejala ruam merah pada kulit mereka, lalu beberapa waktu kemudian mereka kehilangan kewarasan dan melakukan pembunuhan terhadap anggota keluarganya sendiri.

Ketika dalam mode "iblis", sang kakek menjelma menjadi sosok iblis beneran yakni yang kukunya panjang, mata merah dan mempunyai tanduk. Dalam mode iblis ini ia tidak bisa dibunuh, hal ini dibuktikan oleh dirinya yang hidup kembali setelah tertabrak mobil pick-up yang dikemudikan Jong Goo dan kemudian dibuang ke jurang. Iblis ini tidak hanya merasuki si kakek, tapi juga bisa merasuki orang lainnya. Ini dibuktikan dari scene perkelahian Jong Goo dkk melawan zombie yang tak bisa mati-mati setelah dihajar oleh mereka, karena di dalam zombie ini ada iblis tersebut.
 

Lalu siapa wanita yang berpakaian putih itu?
Ada 2 interpretasi atas sosok ini. Yang pertama dia adalah jelmaan malaikat atau sosok yang "diisi" oleh roh baik. Yang kedua, dia adalah dukun putih alias dukun baik, dalam film ini sebagai lawan si dukun hitam. Apapun interpretasinya, yang dia lakukan adalah sama, yaitu melindungi warga desa dengan segala kemampuan yang dia bisa, seperti menaruh benda dan tanaman yang udah dijampi-jampi sebagai jimat pelindung. Untuk melindungi warga yang sedang "diserang" oleh dukun hitam, dia juga harus mengambil benda milik warga tersebut, yang digunakannya sebagai perantara ilmunya. Contohnya seperti cardigan milik wanita penghibur, jaket milik sopir pick up, dan pita milik Hyo Jin. 

Tes keimanan
Di ending, wanita ini bertemu dengan Jong Goo dan memintanya untuk percaya kepadanya dan menuruti perkataannya untuk tidak masuk kerumah agar jimatnya berhasil. Ini adalah simbol dari ujian ke-iman-an seseorang, untuk dapat percaya pada sesuatu tanpa harus melihat, representasi dari keyakinan manusia terhadap adanya tuhan. Tuhan memerintahkan sesuatu untuk kebaikan manusia itu sendiri tapi acap kali diabaikan. Begitu pula di film ini, diwakilkan lewat Jong Goo yang gagal melewati ujian ini. Jong Goo melihat beberapa benda korban yang melekat dibadan wanita itu, seperti jaket dan cardigan, maka ia menganggap bahwa wanita itu adalah pelakunya. Saat itu Jong Goo memang baru saja dihasut oleh Il-Gwang yang berbohong bahwa wanita itu adalah dukun jahatnya. Jong Goo yang tunduk kepada ucapan tersebut akhirnya tidak mengindahkan permintaan wanita itu di detik-detik terakhir saat ayam akan berkokok ketiga kali, Jong Goo malah pergi masuk rumah. Alhasil upaya wanita ini meminta kepercayaan kepadanya menjadi sia-sia.
 

Jika kita perhatikan lebih detail, jimat dari wanita ini juga dapat kita jumpai di awal-awal film saat Jong Goo mendatangi kasus pembunuhan pertama. Bukti bahwa wanita itu adalah dukun baik dan melawan ilmu hitam juga ditunjukkan lewat scene dukun Il-Gwang yang hidungnya berdarah-darah saat mencoba melewati jimat yang ia pasang. Il-Gwang bereaksi terhadap jimat tersebut karena memang dalam diri Il-Gwang terdapat ilmu hitam.

Pertarungan antar dukun adalah tipuan scene
Nah catatan penting disini adalah scene dimana dukun Il-Gwang melakukan ritual pengusiran santet, itu adalah optical illusion yang sepertinya sengaja ditarok untuk menipu penonton. Dalam scene tersebut seolah-olah Il-Gwang bertarung melawan kakek Jepang yang juga melakukan ritual, padahal yang terjadi sebenarnya adalah itu kejadiannya dalam waktu yang berbeda. Il-Gwang melakukan ritual untuk memperkuat santet dalam diri Hyo-Jin, liat saja setiap yang dilakuin Il-Gwang berakibat sama kepada Hyo-Jin. Sementara ritual kakek Jepang diwaktu yang berbeda untuk menjadikan mayat di dalam mobil pick-up dirasuki iblis dan hidup kembali, mungkin si kakek mau menggunakannya sebagai zombie untuk melawan Jong Goo dkk. Tapi saat ritual ini dilakukan mendapatkan perlawanan dari si wanita misterius, yang sepertinya lebih kuat dan berhasil melumpuhkan si kakek Jepang hingga dia ketakutan masuk kamarnya.

Makna lemparan batu si wanita berpakaian putih?
Ini adalah referensi dari injil yang bunyinya "Let he who is without sin cast the first stone", yang artinya kurang lebih "Yang boleh melempar batu hanyalah dia yang suci alias ga punya dosa", maknanya dalam film ini adalah menyindir sikap main hakim sendiri yang dilakukan oleh Jong Goo, yang seharusnya tidak bole dilakukan, karena untuk menghakimi seseorang (yaitu melempar batu) hanya boleh dilakukan oleh seorang yang berhak (alias yang ga punya dosa).
 

