Tampilkan postingan dengan label Korea. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Korea. Tampilkan semua postingan

Rabu, 10 Agustus 2022

Review film Alienoid (2022) : Tenet versi Korea

 
Alienoid (2022)

Nonton ini karena percaya dengan 2 film keren karya sutradaranya yang udah saya tonton : Assassination dan The Thieves. Dan juga diisi dengan castnya cukup bagus seperti Kim Tae Ri yang udah saya kenal dahulu di film karya sutradara hebat Park Chan Wook yang berjudul The Handmaiden, terus juga ada Lee Hanee yang keren di film Extreme Job. Sedangkan nama-nama lain, saya kurang familiar, mungkin main di drakor, saya hampir ga pernah nonton drakor soalnya. Hanya Kim Woo Bin yang sekali saya tonton di film Twenty. Selebihnya ya ada lah aktor-aktor yang pernah sesekali saya lihat di film Korea lainnya. Ada satu pemeran cilik yang mencuri perhatian yaitu Choi Yoo Ri yang berperan sebagai anak angkat alien.

Sinopsis :

Plot film dibagi menjadi 2 masa, yaitu masa kedinastian dan masa kini. Pada jaman kedinastian, ceritanya adalah tentang para master sihir yang sibuk mencari pedang sakti. Sedangkan pada jaman sekarang, ceritanya adalah ternyata selama ini bangsa alien memenjarakan tahanan mereka di dalam tubuh manusia. Dan para tahanan ini kalo kabur akan ditangkap oleh alien penjaga. Bangsa alien ini memiliki benda canggih yang bisa membuat portal waktu. Benda tersebut dapat memicu sebuah bencana besar bagi umat manusia.

Review :

Saya (dan sebagian penggemar drakor dalam teater itu) sangat beruntung bisa menyempatkan diri untuk menonton film ini di bioskop. Karena saat itu bioskop Indonesia kebanyakan "dihantui" oleh film-film setan dan membuat film ini tidak mendapatkan porsi yang semestinya, sebagaimana nasib film Gatotkaca kemarin.


Film ini sangat dahsyat, keren, epic, mereka punya segalanya untuk dapat dibilang selevel dengan film-film blockbuster Hollywood. Dengan budget terbesar hingga 300 milyar rupiah, mereka mampu menghadirkan visual effects yang TOP BGT. Trus juga scene-scene actionnya gila-gilaan, speechless.

Bayangin aja gimana kalo ada film scifi tapi settingnya di jaman kedinastian? Nah begini lah kira-kira. Sebuah ide yang unik bukan? Ide ini dituang ke dalam cerita yang kompleks, timeline yang dibolak-balik. Berasa seperti nonton film Tenet-nya sang baginda Lord Nolan versi Korea. Memang butuh konsentrasi untuk dapat mencerna plot yang agak rumit ini. Sepanjang 2,5 jam durasinya otak kita ga diberi waktu untuk istirahat mikir. Maka dari itu saran saya nikmatin aja dulu, kayak slogan film Tenet :

Don't try to understand it, feel it!

Setelah nonton baru deh enak untuk dibahas. Apalagi ternyata ini baru part 1 nya, tahun depan langsung rilis part 2 nya, keknya Lee Hanee beraksi, can't wait! Sudah diduga soalnya ada aktris sekelas Lee Hanee ga mungkin dikasih cuma peran segitu doank. Dengan pembagian seperti ini cukup memberi ruang pengenalan backstory yang layak, jadi penonton dapat memisahkan benang merahnya. Plotnya ga terkesan buru-buru ingin selesai.

Sekalipun film ini kompleks, namun tetap diselingi dengan beberapa scene komedi komikal, yang membuatnya jadi ringan dan para penonton pun tertawa. So, film ini dapat diterima oleh setiap kalangan.


Selasa, 23 November 2021

Review film serial Hellbound - Season 1 (2021) : Lupakan Squid Game, ada Hellbound yang layak untuk diberi atensi.

