Tampilkan postingan dengan label Sosial-Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sosial-Budaya. Tampilkan semua postingan

Kamis, 20 Februari 2020

Penjelasan Ending I Am Mother (2019)

Poster : I Am Mother (2019)
Oke...kenapa judulnya penjelasan? Bukan review? Karena susah sekali rasanya kalo ngereview ni film tanpa spoiler, film ini sih lebih seru untuk dibahas. Karena filmnya akan menyebabkan terjadinya konflik batin bagi para penonton, pasti ada dualisme pendapat yang saling bergejolak. Dan juga kalo cuma bikin review non spoilernya, palingan cuma dapet 1 paragraf, hehe.. Itu karena film ini hanya menyajikan 3 tokoh, Robot, Daughter dan Woman. Settingnya juga sebagian besar hanya di 1 gedung yang bernama Repopulation Facility. Sekilas akan terlihat membosankan, tapi nyatanya ga gitu kok. Malah kamu akan terpaku terus dibangkumu untuk menikmati setiap misteri yang mengalir. Dan ini film adalah drama ya, jangan harap ada banyak sci-fi futuristik roboticnya disini. Karena sesuai judul, ini lebih menitikberatkan kepada hubungan antara ibu dan anak.

Meskipun memang tak banyak yang bisa dibahas dari unsur teknisnya, tapi apa yang ada di bagian terdalam film ini lebih kompleks ketimbang apa yang tampak di permukaannya. Filmnya sendiri hanya diperankan oleh 2 orang saja, plus 1 suara orang untuk robotnya. Dua pemeran tersebut berbeda 180 derajat, yang satu adalah aktris berkelas pemenang Oscar, Hilary Swank, yang diadu dengan nubie, Clara Rurgaard Larsen, yang sepak terjangnya di dunia perfilman belum seberapa. Tapi bukan berarti aktingnya jelek ya. Malah cukup meyakinkan sebagai tokoh dengan screentime terlama dalam film ini. Dan untuk pengisi suara robot adalah Rose Byrne, yang kita kenal lewat film X-Men sebagai Moira.

So, what's really happened in I Am Mother? Akan kita kupas, setajam...silet...hehe.. and of course, ini hanya untuk kalian yang udah nontonin filmnya, karena tentu banyak spoiler disini. Perhatikan batas spoilernya ya, mulai paragraf ketiga. Kalo mau liat trailernya klik disini.

Daughter

Ini bukan tipikal film scifi pada umumnya yang menjual action dan visual effects, melainkan fokus pada drama dan ceritanya. Karena baru sampai ending kita akan menemukan jawabannya, or..really?? 

1. Sinopsis.
Film akan dimulai dengan scene yang menyatakan bahwa bumi dalam kondisi seperti post-apocalyptic gitu, manusia punah ga ada lagi, jumlahnya 0. Habitat ga bisa ditinggalin lagi, lingkungan beracun. Yang tersisa adalah sebuah gedung bernama Repopulation Facility. Gedung ini memang sepertinya dibangun untuk kondisi kiamat gini. Karena di dalamnya terdapat ribuan stok embrio manusia yang siap untuk ditumbuhkembangkan. Nah, siapa yang menumbuhkembangkannya? Perkenalkan, Mother, seorang robot humanoid atau droid dengan AI sangat canggih hampir menyamai pemikiran manusia.

Pada hari pertama setelah kepunahan, Mother memilih satu embrio untuk ditumbuhkembangkan. Hari berlalu, tahun berganti, Mother telah mengasuh embrio menjadi remaja dewasa perempuan yang cerdas dan baik hati, dialah Daughter. Ya, jangan heran kenapa ga ada nama, karena memang ga ada pake nama dalam film ini. Mother mengasuh Daughter dengan "standar" yang dia harapkan, makanan yang disediakan adalah makanan sehat untuk raga yang sehat, pendidikan ilmiah dan moral juga ikut diberikan. Dengan harapan saat manusia hidup kembali ke habitatnya mereka adalah manusia yang berkualitas.

