Tampilkan postingan dengan label Drama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Drama. Tampilkan semua postingan

Jumat, 10 November 2023

Film Yang Mengubah Atau Mempengaruhi Perspektif Saya Terhadap Sesuatu

Hello, udah lama banget ga nulis ya, udah setahun gila! Rasanya kata-kata ini udah sering saya ucapkan karena memang sudah sangat jarang menulis beberapa tahun terakhir. Sutralah, let it flow aja, kapan mau buat ya buat, kapan ngga ya ngga, ga usah dipaksakan. Oche! Langsung aja, kali ini saya mau berbagi tentang film-film apa saja yang pernah saya tonton dan membawa dampak atau pengaruh dalam hidup saya, yang mengubah perspektif saya terhadap sesuatu. Dari yang tadinya tidak tahu menjadi tahu, dari yang tadinya berpihak pada A, bisa jadi sekarang berpihak kepada B, atau in the middle of grey area that is in doubt, atau bahkan secara tak langsung menjadi titik awal dalam membuat prinsip baru dalam hidup saya.


Apa saja itu? Berikut daftar dan ulasan singkatnya. Tapi saya warning dulu ya, karena tulisan ini mengharuskan saya menceritakan bagian filmnya yang mana yang telah mempengaruhi saya, maka artikel ini akan mengandung spoiler dari film-film berikut ini beserta level spoilernya minor atau major:
 
Jurassic Park (1993) : No Spoiler
V For Vendetta (2005) : No Spoiler
Mission Impossible II (2000) : Major Spoiler
Minority Report (2002) : No Spoiler
Shutter Island (2010) : Minor Spoiler
The Host (2013) : No Spoiler
A Clockwork Orange (1971) : Major Spoiler
Dogtooth (2009) : Major Spoiler
The Truman Show (1998) : Major Spoiler
Prometheus (2012) : No Spoiler
Alien : Covenant (2017) : No Spoiler
The Hunger Games : Mockingjay - Part II (2015) : Major Spoiler
Snowpiercer (2013) : Major Spoiler
Seobok (2021) : Major Spoiler
Tomorrowland (2015) : No Spoiler

1. Jurassic Park

Ketika saya SD, sekolah saya mengadakan "tur" ke bioskop dan saya ikut di dalamnya. Jurassic Park adalah film yang kami tonton, di bioskop Sumatra 21, Kota Jambi. Itu adalah untuk pertama kalinya saya ke bioskop dan mengenal yang namanya film bioskop. Dengan studio indoor, bangku yang nyaman, layar super besar dan suara menggelegar, ditambah pula dengan kebetulan film yang ditonton adalah film maha dahsyat saat itu, Jurassic Park, alhasil saya yang masih kecil itu pun sangat terkagum dengan apa yang telah mata saya konsumsi. Since then, saya tau rasanya pengalaman nonton film, dan itu lah yang menjadi katalis yang mengarahkan saya untuk punya hobi nonton, mulai dari Layar Emas RCTI, Bioskop Trans TV, Rental Odiva, hingga menjadi "saya saat ini". Dan saya yakin, I'm not the only 90s kid that had their life changed after watching this film. Bener kan? 😁

2. V For Vendetta (2005)

Meskipun saya suka nonton dari dulu, tapi selera tontonan saya sampai semasa kuliah itu masih saya batasi pada genre popcorn movie, seperti film-film superhero, action dan komedi, sebut saja masa itu Hancock, Green Hornets, Charlie's Angels, Rush Hour, Godzilla, White Chick, Click, even American Pie dan Scary Movie dkk. Suatu waktu, saya melihat ada cover VCD yang eye-catchy di barisan film action tempat saya biasa menyewa film, Odiva. Dengan jubah seperti Zorro, topeng badut dan dua bilah belati, I was totally thinking bahwa ini keknya film superhero baru deh, keknya keren deh, coba ah.

Setelah nonton barulah tahu kebenarannya ini film apa. Bener sih memang film superhero, but it wasn't  like my ordinary superhero jaman itu. V adalah sosok antihero dalam plot cerita yang tidak umum bagi sebuah film yang memiliki sosok superhero. Temanya cukup berat dan kompleks, tentang misteri identitas, konspirasi politik, tirani, anarkisme, fasisme dan hak asasi. Anehnya, meskipun temanya berat bagi saya yang masih lugu saat itu, tapi saya tetap bisa tenggelam dalam alur ceritanya yang intense, seperti terpesona oleh dialog V yang selalu diintonasikan dengan kharismatik itu. Terlebih lagi aksi fighting V yang super duper cool itu, epic, dan endingnya yang sangat klimaks itu, I was totally amazed. Sejak saat ini, perspektif saya tentang batasan film berubah, saya tidak lagi hanya mengkonsumsi popcorn movie tapi mulai merambah film-film misteri, yang kompleks, temanya ga umum, meskipun frekuensinya masih sekali-sekali, karena keterbatasan pilihan sumber daya kala itu, belum seperti saat ini. Thanks V.

3. Mission Impossible II (2000)

Meskipun ini sering tayang di TV, tapi saya nontonnya jaman rental VCD pasca V For Vendetta. Secara level ini masih tergolong popcorn movie dengan actionnya yang keren. Film ini yang menggugah pola pikir saya dalam melihat setiap fenomena atau kasus. Bagian yang mananya? Bagian opening kalau ga salah saat si profesor menjelaskan tentang virusnya yang kurang lebih artinya begini : 

"What is the thing that every hero need? A villain".

Dalam film itu, si profesor menciptakan virus mematikan sebagai "villain" agar antivirusnya sebagai "hero" dapat laku. Hmm...kok kayak familiar di masa Pandemi kemarin ya? 😏 Tapi film ini rilis sebelum itu, jangan-jangan....😅

Pola pikir seperti ini disebut dengan teori konspirasi. Saya yang masih lugu tiba-tiba tercerahkan. Sejak saat itu, setiap kasus selalu tak luput dari pola pikir konspirasi ini, yang bagi saya sangat membantu dalam mengambil tindakan secara bijak, untuk tidak terlalu terburu-buru mengambil kesimpulan dan menilai atau mengutarakan sesuatu. Saya selalu melihat sesuatu dari dua sisi berbeda, otak saya mensimulasikan secara fiktif segala kemungkinan skenario, yang menganggap bahwa sesuatu bisa saja ada dalangnya, yang ingin mengambil keuntungan dengan cara menciptakan masalahnya terlebih dahulu. Kalau dalam dunia perfilman sudah banyak yang menggunakan plot konspirasi sehingga terkadang predictable.

Teori ini bisa saja diterapkan dalam dunia nyata, namun akan menjadi pikiran yang sangat liar tanpa batas dan dapat menyasar ke sektor apapun. Contohnya seperti politik, incumbent dan koalisi harus membutuhkan oposisi agar mereka bisa terlihat sebagai protagonis dan baik untuk elektabilitas mereka, upsss.... seperti dalam video di channel Helmi Yahya dengan thumbnail "Koalisi dan Oposisi adalah Saudara Kembar Yang Pura-Pura Musuhan". 