Apa tema dari film ini?
Film ini memiliki tema tentang iman. Dibuka dengan ayat dari injil, kemudian di metaforakan dalam film horor. Jong Goo, adalah kita banget, manusia, yang kurang imannya, dia tidak punya cukup kepercayaan dan membuat keluarganya terbunuh. Tapi ya kita juga ga bisa nyalahin Jong Goo, karena memang akan sulit bagi siapa pun untuk mengambil keputusan saat kondisi seperti itu. Kemudian scene si kakek Jepang mancing dengan umpan, itu juga beberapa kali repetitif dalam film bahwa yang iblis lakukan hanyalah menebar umpan dan menggoda manusia untuk sesat, tinggal kita sebagai manusia apakah termakan umpan atau tidak.

Dan saat si pendeta muda menemui si kakek Jepang dalam gua, si kakek bilang "Jika anda sudah percaya saya iblis, maka saya adalah beneran iblis.". Nah coba dibalik seperti ini : "Jika anda tidak percaya adanya Tuhan, maka tidak ada lah Tuhan itu." Intinya adalah iblis/Tuhan tidak perlu menunjukkan dirinya sendiri agar kita percaya pada keberadaannya, tetapi kita sering berharap iblis/Tuhan untuk menunjukkannya kepada kita baru deh kita percaya ada. Ini juga repetitif dalam kalimat pendeta tua di gereja : "Bagaimana kamu bisa meyakini sesuatu yang tidak kamu lihat dengan mata kamu sendiri?".

Dan pertarungan antara wanita dengan kedua dukun antagonis adalah representasi dari good vs bad, angel vs evil, dan diantaranya ada para korban yang "innocent" seperti Hyo-Jin. The Good mengambil barang bagian atas korban (Cardigan, jaket dan pita) sebagai simbol untuk melindungi mereka, sementara The Bad ngambil bagian bawah (sepatu) sebagai simbol untuk menjatuhkan mereka.
 

Oke demikian penjelasan ending film The Wailing. Jika temen-temen punya pemikiran lain, silahkan komen ya. Mana tau ada yang salah atau terlewatkan. Thanks for visiting.


 

Review non spoiler The Wailing (2016) : Cerita Horor Terbaik Yang Datang Menakutkan dan Menegangkan Tanpa Harus Punya Jumpscare

Mungkin diantara temen-temen banyak yang belum tau film ini, karena film ini memang tidak sepopuler bikinan Hollywood, tapi percayalah bahwa ini termasuk salah satu film horor dengan cerita terbaik. Pengen tau kenapa? Simak sampe abis ya. Sebelum lanjut, kami pastikan bahwa disini adalah review tanpa spoiler, jadi aman untuk temen-temen yang belum nonton. Film The Wailing merupakan film bikinan Korea Selatan pada tahun 2016. Film ini disutradarai oleh Na Hong Jin yang juga menahkodai film The Chaser tahun 2008 yang mengantarkannya mendapatkan penghargaan Sutradara Terbaik pada Korean Film Awards. 


Film ini menawarkan sebuah film horor yang kaya akan cerita misteri dan memiliki plot yang berbobot ketimbang menebar jumpscare disana-sini atau makhluk-makhluk yang menyeramkan, The Wailing bahkan hampir tidak memiliki itu semua. Perlu dicamkan bahwa disini saya bukan berarti menentang jumpscare, karena jumpscare adalah bagian dari film horor. Tapi ketika sebuah film terlalu mengandalkan jumpscare yang terlalu banyak dan melupakan plot cerita, disitulah ketidakpuasan biasanya muncul terhadap filmnya yang berkesan murahan. 

Rabu, 29 April 2020

Review Singkat Mom And Dad (2017) : Super Madness dan Mess Dari Black Comedy Tentang Orang Tua Yang Meluapkan Amarah Secara Brutal Kepada Anaknya


Klo liat kondisi skrg, ni film bs jd representative lho. Saat Corona gni, para ortu psti sebel ama anak2 yg msh bandel nongki2. Pdhal pemerintah udh ngelarang ngumpul, disuruh stay at home. Plg2 krmh mreka mlah bawa virus buat ortu mreka, yg jls2 rentan nyawanya klo trtular virus. Kesel kan psti para ortu?? So..What if your beloved parents, turn out become the one who want to kill you? This movie is all about. Entah apa sebabnya ga dikasi tau. Film ini mgkn trinspirasi dr peluh kesah orangtua scara umum, yg mana sbgai ortu psti prnh mrasa kesel/jengkel atas kelakuan anak2 yg kadang nyebelin, sprti main berantakan, nyuri uang jajan, malas blajar, bolos skolah, dll.

Tanpa origin story, tiba2 aja sluruh pnduduk kota udh kena "virus" yg mngubah stiap orang tua mjdi pnya keinginan utk mmbunuh anak mreka masing2! Bkn jd zombie, tp ttp manusia normal yg pnya akal. Uniknya, mreka hnya brniat mmbunuh anak sndiri, klo mreka jumpa anak org laen mreka ga prdulikan atau mreka berinteraksi sprti biasanya. Mreka cuma brubah jahat trhdap anak mreka sndiri. Sesama orang tua pun mreka ga mnghiraukan. Pokoknya konflik hnya antara ortu-anak kandung.