Filmnya akan berjalan dengan tempo yang lamban, sampai bagian dimana muncul satu karakter lagi yang disebut Woman. Woman inilah yang akan membuat film ini menjadi sangat menarik dan punya konflik yang kuat. Bagaimana tidak, selama ini Daughter hanya tau kalo sepertinya dialah the one and only human di dunia, tiba-tiba Woman muncul ke dalam gedung meminta pertolongan karena baru saja tertembak di perutnya. Woman menceritakan kepada Daughter kalo diluar sana masih ada manusia lainnya. Dan mereka semua takut kepada droid, termasuk Mother, karena droid ini kejam, membunuh manusia, ini menjawab insiden kenapa perut Woman tertembak. Tentu kebingungan kan si Daughter, mana nih cerita yang benar? Manusia beneran punah ato memang masih ada yang hidup diluar sana? Trus benar atau tidak Mother dan para droid itu jahat? Siapa yang harus dia percaya? Mother atau Woman?

Senin, 27 Februari 2017

Review Film WALL-E (2008) : Animasi Fun Namun Satir, Harusnya Kita Malu

Saya awalnya penasaran, film apa ini, minim dialog, sajiannya seperti human extinction, earth disaster, catastrophic, after apocalypse, haha...pokoknya yang serem-serem aja deh. Padahal kan ini film anak-anak, kok berat banget ya keknya, hehe... Dan ternyata memang bener guys, film ini bersetting pada masa dimana bumi memang sudah tak layak huni lagi. Yang terhampar hanyalah sampah dimana-dimana. Makjleb ketipu banget saat opening scene-nya aja menampilkan gedung tinggi, kirain kantor atau apa lah gitu, eh taunya itu tumpukan sampah yang udah dipress rapi dan menggunung tinggi seperti gedung perkantoran. Heukhh...nyesek banget...


 Wall E Disney Pixar
Gambar : krtnradio.com

Film ini bersetting 800 tahun dari sekarang, bumi sudah tak ditinggali lagi oleh manusia. Bukan karena manusia telah menemukan “bumi” baru, melainkan karena bumi sudah tak layak lagi untuk dihuni manusia karena sampah yang ada di bumi sudah over quantity. Manusia yang tersisa saat itu hidup diluar angkasa dengan menggunakan pesawat super besar, starliners “Axiom”, ciptaan perusahaan Buy N Large (BNL).

 Wall E
Gambar : slashfilm.com

BNL juga perusahaan yang menciptakan robot-robot pembersih sampah yang mereka tugaskan di bumi untuk membersihkan sampah tersebut. Robot-robot pembersih inilah yang bernama WALL-E. Hanya tersisa 1 unit robot saja, yang hidup sebatang kara di bumi tandus itu. Dia dapat bertahan hidup menggunakan sparepart dari robot-robot lain yang sudah tidak berfungsi lagi. Lucunya, PIXAR, production house film ini, membuat karakter WALL-E ini seperti layaknya manusia. Yang mempunyai perasaan, ketakutan, selera humor dan hiburan, perhatian, bahkan kasih sayang. Ditambah dengan appeareances si WALL-E ini gemesin banget untuk ukuran robot, apalagi kalo pas lagi pasang muka ibanya, huhu...

Wall E Axiom

Kamis, 12 Januari 2017

The Teacher's Diary : “Is It Possible To Love Somebody You Never Meet?” (Review By Nendra Pratama - JMFC 069)

Yupz, I'm back guys, hahaha......
Setelah tertawa terbahak - bahak lewak film Pee Mak, film horror Thailand yang gak ada serem - seremnya hahaha yang ada malah bikin ngakak guling - guling eh malah nemu film Teacher's Diary, film romantis berlatar belakang pendidikan disebuah daerah yang terpencil di Thailand sana.

 The Teacher's Diary
Gambar :youtube.com

Film ini menceritakan tentang bagaimana kisah dua orang guru dengan  latar belakang yang berbeda dengan skill yang berbeda dan jenis kelamin yang berbeda, ya iyalah, ini kan film romantis hahahaha............ Tersebutlah Ann seorang guru yang sangat berdedikasi mempunyai skill mengajar yang mumpuni dan berusaha membuat murid - muridnya paham dan tertantang dengan apa yang dipelajarinya, namun akibat sebuah tato yang enggan dia hapus maka dia harus mengajar di sekolah perahu, sekolah diatas danau dipedalaman Thailand. Suka dan duka dia lewati bersama ke tujuh anak didiknya, semuanya dituang kedalam sebuah buku harian, semuanya mulai dari cerita gimana dia bisa sampai kesekolah terapung itu sampai kisah asmaranya, tentang kesepiannya, semuanya dia tulis, namun setahun kemudian dia dipindah tugaskan untuk mengajar di sekolah yang terletak dikota, atas rekomendasi dari pacarnya.