Jumat, 27 Mei 2022

Review Trilogy : I - Will - Survive (2021)

Kali ini ada film Indonesia yang berani melawan arus selera film Indonesia yang telah penuh dengan horor-hororan dan drama-dramaan. Dan dia hadir sekaligus 3 film yang di pecah ke dalam trilogy tapi bukan merupakan sekuel-sekualan, melainkan memiliki timeline plot yang hampir serentak. Trilogy ini memiliki judul I - Will Survive (2021). Mengusung genre thriller mystery, mampukah Anggy Umbara memberikan "perlawanan" yang terhadap selera penonton Indonesia?

I

Sinopsis :
Menceritakan tentang seorang suami muda, yang mana ia baru aja kehilangan istrinya, yang jadi korban pembunuhan. Tentu ga bisa dibayangkan gimana perasaannya waktu itu. Apakah harus mengikhlaskan kepergian sang istri dan membiarkan polisi melakukan tugasnya sendiri? Atau bertindak sendiri menjadi vigilante yang berambisi untuk membalaskan dendam kepada si pembunuh? Pilihan yang sulit, mengingat dirinya hanyalah mas-mas biasa, bukan seseorang yang memiliki kemampuan dan sumber daya untuk menjadi "Batman"nya Indonesia. Terlebih lagi, dia mempunyai pandangan tegas tentang "membunuh" manusia, dia sangat membenci hal tersebut, sampai-sampai dia rela hubungannya dengan ayahnya ga harmonis, dikarenakan ayahnya adalah seorang tentara yang tentu dalam bertugas harus membunuh orang jika diperintahkan atau terpaksa.

Sebelum sampai pada durasi 60 menit, plotnya masih terasa datar. Tapi setelah itu mulai naik tensinya, dan plot twistnya juga lumayan. Abaikan sedikit tentang unsur teknis seperti sinematografi, penggunaan bahasa dan akting, maka setidaknya film ini dirasakan dapat memberikan alur cerita yang bagus. Entah kenapa film Indonesia banyak yang terpaku pada penggunaan Bahasa Indonesia yang baku, padahal dalam film harusnya mengikuti bahasa sehari-hari. Dialog antar teman yang harusnya santai dengan slang-languange, malah terkesan kaku, ga natural.

Untuk segi teknis, camera movementnya terlalu banyak, overuse, kurang mendukung unsur mystery yang sebaiknya tenang dan stagnan. Kemudian urusan lighting, sepertinya ga berani main gelap, bahkan untuk scene yang krusial pun "salah" banget, contohnya saat dia jadi sniper, masa iya sniper mengambil spot yang terang di bawah cahaya lampu atau di lalu lalang kendaraan. Biasanya kan sniper menggunakan area gelap untuk posisi bersembunyi. Entahlah, atau mungkin memang disengaja seperti itu agar dapat mewakilkan "keamatiran" seorang warga sipil yang sok-sok-an jadi vigilante. Bisa jadi aja seperti itu, karena di adegan-adegan berikutnya si tokoh utama ini memang terlihat sangat polos dan rapuh dalam menjalankan ke-vigilante-annya.

Senin, 27 Desember 2021

Review non spoiler dan bedah film One Day (2016) : Dicintai cuma satu hari, cukup?

Setelah menonton film Spiderman - No Way Home, terutama pada bagian endingnya, mengingatkan saya pada satu film yang rasanya hampir mirip-mirip kejadiannya, yaitu One Day (2016). Karena memang fondasi ceritanya sama, yaitu tentang menghilangkan ingatan. Dari kemarin-kemarin sebenarnya pengen review ini, tapi tertunda melulu. Dan karena udah di remind oleh ending Spiderman - No Way Home, barulah tergerak untuk menulis reviewnya sekarang. Saya akan membagi reviewnya ke dalam dua bagian, tentu bagian non spoiler untuk kamu yang belum nonton, dan bagian spoiler untuk kamu yang udah nonton. Mungkin akan banyak di bagian spoiler, karena film ini lebih menarik untuk di breakdown.
 

Review Non Spoiler

Sinopsis :
Denchai adalah seorang karyawan yang penampilannya cupu. Dia suka dengan teman kantornya yang bernama Nui, tapi hanya berani sebatas menjadi secret admirer. Dalam sebuah kesempatan liburan yang digelar perusahaan, mereka berwisata ke Hokkaido, Jepang. Disana, Denchai mendapatkan sebuah situasi yang cukup aneh tapi menguntungkan baginya. Nui mengalami kecelakaan dan mengakibatkan ingatannya hilang sesaat, lebih tepatnya hanya selama satu hari aja. Denchai memanfaatkan ke-amnesia-an Nui ini untuk mengaku sebagai pacarnya. Lantas, bagaimanakah respon Nui? Trus setelah lewat satu hari, apa yang akan terjadi pada hubungan mereka berdua?

Nah sinopsis yang cukup unik bukan? Saran saya, ga usah liat trailernya deh, biar aja blank tanpa tau apa-apa, biar feels bapernya lebih dapet, karena kita dibuat untuk ngikutin kisah mereka berdua itu kayak slogan Pertamina "Mulai dari nol ya pak". Nah baca review pun jangan jauh-jauh, cukup batas bagian non spoiler ini aja.

Meskipun sekilas akan terkesan seperti film-film drama romance Indonesia yang kebanyakan isinya kita cuma liatin aktor-aktornya pada jalan-jalan ke luar negri, tapi setidaknya film ini menyisipkan unsur "aneh" di dalamnya, sesuai tag line filmnya yaitu : "Dicintai cuma sehari, cukup?".

Keunikan tersebut bukanlah satu-satunya faktor kenapa film ini sangat direkomendasikan. Seluruh aspeknya, mulai dari skenario dan penempatan kata-katanya, screenplaynya, aktingnya, backsoundnya, dan set propertinya, itu tuh pas banget. Beberapa diantaranya bahkan dengan cerdas disusun sebagai callback dan counter narative untuk scene lainnya. Romancenya juga dapet banget, membuat film ini bagi saya saya layak sebagai one of the best romance movie ever. Ga perlu kata-kata gombal, ga perlu kalimat-kalimat kiasan, ga perlu adegan-adegan baper ala drakor, tapi mampu bikin klepek-klepek tanpa harus berlebih-lebihan.

Kamis, 16 Desember 2021

Review non spoiler film Moonrise Kingdom (2012) : Cerita "Pramuka" mencari jejak dengan romansa aneh dan visual yang estetik.

Ceritanya, di sebuah camp kepramukaan anak sekolah, ada satu murid yang hilang (dibaca : kabur) dari camp. Anak tersebut bernama Sam. Ketua pembina dan murid-murid lainnya ga tau Sam kemana. Tentu hal ini membuat panik dan membuat mereka langsung melakukan pencarian, termasuk melaporkan kepada polisi setempat.