Kamis, 23 April 2020

Review Singkat Brightburn (2019) : Ga Lebih Dari Sekedar Plesetan Superman Tanpa Pengembangan Cerita dan Horornya Juga Tanggung


Tak ada kesan laen stlh nonton ini sampe ke post credit scene, slain bhwa ni cuma film plesetan Superman (dan superhero DC lainnya yg mgkn akan dibuat), plesetan horor caknya. Alurnya jg ga berasa original, copypaste, dan bagian ending lbh parah lg krn ga mmberikan konklusi.

Klian smua psti tau origin Superman kan? Nah andai2 aja "gmn ya klo Superman bayi itu malah tumbuh jd anak yg jahat?? Just as simple as that. Motif seorg bocah jd brbuat sbgtu jahatnya jg trlalu gampangan. Ini pure evil dr jiwanya psti. Krn klo mliat orang tua asuhnya yg baik hati dan super sabar, ya ga matching masa hasil didikannya gni.

Senin, 16 Maret 2020

The Invisible Man (2020) : Terror Menakutkan Sang Mantan Yang Tak Kasat Mata (By Om Boy – JMFC 030)

Awas neng...ada sesuatu di belakang!
Sebelum kita mulai mengulik film The Invisible man, mari kita berbicara Fun Fact dulu. Universal Studio diketahui berusaha membuat Shared Universe ala-ala Marvel dengan MCU-nya, yang nanti isinya adalah film-film yang bercerita tentang monster-monster dan mahluk supranatural seperti Mummy, Frankenstein, Dracula, The Invisible Man, Creature from Dark Lagoon, Jekyll and Hyde dan lainnya. Shared Universe ini mereka beri nama Dark Universe. Rencananya Dark Universe ini dimulai dengan Film The Mummy (2017) yang dibintangi oleh Tom Cruise. Namun rupanya pesona Tom Cruise tidak bisa membuat film ini laris dipasaran. Dengan gagalnya film The Mummy, Universal Studios nampaknya tidak lagi melanjutkan Dark Universenya. Nah saya pun mengira begitu. Sampai pada akhir tahun 2019 saya mendapat kabar udah ada trailer film The Invisible Man. Tentunya menjadi sangat excited mengingat saya menanti-nanti film kelanjutan dari Dark Universe. Ternyata film yang ditayangkan pada 26 Februari 2020 ini bukan bagian dari Dark Universe. Tidak ada benang merah sama sekali dengan film The Mummy (2017) ataupun tidak ada set up untuk next installmentnya. 

Dark Universe Casts
The Invisible Man (2020) ini merupakan adaptasi kekinian dari novel berjudul sama karya HG Wells yang juga pernah difilmkan pada tahun 1933. Adaptasi kali ini juga sedikit mengambil unsur Sci-Fi. Yang agak berbeda dengan adaptasinya pada film Hollowman (2000). Ok. Jadi itulah alasannya kenapa saya akhirnya menonton film The Invisible Man, karena saya mengira ini adalah bagian dari Dark Universe. Secara pribadi saya tidak terlalu menyukai genre film Horror. Sekarang kita kembali ke Review The Invisible Man. Review ini saya sudah usahakan spoiler-free. Jadi cukup aman untuk dibaca sebelum menonton filmnya. Trailernya bisa klik disini. And here we go...

Sinopsis :
Cecilia terperangkap dalam hubungan yang toxic dengan pasangannya Adrian, seorang ilmuwan brilliant yang sangat over protective, posesif dan abusif. Yang membuat Cecilia hidup dalam ketakutan. Hingga pada suatu malam Cecilia kabur dari kediaman Adrian. Tak lama setelah kabur dari rumahnya, Cecilia mendapatkan kabar bahwa Adrian ditemukan mati dikediamannya, bunuh diri. Dan Cecilia mendapatkan hak waris atas hartanya Ardian. Apa yang dianggap Cecilia sebagai suatu kebebasan ternyata bukanlah seperti yang dibayangkannya. Kejadian-kejadian aneh mulai terjadi disekitarnya. Sesuatu yang tidak kelihatan membuat hidup Cecilia kembali dihantui ketakutan.

Rabu, 09 Agustus 2017

Review Annabele Creation : Jauh Lebih Horor Ketimbang Annabele Yang Pertama

Nama David F. Sandberg mungkin masih awam di telinga para movie mania. Tapi dalam sekejap dia dapat menjadi salah satu sutradara yang menjadi perbincangan. Karena dalam kurun waktu lebih kurang hanya 1 tahun lebih, dia telah membesut 2 film horor. Lights Out dan Annabele Creation, yang kedua film tersebut meraih respon sangat positif baik dari rating para kritikus maupun box office yang laris manis tanjung kimpul. Langkah naik dan tinggi dari David, yang kita baru kenal dia lewat short movie Lights Out yang kemudian diangkat ke layar lebar dan di produseri sutradara terkenal, James Wan, tapi tetap di sutradarai David. 

Gambar : wikipedia.org

Berkat kesuksesan Lights Out, dia langsung dipercaya menggarap sebuah film franchise film horror yang udah punya nama, Annabele. Wah, tentu ini sesuatu yang signifikan dan penting bagi karir dia. Semua itu dijawabnya dengan sensasional. Karena film Annabele Creation yang digarapnya ini menurut saya jauh lebih baik ketimbang Annabele yang pertama, ratingnya 8,2/10 deh, bahkan saya bisa bilang untuk bagian horornya lebih baik dari Conjuring 2. Kenapa? Berikut ulasannya.