Senin, 12 Desember 2016

Hacksaw Ridge dan Billy Lynn’s Long Halftime Walk, Sudut Pandang Lain Dari Sebuah Peperangan

Sebenarnya sih saya jarang nonton film perang...karena image yang tercipta bagi saya kalo film perang itu ya ceritanya ga unik, hanya berjalan lurus seputar tembak-tembakan dan ledak-ledakan. Tapi...sejak artikel Bro Ilham (JMFC 041) muncul tentang Top 10 Modern War Movies, saya jadi sedikit punya minat untuk mencoba menonton lebih banyak film perang, baru sekedar minat mencoba lho Bro Ilham, jangan ge-er dulu, hahahahaha....jadi lah dak... Ini lah manfaat komunitas, bisa sharing info, pendapat dan rekomendasi.


 Hacksaw Ridge
Gambar : en.wikipedia.org

Kebetulan, beberapa waktu setelah artikel itu naik cetak ada 2 film perang yang tayang yaitu Hacksaw Ridge dan Billy Lynn’s Long Halftime Walk. Keduanya memiliki kesamaan yaitu menampilkan sisi lain dari sebuah perang, diluar tembak-tembakan semata. Keduanya digadang-gadang sangat bagus dan mungkin akan masuk nominasi Oscar. Kok bisa? Mari cari tau, baca tulisan saya dibawah ini, hehe...

Alasan terdepan adalah alasan yang bisa dilihat sebelum kita tonton, yaitu nama sutradara yang garap filmnya. Hacksaw Ridge digarap oleh Mel Gibson, aktor legendaris sekaligus juga sutradara. Dia pernah menyabet Oscar untuk 2 kategori, yaitu Best Director dan Best Picture dari film Braveheart. Sedangkan Billy Lynn’s disutradarai oleh sensasional Ang Lee lewat film Life Of Pi yang mengantarkannya mendapat Piala Oscar kategori Best Director, meskipun diluar ini filmnya yang lain juga menjadi langganan Oscar seperti Crouching Tiger Hidden Dragon dan Brokeback Mountain.

 Billy Linn
Gambar : imdb.com

Nah, merujuk pada prestasi itulah saya niatkan untuk nonton filmnya. Saya mulai dari Hacksaw Ridge dulu deh. Belum sempat saya ke bioskop, temen saya, Pak Ustad Lee Min Ho alias Mualimin, haha...memberikan review di grup BBM JMFC pasca dia nonton film tersebut dan bilang bahwa film Hacksaw Ridge sangat bagus. Weh...mesti cepat nih, dan saat akhirnya kesampaian, ternyata apa yang dibilangnya adalah benar 100%. 

Hacksaw Ridge mampu membuat saya menahan air mata jatuh selama 1 jam di paruh kedua film yang banyak epicnya yang membuat sedih. Kalo menonton paruh pertamanya, ga terlalu sedih karena masih ada beberapa unsur komedi dan romantisme. Tapi perbedaan paruh pertama dan kedua ini lah yang bagi saya menjadikan film ini cukup compact. Wajar jika film ini diberitakan Independent mendapat standing ovation selama 10 menit saat akhir pemutarannya di Venice Film Festival.

Jumat, 11 November 2016

A Scanner Darkly (2006) : Film Asli Yang Dibuat Animasi

Gimana tuh? Film asli tapi dibuat animasi? Maksudnya? Tolong...tolong...coba jelaskan... Alright..alright...jadi begini nih guys... A Scanner Darkly ini adalah sebuah film yang di shooting seperti biasa, objeknya adalah manusia-manusia nyata dan keadaan biasa. Namun kemudian hasil shootingan itu diedit menjadi animasi seperti kartun guys. Jadi hasilnya tuh seperti film kartun yang sangat mirip dengan aktor-aktrisnya. 

 A Scanner Darkly
Gambar : inverse.com

Kalo orang ga tau kalo ini adalah sebenarnya orang nyata yang diedit, pasti dikira film animasi beneran. Karena halus banget guys, memang kayak film kartun gitu. Tapi nilai plusnya adalah visual kartunnya yang berkesan nyata atau 3D gitu. Sangat unik bukan? Hehe... Inilah kenapa saya mau ngereviewnya dan pengen sharing kepada temen-temen. Kalo mau liat trailernya klik disini : Trailer A Scanner Darkly.