Namun sebenarnya, tak ada yang perlu dikhawatirkan, karena Sam sebenarnya adalah anak yang cukup mahir dalam bidang kepramukaan dan mampu untuk bertahan hidup di alam bebas dengan pengetahuan dan peralatan yang dia punya. Dia kabur ini pun juga telah direncanakannya terlebih dahulu. Dia itu sedang dalam misi "kencan" dengan sahabat pena-nya, Suzy. Mereka diam-diam udah lama surat-suratan, sampelah pada akhirnya mereka merencanakan untuk "camping" berdua di hutan.

Ketika Suzy melaksanakan aksinya kabur dari rumah untuk camping tersebut, tentu keluarganya juga panik. Hal ini mengakibatkan makin banyak pihak yang ikut dalam proses pencarian. Akankah Sam dan Suzy berhasil ditemukan oleh mereka?

Rabu, 08 Desember 2021

Review non spoiler film Playing God (2021) : The real mission impossible.

Dari judulnya saya kira ini film fantasy, eh ternyata beneran (eh ngga), hehe..
 
 
Berkisah tentang 2 orang kakak-beradik yang pekerjaannya memang adalah penipu, atau disebut dengan istilah "Con Artist". Mereka menipu orang untuk dapatin duit. Caranya bisa macam-macam, bisa nyopet barang orang terus dijual, atau beneran mencuri uang tunai. Nah cara yang terakhir inilah yang akan mereka lakukan dalam plot di film ini. Mereka berencana akan mencuri uang milik seorang bapak-bapak kaya yang "unbank", sebutan untuk orang-orang yang ga punya rekening bank alias masih nyimpen duit di bawah bantal (dibaca : rumah). Wew, duit banyak kok nyimpen dirumah toh..
 
Nah misi mereka adalah memperdayai bapak-bapak tersebut dahulu, baru ambil duit dirumahnya. Misi ini tidak gampang, melainkan sangat sulit bahkan bisa dibilang impossible, karena apa? Misinya adalah membuat bapak-bapak tersebut percaya kalo mereka adalah malaikat dan Tuhan! Literally! Gila ga tuh? Bener-bener berfantasi mereka.

Selasa, 23 November 2021

Review film serial Hellbound - Season 1 (2021) : Lupakan Squid Game, ada Hellbound yang layak untuk diberi atensi.

Sinopsis :

Pada suatu ketika, terjadi fenomena aneh dimana ada monster seperti Hulk, tapi versi seremnya, hitam gitu. Mereka datang secara sporadis, mengejar dan membunuh satu orang tertentu yang mereka incar. Kekuatan tubuh mereka juga sama seperti Hulk, cuma bedanya tubuh mereka elastis, bisa berubah bentuk, misalnya tangannya menjadi tali atau benda tajam.

Dibalik kejadian ini, ada satu perkumpulan yang bernama The New Truth, yang mungkin bisa dibilang sebagai sekte, tapi ga pake ritual ini itu. Mereka juga ga ngajarin agama baru karena ga ada teori beribadah di dalamnya. The New Truth cuma percaya bahwa monster tersebut adalah malaikat Tuhan yang datang beneran untuk memberikan hukuman kepada orang-orang yang berdosa. Jadi The New Truth ini cuma nyebarin ajaran "tambahan", bahwa manusia tidak boleh berbuat dosa, kalo anda pendosa maka anda bakal didatangin malaikat tadi.

Perkumpulan tersebut berkembang pesat dan memperoleh banyak member setelah kejadian monster datang itu viral. Banyak orang yang mulai percaya dan ikut bergabung mengikuti fatwa ketua The New Truth bernama Ketua Jung. Jung merupakan sosok anak muda biasa, kalem, pokoknya ga aneh-aneh lah. Ia hanya berperan sebagai keynote speaker "syiar" ajaran The New Truth ini.

Selain The New Truth, ada juga perkumpulan lain yang berperan sentral, yaitu Arrowhead. Mereka ini adalah versi radikalnya The New Truth, mereka diisi orang-orang yang juga percaya dengan ajaran The New Truth, cuma bedanya mereka sangat fanatik, sehingga jika ada orang lain yang menghalangi syiar The New Truth, maka mereka berani mengambil tindakan main hakim sendiri. Mereka melakukan segala cara, mulai dari vandalisme, meneror, bahkan termasuk pake kekerasan untuk menanggulanginya. Hal ini diperparah dengan sosok "youtuber" yang selalu melakukan streaming siaran langsung tentang kasus-kasus para pendosa. Dengan gayanya yang unik, nyentrik, dan provokatif yang meledak-ledak ala streamer, ajaran The New Truth dapat dengan mudah diikuti oleh kalangan anak muda, yang menjadi sasaran empuk sebagai calon anggota Arrowhead, karena mereka masih labil dan hasrat ingin melakukan sesuatu yang berarti lagi tinggi-tingginya.

The New Truth menyampaikan bahwa Tuhan sedang memberikan "peringatan", dan hal ini didukung dengan bukti video yang ada. Sebelum di "eksekusi" oleh para monster tadi, para pendosa akan terlebih dahulu di datangi oleh malaikat, yang akan ngasih tau kapan waktu eksekusi mereka. Waktunya variatif, ada yang ukuran hari, detik, atau tahunan. Jika waktunya tiba, maka monster akan datang dan mencabut nyawa mereka. Hmm..gimana perasaanmu kalo kamu yang didatangi oleh malaikat itu? Tentu stres bukan.

The New Truth mendapatkan kesempatan besar saat mereka tau akan ada satu pendosa yang akan dieksekusi. Mereka ingin eksekusi kali ini disiarkan secara luas dengan mengiming-imingi si pendosa dengan harga kontrak yang sangat besar. Finansial bukan masalah buat The New Truth, karena mereka punya member orang-orang kaya yang rela bayar mahal untuk dapat menyaksikan secara langsung dan membuktikan ajaran The New Truth ini. Mereka menyebut program ini sebagai "demonstrasi" kehendak Tuhan.

Jumat, 29 Oktober 2021

Review non spoiler dan Penjelasan Ending Film : Censor (2021)

Review dan Penjelasan Ending Film : Censor (2021)
 
 
Review (Non Spoiler)
 
Censor (2021), sekilas akan seperti film horor biasa, malah mungkin ga begitu menakutkan. Karena memang fokus film ini bukan untuk memberikan kengerian bagi penontonnya, melainkan menghadirkan cerita dari perspektif tokoh yang selama ini rasanya belum pernah diangkat menjadi protagonis dalam sebuah film, padahal dia sendiri berperan penting dalam setiap film, dialah "Tukang Sensor". Saya ga tau sebutannya apa untuk seseorang yang pekerjaannya berada di lembaga sensor film dan bertugas nontonin film-film yang akan beredar dan memutuskan mana aja yang disensor dan ratingnya apa. Dalam film ini sih disebut sebagai "Censors". Bisa ga kalian bayangkan gimana rasanya jadi tukang sensor? Kalian harus melihat semua adegan yang ga semestinya diliat, termasuk adegan yang terlalu sadis, hari demi hari, jam demi jam, yang kalian konsumsi itu melulu. Sanggup? Ini adalah pekerjaan berat, harus kuat iman, kuat mental dan juga fisik. Karena kalo ga kuat, ya pasti bisa terpengaruh kejiwaannya, dan tubuh juga dapat mual dan muntah-muntah. Untungnya, dalam film ini, sang protagonis adalah wanita yang sangat "kuat", dialah Enid.