Sinopsis :

Pada suatu ketika, terjadi fenomena aneh dimana ada monster seperti Hulk, tapi versi seremnya, hitam gitu. Mereka datang secara sporadis, mengejar dan membunuh satu orang tertentu yang mereka incar. Kekuatan tubuh mereka juga sama seperti Hulk, cuma bedanya tubuh mereka elastis, bisa berubah bentuk, misalnya tangannya menjadi tali atau benda tajam.

Dibalik kejadian ini, ada satu perkumpulan yang bernama The New Truth, yang mungkin bisa dibilang sebagai sekte, tapi ga pake ritual ini itu. Mereka juga ga ngajarin agama baru karena ga ada teori beribadah di dalamnya. The New Truth cuma percaya bahwa monster tersebut adalah malaikat Tuhan yang datang beneran untuk memberikan hukuman kepada orang-orang yang berdosa. Jadi The New Truth ini cuma nyebarin ajaran "tambahan", bahwa manusia tidak boleh berbuat dosa, kalo anda pendosa maka anda bakal didatangin malaikat tadi.

Perkumpulan tersebut berkembang pesat dan memperoleh banyak member setelah kejadian monster datang itu viral. Banyak orang yang mulai percaya dan ikut bergabung mengikuti fatwa ketua The New Truth bernama Ketua Jung. Jung merupakan sosok anak muda biasa, kalem, pokoknya ga aneh-aneh lah. Ia hanya berperan sebagai keynote speaker "syiar" ajaran The New Truth ini.

Selain The New Truth, ada juga perkumpulan lain yang berperan sentral, yaitu Arrowhead. Mereka ini adalah versi radikalnya The New Truth, mereka diisi orang-orang yang juga percaya dengan ajaran The New Truth, cuma bedanya mereka sangat fanatik, sehingga jika ada orang lain yang menghalangi syiar The New Truth, maka mereka berani mengambil tindakan main hakim sendiri. Mereka melakukan segala cara, mulai dari vandalisme, meneror, bahkan termasuk pake kekerasan untuk menanggulanginya. Hal ini diperparah dengan sosok "youtuber" yang selalu melakukan streaming siaran langsung tentang kasus-kasus para pendosa. Dengan gayanya yang unik, nyentrik, dan provokatif yang meledak-ledak ala streamer, ajaran The New Truth dapat dengan mudah diikuti oleh kalangan anak muda, yang menjadi sasaran empuk sebagai calon anggota Arrowhead, karena mereka masih labil dan hasrat ingin melakukan sesuatu yang berarti lagi tinggi-tingginya.

The New Truth menyampaikan bahwa Tuhan sedang memberikan "peringatan", dan hal ini didukung dengan bukti video yang ada. Sebelum di "eksekusi" oleh para monster tadi, para pendosa akan terlebih dahulu di datangi oleh malaikat, yang akan ngasih tau kapan waktu eksekusi mereka. Waktunya variatif, ada yang ukuran hari, detik, atau tahunan. Jika waktunya tiba, maka monster akan datang dan mencabut nyawa mereka. Hmm..gimana perasaanmu kalo kamu yang didatangi oleh malaikat itu? Tentu stres bukan.

The New Truth mendapatkan kesempatan besar saat mereka tau akan ada satu pendosa yang akan dieksekusi. Mereka ingin eksekusi kali ini disiarkan secara luas dengan mengiming-imingi si pendosa dengan harga kontrak yang sangat besar. Finansial bukan masalah buat The New Truth, karena mereka punya member orang-orang kaya yang rela bayar mahal untuk dapat menyaksikan secara langsung dan membuktikan ajaran The New Truth ini. Mereka menyebut program ini sebagai "demonstrasi" kehendak Tuhan.

Kamis, 22 Oktober 2020

Dua Film Kolosal Korea Yang "Kembar" : Masquerade (2012) vs I Am The King (2012)

Taukah kamu kalo ada sebuah kejadian unik di tahun 2012 dalam perfilman Korea Selatan, dimana ada 2 film yang sangat mirip dan rilisnya juga berdekatan. Keduanya sama-sama menceritakan kembali masa kedinastian disana. Dan kebetulannya lagi, keduanya sama-sama mengadaptasi tema dari novel The Prince and The Pauper, yaitu "pertukaran pemuda" 😂. Kisah pejabat yang bertukar identitas dengan rakjel yang kebetulan mukanya mirip. Jadi sebenarnya ini suatu kebetulan ato memang janjian sih? Hadeh... Untuk itu coba kita bandingin dan liat apa aja perbedaannya. Pembahasan ini aman dari spoiler kecuali yang ada spoiler alert-nya ya.