Dalam film Annabele Creation ini, kita dibuat ikut bercengkram ria dengan bangku duduk kita, karena horor yang disajikan bener-bener dipandu secara apik, tanpa banyak basa basi, singkat, tepat, tapi padat, hanya bersetting di rumah jadul nan terpencil. Boneka Annabele tuuuu...cuma duduk aja dia udah terliat seram kan, apalagi pake bergerak segala, hoho... Dan ya cukup memuaskan untuk penonton dalam mengetahui origin story dari boneka "imut" satu ini. 2 film layar lebar Sandberg memang durasinya singkat-singkat aja, tapi tak membuat kita kehilangan momen ketakutan yang mengerikan. Terkadang kalo kepanjangan durasi dan drama juga dapat merusak momen seperti kejadian di The Conjuring 2.

Selasa, 11 Juli 2017

Penjelasan Film Alien : Covenant Dan Kronologi Hubungannya Dengan Film Prometheus (Review By Muhammad Ilham - JMFC 041)

Sekelompok kru kapal koloni bernama Covenant menjelajahi luar angkasa dan memiliki satu tujuan yaitu Origae-6 planet yang telah lama diamati dan diharapkan menjadi tempat koloni baru manusia, namun dipertengahan jalan mereka menemukan sebuah Planet asing yang amat mirip dengan bumi tanpa mengetahui bahwa sesuatu yang amat mengerikan menunggu mereka disana.

Ga banyak yang akan saya ceritakan mengenai sinopsis film ini karena memang artikel ini ditujukan bagi orang-orang yang telah menonton filmnya dan masih garuk-garuk kepala mencoba menelaah hal-hal yang ga dimengerti dalam film ini. And now saya akan mencoba menganalisa hal-hal ini yang walaupun belum tentu benar, dari artikel-artikel yang saya baca digabung dengan hipotesa saya sendiri.

Gambar : imdb.com

<Warning Spoiler Alert, bagian selanjutnya dari artikel ini mengandung bocoran cerita (spoiler)>

Dalam film ini terlihat bung Ridley Scott berusaha keras untuk memenuhi selera audience agar Alien Covenant mampu memberikan jawaban dari film Prometheus dan menonjolkan sisi Alien serta Xenomorph (Apa itu Xenomorph? Baca disini donk bro) lebih kuat lagi dalam satu bungkus, hasilnya? Hampir seperti nasi bungkus hehehehe. Banyak yang mencela dan memaki film ini, tidak realistis, kru ilmuwan super bodoh dan tak masuk diakal, repetitive, sadly its true.., what? Ya dapat kita bayangkan ilmuwan mana sih yang meresikokan seluruh koloni dengan tujuan planet yang sudah puluhan tahun diamati eh malah mampir ke planet yang memancarkan sinyal asing tak jelas tanpa tau disitu ada apaan?atau para ilmuwan yang menjelajahi planet tanpa pakaian pelindung ataupun masker? (Ada android kan disitu? Kenapa ga android aja), atau ilmuwan yang diajak ke lantai bawah gelap gulita oleh android jahat “mas ikut adek kebawah yok, adek mau nunjukkin sesuatu” anehnya Kang mas mau azza, terus kata sang android jahat “ada telur alien disitu mas, mas liatin deh bagus kok” eh kang mas mau lagi, yaelah kang disuruh nungging kali tu ilmuwan tetap aja mungkin nurut wae hehehehe. Tapi sutra lah, dibalik itu semua masih ada sedikit titik terang dalam Alien Covenant, visualnya mampu diacungi jempol, penampakan Aliennya pun sangat detail dan rapi. Namun yang paling saya sukai di film ini adalah bagaimana cara dari senor Scott memasukkan kandungan Filosofis, budaya dan kepercayaan serta agama lalu mengkoneksikan antara Saga Alien dan Prometheus secara bersamaan sehingga Alien Covenant dapat menjawab beberapa pertanyaan dalam film Prometheus dan membuat kita tetap intrigue menunggu seri selanjutnya. Apa aja yang dijawab disitu?

Rabu, 26 April 2017

Review Film Life (2017) : Alien Yang Luar Biasa All Brains, Muscles, and Eyes

Film Life menurut saya adalah film bergenre sci-fi thriller, tentang sebuah stasiun luar angkasa dimana para astronotnya berhadapan dengan Alien yang mengancam hidup mereka. Dibintangi oleh bintang terkenal diantaranya Jake Gyllenhaal (Enemy), Ryan Reynolds (Deadpool), Rebecca Ferguson (Mission Impossible - Rogue Nation).


 Life (2017) Poster
Gambar : impawards.com

Life movie is great, tapi memang belum bisa mengalahkan sang legend, Alien movies. Film ini ga banyak basa basi, cuma mukadimah sebentar, langsung disuguhkan makhluk yang menjadi terornya. Ga masalah sih ya, karena yang dijual adalah terornya, bukan kisah tokoh-tokohnya. Cerita sepanjang film hanya berkutat seputar survival challenge para astronot terhadap ancaman dari Alien yang ada di dalam pesawat. 

