Tampilkan postingan dengan label Romance. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Romance. Tampilkan semua postingan

Selasa, 05 Juli 2022

Review Wristcutter - A Love Story (2006) : Versi bagusan dari film Akhirat - A Love Story

Sinopsis :

Bersetting di sebuah alam gaib antara dunia nyata dan akhirat, di alam ini hiduplah para jiwa-jiwa yang dulunya waktu mereka hidup, mereka ini mati bunuh diri. Jadi mereka-mereka yang mati bunuh diri itu seperti ga diterima di surga maupun neraka, jadilah mereka terlantar di alam ini. Tapi alam gaib ini penampakannya hampir mirim sama dunia nyata. Ada kota, ada desa, ada gedung, ada orang yang kerja, seperti polisi, karyawan, pedagang, bahkan ada satu keluarga utuh yang ternyata mereka semua mati bunuh diri. Jadi ya mereka seperti hidup lagi, cuma bedanya hidup di alam gaib.

Dan tampilan orang-orang tuh ga ada yang cerita, ga ada yang cerita, ga ada senyuman ataupun tertawa, kebanyakan mereka emotionless alias datar-datar aja ekspresinya. Trus kota/desanya pun gersang, sampah berserakan, suram deh pokoknya. Sebagai penggambaran kondisi psikis para manusia-manusia putus asa ini. Tapi, meskipun mereka ga ada ekspresi, tapi pada nyatanya mereka ini bukan sedih ataupun mengeluh, mereka menjalani kehidupan di alam ini dengan apa adanya, santai dan tanpa beban. Termasuk tokoh utamanya, Zia, yang di alam ini menjadi karyawan sebuah toko Pizza.

 

Semua berjalan normal seperti biasa, sampai suatu saat tiba-tiba Zia mendapati kabar bahwa pacarnya waktu di dunia nyata dulu, juga mati bunuh diri. Pacarnya ini namanya Desiree. Jadi, Zia pun bertekad untuk mencari Desiree di alam ini juga. Nah apakah Zia berhasil berjodoh lagi dengan sang pacar di alam berbeda ini?

Rabu, 09 Maret 2022

Review non spoiler film Appwar (2018) : Perjuangan merintis start up melawan cinta sendiri.

 
Appwar (2018) merupakan film thailand yang sebenarnya punya ide unik, yang sekilas mirip dengan serial Korea yang populer berjudul Start Up (2020), tapi Appwar justru lebih dahulu hadir (2018), jadi siapa yang niru nih? Hehe... Menceritakan dua anak muda, seperti para Gen-Z saat ini, yang ngikutin trend untuk mencoba merintis start up, dengan cita-cita tinggi dan harapan manis, yang disebut dengan kata "sukses. Satunya adalah pria dan satunya wanita. Mereka pada awalnya bukan teman, apalagi pasangan. Mereka hanya dipertemukan tak sengaja oleh sebuah momen ngobrol basa-basi di tempat makan. Yang ternyata obrolan tersebut nyambung karena mereka memiliki kesukaan yang sama. Eits..jangan kira ini bakal kayak film-film drama pada umumnya ya, yang kalo udah kenalan trus pedekate dan akhirnya jadian. Justru kenapa dibilang unik, ya karena anehnya, hanya satu kali itulah pertemuan mereka yang terjadi, tanpa adanya pertukaran kontak untuk komunikasi. Hari-hari selanjutnya mereka ga pernah jumpa lagi.

Tapi tiba-tiba, mereka bertemu kembali, tapi disuasana yang berbeda cenderung panas, mereka bertemu bukan sebagai teman ngobrol, melainkan sebagai rival! Yak, mereka berjumpa di sebuah kompetisi start up tahunan, dan mereka berdua adalah pesertanya. Kebetulannya, aplikasi yang mereka buat itu "mirip", fungsinya sama, cuma tampilannya aja yang beda. Loh, kok bisa? Gimana ceritanya? Trus, apa reaksi mereka setelah sekian lama tak jumpa malah harus saling sikut untuk memperebutkan hadiah dana proposal start up. Siapa yang akhirnya menang? Inilah yang jadi plot utama.

 
Jika kita membicarakan start up, memang start up saat ini lagi digandrungi oleh generasi "kekinian", banyak anak muda yang "berfantasi" bisa menjadi CEO sebuah start up yang sukses di usia muda. Ya, itu semua dari hasil apapun yang mereka serap dari lingkungan dan sosial media, dimana banyak diceritakan kisah-kisah sukses para CEO start up yang masih muda-muda, dengan kerjaan yang terlihat lebih keren karena bekerja dengan gadget canggih seperti laptop, duduk santai dan fleksibel, bisa dimana dan kapan aja, bisa di cafe sambil nongki-nongki, ya idaman para anak muda sekarang lah, kerja santai gaji banyak (mimpi loe). Jadi, banyak yang termotivasi gitu, kalo ditanya mau kerja apa, maka akan banyak yang ngomong kalo maunya kerja yang berhubungan dengan start up. Sampe mereka buta kalo faktanya menurut film ini, ada lebih dari 90% start up berakhir gagal, termasuklah dana yang dikeluarkan untuk investasinya. Jadi ya meraih kesuksesan di start up itu sama seperti sukses dibidang lain, tetap membutuhkan perjuangan keras, yang mungkin kita ga diliatin gimana mereka kerja kerasnya, kita cuma diliatin bagian dimana mereka duduk-duduk santuy depan laptopnya aja.