Bersetting di tahun jadul, mungkin sekitar 1980an, dimasa film-film masih dikemas dalam format kaset VHS, adalah Enid yang profesinya sebagai seorang censors. Dia adalah wanita "kuat", melihat adegan-adegan yang sangat sadis aja ga bergeming. Apa yang membuat dia kuat adalah prinsip tentang pekerjaannya, bahwa dia ingin melindungi masyarakat dari pengaruh buruk film. Jadi dia harus bekerja sebaik mungkin untuk mensensor adegan yang kira-kira tidak layak di konsumsi publik.
 

Perlu diketahui bahwa di era tersebut, memang sempat terjadi pergolakan di dunia perfilman, terutama di Inggris Raya. Orang-orang berhipotesis bahwa terdapat hubungan antara film yang mengandung unsur kekerasan terhadap meningkatnya angka kriminalitas di Inggris Raya. Saat itu memang beredar film-film yang disebut dengan istilah "video-nasty", sebutan untuk film-film horor yang terlalu sadis, frontal, vulgar dan sarat eksploitasi. Terlepas dari benar atau tidaknya hipotesis tersebut, tetap aja pada akhirnya membuat pemerintah mengeluarkan Undang-Undang Video Recordings Act 1984 yang isinya merupakan upaya sensor, pengklasifikasian, pengetatan dan persetujuan terhadap distribusi film komersil yang beredar. Dengan tujuan untuk menurunkan angka kriminalitas dan mengurangi pengaruh buruk film terhadap orang yang menontonnya. Memang ada beberapa film yang mengandung kekerasan dan secara kebetulan atau tidak, memberikan pengaruh terhadap seseorang. Contohnya seperti film Scream yang berpengaruh terhadap kasus terbunuhnya seorang ibu oleh anaknya sendiri pada tahun 1998, trus film Saw yang menginspirasi lebih dari satu kasus kejahatan. Dan tak lupa yang paling fenomenal adalah penembakan di bioskop saat pemutaran film The Dark Knight oleh seseorang yang mengaku sebagai "Joker".

Kembali ke filmnya, suatu ketika, terjadi kasus kriminalitas yang mana pelakunya melakukan pembunuhan persis seperti adegan dalam sebuah film. Jadi beredarlah citra di masyarakat bahwa film dapat "menginspirasi" orang untuk berbuat jahat. Apesnya buat Enid, film tersebut diketahui oleh pers bahwa yang nyensor adalah dirinya. Berita ini menjadi beban pikiran buatnya dan bertanya-tanya, apakah sensor yang dia lakukan masih belum "sadis"? Padahal dia merasa sudah melakukan sensor yang semestinya. Apakah benar film dapat mempengaruhi perbuatan seseorang? Ini baru sekedar cerita pembangun, bukan masalah utama dalam film ini. Masih ada film lain yang akan memberikan dampak luar biasa terhadap diri Enid.
 

Film ini bukan tipikal film horor pada umumnya yang mengandalkan jump-scare atau sosok yang menyeramkan, tapi lebih tepat sebagai horor psikologi yang menerpa sang tokoh utama. Enid disini meskipun terlihat kuat, tapi dia punya kelemahan jika berhadapan dengan sesuatu yang membangkitkan trauma masa lalunya, yaitu dia pernah kehilangan adik kandungnya, Nina, yang sampai bertahun-tahun tidak ditemukan dan dinyatakan meninggal. Enid menjadi terlalu obsesif, terus mencari tau petunjuk tentang keberadaan Nina, bersikeras menepis kenyataan, dia merasa Nina masih ada. Dia ga bisa nerima kenyataan ini, karena dia sendiri ga bisa mengingat kejadian persisnya gimana, padahal sebelum hilang, Nina sedang pergi bersamanya.

Senin, 16 Agustus 2021

Review dan Penjelasan : John And The Hole (2021)

Sinopsis :

John, adalah seorang remaja laki-laki berusia 13 tahun yang hidup dari keluarga kaya. Mereka tinggal di villa yang berada di tengah hutan. Keseharian mereka biasa saja normal sebagaimana keluarga lainnya. Ayah dan ibu bekerja, kakaknya sekolah dan pacaran, sementara John hobinya latian tenis. Mereka juga rutin melakukan dinner keluarga dan ngobrol bareng. Sampai tiba-tiba John menemukan bunker di dekat villanya.

Kalo anak-anak lain nemu bunker, kebanyakan pasti ngehindar ya. Tapi si John malah lain. Dia malah melakukan hal yang boleh dibilang aneh, ekstrim dan kejam. Dia mengurung ayah, ibu dan kakaknya ke dalam bunker tersebut. 

Anak macam apa coba yang tega mengurung keluarganya sendiri di dalam bunker. Lalu bagaimana respon anggota keluarganya terhadap John? Akankah mereka terdampar mati kelaparan di dalam bunker? Apakah maksud John sebenarnya? Apa dia berniat jahat? Nah inilah yang jadi suguhan filmnya. 

Minggu, 27 Desember 2020

Bedah Film Swiss Army Man (2016) : Perjuangan Melawan Depresi Yang Disajikan Dalam Kreatifitas Level Tertinggi

Part I : Non Spoiler Review

Kalian pernah liat pisau MacGyver? Sebuah pisau serba guna yang selalu dibawa tokoh utama dalam serial MacGyver itu, nah itu namanya Swiss Army Knife. Brand pisau ini memang cukup populer, dan istilah "Swiss Army" sering disematkan kepada hal/benda yang multi fungsi. Nah film ini tuh memang mencatut nama brand Swiss Army tersebut, untuk menggambarkan peran dari Manny, seorang mayat hidup yang ternyata serba guna, makanya diberi judul Swiss Army Man.


Oke, mau mulai dari mana dulu nih? Sinopsis aja dulu ya.. Swiss Army Man menceritakan seorang pemuda bernama Hank, yang mencoba untuk gantung diri di sebuah pulau. Untungnya, detik-detik jelang itu terjadi, dia melihat ada mayat yang tergeletak jauh di depannya. Penasaran dong, dia tunda bunuh dirinya dan ngedatengin tuh mayat. Eh busettt, mayatnya bisa ngomong guys! But ini bukan film horor ya, ini komedi, super kocak dan super unik. Ga pernah ada kalian liat film yang seperti ini.

Apa yang Hank lakukan terhadap mayat tersebut? Edan! Dijadiin temen tuh mayat, dikasih nama pula, Manny. Hebatnya, tubuh Manny ternyata juga banyak kegunaan, seperti tangannya yang kuat dan tajam bisa memotong pohon, mulutnya bisa dijadikan senjata tembakan bertenaga angin, bahkan "anunya" bisa jadi kompas penunjuk arah...wkwkwkwk... Apa misi mereka? Mencoba keluar dari hutan tersebut. So, berhasilkah mereka? Silahkan tonton sendiri, dijamin ga nyesel. Kamu akan tertawa terbahak-bahak melihat tingkah laku keduanya, yang berusaha untuk bertahan hidup, nyari sumber daya, sembari menghibur diri sendiri. Ada banyak humor yang diselipkan, terutama referensi kepada popculture. (Saya selalu suka dengan film-film yang hobi nyelipin popculture).