Dalam film bertemakan "Strange Creatures", sering kata "Karantina" diabaikan, bak dilema antara nurutin prosedural atau mempertaruhkan nyawa, termasuklah film ini. Mereka telah merencanakan berbagai macam jenis karantina, yang disebut sebagai Firewall 1 sampe 3. Ya lain kali ya mbok nurut lah dengan yang namanya si Tina ini ya, hehe..

 Life (2017) Lab

Thrillernya cukup intense, kagetnya ada tapi cuma sedikit. Berbicara tentang sosok aliennya...like alien movies often said "It's beautiful" at the begining, haha..awalnya sih indah, tapi setelah mengetahui apa kemampuan aliennya, apakah masih bisa menyebut itu "Beautiful"? Haha... Alien disini dinamakan Calvin, diringkas oleh ucapan Miranda (Rebecca Ferguson) :"All brains, all muscles, all eyes". Damn..para astronot harus berpikir lebih cerdas untuk mengatur strategi survival mereka menghadapi alien jenis begini, pinterlah aliennya lagi dari pada kita.huhuuu... 

Senin, 24 Oktober 2016

Ingin Ditipu Oleh Film? Inilah Tontonan Wajib Film Dengan Ending Paling Twist (Kolaborasi om Chan JMFC 001, Ilham JMFC 041, Nendra JMFC 069)

Ciyeee....sekali-sekali kami bertiga kolaborasi nih dalam satu artikel. Sebenarnya sih saya (Om Chan) cuma sebagai provokator disini, hehe...mancing mereka (Ilham dan Nendra) untuk mau ungkapin film-film yang menurut mereka mempunyai ending paling twist, karena sepengenalan saya, mereka telah banyak mengkonsumsi film-film berjenis itu, biasanya thriller, mysteri dan horror. Kan lumayan buat saya tau juga dari pengalaman mereka...hahahaha...twist bukan..

Sebagai pembukaan, apa sih yang dimaksud dengan film yang memiliki ending twist? Arti twist dalam bahasa kita simpelnya adalah berbelok atau mutar. Nah film yang memiliki twist ending maksudnya ya film itu mempunyai akhir cerita yang memutarbalikkan pendapat atau praduga penonton terhadap cerita filmnya hingga menyebabkan penonton sangat terkejut. Misalnya dari awal penonton akan menebak akhir cerita adalah A, maka yang terjadi malah B. Tingkat ke-twist-an ending ada yang biasa saja tak terlalu mengejutkan, tapi ada juga yang sangat menohok, yang sama sekali tidak diperkirakan oleh penonton akan seperti itu, hingga kita akan berucap sadis contohnya : “Njiiirrrr...rupanya dia...”, “Bangkeee....ga nyangka....”, “Sialan....selama ini.....”, (kamu tambah sendiri, hehe...).

Nah dibawah ini kami bertiga akan membagikan pendapat kami, pengalaman kami dalam menonton film-film yang memiliki twist ending. Kenapa bertiga? Karena tentu ada banyak sekali film yang memiliki twist ending, dan tidak semua orang telah menonton semua filmnya, jadi dengan keroyokan setidaknya bisa lebih variatif untuk referensi temen-temen. Contohnya saja saya belum nonton Se7en dan The Mist, yang banyak orang bilang ini sangat twist, atau ada film-film twist dari jaman dahulu yang pernah dikonsumsi Ilham sebagai penikmat film klasik, atau termasuk juga kalo saja ada non hollywood movie yang disukai oleh Nendra mempunyai ending yang twist.

Buried
Gambar : en.wikipedia.org

Dalam penilaian ini tentu saja subjektif berdasarkan sudut pandang kami masing-masing, selera masing-masing terhadap filmnya. Kategori twist ending bisa berbeda-beda, bisa karena tingkat shock-nya, bisa karena kemasan ceritanya yang bagus, bisa karena suka aktingnya yang total, atau sebab lainnya. But rule number one-nya adalah bahwa masing-masing kami tidak bole ada yang tau listnya sampai tulisan ini masuk redaksi, hehe...kenapa? Karena agar list tersebut murni tanpa ada influence dari orang lain, begitu juga paragraf isinya ga ada yang saling tau dulu. Gitu lho...akankah ada beberapa yang sama? So, apa saja listnya? Ini dia Top 10 movie yang punya ending paling twist menurut Om Chan-Ilham-Nendra dan disusun berdasarkan ranking. Kalimat yang di paragraf itu adalah tulisan dari nama orangnya masing-masing ya.

WARNING! Beware of MINOR SPOILER!

Ranking 1
Om Chan : Saw (2004)
Ga ada yang menyangka sama sekali kalo ternyata dalangnya adalah *tuuuuuuut* (sensor spoiler). Sangat, sangat pantas jika dinobatkan sebagai peringkat pertama film yang memiliki ending paling ga disangka-sangka. Apalagi kalo kamu tau film ini memiliki budget cuma sekitar 1 juta dollar AS tapi berhasil meraup lebih dari 100 juta dollar AS. Film ini sendiri juga merupakan film debut seorang sutradara muda berbakat, James Wan, yang berhasil menjadikan Saw salah satu Cult Movies. Coba bayangin, sepanjang film yang menjadi menu utamanya hanyalah ada dua orang yang sedang terikat di sebuah ruangan bekas toilet, berjuang menyelamatkan diri dari ancaman psikopat yang memenjarakan mereka disana. Letak bagian twistnya dimulai dari konflik batin tak terelakkan yang dibangun karena sang psikopat mewajibkan mereka untuk menyelamatkan diri dengan alat ala kadarnya dalam waktu yang sempit, hingga puncaknya ketika mengetahui siapa pelaku dibalik teror ini. All of us didn’t see that coming.