Senin, 21 Februari 2022

5 Film Romance Yang Unik, Ajaib, Ga Pasaran, dan Aneh : Magical Romance (Part 1)

Halo, jumpa lagi nih di blog kami, setelah sebulan ngilang, maklum, sebagai orang kantoran awal tahun banyak kerjaan bikin laporan akhir tahun dan ini itu. Nah tanpa banyak basa-basi lagi, berhubung ini masih dalam bulan Februari yang kata orang adalah bulan "cinta", maka kami mau share dimari film-film romance yang sangat beda, ga kayak film-film romance pada umumnya, yaitu yang di dalamnya ada unsur magic gitu. So, apa aja mereka? Berikut sinopsis singkatnya :

1. One Day (2016)

Film Thailand ini udah kami review disini : Review non spoiler dan bedah film One Day (2016) : Dicintai cuma satu hari, cukup?. Mengisahkan seorang pria cupu, yang tiba-tiba ketiban "rejeki" punya kesempatan untuk jadi pacar cewek cantik idamannya. Jadi tuh cowok ini make a wish gitu di depan "lonceng ajaib", dan keinginannya untuk bisa jadi pacar cewek tersebut terwujud, tapi hanya satu hari aja. Si cewek kecelakaan dan mengakibatkan amnesia, tapi ya hanya satu hari aja. Jadi dia manfaatin satu hari tersebut untuk ngaku sebagai pacarnya. Apakah dia berhasil? Gimana respon tu cewek? Trus setelah satu hari, gimana kelanjutan hubungan mereka? Film ini highly recomended, karena kualitas screenplay yang mereka punya dan romansanya yang bikin baper banget.

2. Ruby Sparks (2012)

Gimana kalo kamu bisa nyiptain pacar yang sesuai keinginan kamu? Literally..bener-bener sesuai apa yang kamu request, baik fisik maupun sifat, mau dia rambut panjang ato pendek, mau dia mandiri ato manja. Nah, film ini lah gambarannya. Jadi ada seorang penulis novel yang punya mesin ketik ajaib, dan dia sedang dalam menulis sebuah novel romance yang baru, tapi dia kaget karena apa aja yang dia ketik, bisa jadi nyata. Saat dia ngetik tentang sosok seorang pacar di dalam novelnya kemudian muncul deh di hadapannya seorang cewek cantik yang persis dengan apa yang dia ketik. Nah, kurang enak apalagi coba kalo bisa sesuai keinginan ini. But wait, ga semudah itu Ferguso, kalo ga ada konflik ya ga jadi sebuah film donk. Nah kok bisa yang udah sesuai keinginan pun ada konflik? Cari tau sendiri ya. Film ini juga highly recomended, karena baik untuk refleksi setiap pasangan, tentang toleransi dan keseimbangan, bahwa kesempurnaan hubungan tidak dapat dicapai dengan cara instan.

Senin, 27 Desember 2021

Review non spoiler dan bedah film One Day (2016) : Dicintai cuma satu hari, cukup?

Setelah menonton film Spiderman - No Way Home, terutama pada bagian endingnya, mengingatkan saya pada satu film yang rasanya hampir mirip-mirip kejadiannya, yaitu One Day (2016). Karena memang fondasi ceritanya sama, yaitu tentang menghilangkan ingatan. Dari kemarin-kemarin sebenarnya pengen review ini, tapi tertunda melulu. Dan karena udah di remind oleh ending Spiderman - No Way Home, barulah tergerak untuk menulis reviewnya sekarang. Saya akan membagi reviewnya ke dalam dua bagian, tentu bagian non spoiler untuk kamu yang belum nonton, dan bagian spoiler untuk kamu yang udah nonton. Mungkin akan banyak di bagian spoiler, karena film ini lebih menarik untuk di breakdown.
 

Review Non Spoiler

Sinopsis :
Denchai adalah seorang karyawan yang penampilannya cupu. Dia suka dengan teman kantornya yang bernama Nui, tapi hanya berani sebatas menjadi secret admirer. Dalam sebuah kesempatan liburan yang digelar perusahaan, mereka berwisata ke Hokkaido, Jepang. Disana, Denchai mendapatkan sebuah situasi yang cukup aneh tapi menguntungkan baginya. Nui mengalami kecelakaan dan mengakibatkan ingatannya hilang sesaat, lebih tepatnya hanya selama satu hari aja. Denchai memanfaatkan ke-amnesia-an Nui ini untuk mengaku sebagai pacarnya. Lantas, bagaimanakah respon Nui? Trus setelah lewat satu hari, apa yang akan terjadi pada hubungan mereka berdua?

Nah sinopsis yang cukup unik bukan? Saran saya, ga usah liat trailernya deh, biar aja blank tanpa tau apa-apa, biar feels bapernya lebih dapet, karena kita dibuat untuk ngikutin kisah mereka berdua itu kayak slogan Pertamina "Mulai dari nol ya pak". Nah baca review pun jangan jauh-jauh, cukup batas bagian non spoiler ini aja.

Meskipun sekilas akan terkesan seperti film-film drama romance Indonesia yang kebanyakan isinya kita cuma liatin aktor-aktornya pada jalan-jalan ke luar negri, tapi setidaknya film ini menyisipkan unsur "aneh" di dalamnya, sesuai tag line filmnya yaitu : "Dicintai cuma sehari, cukup?".

Keunikan tersebut bukanlah satu-satunya faktor kenapa film ini sangat direkomendasikan. Seluruh aspeknya, mulai dari skenario dan penempatan kata-katanya, screenplaynya, aktingnya, backsoundnya, dan set propertinya, itu tuh pas banget. Beberapa diantaranya bahkan dengan cerdas disusun sebagai callback dan counter narative untuk scene lainnya. Romancenya juga dapet banget, membuat film ini bagi saya saya layak sebagai one of the best romance movie ever. Ga perlu kata-kata gombal, ga perlu kalimat-kalimat kiasan, ga perlu adegan-adegan baper ala drakor, tapi mampu bikin klepek-klepek tanpa harus berlebih-lebihan.

Kamis, 09 Desember 2021

Review non spoiler film romcom Love Hard (2021) : Gara-gara aplikasi kencan online, bisa berabe guys.


Adalah Natalie, seorang wanita yang profesinya sebagai kolumnis sebuah majalah. Dia menulis artikel yang khusus bertemakan tentang cinta, terutama tentang pencarian cinta. Termasuk pengalaman pribadinya sendiri, yang selalu gagal dalam urusan percintaan. Dia suka mencari pasangan lewat aplikasi kencan online atau matchmaker semacam Tinder gitu. Dalam beberapa kesempatan blind dating yang dia lakukan, sering berujung tidak sesuai ekspektasinya. Dia sering tertipu oleh pria-pria yang memalsukan identitasnya dalam aplikasi tersebut atau yang ternyata dia merasa ga cocok dengan pria tersebut.