Swiss Army Man adalah sebuah film retorika-retrospektif, tentang orang hidup yang pengen mati malah mencoba "membujuk" orang mati agar hidup kembali, berupaya meyakinkan si orang mati bahwa hidup adalah sesuatu yang layak diperjuangkan. Lah dia aja pen bunuh diri..kan kebalik yah...betapa restrospektifnya ni film! 

Minggu, 01 November 2020

Film Paling Aneh di 2020 : Review Non Spoiler dan Penjelasan Ending I'm Thinking Of Ending Things (2020)

Judulnya tuh eye-catchy banget ya, I'm Thinking of Ending Things, jadi menggoda saya untuk langsung menontonnya. Entah ini genre apa, tentang apa, saya ga tau sama sekali, bahkan trailernya juga ga saya liat. Durasi demi durasi yang dilalui sebenarnya sangat membingungkan, tapi entah kenapa saya tetep aja terusin, mungkin karena narasi yang disampaikan dari perspektif si cewek dalam film ini menghipnotis sekali, jadi cukup membuat kepo ini sebenarnya ada apa gitu ya, gimana nasib ni cewek di ending. 

Filmnya menceritakan perjalanan sepasang kekasih, Lucy dan Jake, menuju rumah orang tua Jake, dalam rangka Jake yang mau ngenalin pacarnya ini ke ortunya. Mobil yang mereka kendarai harus melalui perjalanan jauh dan bersalju, menyiratkan suasana hati yang dingin dan terasa lama banget, scene yang sengaja dibuat demikian untuk "mendukung" ke-bete-an Lucy, menguatkan keinginannya untuk segera mengakhiri hubungannya dengan si Jake, karena pikiran "I'm Thinking Of Ending Things" ini yang terus berulang di pikirannya.

Selama perjalanan, percakapan terus diupayakan oleh Jake sehingga Lucy ga boring, atau Jake memang sengaja untuk mematahkan pikiran Lucy tadi, dengan selalu menyela dan menciptakan bahasan. Bahasannya ga tanggung-tanggung, dibungkus dengan dialog-dialog yang cerdas, mereka silih berganti saling lempar referensi pop-culture, sebut saja seperti review film, puisi, musikal, dan buku.

Sesampainya di rumah orang tua Jake, persepsi horor akan langsung tertancap di benak penonton, dikarenakan hadirnya Toni Collete, aktris yang peran horornya di Hereditary sangat membekas. Ditambah lagi dengan suasana awkward di meja makan, orang tua Jake mencoba untuk tampil ramah di hadapan calon mantunya, sedangkan Lucy ga tau ada apa sebenarnya di rumah mereka tersebut. Jake sendiri memang punya satu rahasia yang sangat tidak ingin terbongkar. Tak bisa dipungkiri filmnya memiliki unsur creepy yang cukup menakutkan.

Kamis, 22 Oktober 2020

Dua Film Kolosal Korea Yang "Kembar" : Masquerade (2012) vs I Am The King (2012)

Taukah kamu kalo ada sebuah kejadian unik di tahun 2012 dalam perfilman Korea Selatan, dimana ada 2 film yang sangat mirip dan rilisnya juga berdekatan. Keduanya sama-sama menceritakan kembali masa kedinastian disana. Dan kebetulannya lagi, keduanya sama-sama mengadaptasi tema dari novel The Prince and The Pauper, yaitu "pertukaran pemuda" 😂. Kisah pejabat yang bertukar identitas dengan rakjel yang kebetulan mukanya mirip. Jadi sebenarnya ini suatu kebetulan ato memang janjian sih? Hadeh... Untuk itu coba kita bandingin dan liat apa aja perbedaannya. Pembahasan ini aman dari spoiler kecuali yang ada spoiler alert-nya ya.


Rilis
Masquerade rilis di bulan September yang artinya satu bulan lebih lambat setelah I Am The King yang duluan rilis di bulan Agustus.

Pemeran
Masquerade "terpaksa" mengajak aktor kawakan Lee Byung Hun untuk mengisi peran utama, karena awalnya memang proyek ini targetnya bukan dia. Cuma karena pergantian sutradara, akhirnya juga ikut pergantian aktornya. Sedangkan I Am The King menggunakan jasa aktor yang populer lewat serial Princess Hours, yaitu Ju Ji Hoon.

Box Office
Masquerade memiliki budget sekitar 8 juta dollar AS atau setara 72 milyar rupiah kala itu, angkat itu bahkan lebih besar daripada penghasilan I Am The King yang hanya separuhnya. Penghasilan Masquerade sendiri termasuk salah satu dari 10 film Korea dengan pendapatan terbanyak dan menempati posisi 9 dengan angka 94 juta dollar AS. Banyak faktor yang membuatnya jadi "kaya" begini, disamping karena unsur teknisnya yang memang yahud, faktor external lain seperti invest di aktor papan atas berkelas Hollywood Lee Byung Hun, tentu menarik minat lebih banyak penonton, kemudian juga waktu itu berpas-pasan dengan akan digelarnya pilpres pekan depannya, jadi tema pemimpin ini sangat relevan dan jadi santapan hangat.

Jumat, 02 Oktober 2020

13 Film Korea Selatan Paling Esensial Yang Harus Kamu Tonton Sebelum Nyebur Ke Dalam Hallyuwood!

Kesuksesan Parasite dalam dunia perfilman global membuka mata penonton dunia ke arah Korea Selatan. Orang-orang mulai menjelajahi film-film asal negri ginseng tersebut, yang disebut dengan istilah Hallyuwood, sebagai "sinonim pelesetan" dari Hollywood-nya Korea. Ini terimbas juga kepada media penyiaran seperti tv dan video on demand yang ikut meramaikan bisnis mereka dengan mengisi film-film Korea di saluran mereka. Tapi, bagi kita sebagai penonton yang baru mau mulai, mau mulai dari mana? Ada sekian banyak film Korea yang bagus-bagus, tapi bagusnya nonton yang mana dulu nih? Nah..setelah saya tonton banyak film Korea, berikut ini adalah film-film Korea yang menurut saya paling esensial, yang harus kamu tonton terlebih dahulu, sebelum nonton film-film Korea lainnya.