Sebenarnya ini bukanlah film pertama yang membuat gambar nyata diedit menjadi film animasi. Sebelumnya, sudah ada Waking Life pada tahun 2001. Namun Waking Life masih sangat “kasar” dan non-simetris bentuk animasi kartunnya, sementara A Scanner Darkly lebih teratur dan halus. Nah kesamaannya adalah kedua film itu dinahkodai oleh sutradara yang sama, yaitu Richard Linklater, yang populer lewat karyanya film trilogi Before Sunrise.

 Waking Life
Gambar : en.wikipedia.org

Teknik editing ini dinamakan Interpolated-Rotoscope, artinya jangan buang sampah sembarangan, haha... artinya adalah teknik ini kalo secara manualnya adalah menggambar kembali sebuah motion picture namun hanya mengambil garis edge-nya saja, yang nantinya hasilnya berupa silhoutte. Karena sekarang jaman udah canggih jadi untuk melakukan editing seperti ini sudah bisa dilakukan dengan menggunakan komputer, tepatnya dengan memakai software khusus Rotoshop, yang hanya bisa dilakukan pengembangnya, Flat Black Films. 

Kamis, 10 November 2016

Charlie Chaplin “The Great Dictator (1940)” : The Greatest Speech I Ever Heard

Ya benar, film ini menampilkan pidato yang sangat luar biasa. Inilah yang mendasari saya ingin mereview dan sharing kepada temen-temen semua. Apalagi situasi yang ada saat ini juga sedang banyak masalah konflik politik dan peperangan. Sekiranya, apa yang ada dalam pidato ini perlu didengar dan diresapi oleh para elite politik, pejabat, pemimpin, bahkan untuk siapapun di dunia, siapapun kamu.

 The Great Dictator
Gambar : en.wikipedia.org

But, sebelum kita membahas pidatonya, kita patut tau dulu, ini film tentang apa sih? Film ini adalah film bergenre komedi satir, komedi yang biasanya berisikan sindiran, protes dan kritik terhadap sesuatu yang berbau politikal. Apa yang disindir? Perang Dunia Kedua, dari sudut pandang Nazi-nya Adolf Hitler. Cerita dikemas dalam bentuk parodi tentang penindasan Hitler terhadap bangsa Yahudi. Siapa filmmakernya? Dia adalah Charles Chaplin, atau yang kita kenal dan populer dengan nama Charlie Chaplin. 

Siapa sih yang ga kenal komedian yang satu ini? Seorang yang sangat legendaris dan menginspirasi dunia perkomedian dunia, yang populer dengan tampilan kumis khasnya itu. Dalam film ini, Chaplin adalah semuanya, dialah produsernya, sutradaranya, penulisnya, pemerannya, bahkan juga komposernya. Luar biasa! Film ini merupakan film pertamanya yang bukan film bisu dan menjadi filmnya yang paling sukses, baik secara komersial maupun kritikus, dengan modal 2 juta dollar AS berhasil meraup 5 juta dollar AS, kemudian masuk nominasi Oscar dalam 5 kategori. Bravo!

Rabu, 05 Oktober 2016

About Time (2013) : (Bukan) Tentang Waktu (Review By Nendra Pratama – JMFC 069)

Sebelumnya thanks to Bro Ilham yang udah rekomendasiin film ini, gak tau kenapa ini Bro Ilham sama Agent 001 Bang Chan mencoba meracuni saya dengan drama komedi romantis, hahaha...kayaknya saya disuruh menggalau terus ini...tapi keren asli ini film jadi pengen kayak tokoh utamanya, si Tim hehe..

 About Time

"How long will I love you, as long as stars are above you and longer if I can”
Seperti biasa, saya tdak mempunyai ekspektasi apa – apa ketika nonton film ini, ah paling hanya film tentang pria yang bisa ke masa lalu terus nyelamatin ceweknya ala – ala Back to Future gitu, eh..saya gak bilang Back to Future jelek ya, karna saya mungkin pernah nonton tapi kayaknya udah lama banget, cuma ya agak kurang suka aja kalo liat film yang rada – rada mirip jalan ceritanya, istilahnya numpang keren gitu hehe..piss...
Kita bahas sang arsitek dulu ya? Dia adalah Richard Curtis, penulis sekaligus sutradara dari film ini, yang mana dia juga menulis naskah untuk Mr.Bean, Love Actually (kayaknya yang ini harus nonton nih) dan The Boat That Rocked. Sebenernya nih dari deretan film beliau ini saya baru nonton About Time dan Mr. Bean, tau kan si Mr. Bean? Si pintar tapi bodoh itu? Nah rumornya itu adalah salah satu khas dari Richard Curtis, yaitu menampilkan sosok lugu dari karakter yang beliau ciptakan, dan dalam About Time sosok itu hadir lewat Tim Lake (Domhall Gleeson).