Nah pada kesempatan kali ini, dari aplikasi tersebut sepertinya dia berhasil menemukan orang yang sesuai dengan kriterianya. Cowok tersebut ganteng, hobinya juga sama dengan dia, dan ternyata kalo ngobrol di telpon tuh nyambung banget, seru, Natalie terlihat bahagia. Suatu waktu, si cowok iseng bilang : "Seandainya aja kamu bisa hadir disini saat Natal". Wah, sebuah kebetulan banget, nama dia Natalie, dan si cowok pengen dia hadir di saat Natal, maka Natalie pun menganggap ini pertanda dari Tuhan bahwa ini adalah jodohnya.
 
Kesempatan ini ga disia-siakan oleh Natalie, dia pun rela untuk pergi ke rumah si cowok meskipun beda propinsi, tapi secara diam-diam. Dia ingin memberikan kejutan kepada si cowok. Tapi nyatanya, sesampainya disana, Natalie lah yang terkejut, setelah melihat aslinya cowok tersebut ga seperti di aplikasi. Cowok ini bernama Josh, dia terlihat cupu dan ga ganteng. Josh sengaja memalsukan foto profilnya dengan memakai foto temennya sendiri yang bernama Tag.

Jumat, 02 Oktober 2020

13 Film Korea Selatan Paling Esensial Yang Harus Kamu Tonton Sebelum Nyebur Ke Dalam Hallyuwood!

Kesuksesan Parasite dalam dunia perfilman global membuka mata penonton dunia ke arah Korea Selatan. Orang-orang mulai menjelajahi film-film asal negri ginseng tersebut, yang disebut dengan istilah Hallyuwood, sebagai "sinonim pelesetan" dari Hollywood-nya Korea. Ini terimbas juga kepada media penyiaran seperti tv dan video on demand yang ikut meramaikan bisnis mereka dengan mengisi film-film Korea di saluran mereka. Tapi, bagi kita sebagai penonton yang baru mau mulai, mau mulai dari mana? Ada sekian banyak film Korea yang bagus-bagus, tapi bagusnya nonton yang mana dulu nih? Nah..setelah saya tonton banyak film Korea, berikut ini adalah film-film Korea yang menurut saya paling esensial, yang harus kamu tonton terlebih dahulu, sebelum nonton film-film Korea lainnya.

Untuk list ini, saya perlu menyempitkan pilihan. Pertama saya sortir filmnya hanya yang dirilis maksimal tahun 2010 dan kebawahnya (sebelumnya). Karena mereka bukan film "baru", film lama, senior lah caknya, mereka yang lebih dahulu hadir. Kemudian, saya mencoba untuk memberikan keterwakilan untuk setiap genre film, baik murni satu genre di dalamnya maupun kombinasi beberapa genre. Dan saya pilih dari setiap genre itu, judul yang paling sering disebut oleh orang-orang alias yang lebih populer. Mungkin ada film yang bagus, tapi ga begitu populer seperti Il Mare, Shiri atau Going By The Book. Lalu jika ada satu sutradara yang punya banyak film bagus, maka saya juga hanya pilih satu atau dua saja sebagai perwakilan. Contoh, ada banyak film karya Park Chan Wook yang bagus-bagus yang rilis sebelum 2010, seperti Vengeance Trilogy, JSA, I am A Cyborg but That's OK, dan Thirst, tapi saya pilih hanya satu atau dua saja sebagai perwakilan. Dan terakhir saya jamin semua film ini sangat bagus dalam urusan teknis, seperti penyutradaraan, skenario, akting, sinematografi, scoring, dll, yang telah diakui karena dapat awards dimana-mana. So, without bacot lebih banyak lagi, lets go to the list.

1. Oldboy (2003) : Mystery-Thriller

Current rating : 8.4/10 IMDb, 82% Rotten Tomatoes, 21+

Ini wajib, super wajib! Penjelasannya sih udah saya buat di artikel berikut ini : Beribu Alasan Kenapa Old Boy Adalah Film Terbaik Korea Yang Kamu Pasti Ga Nyangka! Tapi itu hanya untuk yang udah nonton aja. Nah bagi kamu yang belum nonton, film ini merupakan misteri tentang proses balas dendam seseorang bernama Oh Dae Su. Tanpa tau kenapa dan sebab apapun, dia disekap dalam ruangan selama 15 tahun! Gila ga tuh! Jadi dia bertekad untuk balas dendam dengan mencari siapa dalang penyekapnya. Uniknya, pelakunya bukan bersembunyi, tapi berani untuk berkomunikasi dengan Oh Dae Su. Dengan dibantu oleh seorang gadis yang dia temui, Mido, mereka berdua melakukan penelusuran terhadap petunjuk-petunjuk yang mereka punya. Gimana endingnya? You will never see that coming! Selain dari segi misteri, film ini juga mempunyai unsur fight action yang keren. Soal teknis ga usah ditanya, banyak menang award, semuanya outstanding, mulai dari script, akting, penyutradaraan, sinematografi, dan set produksi.

2. Memories of Murder (2003) : Mystery-Suspense

Current rating : 8.1/10 IMDb, 91% Rotten Tomatoes, 21+

Sutradara Parasite, Bong Joon Ho, naik daun ya lewat film ini nih. Berdasarkan kisah nyata, film ini bercerita tentang dua polisi yang melakukan penyelidikan terhadap kasus pembunuhan berantai di sebuah desa. Uniknya si serial-killer ini kalo membunuh punya ciri khas, seperti timing dan target yang diincer. Proses investigasi ini sangat menarik ditelusuri, apalagi dua detektif ini berbeda gaya dan punya keyakinan sendiri terhadap keampuhan metode yang mereka pakai. Yang satu santai dan data-based-guy, yang satu temperamental-judgemental yang mengintimidasi para suspects. Memories of Murder adalah sebuah presentasi yang hebat dari sebuah kisah nyata, dengan penyutradaraan, akting dan sinematografi yang berkelas. Untuk film ini kita udah ada reviewnya oleh Nendra, klik disini untuk baca reviewnya.