Untuk list ini, saya perlu menyempitkan pilihan. Pertama saya sortir filmnya hanya yang dirilis maksimal tahun 2010 dan kebawahnya (sebelumnya). Karena mereka bukan film "baru", film lama, senior lah caknya, mereka yang lebih dahulu hadir. Kemudian, saya mencoba untuk memberikan keterwakilan untuk setiap genre film, baik murni satu genre di dalamnya maupun kombinasi beberapa genre. Dan saya pilih dari setiap genre itu, judul yang paling sering disebut oleh orang-orang alias yang lebih populer. Mungkin ada film yang bagus, tapi ga begitu populer seperti Il Mare, Shiri atau Going By The Book. Lalu jika ada satu sutradara yang punya banyak film bagus, maka saya juga hanya pilih satu atau dua saja sebagai perwakilan. Contoh, ada banyak film karya Park Chan Wook yang bagus-bagus yang rilis sebelum 2010, seperti Vengeance Trilogy, JSA, I am A Cyborg but That's OK, dan Thirst, tapi saya pilih hanya satu atau dua saja sebagai perwakilan. Dan terakhir saya jamin semua film ini sangat bagus dalam urusan teknis, seperti penyutradaraan, skenario, akting, sinematografi, scoring, dll, yang telah diakui karena dapat awards dimana-mana. So, without bacot lebih banyak lagi, lets go to the list.

1. Oldboy (2003) : Mystery-Thriller

Current rating : 8.4/10 IMDb, 82% Rotten Tomatoes, 21+

Ini wajib, super wajib! Penjelasannya sih udah saya buat di artikel berikut ini : Beribu Alasan Kenapa Old Boy Adalah Film Terbaik Korea Yang Kamu Pasti Ga Nyangka! Tapi itu hanya untuk yang udah nonton aja. Nah bagi kamu yang belum nonton, film ini merupakan misteri tentang proses balas dendam seseorang bernama Oh Dae Su. Tanpa tau kenapa dan sebab apapun, dia disekap dalam ruangan selama 15 tahun! Gila ga tuh! Jadi dia bertekad untuk balas dendam dengan mencari siapa dalang penyekapnya. Uniknya, pelakunya bukan bersembunyi, tapi berani untuk berkomunikasi dengan Oh Dae Su. Dengan dibantu oleh seorang gadis yang dia temui, Mido, mereka berdua melakukan penelusuran terhadap petunjuk-petunjuk yang mereka punya. Gimana endingnya? You will never see that coming! Selain dari segi misteri, film ini juga mempunyai unsur fight action yang keren. Soal teknis ga usah ditanya, banyak menang award, semuanya outstanding, mulai dari script, akting, penyutradaraan, sinematografi, dan set produksi.

2. Memories of Murder (2003) : Mystery-Suspense

Current rating : 8.1/10 IMDb, 91% Rotten Tomatoes, 21+

Sutradara Parasite, Bong Joon Ho, naik daun ya lewat film ini nih. Berdasarkan kisah nyata, film ini bercerita tentang dua polisi yang melakukan penyelidikan terhadap kasus pembunuhan berantai di sebuah desa. Uniknya si serial-killer ini kalo membunuh punya ciri khas, seperti timing dan target yang diincer. Proses investigasi ini sangat menarik ditelusuri, apalagi dua detektif ini berbeda gaya dan punya keyakinan sendiri terhadap keampuhan metode yang mereka pakai. Yang satu santai dan data-based-guy, yang satu temperamental-judgemental yang mengintimidasi para suspects. Memories of Murder adalah sebuah presentasi yang hebat dari sebuah kisah nyata, dengan penyutradaraan, akting dan sinematografi yang berkelas. Untuk film ini kita udah ada reviewnya oleh Nendra, klik disini untuk baca reviewnya.

3. A Bittersweet Life (2005) : Action-Thriller

Current rating : 7.6/10 IMDb, 100% Rotten Tomatoes, 17+

A Bittersweet Life diisi oleh aktor Korea paling terkenal, Lee Byung Hun. Dalam film ini ia berperan sebagai seorang bodyguard, yang ditugaskan untuk menjaga pacar simpanan bosnya. Alih-alih menjaga, dia malah sepertinya jatuh cinta ama tuh cewek. Siapa yang ga bakal jatuh cinta wong cantik gitu, hehe.. Rada-rada mirip ama The Bodyguard From Beijing lah. Cuma bedanya A Bittersweet Life dikemas dengan cinematography apik dan makna yang filosofis. Ini tak lepas dari tangan salah satu sutradara terbaik Korea Selatan, Kim Jee Won yang juga menahkodai film Tale of Two Sisters. Urusan action, udah jaminan mutu, Lee Byung Hun bukan sembarang main film, disini banyak sekali adegan action dan fighting yang dahsyat dan memacu adrenalin. Bahkan bisa jadi film ini banyak dijadikan referensi oleh filmmaker-filmmaker lain dalam membuat sequence action, seperti adegan dalam gedung terbengkalai itu sepertinya menginspirasi Gareth Evans dalam film The Raid.

Kamis, 10 September 2020

Arrival (2016) Adalah (Mungkin) Film Sci-Fi Terbaik. No. 8 Bikin Kamu Terkejut!

Jika kamu belum nonton ato belum tau Arrival itu film apa, kamu bisa dulu baca review dan penjelasannya di link ini, Dan...Tanpa banyak basa-basi lagi, berikut 11 alasan kenapa Arrival adalah (mungkin) film scifi terbaik sepanjang masa. Komen dibawah apakah kalian sepakat ato ngga dengan list berikut ini. 

1. Denis Villenueve
Mendengar nama Denis Villenueve itu udah kayak denger nama Lord Voldemort The "You-Know-Who" tapi versi baiknya. Nama dia tuh udah jaminan pasti filmnya bagus. Denis orang yang perfectionist dan visionary. Tingkat kejeniusannya bisa jadi mendekati Lord lainnya yaitu Lord Nolan. Kalo kamu baru mengenal Denis lewat Arrival, bagusnya kamu juga ikut mengenal karyanya yang lain. Kalo dia lagi pengen bikin film rumit, dipastikan itu akan menjadi never ending discussion seperti Arrival dan Enemy. Kalo dia lagi pengen bikin film yang ga rumit, maka dia akan bener-bener fokus di aspek cerita, plot dan karakter seperti Incendies dan Prisoners, sekalipun harus memakan durasi yang lama. Satu hal yang jadi trademarknya adalah slow pace. Meskipun Blade Runner 2049 dan Sicario punya unsur action tapi tidak menggebu-gebu.


2. 94% di Rotten Tomatoes, 7,9/10 IMDB dan Box-Office Success
Di puja oleh tukang kritik, masyarakat biasa pun juga suka, secara duit juga udah laba banyak. So, ga ada celah untuk membuat film ini disebut film gagal. 

3. Academy Awards Level
Diisi oleh pemain-pemain yang udah pernah masuk Oscar yaitu Jeremy Renner di film The Hurt Locker, Amy Adams di film American Hustle dan Forest Whitaker di film The Last King of Scotland. Filmnya pun masuk di 8 kategori Piala Oscar, Best Director, Best Cinematography, Best Adapted Screenplay, Best Sound Editing, Best Sound Mixing, Best Film Editing, Best Production Design, termasuk yang bergengsi yaitu Best Picture.

4. Sound Yang Merinding
Yang ini ga bisa diungkapkan dengan kata-kata, dengerin aja beberapa sound merinding hasil bikinan mereka di dalam filmnya.

