Ini film menurut saya berkesan artsy, atau dulu istilahnya arthouse. Tapi sejak negara api menyerang (baca : indie), istilah arthouse lebih sering diucap "artsy", karena saking menjamurnya anak indie yang klaim berjiwa seni dengan kata-kata puitis dan melukis, mereka menyebut diri mereka anak artsy..katanya artsy sudah pasti indie..sementara indie belum tentu artsy.. Arthouse, sesuai kata dasarnya "art" : bernilai seni, punya estetika. Film artsy temponya cenderung lambat, biar "seni"nya dapet..dan berusaha keras untuk tampil "tidak biasa", baik dialog maupun alur. Tapi sayangnya beberapa diantaranya ga mampu menyajikan plot cerita yg jelas, cuma berkedok estetika dan seni aja. (Ex : Upstream Color, Lost In Translation). Tapi tidak untuk film ini, setidaknya plot ceritanya jelas dan kalo dirunut-runut ya seperti drama misteri pada umumnya. Trailernya bisa klik disini dan berikut adalah reviewnya, tanpa spoiler.
Jong Su, adalah seorang pemuda yang boleh dibilang jobless, punya kerjaan tapi cuma paruh waktu, jadi hidup juga pas-pasan. Suatu hari dia ga sengaja bertemu cewek yang "ngaku"nya temen masa kecilnya, namanya Hae-Mi. Hae-Mi merupakan sosok cewek yang mandiri, sederhana, supel, sepertinya dia pandai bergaul dengan siapa saja. Selain itu dia juga unik, memiliki cara pandang sendiri terhadap dunianya, dia selalu ingin mencari tau arti kehidupan.
Sekali dua kali jalan, ya mereka akhirnya jadian. Cita-cita Hae-Mi adalah menjadi aktor, dia pandai bersandiwara, dalam 1 momen dia pamer skill akting makan jeruk yang bisa dibilang memang sangat bagus membuat kita percaya dia makan jeruk beneran dan ngiler. Dia juga suka traveling. Ketika dia berangkat ke Afrika, Hae-Mi menitipkan rumah dan kucingnya kepada Jong Su.
![]() |
| Lihat kompaknya Ben dan Haemi pake baju putih dan tatapan yang akrab sementara Jong Su diletakkan ditengah mereka sebagai pemisah dengan warna berbeda |
Keadaan berubah 180 derajat sepulang Hae-Mi dari sana, karena di Afrika dia berjumpa dengan Ben, cowok tajir ganteng cool baik hati. Hae-Mi terlihat nyaman berada dekat Ben. Membuat Jong Su "terbakar" cemburu. Tapi disini Jong Su ga langsung "sumbu pendek", malah seperti berteman, ngikutin arus, sampe sejauh mana mereka melangkah. Dalam sikapnya yang pendiam, Jong Su justru orang yang paling terjaga untuk melihat gerak-gerik Ben, "lawan"nya yang membuatnya iri. Tapi dia hanya tidak bisa mengungkapkannya lewat kata-kata, it's only burning inside, itulah kenapa diberi judul "Burning".