3. A Bittersweet Life (2005) : Action-Thriller

Current rating : 7.6/10 IMDb, 100% Rotten Tomatoes, 17+

A Bittersweet Life diisi oleh aktor Korea paling terkenal, Lee Byung Hun. Dalam film ini ia berperan sebagai seorang bodyguard, yang ditugaskan untuk menjaga pacar simpanan bosnya. Alih-alih menjaga, dia malah sepertinya jatuh cinta ama tuh cewek. Siapa yang ga bakal jatuh cinta wong cantik gitu, hehe.. Rada-rada mirip ama The Bodyguard From Beijing lah. Cuma bedanya A Bittersweet Life dikemas dengan cinematography apik dan makna yang filosofis. Ini tak lepas dari tangan salah satu sutradara terbaik Korea Selatan, Kim Jee Won yang juga menahkodai film Tale of Two Sisters. Urusan action, udah jaminan mutu, Lee Byung Hun bukan sembarang main film, disini banyak sekali adegan action dan fighting yang dahsyat dan memacu adrenalin. Bahkan bisa jadi film ini banyak dijadikan referensi oleh filmmaker-filmmaker lain dalam membuat sequence action, seperti adegan dalam gedung terbengkalai itu sepertinya menginspirasi Gareth Evans dalam film The Raid.

Senin, 15 Juni 2020

Review Non Spoiler dan Penjelasan Ending The Lobster (2015)


Part I : Tanpa Spoiler

Mungkin hampir ga akan pernah ditemui film dengan tema relationship yang seunik ini. Pengen tau kenapa? Simak sampe abis ya. Film ini disutradarai Yorgos Lanthimos, seorang sutradara asal Yunani berkelas Oscar lewat film The Favourite. Castnya ada Colin Farrell, Rachel Weisz, Lea Seydoux, dan Olivia Colman. Memiliki rating di IMDB 7,2/10 dan Rotten Tomatoes 87%. Dengan budget hanya $4.5 juta mendulang $15.7 juta di Box Office.

Film ini bersetting di dunia atau masyarakat yang surealis, dimana ada peraturan bahwa setiap manusia harus hidup berpasangan. Jika ga, siap-siap yang jomblo akan dihukum diubah menjadi hewan yang mereka pilih. Seperti judul film ini, The Lobster, hewan ini lah yang dipilih oleh sang tokoh utama, David, yang diperankan oleh Colin Farrell jika dia tidak dapat pasangan. Tapi alih-alih tentang transformasi manusia menjadi binatang, film ini malah bukan menitikberatkan pada hal ini, tapi tentang bagaimana sang tokoh utama berada di kehidupan dengan aturan yang aneh ini. David, baru saja pisah dari istrinya, dia terpaksa harus ikut kegiatan semacam karantina atau pelatihan untuk mencari pasangan. Kegiatan ini digelar di sebuah hotel dan diberi waktu kepada setiap jomblowan dan jomblowati selama 45 hari untuk mendapatkan pasangan diantara mereka para peserta pelatihan. Jika dalam 45 hari mereka masih jomblo, maka mereka harus diubah menjadi binatang.


Sebuah premis yang sangat unik bukan? Kayak film "30 Hari Mencari Cinta", atau film drama cinta Indonesia lainnya, tapi percayalah film ini jauh berbeda. Meskipun sama-sama tentang tema yang hits, kekinian, umum, dan relevan dengan kehidupan nyata, yaitu pemuda galau mencari cinta, tapi sang filmmaker Yorgos Lantimos membuatnya dengan cara yang ga biasa, cenderung absurd dan nyeleneh. Menjadikan film ini segmented banget, ga semua orang bakalan suka. Apalagi Yorgos juga punya ciri khas dalam setiap filmnya yang selalu menampilkan 3 hal "membosankan" berikut ini :

1. Emotionless, setiap tokoh ga pake ekspresi, mau sedih senang mukanya datar gitu-gitu aja, ngomong juga ga pake intonasi, kayak robot.
2. Slow pace, ga terburu-buru, minim suspense.
3. Scoreless, ga ada musik latar, berasa hambar.
4. Metafor and irony, ga langsung to the point mengungkapkan tentang apa filmnya.

Tapi menikmati karya Yorgos bukan pada saat menontonnya, tapi setelah menonton. Yorgos membuat film untuk bercerita dan menyampaikan sesuatu. Filmnya merupakan satirisme dan black comedy dari kehidupan sosial. Bagaimana ia berupaya membuat sindiran dan tamparan terhadap hal-hal umum kemasyarakatan. Meskipun satir tapi ini bukanlah suatu film yang rumit, alurnya linear maju dan bisa dicerna setiap orang, seperti drama pada umumnya. Tapi yang perlu ditelaah adalah makna dari setiap persoalan di dalamnya. 

Rabu, 29 April 2020

3 Drama Korea Terbaik 2019 Versi JMFC

Anyonghaseo.. #DrakorLovers.. Mumpung kita2 pd #StayAtHome gegara Corona, nah bs nnton drakor sbgai time-killer alternative..so kali ni mimin mo coba share 3 #DrakorTerbaik2019 versi mimin. Tnpa byk basa-basi lg krn ktrbatasan karakter huruf, ini dia listnya.


#HotelDeLLuna
Dr critanya aja udh unik ya, dmn klian bs nemuin ada Hotel yg isinya hantu smua?? Ya cuma dsni..jdi nih critanya Hotel ini mrupakan tmpat para arwah sblm mnuju akhirat. Brbgai jenis arwah ada ddlmnya, trgantung kmatiannya gmn..tp mskipun ini hotel arwah, tp hotel ini mmiliki fasilitas yg diluar nalar, hotel bintang 5 kalah, ni bintang 10 dah..wkwkwk.

Kamis, 23 April 2020

Review Singkat Being John Malkovich (1999) : Drama Cinta Segitiga Yang Unik, Fresh dan Absurd Yang Ga Akan Ditemui Di Film Manapun


Nonton ini krn ada fan theory klo film ini adlh prekuel satu universe dgn filmnya Jordan Peele yg sensasional itu, Get Out.

Craig (#JohnCuszcak), seorg puppetmaster alias dalang boneka tali, hidup jobless, smpe suatu ktika disuruh bininya (#CameronDiaz) cari kerja, maka mlamarlah ia ke lowongan yg ada di prusahaan yg kantornya tu rada aneh. Gimana ga aneh? Wong kantornya berada di lantai 7 1/2! udh kyak Platform 9 3/4 nya Harry Potter.