5. Time Travel Logic
Film ini menunjukkan pendekatan lain tentang time travel, bahwa waktu itu "satu", ga linear maju, ga ada banyak versi, ga ada opsi ubah masa lalu, time travel disini hanyalah berupa penglihatan. Ini seprinsip dengan saya bahwa time travel is impossible, silahkan change my mind kalo punya bukti. Saya udah kenyang film-film timetravel, tapi ga ada satupun yang bisa mematahkan paradox. Sekalipun ada teori gila Einstein tentang relativitas ruang dan waktu, but I'm with Stephen Hawking. Ibarat penganut bumi datar, nah saya penganut timetravel is impossible, call me stupid, but I'm just being realistic with the paradoxes. Setiap timetravel paradox itu sangat fundamental, sebut saja Predestination Paradox, Bootstrap Paradox, Grandfather Paradox etc.

Jumat, 28 Agustus 2020

Penjelasan Ending : Arrival (2017) - Pendekatan Alternatif Logis Tentang Time Travel

Arrival merupakan salah satu film jenius yang dibuat oleh sutradara jenius. Dan kali ini adalah penjelasannya, yuk simak sampai habis ya.


Banyak yang salah nih kalo ngira ni film adalah film action perang lawan alien, padahal ya memang ga gitu. Filmnya emang dibuat drama yang cenderung membosankan bagi penonton awam. Tapi nih.. justru film ini yang menurut saya film paling bener tentang alien. Maksudnya ya film ini menunjukkan ini lho yang terjadi sebenernya kalo ada alien datang ke bumi. Ya kita ga ujug-ujug langsung perang, alien juga ga ujug-ujug langsung nyerang bumi. Tapi hal pertama yang dilakukan adalah cari tau apa maksud kedatangan mereka, apakah mereka berniat jahat atau baik. Kalo baik ya jadi teman, kalo jahat baru hajarrr…

Dalam film ini, interaksi dengan alien malah sepenuhnya aman, justru masalah datang dari internal manusianya sendiri.
“People fear what they don't understand and hate what they can't conquer.” - Andrew Smith

Sebuah quote populer yang mana quote ini muncul juga dalam film-film lainnya seperti Transcendence, Man of Steel dan Batman Begins, manusia takut akan sesuatu yang mereka ga ngerti, begitu pula dalam film ini, disumbang oleh 3 pihak mulai dari level terbawah hingga tertinggi : rakyat yang histeria dan panik masal, tentara yang rela membelot, hingga pemimpin negara yang mempersepsikan kedatangan alien sebagai tindakan yang agresif. Jadi apa bener mereka agresif?

Untuk inilah diperlukan expert yang bisa memberi pencerahan. Tapi untuk bisa tau itu tentu harus berkomunikasi dengan alien, nah film ini mengajarkan gimana pendekatan yang bisa dilakukan untuk menjembatani komunikasi karena adanya perbedaan bahasa. Setelah dapat berkomunikasi baru deh kita bisa ngobrol dengan alien, nanya lu maunya apa, sini ngopi bareng dulu.. Arrival mendemonstrasikan tentang gimana reaksi manusia terhadap kedatangan alien, tapi juga secara simultan memanifestasikan gimana kita sendiri antar manusia berkomunikasi satu sama lain.


Ada lebih dari 1 kapal alien yang datang ke bumi dan tersebar di berbagai negara. Setiap negara, melalui pihak militer dan ilmuwan yang mereka punya melakukan penelitian secara kilat terhadap maksud kedatangan alien. Termasuk America, mereka mengandalkan Dr. Louise yang ahli bahasa dan Dr. Ian yang ahli fisika sebagai tim “translator”. Mereka beberapa kali masuk ke dalam kapal alien dan mempelajari bahasa alien tersebut. Tugas mereka berdua tidak mudah karena alien mempunyai bahasa yang aneh, berbentuk lingkaran. So, berhasilkah mereka menerjemahkan apa maksud kedatangan alien? Apa sebenarnya tujuan mereka? Filmnya akan menjawab semua pertanyaan tadi. Nah saya akan bahas film ini dengan sesimpel-simpelnya.

Senin, 15 Juni 2020

Review Non Spoiler dan Penjelasan Ending The Lobster (2015)


Part I : Tanpa Spoiler

Mungkin hampir ga akan pernah ditemui film dengan tema relationship yang seunik ini. Pengen tau kenapa? Simak sampe abis ya. Film ini disutradarai Yorgos Lanthimos, seorang sutradara asal Yunani berkelas Oscar lewat film The Favourite. Castnya ada Colin Farrell, Rachel Weisz, Lea Seydoux, dan Olivia Colman. Memiliki rating di IMDB 7,2/10 dan Rotten Tomatoes 87%. Dengan budget hanya $4.5 juta mendulang $15.7 juta di Box Office.

Film ini bersetting di dunia atau masyarakat yang surealis, dimana ada peraturan bahwa setiap manusia harus hidup berpasangan. Jika ga, siap-siap yang jomblo akan dihukum diubah menjadi hewan yang mereka pilih. Seperti judul film ini, The Lobster, hewan ini lah yang dipilih oleh sang tokoh utama, David, yang diperankan oleh Colin Farrell jika dia tidak dapat pasangan. Tapi alih-alih tentang transformasi manusia menjadi binatang, film ini malah bukan menitikberatkan pada hal ini, tapi tentang bagaimana sang tokoh utama berada di kehidupan dengan aturan yang aneh ini. David, baru saja pisah dari istrinya, dia terpaksa harus ikut kegiatan semacam karantina atau pelatihan untuk mencari pasangan. Kegiatan ini digelar di sebuah hotel dan diberi waktu kepada setiap jomblowan dan jomblowati selama 45 hari untuk mendapatkan pasangan diantara mereka para peserta pelatihan. Jika dalam 45 hari mereka masih jomblo, maka mereka harus diubah menjadi binatang.


Sebuah premis yang sangat unik bukan? Kayak film "30 Hari Mencari Cinta", atau film drama cinta Indonesia lainnya, tapi percayalah film ini jauh berbeda. Meskipun sama-sama tentang tema yang hits, kekinian, umum, dan relevan dengan kehidupan nyata, yaitu pemuda galau mencari cinta, tapi sang filmmaker Yorgos Lantimos membuatnya dengan cara yang ga biasa, cenderung absurd dan nyeleneh. Menjadikan film ini segmented banget, ga semua orang bakalan suka. Apalagi Yorgos juga punya ciri khas dalam setiap filmnya yang selalu menampilkan 3 hal "membosankan" berikut ini :

1. Emotionless, setiap tokoh ga pake ekspresi, mau sedih senang mukanya datar gitu-gitu aja, ngomong juga ga pake intonasi, kayak robot.
2. Slow pace, ga terburu-buru, minim suspense.
3. Scoreless, ga ada musik latar, berasa hambar.
4. Metafor and irony, ga langsung to the point mengungkapkan tentang apa filmnya.