Kamis, 15 September 2016

Cloud Atlas (2012) : Juara Tanpa Mahkota, The Most Complete Movie Ever

Langsung aja to the point, kenapa film ini saya bilang “Juara Tanpa Mahkota”? Karena tak satu pun masuk dalam nominasi Piala Oscar, atau yang biasa disebut dengan istilah Oscar Snubs. Padahal, di festival-festival film mereka banyak mendapatkan nominasi dan juara. Penilaian saya pribadi, media dan pengamat film lainnya juga mengatakan film ini sangat-sangat layak masuk nominasi Piala Oscar atau bahkan layak memenangkan salah satunya. 

 Cloud Atlas
Gambar : yesmovies.to

Lihat saja totalitas para cast-nya yang tampil dalam berbagai jelmaan dan versi, tetap memberikan akting yang terbaik. Termasuk juga sinematografinya yang imajinatif tapi sangat rapi. Belum lagi skenario yang dibuat juga harusnya layak masuk nominasi Best Adapted Screenplay, banyak yang bisa dijadikan “Quotes”, hehe.... 

Ah...pokoknya semua unsur film ini semestinya layak deh, costume design, production design, make-up and hairstyling, sampe skill sutradara yang level dewa yang bisa men-direct semua cast dan element di dalamnya sehingga filmnya dapat diterjemahkan dengan baik. Mereka adalah The Watchowksi Brothers, yang nyutradarain The Matrix dan V For Vendetta. But memang setiap pergelaran Oscar sangatlah ketat, pada tahun itu film ini bersaing dengan Argo, Silver Linings Playbook, Life Of Pi, Les Miserable dan Django Unchained.

Btw, film ini juga sangat komplit, kalian mau Action? Ada. Kalian mau Sci-Fi? Ada juga. Drama, Romance, Fantasy, Comedy, Thriller, Mistery, Twist, Vintage dan Futuristic juga ada. Film ini rakus yah, haha... Rakus dan ambisius ya beda tipis lah, hehe... Ya film ini sangat berambisi untuk show off, menjadikannya film independent dengan budget terbesar sepanjang masa yaitu 100 juta dollar AS. Wajar sih ya sampe segitu duitnya, lihat siapa saja cast yang dipakai, orang-orang Hollywood yang ajib bener : Tom Hanks (Saving Private Ryan), Hugo Weaving (V For Vendetta), Halle Berry (The Call), Jim Broadbent (Harry Potter), Ben Wishaw (In The Heart Of The Sea), David Gyasi (Requiem For A Dream), Jim Sturgess (Upside Down), Doona Bae (Jupiter Ascending), James D’Arcy (Serial Agent Carter), Keith David (Interstellar), Hugh Grant (Notting Hill), dan Susan Sarandon (Twilight). 

Belum lagi untuk membiayai production design-nya, pasti mehong cyin.... Kenapa? Karena film ini ber-setting-kan sebanyak 6 waktu dan tempat yang berbeda! Semua inilah yang menjadi keunikan dan daya tarik film ini.

Sabtu, 27 Februari 2016

Macbeth (2015) : Salah Satu Karya Masterpiece William Shakespeare (Review By Noval Ahmad JMFC 003)

Bismillah..

Dimalam yang dingin… ditemani secangkir Capuccino… dan dikerjar target.. hehe…. Langsung saja….

Siapa yang tak kenal sastrawan terbesar Inggris William Shakespeare (26 April 1564 dibaptis – 23 April 1616), ia telah menulis sekitar 38 sandiwara tragedi (Romeo and Juliet, Macbeth, dll), komedi, sejarah, 154 sonata, 2 puisi naratif, dan puisi-puisi lainnya. Beliau menulis antara tahun 1585 sampai 1613, dan karyanya telah diterjemahkan kesemua bahasa dan dipentaskan di banyak panggung sandiwara lebih dari penulis lainnya….. Hebat kan saya bisa tau semuaaaaaa…thanks to internet… hehe...