Dan mmg bner, ddlm kantor itu pnya suatu keanehan. Ga sngaja, si Craig nemuin dinding bolong brupa lorong kecil yg trnyata adlh portal ke dlm jiwa seseorg. Dan seseorg ini adlh #JohnMalkovich (real name), aktor trnama kaya raya hidup enak dan mewah yg diimpikan byk org. Itu lho nyang maen R.E.D.

Sya sih sbnrnya krg setuju klo Malkovich ini yg diimpikan org, wong ga ganteng, ga brkharisma, hrsnya sih bs plih yg lain lah, tahun 1999 mgkn bs plih yg ganteng2 kek Van Damme, Arnold Siregar, Stallone, John Travolta.

Review Singkat Back To 90s (2015 Thai Movie) : Cinta Remaja 90an Yang Punya Kualitas Filmmaking, Ga Kayak Yang Itu Tuh.



Klo Dilan mw ngecontoh gmn bkin film 90an yg cinematic look, ni dia filmnya. Sya heran ama film Dilan, yg dipuja2 dan laku, kelasnya "film" tp hasil visualnya FTV, yg ga ada sinemetografinya samsek, ga ada 3 point lighting, smua yg pnting terang. Ga pake rule of third, ga pake leading line, asal yg pnting aktor dlm frame, jadi la tuh.

Beda bngt klo di film ini, Thailand yg bkin. Temanya sama lho pdhal, ttg cinta monyet ala anak skolahan. Cuma mskipun alur crita yg biasa aja, tp scra visual ttp mmproduksi dgn mnerapkan unsur2 sinematografi td. Kita yg nnton pun betah, mskipun crita predictable.

Senin, 13 April 2020

Review non spoiler dan Penjelasan Ending Film Burning (2018)


Ini film menurut saya berkesan artsy, atau dulu istilahnya arthouse. Tapi sejak negara api menyerang (baca : indie), istilah arthouse lebih sering diucap "artsy", karena saking menjamurnya anak indie yang klaim berjiwa seni dengan kata-kata puitis dan melukis, mereka menyebut diri mereka anak artsy..katanya artsy sudah pasti indie..sementara indie belum tentu artsy.. Arthouse, sesuai kata dasarnya "art" : bernilai seni, punya estetika. Film artsy temponya cenderung lambat, biar "seni"nya dapet..dan berusaha keras untuk tampil "tidak biasa", baik dialog maupun alur. Tapi sayangnya beberapa diantaranya ga mampu menyajikan plot cerita yg jelas, cuma berkedok estetika dan seni aja. (Ex : Upstream Color, Lost In Translation). Tapi tidak untuk film ini, setidaknya plot ceritanya jelas dan kalo dirunut-runut ya seperti drama misteri pada umumnya. Trailernya bisa klik disini dan berikut adalah reviewnya, tanpa spoiler.

Jong Su, adalah seorang pemuda yang boleh dibilang jobless, punya kerjaan tapi cuma paruh waktu, jadi hidup juga pas-pasan. Suatu hari dia ga sengaja bertemu cewek yang "ngaku"nya temen masa kecilnya, namanya Hae-Mi. Hae-Mi merupakan sosok cewek yang mandiri, sederhana, supel, sepertinya dia pandai bergaul dengan siapa saja. Selain itu dia juga unik, memiliki cara pandang sendiri terhadap dunianya, dia selalu ingin mencari tau arti kehidupan.
 
Sekali dua kali jalan, ya mereka akhirnya jadian. Cita-cita Hae-Mi adalah menjadi aktor, dia pandai bersandiwara, dalam 1 momen dia pamer skill akting makan jeruk yang bisa dibilang memang sangat bagus membuat kita percaya dia makan jeruk beneran dan ngiler. Dia juga suka traveling. Ketika dia berangkat ke Afrika, Hae-Mi menitipkan rumah dan kucingnya kepada Jong Su.
 
Lihat kompaknya Ben dan Haemi pake baju putih dan tatapan yang akrab sementara Jong Su diletakkan ditengah mereka sebagai pemisah dengan warna berbeda
 
Keadaan berubah 180 derajat sepulang Hae-Mi dari sana, karena di Afrika dia berjumpa dengan Ben, cowok tajir ganteng cool baik hati. Hae-Mi terlihat nyaman berada dekat Ben. Membuat Jong Su "terbakar" cemburu. Tapi disini Jong Su ga langsung "sumbu pendek", malah seperti berteman, ngikutin arus, sampe sejauh mana mereka melangkah. Dalam sikapnya yang pendiam, Jong Su justru orang yang paling terjaga untuk melihat gerak-gerik Ben, "lawan"nya yang membuatnya iri. Tapi dia hanya tidak bisa mengungkapkannya lewat kata-kata, it's only burning inside, itulah kenapa diberi judul "Burning".

Senin, 11 September 2017

Review Music And Lyrics (2007) : Salah Satu Film Komedi Romantis Favorit Dari Hugh Grant

Sebenarnya sudah lama saya sering lihat box VCD film Music and Lyrics di rak tempat penyewaan VCD favorit saya, bahkan semenjak film ini dikeluarkan copy originalnya (artinya sekitar tahun 2008) baik judul dan cover VCD film ini sudah sangat sering saya lihat, tapi setiap kali saya melihatnya entah kenapa selalu saya lewatkan, mungkin karena judulnya, Music and Lyrics. Hal ini menimbulkan kesan kalau film ini adalah film musikal (karena saya suka film mengenai musik akan tetapi film musikal bukanlah genre favorit saya). Namun beberapa waktu yang lalu pada Instagram yang bertemakan tahun 90an memposting foto Hugh Grant dan isi captionnya adalah “sebutkan film Hugh Grant Favorit” anda, dan Music And Lyrics merupakan salah satu judul yang paling sering disebut dalam komentar postingan ini. Jadi timbul pertanyaan dalam hati “Is it really that good? So lets talk about it.”.