Tapi menikmati karya Yorgos bukan pada saat menontonnya, tapi setelah menonton. Yorgos membuat film untuk bercerita dan menyampaikan sesuatu. Filmnya merupakan satirisme dan black comedy dari kehidupan sosial. Bagaimana ia berupaya membuat sindiran dan tamparan terhadap hal-hal umum kemasyarakatan. Meskipun satir tapi ini bukanlah suatu film yang rumit, alurnya linear maju dan bisa dicerna setiap orang, seperti drama pada umumnya. Tapi yang perlu ditelaah adalah makna dari setiap persoalan di dalamnya. 

Rabu, 29 April 2020

Review Singkat Green Book (2018) : A True Friendship Yang Lucu dan Menyentuh Yang Datang Dari Antitesis Kedua Tokoh Utama


Film2 oscar mmg ga prnh mngecewakan. Film oscar itu awalnya mmg ga mnarik minat utk ditonton. Jarang ada action2, thriller, misteri, ato crita yg unik2. Tp klo udh trtonton, kita mau menyelesaikannya smpe abis krn mmg bgus alur ceritanya, naskah, akting dan sinematografinya.

Cuma mmg..ide2 crita oscar slalu itu2 mulu : drama, biografi, LGBT, rasis. Trmasuk yg satu ni. Saat nonton sya ga tau klo ni trnyata biografi. Kirain emg cerita karangan. Ini ttg musisi negro, Don Shirley (#MahershalaAli) yg lulus kuliah seni smpe bergelar doktor atas krmahirannya main piano. Dlm film ni, dia mlakukan konser mini ke kota2 yg rasismenya tinggi di wilayah selatan Amerika.

Dia mmperkerjakan sopir utk tur, namanya Jhonny Lip (#ViggoMortensen). Lip adlh antitesis dr Don. Jika Don adlh org yg trobsesi utk mmprjuangkan ksetaraan rasis lewat musiknya, Lip adlh seorg Italian yg sngat rasis dan anti negro. Awalnya Lip dilema utk mnerima job sopir ini hrs "brteman dgn negro", namun trpaksa ia ambil krn mmg lg btuh pekerjaan utk biayain rumah tangganya.

3 Drama Korea Terbaik 2019 Versi JMFC

Anyonghaseo.. #DrakorLovers.. Mumpung kita2 pd #StayAtHome gegara Corona, nah bs nnton drakor sbgai time-killer alternative..so kali ni mimin mo coba share 3 #DrakorTerbaik2019 versi mimin. Tnpa byk basa-basi lg krn ktrbatasan karakter huruf, ini dia listnya.


#HotelDeLLuna
Dr critanya aja udh unik ya, dmn klian bs nemuin ada Hotel yg isinya hantu smua?? Ya cuma dsni..jdi nih critanya Hotel ini mrupakan tmpat para arwah sblm mnuju akhirat. Brbgai jenis arwah ada ddlmnya, trgantung kmatiannya gmn..tp mskipun ini hotel arwah, tp hotel ini mmiliki fasilitas yg diluar nalar, hotel bintang 5 kalah, ni bintang 10 dah..wkwkwk.

Kamis, 23 April 2020

Review Singkat Being John Malkovich (1999) : Drama Cinta Segitiga Yang Unik, Fresh dan Absurd Yang Ga Akan Ditemui Di Film Manapun


Nonton ini krn ada fan theory klo film ini adlh prekuel satu universe dgn filmnya Jordan Peele yg sensasional itu, Get Out.

Craig (#JohnCuszcak), seorg puppetmaster alias dalang boneka tali, hidup jobless, smpe suatu ktika disuruh bininya (#CameronDiaz) cari kerja, maka mlamarlah ia ke lowongan yg ada di prusahaan yg kantornya tu rada aneh. Gimana ga aneh? Wong kantornya berada di lantai 7 1/2! udh kyak Platform 9 3/4 nya Harry Potter.

Dan mmg bner, ddlm kantor itu pnya suatu keanehan. Ga sngaja, si Craig nemuin dinding bolong brupa lorong kecil yg trnyata adlh portal ke dlm jiwa seseorg. Dan seseorg ini adlh #JohnMalkovich (real name), aktor trnama kaya raya hidup enak dan mewah yg diimpikan byk org. Itu lho nyang maen R.E.D.

Sya sih sbnrnya krg setuju klo Malkovich ini yg diimpikan org, wong ga ganteng, ga brkharisma, hrsnya sih bs plih yg lain lah, tahun 1999 mgkn bs plih yg ganteng2 kek Van Damme, Arnold Siregar, Stallone, John Travolta.

Review Singkat Bad Times At The El Royale (2018) : Suprisingly A Great Quentin Tarantino "Fan Film"


Seriuously... trkdang mrasa ga adil klo film2 sprti ini jrang bngt msuk Oscar. What's wrong with you, academy..
Bahkan honestly, klo academy mnilai film2 true story itu mmbawa pesan moral/ttg khidupan yg sngat mngena, justru film ini jg ga klah jg kok, sya sngat trharu mlah dan mmecut iman jg (Scene Miles dan Flynn di ending).

Ni si pnulis crita, ane yakin udh mmutar otak utk bs mnyusun crita yg kreatif dan mnarik, tp yg bgni hrs (sring) kalah dr film2 "true story" yg notabene ga prlu effort yg wah utk bkin crita, toh critanya udh ada, nyata, tinggal di modif2 kasi bumbu aja biar dramatis dan pnya nilai jual sbgai film.

Sdgkan klo yg original screenplay gni diperlukan kcerdasan dan tingkat kreatifitas sang pmbuat crita utk bs mnjdikan critanya film yg bgs, yg notabene bkn dtg instant, it took years. Klo bkin true story mah instant. Klo kreatifitas slalu ga dianggap, ya mnusia ga akn brkembang.

Ini film kkurangannya cuma satu, critanya singkat hnya dlm 1 malam, scopenya ga luas. Slbhnya, good.. El Royale, hotel trkenal yg udh ga trkenal lg, dlu rame kini sepi, dlm 1 malam, ada sbuah kbtulan dmn bbrp stranger nginap dsana, ex : ada pendeta, ada pnyanyi, ada hippie, ada sales, dan 1 bad boy pendatang.

Review Singkat Back To 90s (2015 Thai Movie) : Cinta Remaja 90an Yang Punya Kualitas Filmmaking, Ga Kayak Yang Itu Tuh.



Klo Dilan mw ngecontoh gmn bkin film 90an yg cinematic look, ni dia filmnya. Sya heran ama film Dilan, yg dipuja2 dan laku, kelasnya "film" tp hasil visualnya FTV, yg ga ada sinemetografinya samsek, ga ada 3 point lighting, smua yg pnting terang. Ga pake rule of third, ga pake leading line, asal yg pnting aktor dlm frame, jadi la tuh.

Beda bngt klo di film ini, Thailand yg bkin. Temanya sama lho pdhal, ttg cinta monyet ala anak skolahan. Cuma mskipun alur crita yg biasa aja, tp scra visual ttp mmproduksi dgn mnerapkan unsur2 sinematografi td. Kita yg nnton pun betah, mskipun crita predictable.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...