Saw
Gambar : tvtropes.org

Ilham : Se7en (1995)
Yesssss, ini lah sang jawara dari Top 10 Most Twisted Ending Movies yang saya buat, saya adalah penggemar berat Se7en, sinopsis rasanya tak perlu saya jelaskan karena saya sendiri pernah membuat artikel tentang se7en, adalah 2 orang Detektif yang satu veteran dan yang satu masih muda dan ‘panas’, berbeda watak harus bekerja sama menangkap pembunuh berantai yang memanifestasikan 7 dosa besar dalam buku The Divine Comedy dalam setiap pembunuhannya. Apalagi yang harus saya bilang tentang film ini? Merupakan paket lengkap dari sebuah genre thriller investigasi, pasti banyak yang berpendapat kalau twist pada Se7en tak sekuat Oldboy dan The Prestige atau The Sixth Sense , yang menjadi perbedaan adalah pembangunan cerita yang sangat mengagumkan. Kematian demi kematian yang terjadi, penyelidikan yang dilakukan Mills dan Sommerset dalam menangkap pembunuh, tone yang begitu pas dengan filmnya dan puncaknya kalau ternyata si pembunuh melakukan sesuatu yang tak kita duga diakhir cerita, yang menyiratkan kalau sebenarnya sang pembunuh bukan hanya psikopat yang gila, namun juga jenius dan benar-benar terencana. Dan membuat saya harus memberikan predikat salah satu Ending terbaik yang pernah anda, dan Twist Ending terbaik yang pernah diberikan oleh sebuah film.

Gambar : en.wikipedia.org

Nendra : Oldboy  (2003) Original Korean Version
Entah sejak kapan saya jatuh cinta pada film Korea, namun dapat saya katakan jika mereka membuat film mereka pasti akan mengusik sebagian rasa kemanusiaan kita, mereka akan berani terlalu jauh bermain di daerah yang sangat sensitive, film ini contohnya, seorang laki – laki bernama oh Dae Su (colek Bro Ilham hahahaha) tiba – tiba disekap oleh orang tak dikenal, bukan main – main, Dae Su disekap hingga 15 tahun lamanya, lalu dilepas begitu saja. Siapa coba yang gak marah disekap tanpa penjelasan lalu dilepas kayak binatang liar? Nah Dae Su pun berniat membalas dendam dan bertekad memakan hidup – hidup orang yang disekapnya, untuk itu Dae Su latihan dulu makan gurita hidup disebuah rumah makan, ehh sang pelayan Mi Do rupanya tertarik lalu mereka saling jatuh cinta. Tapi dendam belum usai, Dae Su menyelidiki dan akhirnya menemukan orang yang menyekapnya. Dapatkah Dae Su membalas dendam? Apa motif dibalik penyekapannya? Satu kalimat kunci di film ini adalah “Jangan Tanya kenapa kamu disekap selama 15 tahun namun tanya kenapa kamu dilepaskan setelah 15 tahun“, ya kurang lebih gitu lah hahahahaha, film ini sangat kelam dan menyentuh sifat sensitive kemanusiaan, jadi jika anda merasa tidak nyaman setelah melihat film ini, maafkan saya ya?

Old Boy
Gambar : pinterest.com
Ranking 2
Om Chan : Ender’s Game (2013)
You didn’t see it coming? Kalo iya, sama, saya juga. Saya nobatkan ini sebagai runner up karena beda dengan film twist ending lainnya. Disaat yang lain dikuasai oleh genre horror/thriller/mysteri, Ender’s Game mengusung tema sci-fi space war yang nyaman dinikmati. Mengisahkan akademi militer ruang angkasa yang dimiliki manusia, sedang mempersiapkan diri untuk berperang melawan alien yang pernah menyerang bumi beberapa tahun lalu. Caranya mereka merekrut dan mendidik kadet remaja-remaja yang cerdas, kemudian dilatih tembak menembak dan strategi perang menggunakan fasilitas simulasi virtual reality. Kadet dibagi dalam beberapa grup yang dipertandingkan sebagai ujian. Grup dengan nilai tertinggi akan dinobatkan sebagai garda terdepan yang berhak menjalani final test untuk dinyatakan layak atau tidak berperang melawan alien. Apa yang terjadi di final test adalah kejadian yang sangat membuat saya shock therapy, makjlebbb banget, terdiam seribu bahasa sekaligus menyedihkan. Twist ending film ini saya yakini sebagai pesan moral dan sindiran terhadap peperangan dunia yang terjadi abad ini.