Gambar : imdb.com

The Story
Alex Fletcher dulunya adalah seorang penyanyi aliran musik Pop yang amat terkenal, Alex merupakan bagian dari sebuah band yang bernama PoP, namun ketenarannya memudar setelah band nya bubar, sekarang Alex hanya mendapat gig kecil di acara reunian sekolah ataupun di taman-taman hiburan, namun ketika manajernya memberitahu kalau Cora (Pop Star yang amat terkenal dengan persona gabungan antara Britney Spears dan Madonna wannabe) menginginkan Alex menulis lagu untuknya dan berduet bersamanya, dengan syarat lagu yang ditulis Alex harus diselesaikan dalam waktu yang telah ditentukan dan gagal memenuhi syarat tersebut maka Cora akan memilih orang lain untuk menulis lagu untuknya, Alex harus mencari penulis lirik yang handal, dan pilihannya jatuh pada Sophie (Drew Barrymore) seorang yang ditugaskan merawat tumbuhan Alex dan bukanlah seorang penulis lirik.

Kamis, 12 Januari 2017

The Teacher's Diary : “Is It Possible To Love Somebody You Never Meet?” (Review By Nendra Pratama - JMFC 069)

Yupz, I'm back guys, hahaha......
Setelah tertawa terbahak - bahak lewak film Pee Mak, film horror Thailand yang gak ada serem - seremnya hahaha yang ada malah bikin ngakak guling - guling eh malah nemu film Teacher's Diary, film romantis berlatar belakang pendidikan disebuah daerah yang terpencil di Thailand sana.

 The Teacher's Diary
Gambar :youtube.com

Film ini menceritakan tentang bagaimana kisah dua orang guru dengan  latar belakang yang berbeda dengan skill yang berbeda dan jenis kelamin yang berbeda, ya iyalah, ini kan film romantis hahahaha............ Tersebutlah Ann seorang guru yang sangat berdedikasi mempunyai skill mengajar yang mumpuni dan berusaha membuat murid - muridnya paham dan tertantang dengan apa yang dipelajarinya, namun akibat sebuah tato yang enggan dia hapus maka dia harus mengajar di sekolah perahu, sekolah diatas danau dipedalaman Thailand. Suka dan duka dia lewati bersama ke tujuh anak didiknya, semuanya dituang kedalam sebuah buku harian, semuanya mulai dari cerita gimana dia bisa sampai kesekolah terapung itu sampai kisah asmaranya, tentang kesepiannya, semuanya dia tulis, namun setahun kemudian dia dipindah tugaskan untuk mengajar di sekolah yang terletak dikota, atas rekomendasi dari pacarnya.


Rabu, 05 Oktober 2016

About Time (2013) : (Bukan) Tentang Waktu (Review By Nendra Pratama – JMFC 069)

Sebelumnya thanks to Bro Ilham yang udah rekomendasiin film ini, gak tau kenapa ini Bro Ilham sama Agent 001 Bang Chan mencoba meracuni saya dengan drama komedi romantis, hahaha...kayaknya saya disuruh menggalau terus ini...tapi keren asli ini film jadi pengen kayak tokoh utamanya, si Tim hehe..

 About Time

"How long will I love you, as long as stars are above you and longer if I can”
Seperti biasa, saya tdak mempunyai ekspektasi apa – apa ketika nonton film ini, ah paling hanya film tentang pria yang bisa ke masa lalu terus nyelamatin ceweknya ala – ala Back to Future gitu, eh..saya gak bilang Back to Future jelek ya, karna saya mungkin pernah nonton tapi kayaknya udah lama banget, cuma ya agak kurang suka aja kalo liat film yang rada – rada mirip jalan ceritanya, istilahnya numpang keren gitu hehe..piss...
Kita bahas sang arsitek dulu ya? Dia adalah Richard Curtis, penulis sekaligus sutradara dari film ini, yang mana dia juga menulis naskah untuk Mr.Bean, Love Actually (kayaknya yang ini harus nonton nih) dan The Boat That Rocked. Sebenernya nih dari deretan film beliau ini saya baru nonton About Time dan Mr. Bean, tau kan si Mr. Bean? Si pintar tapi bodoh itu? Nah rumornya itu adalah salah satu khas dari Richard Curtis, yaitu menampilkan sosok lugu dari karakter yang beliau ciptakan, dan dalam About Time sosok itu hadir lewat Tim Lake (Domhall Gleeson).

Kamis, 15 September 2016

Cloud Atlas (2012) : Juara Tanpa Mahkota, The Most Complete Movie Ever

Langsung aja to the point, kenapa film ini saya bilang “Juara Tanpa Mahkota”? Karena tak satu pun masuk dalam nominasi Piala Oscar, atau yang biasa disebut dengan istilah Oscar Snubs. Padahal, di festival-festival film mereka banyak mendapatkan nominasi dan juara. Penilaian saya pribadi, media dan pengamat film lainnya juga mengatakan film ini sangat-sangat layak masuk nominasi Piala Oscar atau bahkan layak memenangkan salah satunya. 

 Cloud Atlas
Gambar : yesmovies.to

Lihat saja totalitas para cast-nya yang tampil dalam berbagai jelmaan dan versi, tetap memberikan akting yang terbaik. Termasuk juga sinematografinya yang imajinatif tapi sangat rapi. Belum lagi skenario yang dibuat juga harusnya layak masuk nominasi Best Adapted Screenplay, banyak yang bisa dijadikan “Quotes”, hehe.... 

Ah...pokoknya semua unsur film ini semestinya layak deh, costume design, production design, make-up and hairstyling, sampe skill sutradara yang level dewa yang bisa men-direct semua cast dan element di dalamnya sehingga filmnya dapat diterjemahkan dengan baik. Mereka adalah The Watchowksi Brothers, yang nyutradarain The Matrix dan V For Vendetta. But memang setiap pergelaran Oscar sangatlah ketat, pada tahun itu film ini bersaing dengan Argo, Silver Linings Playbook, Life Of Pi, Les Miserable dan Django Unchained.