But….. kali ini Saya tidak akan membahas mengenai biografi William Shakespeare tetapi Saya akan me-review film yang di angkat dari salah satu sastra terbaik beliau yaitu Macbeth, yang merupakan sandiwara tragedi yang ditulis pada tahun 1606.

Film Macbeth tahun 2015 ini disutradari oleh Justin Kurzel, film ini didistribusikan oleh Studio Canal (UK) dan The Weinstein Company (USA), dibintangi oleh Michael Fassbender, Marion Cotillard, Paddy Considine, Sean Harris dan kawan kawan….. mudah-mudahan tulisan namanya gak ada yang salah ya… hahaii.. 

Gambar : imdb.com

Warning : Spoiler Alert ya.

Oke.. mulai serius ni ya…. Film ini dimulai saat terjadinya perang saudara di Skotlandia antara Raja berkuasa Duncan I dengan MacDonwald Sang Penghianat “The Traitor MacDonwald” yang disebut "Perang Ellon".

Selasa, 19 Januari 2016

Inside Out (2015) Film Animasi Yang Harus Di Tonton Oleh Orang Dewasa

Inside Out (2015) Film Animasi Yang Harus Di Tonton Oleh Orang Dewasa


Halooo…jumpa lagi bersama Om Chan disini, dalam acara “Tralala..Trilili…”. Haha...kayak acara anak-anak tempoe doleloe ya, ketauan tuanya Om Chan nih, hiks… Kenapa? Kenapa diawali dengan kata-kata berbau anak-anak? Pasti ada sebabnya toh. Ya karena kali ini, saya akan mengulas sedikit tentang film anak-anak, film kartun animasi yang tayang pertengahan tahun 2015 lalu, judul filmnya adalah Inside Out.
But…film ini definitely NOT only for children. Ya…film ini ternyata dan pastinya bukan hanya diperuntukkan untuk anak-anak, justru saya menilai film ini bukanlah film anak-anak, karena anak-anak akan sulit mengerti beberapa maksud yang divisualkan dalam film ini dan beberapa kata-kata yang diskenariokan oleh penulis cerita. This movie is absolutely for adult too, haha…agak penekanan sedikit bahwa film ini juga sangat direkomendasikan untuk ditonton oleh orang dewasa juga.



Apa sih yang ada di film ini sampai-sampai orang dewasa harus menontonnya?

Minggu, 17 Januari 2016

Review Film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck By Andika Pratama (JMFC 005)

Review Film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck By Andika Pratama (JMFC 005)


Salam JMFC.. Duh,, terlintas saya mulai pusing untuk memulai review sebuah film, kenapa..??? Mungkin saya hanya penikmat yang kadang hanya nikmati saja tanpa mau untuk mengulik lebih lanjut. Ya mungkin bisa dikatakan sebuah kelemahan saya dalam hal memahami film lebih dalam dan lebih detail lagi. karena mungkin saya lebih kebanyakan memahami untuk urusan cinta dengan Wanita..
Hahaha…becanda Om dan Tante… Untuk film yang saya bahas adalah tentang Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk, ya mungkin lain dari teman – teman yang lebih sering membahas Film Impor, tapi saya mencoba mengulas tentang Film Dalam Negeri. Sebab katanya, kalau bukan kita (Indonesia) siapa lagi yang menghargai Perfilman Indonesia. Sebab kualitas film Indonesia sebenarnya sudah sangat Baik dibandingkan beberapa Tahun sebelumnya, mungkin gak semua tapi boleh dikatakan kita sudah bangkit dalam perfilman nasional.

Jumat, 04 September 2015

Review / Ulasan Film Romantis : A Walk To Remember (2002) By Muhammad Ilham



Review / Ulasan : A Walk To Remember (2002) By Muhammad Ilham



MEWEK TIME………uh yeah baby, hahahahaha what’s up guys?, jumpa lagi sama review sederhana saya, kali ini saya akan bahas film yang melegenda diantara kaum Hawa dan sempat menjadi Pop Culture di era 2000an dan of course melejitkan nama artis pop Mandy Moore, Yes it is guys : A Walk to Remember yang rilis di tahun 2002. Cewek biasanya yang hobi banget nonton pasti hapal dengan film ini kalo yang ga tahu mungkin adalah faktor bahwa sekarang sih mungkin film ini udah susah banget untuk di cari, ga apa guys siapa tahu ini film tampil di stasiun Tv Favorit atau Siaran TV berbayar kalian, kalo iya, jangan dilewatin guys, this is a good movie.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...