Enders Game
Gambar : karlkapp.com
Ilham : The Prestige (2006)
Taukah anda kalau Agent 001 dan Nendra jatuh cinta pada seorang cowok? Namanya adalah Christopher Nolan (wakakwakwakwak). Kecintaan mereka berdua pada bung Nolan begitu besar dan dalam. Dan jangan anda berani mengejek film Interstellar atau Inception di depan mereka berdua. Terlepas dari itu semua memang Nolan is so damn good, kalau ada James Wan sebagai The Master of Horror, maka Nolan adalah The Master of Mindbending, genre nya yang unik, dan diluar nalar, penyutradaraannya yang khas membuat banyak orang menyukai karya Nolan, termasuk saya sendiri. The Prestige adalah salah satu karya terbaiknya, (walau harus diakui karya Nolan jarang yang jelek), ow yeah, saya yakin The Prestige akan masuk Top 3 milik Nendra dan Agent 001. The Prestige bercerita tentang dua pesulap Robert Angier (Hugh Jackman) dan Alfred Bowden (Christian Bale) yang dulunya satu kelompok sebagai asisten pesulap. Pada satu pertunjukan isteri Angier meninggal diatas panggung dan Angier melimpahkan penyebab kematian itu pada Bowden. Mulai dari sinilah kompetisi antar keduanya terjadi, sama-sama sebagai pesulap yang bersinar mereka bersaing dengan cara menyabotase pertunjukkan dan membocorkan trik satu dengan yang lain. Bahkan persaingan mereka pun tak mengenal batas etika dan keselamatan. Akhirnya Bowden menciptakan sebuah trik The Transporter Men, dimana seseorang dapat berpindah dalam sekejap. Persaingan semakin memuncak dan memberikan konsekuensi yang fatal bagi keduanya. Mengisahkan tentang obsesi, determinasi, integritas, persaingan dan kesempurnaan. Film ini begitu epic, dan akan stuck di ingatan anda selama bertahun-tahun mendatang, genre pesulap sangat jarang diangkat ke film, dengan balutan Sci Fi, romance dan twist yang ga pernah kalian sangka, serta Cast yang luar biasa maka The Prestige harus saya nobatkan di posisi 2 dalam list ini.

Nendra : Burried (2010)
Ryan Renold berperan sebagai Paul Conroy seorang supir truk perusahaan kontraktor di Irak yang tanpa tau sebabnya tiba – tiba terbangun dalam sebuah peti mati yang terkubur dalam tanah. Perlu diketahui, bahwa dari awal sampai akhir, film ini hanyalah berfokus pada Paul Conroy didalam peti. Jadi dapat disimplkan bahwa film ini memilik cast yaitu Ryan Reynold, Peti Mati, Blackbe**y, Zippo, dan cameonya adalah seekor ular hahahaha. Maksud si penculik menaruh Blackbe**y dipeti adalah agar Conroy bisa menelpon lalu meminta tebusan, nah melalui percakapan inilah kita dapat melihat eh, mendengar bagaimana rumitnya birokrasi, kejamnya perusahaan dan kritik social tentang peperangan. Jika anda sabar maka anda akan mendapatkan sebuah rasa yang menusuk ulu hati pada akhir film ini.

Selasa, 23 Agustus 2016

Masih Berani Tidur Mati Lampu? Review Film Horor : Lights Out (2016)

Haha...iya...masih berani ga tidur mati lampu setelah nonton film Lights Out? Pasti sebagian dari kamu masih ada yang kebawa suasana hasil oleh-oleh nonton film tersebut. Pas mau tidur ga berani untuk tidur dalam keadaan lampu mati, atau pas sendirian di rumah, rumahnya terang benderang, haha...ga ada lampu yang mati. Ya habisnya gimana ngga gitu, film Lights Out bener-bener berhasil membuat takut para penonton lewat suguhan horror thriller-nya.
 Lights Out
Gambar : comingsoon.net

Jujur saja pada awalnya hampir semua orang meng-under estimate film ini, termasuk saya, dikira ini film palingan cuma horor biasa tanpa kesan, tapi apa yang diprediksi itu buyar setelah duduk dengan keadaan mencekam selama +/- 80 menit penyajiannya. Durasi yang jauh lebih pendek ketimbang film horor yang baru saja tenar, The Conjuring 2. Justru menurut saya, to be honest, film ini lebih horor ketimbang The Conjuring 2. Kenapa? Karena full thriller yang menakutkan, sementara seniornya itu dalam +/- 2 jam durasinya banyak bertele-tele cerita dan drama kemewekannya, hehe... Apalagi setelah keluar meme si Valak, malah kesannya tuh hantu keliatan lucu, haduh...salah Valak apa... Film Lights Out ini padahal juga menyertai nama sang sutradara The Conjuring 2, namun ia hanya sebagai produser saja. Disini ia berani menyerahkan penyutradaraan kepada David F. Sandberg, siapa dia?

Selasa, 28 Juni 2016

Saksikan Kembali Kehadiran Tim Pembasmi Hantu



Rumah anda ada hantunya? Atau anda pernah diganggu hantu? Merasa takut? Kami solusinya. Ghostbusters. Telpon kami di "Ntar liat sendiri nomornya pas di film ya, hehe".

Ya begitulah kira-kira tag line kalo ada tim pembasmi hantu bikin iklan, haha... Kali ini saya akan mencoba memberikan gambaran (preview) mengenai sebuah film yang dibuat ulang tentang tim penangkap hantu bernama Ghostbusters. Film ini bergenre comedy action, dulu pernah dibuat pada tahun 1980an, dengan dibintangi oleh Bill Murray dkk, menjadi sebuah kesuksesan yang cukup besar di Box Office kala itu, dengan modal 30 juta dollar, berhasil meraih pendapatan 280 juta dollar. Dengan landasan prestasi tersebut, pihak Columbia Pictures kembali membuat ulang filmnya di tahun ini. Apakah akan sesukses predecessor-nya?