Btw, film ini juga sangat komplit, kalian mau Action? Ada. Kalian mau Sci-Fi? Ada juga. Drama, Romance, Fantasy, Comedy, Thriller, Mistery, Twist, Vintage dan Futuristic juga ada. Film ini rakus yah, haha... Rakus dan ambisius ya beda tipis lah, hehe... Ya film ini sangat berambisi untuk show off, menjadikannya film independent dengan budget terbesar sepanjang masa yaitu 100 juta dollar AS. Wajar sih ya sampe segitu duitnya, lihat siapa saja cast yang dipakai, orang-orang Hollywood yang ajib bener : Tom Hanks (Saving Private Ryan), Hugo Weaving (V For Vendetta), Halle Berry (The Call), Jim Broadbent (Harry Potter), Ben Wishaw (In The Heart Of The Sea), David Gyasi (Requiem For A Dream), Jim Sturgess (Upside Down), Doona Bae (Jupiter Ascending), James D’Arcy (Serial Agent Carter), Keith David (Interstellar), Hugh Grant (Notting Hill), dan Susan Sarandon (Twilight). 

Belum lagi untuk membiayai production design-nya, pasti mehong cyin.... Kenapa? Karena film ini ber-setting-kan sebanyak 6 waktu dan tempat yang berbeda! Semua inilah yang menjadi keunikan dan daya tarik film ini.

Selasa, 13 September 2016

Review Film Upside Down (2012) : Ketika Cinta Terhalang Gravitasi (Review By Nendra Pratama - JMFC 069)

Gravitasi adalah gaya tarik yang akan selalu mengarahkan benda ke pusat penghasil gayanya, jika gravitasi bumi, maka benda akan cendrung mengarah ke pusat bumi, hal ini menjelaskan bahwa kenapa kita tidak terjatuh walaupun bumi berbentuk bulat, namun apa yang akan terjadi ketika di suatu tempat di antah berantah ada sebuah planet kembar yang berdampingan dan saling mengorbit? Yang mana setiap planet memiliki gaya gravitasinya masing – masing dan apapun yang berasal dari planet yang lain akan menjadi anti gravity bagi planet lainnya. Misalnya, jika kita mengambil batu dari dunia atas dan kita bawa ke dunia bawah, maka batu tersebut akan melayang dan terbang kembali ke dunia atas, begitupun sebaliknya, hal ini juga berlaku bagi manusia yang tinggal dikedua planet itu, untuk lebih jelasnya akan saya jabarkan seperti ini :

 Upside Down
Gambar : yesmovies.to

Planet pertama disebut dunia atas, ya yang namanya diatas tentu saja semua fasilitas dan kekuasaan berada disini, pengatur kedamaian, penjaga keamanan, polisi patroli antar planet, pengusaha dan penemu serta segala hal yang biasanya dimiliki oleh negara dunia pertama kalo di bumi.

Planet kedua disebut dunia bawah, oke, dunia bawah adalah tempat segala hal yang bias dieksploitasi, kalau dalam fim ini adalah minyak, oke, gak dibumi gak disana minyak tu lah, haha... Minyak di dunia bawah di eksploitasi oleh dunia atas dengan harga murah lalu dikirim ke dunia bawah dalam bentuk listrik yang tentunya lebih mahal, terdengar familiar? Hehe...

Dengan situasi diatas, sekarang bayangkan jika kamu seorang wanita dari dunia atas bertemu dengan seorang pria dari dunia bawah dan terlibat cinta pada pandangan pertama, uhhhh...sebuah premis yang menjanjikan bukan?

Kamis, 28 Juli 2016

Review Film Mr. Nobody (2009) : Wonderful!

Satu kata yang paling pas untuk mewakili pendapat saya tentang film ini, Wonderful. Film yang bernilai seni tinggi, powerful dalam penampilan, panggung yang ekspresif, dan cerita yang menghanyutkan. Sang penggarap, sutradara Jaco Van Dormael, mungkin memang bukanlah sutradara yang populer dikalangan moviegoers, termasuk saya, namun disini ia menegaskan keambisiusannya lewat sajian motion picture Mr. Nobody yang ia garap ini, pertanda bahwa ia bukanlah sineas sembarangan. Filmnya ini berhasil memenangkan beberapa kategori di festival-festival film.

Film ini ber-budget sekitar 33 juta dollar AS demi untuk mewujudkan ambisi sang sutradara. Angka termahal untuk film Belgia tersebut dipakai untuk English-Languange movie, syuting di beberapa negara seperti Belgia, Jerman dan Kanada serta menggunakan “pekerja film” bertalenta seperti : aktor Jared Leto dan Rhys Ifans, aktris Diana Kruger, Visual Effects (VFX) supervisor Louis Morin yang membuat VFX film Eternal Sunshine Of The Spotless Mind dan beberapa soundtrack dari Hans Zimmer.

 Mr. Nobody
Gambar : en.unifrance.org

Yang ingin saya ungkapkan terlebih dahulu adalah hasil kerja sinematografi-nya yang fantasis. Bukan tentang CGI dan VFX, tapi tentang kreasi. Pujian patut saya layangkan buat Christophe Beaucame. Kreatifitasnya menggabungkan benda-benda nyata, interior-exterior, pemilihan warna, kontras, pencahayaan dan perpaduan dengan motif, mampu membuat mata penonton terhanyut buaian lembut scene transition-nya, tapi beberapa kali juga sanggup mengejutkan dengan unpredictable moment. Berkat supervisi Louis Morin tadi, apa yang disajikan dalam film ini memang memiliki “rasa” Eternal Sunshine Of The Spotless Mind, tapi lebih imajinatif. Saya merasa sedang melihat versi panjang dari video klip band-band artistik seperti Coldplay atau bandnya sang aktor utama sendiri, Thirty Second To Mars.

Kamis, 09 Juni 2016

Eternal Sunshine Of The Spotless Mind (2004), Film Romantis Yang Tidak Biasa dan Sangat Dewasa


Kalimat pembuka saya adalah : ini film paling romantis yang sangat dewasa dan rumit. Sejarahnya pengen nonton film ini sih karena memang udah menjadi target, tapi ditunda melulu karena saya berpikiran ini film drama-romance, genre yang nomor sekian dalam list saya, hehe...jarang-jarang memang film berat bertemakan romantisme, biasanya tentang detektif, science fiction, time travel paradox atau scizorfrenia, but makin kenceng nafsu pengen nonton ini setelah melihat formulir pendaftaran member JMFC dari om Lukman Tanjung, apa kabar om? Senggol dikit nih gapapa ye, haha... Saat bagian kolom “Sebutkan 3 film terbaik menurut kamu”, om Lukman mengisi salah satunya berjudul “Eternal Sunshine Of The Spotless Mind”. Njelimet memang judulnya, apalagi buat lidah Wak Noval yang orang seberang, haha...piss Wak... Judul yang sangat jarang sekali disebut orang-orang dalam kolom tersebut, biasanya berisi film-film superhero atau action.