Belum lagi tayang, film reboot ini telah menuai beberapa kritikan. Pertama, orang-orang selalu bertanya kenapa lebih memilih membuat ulang ketimbang membuat sekuel melanjutkan cerita yang terdahulu? Paul Feig sebagai sutradara menjawab ia lebih suka untuk menghadirkan generasi baru, menyesuaikan dengan teknologi jaman sekarang. Well...dia yang punya film ya jadi suka-suka dia mau buatnya gimana.

Selasa, 14 Juni 2016

Top 10 Post Apocalyptic Movies (10 Film Terbaik Yang Berlatar Setelah Kiamat) Review By Muhammad Ilham (JMFC 041)

Hei guys, long time no see, do you miss me? Hehe...udah lama ga ngereview film di blog kita tercinta ini, setelah sekian lama vakum akhirnya bisa aktif lagi (dan berharap untuk ga vakum lagi). Lagi bulan puasa ini ada baiknya saya mengucapkan selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankan dan mohon maaf lahir bathin ama teman-teman semua.

Setelah beberapa kali memberikan review yang sederhana tentang film-film yang saya suka (tulisan saya belum apa-apa kalo dibanding temen-temen yang laen), akhirnya saya berpikir, gimana caranya agar bisa memberikan review dengan singkat, langsung ke intinya namun tanpa harus mengurangi esensi dan kekayaan cerita dari film tersebut. So akhirnya terbesit ide, kenapa ga buat review Top 10 aja? What a great idea, so here we are in the first Top 10 movie review ala Muhammad Ilham.

Top 10 review kita kali ini saya akan memilih 10 film terbaik yang bersetting pada Post Apocalyptic atau setelah kiamat. Disini terminologi kiamat diberikan untuk menyebutkan suatu kejadian besar yang membuat dunia ini berakhir atau paling ga “hampir berakhir” karena toh masih ada para Penyintas atau disebut juga Survivor yang bertahan di bumi. Post Apocalyptic selalu menarik untuk disimak karena banyak aspek yang dapat dibahas dan diceritakan mulai dari bertahan hidup, Cannibalistic, timbulnya raja-raja kecil yang memperebutkan kekuasaan, keputus-asaan, dan terutama harapan. Dan harap diingat bahwa list top 10 yang saya buat sifatnya subjektif berdasarkan penilaian pribadi dari saya dan film-film yang saya tonton, so kritik dan saran yang membangun diharapkan dari teman-teman sekalian.

Oke guys here we go…….

<Minor Spoiler Inside> and admin comments added by Chanri JMFC-001

10. 28 Days Later
Cast : Cillian Murphy, Naomie Harris
Director : Danny Boyle
IMDb : 7.6/10
Rotten Tomatoes : 87 %


Sinopsis : Film ini menggambarkan suasana Inggris yang porak-poranda akibat serangan zombie. Manusia berubah menjadi zombie akibat virus yang ditularkan melalui darah. Jim (Cillian Murphy), yang merupakan seorang kurir yang terbangun di rumah sakit setelah koma beberapa hari, menemukan keadaan sepi tanpa ada penghuni lainnya, menyadari bahwa ia adalah salah satu survivor dari pandemik nasional ini. Ia bersama Selena (diperankan oleh Naomie Harris) yang menyelamatkannya dari kejaran sekelompok zombie kemudian “berpetualang” menjelajahi kota London untuk mencari bantuan bersama survivor-survivor lainnya.

Minggu, 29 Mei 2016

Review Film : Keramat (2009) Sebuah Film Yang Lebih Dari Sekedar Horor (By Nendra Pratama)

Review ini berangkat dari sebuah slogan yang selama ini sering kita lihat dan dengar yaitu "Cintailah Produk – Produk Dalam Negeri“. Wait, ada apa dengan slogan itu? Tunggu sebentar *colokin headset* *play Musim Yang Baik*. Oke, inti dari slogan tersebut adalah mengajak kita untuk mencintai, setelah itu memakai produk dalam negeri, nah, karena ini forum film maka kita khususkan pada produk atau film dalam negeri. 

Gambar : id.wikipedia.org

Mengacu pada slogan diatas, entah kenapa saya langsung mengaitkannya dengan analogi seperti ini, kalian kenal Dian Satro? Nadia Hutagalung? Atau Scarlett Johanssen dan Sharon Carter? Sekarang saya tanya, apakah kalian pernah disuruh mencintai mereka? Kalau saya jujur saya tidak pernah ada yang menyuruh untuk mencintai Sharon Carter, tak pernah ada, apalagi sampai ada yang menyuruh saya mencintai kamu, iya kamu hehehhe, tapi satu hal yang pasti, mereka, Dian Satro, Nadia Hutagalung, Scarlett Johanssen, Sharon Carter ataupun kamu memang layak untuk dicintai, karena itu biarpun tidak ada yang menyuruh untuk mencintai kalian, kami tetap mencintai kalian sepenuh hati hahahaha...


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...