Gambar : en.wikipedia.org

Film ini tergolong film berat, film yang butuh mikir buat mencerna dan menikmatinya. Apalagi di dalam film tidak dituliskan waktu kejadian, kita harus pandai melihat dan memilah itu scene yang kapan. Untuk awal-awal, kita harus bisa menangkap kapan setting waktunya dari narator yang berbicara, sementara pertengahan sampai ending film pandai-pandailah melihat background, benda-benda dan ucapan tokohnya, ucapan yang saling berkaitan dengan momen lain dalam film. Apalagi kata-kata skenario yang digunakan juga unik, layaknya orang bercakap-cakap pada kehidupan sehari-sehari tapi agak implisit dikit sih. Pantes aja menang Piala Oscar kategori Best Original Screenplay (Naskah).

Jumat, 20 Mei 2016

Nostalgia Jawaban 14 Tahun Dalam Review Film Ada Apa Dengan Cinta 2 (By Habibi JMFC 036 Feat. Wahyu Ningrum JMFC 014)

Indonesia memiliki segudang judul film romansa, mulai dari yang setting sekolah hingga yang ceritanya menyinggung persoalan rumah tangga, akan tetapi jumlah film cinta-cintaan yang bisa dikatakan legendaris ataupun punya pasangan yang terbilang ikonik, memang tidak banyak, jumlahnya akan mengerucut jadi hanya beberapa judul saja, salah-satunya adalah Ada Apa Dengan Cinta? (2002). 

Gambar : imdb.com

Jika di era 70-an akhir kita punya Galih dan Ratna, lalu ada Ramadan dan Mona di tahun 80-an, generasi milenium kebagian Rangga dan Cinta. AADC, tidak hanya menjadi salah-satu film yang memicu bangkitnya perfilman Nasional yang kala itu sedang lesu, tapi juga jadi semacam patokan bagaimana film bertema cinta dibuat, tidak heran lepas suksesnya AADC, film-film sejenis pun mulai mengekor. 

Walau nanti muncul duet Adit dan Tita yang dimainkan Samuel Rizal dan Shandy Aulia, AADC seperti tidak bisa tergantikan hingga hari ini, Rangga dan Cinta punya tempatnya sendiri di hati penontonnya hingga 14 tahun kemudian. Jarang sekali kita punya film Indonesia yang dipuja dan dicintai seperti AADC, kisah percintaan yang amat sederhana tapi berhasil melekat kuat dari satu purnama ke purnama berikutnya.

Jumat, 05 Februari 2016

Leap Year (2010) : 29 Februari Di Tahun Kabisat Wanita Boleh Melamar Pria

Sadarkah anda bahwa tahun ini adalah Tahun Kabisat (Leap Year)? Tahun Kabisat adalah tahun dimana jumlah hari dalam tahun tersebut berjumlah 366 hari, tidak seperti tahun biasanya yang berjumlah 365 hari. Dan kelebihan 1 hari tersebut berada pada bulan Februari, yaitu tanggal 29 Februari. Tahun Kabisat ini berlaku setiap 4 tahun sekali, dimana tahun tersebut harus habis dibagi 4. Duuuhhh...kasian banget ya yang ultah tanggal 29 Februari, ultahnya 4 tahun sekali, hehe...awet muda donk...

Lalu apa istimewanya Tahun Kabisat ini?

Nah, sebelum kita membahas istimewanya, ada baiknya kita ketahui terlebih dahulu sejarahnya kenapa bisa ada Tahun Kabisat ini, ya anggap aja pelajaran sejarah umum tambah wawasan, hehe...

Jadi ceritanya nih guys, pada jaman dahulu kala, pada masa kerajaan Romawi, ada seorang Astronom bernama Sosiogenes yang bekerja pada pemimpin Romawi, Julio Caesar. Sosiogenes ini berteori bahwa bumi mengelilingi matahari membutuhkan jumlah hari dalam setahun itu tepatnya adalah 365,25 hari. Weleh...kok pake koma-komaan yak, ribet euy... Iya emang ribet, oleh karea itulah disederhanakan aja menjadi 365 hari. Tapi nih guys, angka di belakang koma tadi ga bisa dianggap remeh, karena jika dijumlahkan dalam 4 tahun aja udah 1 hari. Alhasil diciptakanlah Tahun Kabisat ini sebagai solusinya. 1 hari yang berlebih ini ditarok pada tahun ke-4 dan berlaku kelipatan, weleh..udah kayak promosi belanja aja yak...

Gambar : pinterest.com

Lalu kenapa mesti bulan Februari yang ditambah? Nah ceritanya lagi nih guys, pada jaman dulu itu, Februari merupakan bulan yang terletak paling akhir, sama halnya bulan Desember pada masa ini. Jadi karena itulah gampang untuk "diutak-atik". Itu cerita singkatnya, kalo dipanjangin ribet guys, bakal melibatkan penerus tahta Julius Caesar bernama August Caesar. Belum lagi selanjutnya Septemberus Caesar, Oktoberus Caesar, dst, hahaha....

Okeh, sejarahnya selesai, dijamin kalian dapat nilai 10 pas ujian ntar, hahaha... Lalu, apa istimewanya Tahun Kabisat ini? Setelah saya berselancar di dunia maya mencari, sayang sekali tidak saya temukan. Justru yang ditemukan malah kebanyakan keburukannya, huuu...sereeemmm...

Diantaranya adalah di Yunani, orang-orang disana menganggap bahwa menikah di Tahun Kabisat dapat berujung perceraian, sementara di Rusia mereka percaya Tahun Kabisat membawa pertumbuhan tanaman pertanian kearah yang salah, begitu pula di Skotlandia, bedanya mereka adalah ternak, sedangkan di Italia ada pepatah Tahun Kabisat Adalah Tahun Naas, haduhhhh.....menyedihkan...

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...