Rilis
Masquerade rilis di bulan September yang artinya satu bulan lebih lambat setelah I Am The King yang duluan rilis di bulan Agustus.

Pemeran
Masquerade "terpaksa" mengajak aktor kawakan Lee Byung Hun untuk mengisi peran utama, karena awalnya memang proyek ini targetnya bukan dia. Cuma karena pergantian sutradara, akhirnya juga ikut pergantian aktornya. Sedangkan I Am The King menggunakan jasa aktor yang populer lewat serial Princess Hours, yaitu Ju Ji Hoon.

Box Office
Masquerade memiliki budget sekitar 8 juta dollar AS atau setara 72 milyar rupiah kala itu, angkat itu bahkan lebih besar daripada penghasilan I Am The King yang hanya separuhnya. Penghasilan Masquerade sendiri termasuk salah satu dari 10 film Korea dengan pendapatan terbanyak dan menempati posisi 9 dengan angka 94 juta dollar AS. Banyak faktor yang membuatnya jadi "kaya" begini, disamping karena unsur teknisnya yang memang yahud, faktor external lain seperti invest di aktor papan atas berkelas Hollywood Lee Byung Hun, tentu menarik minat lebih banyak penonton, kemudian juga waktu itu berpas-pasan dengan akan digelarnya pilpres pekan depannya, jadi tema pemimpin ini sangat relevan dan jadi santapan hangat.

Jumat, 02 Oktober 2020

13 Film Korea Selatan Paling Esensial Yang Harus Kamu Tonton Sebelum Nyebur Ke Dalam Hallyuwood!

Kesuksesan Parasite dalam dunia perfilman global membuka mata penonton dunia ke arah Korea Selatan. Orang-orang mulai menjelajahi film-film asal negri ginseng tersebut, yang disebut dengan istilah Hallyuwood, sebagai "sinonim pelesetan" dari Hollywood-nya Korea. Ini terimbas juga kepada media penyiaran seperti tv dan video on demand yang ikut meramaikan bisnis mereka dengan mengisi film-film Korea di saluran mereka. Tapi, bagi kita sebagai penonton yang baru mau mulai, mau mulai dari mana? Ada sekian banyak film Korea yang bagus-bagus, tapi bagusnya nonton yang mana dulu nih? Nah..setelah saya tonton banyak film Korea, berikut ini adalah film-film Korea yang menurut saya paling esensial, yang harus kamu tonton terlebih dahulu, sebelum nonton film-film Korea lainnya.

Untuk list ini, saya perlu menyempitkan pilihan. Pertama saya sortir filmnya hanya yang dirilis maksimal tahun 2010 dan kebawahnya (sebelumnya). Karena mereka bukan film "baru", film lama, senior lah caknya, mereka yang lebih dahulu hadir. Kemudian, saya mencoba untuk memberikan keterwakilan untuk setiap genre film, baik murni satu genre di dalamnya maupun kombinasi beberapa genre. Dan saya pilih dari setiap genre itu, judul yang paling sering disebut oleh orang-orang alias yang lebih populer. Mungkin ada film yang bagus, tapi ga begitu populer seperti Il Mare, Shiri atau Going By The Book. Lalu jika ada satu sutradara yang punya banyak film bagus, maka saya juga hanya pilih satu atau dua saja sebagai perwakilan. Contoh, ada banyak film karya Park Chan Wook yang bagus-bagus yang rilis sebelum 2010, seperti Vengeance Trilogy, JSA, I am A Cyborg but That's OK, dan Thirst, tapi saya pilih hanya satu atau dua saja sebagai perwakilan. Dan terakhir saya jamin semua film ini sangat bagus dalam urusan teknis, seperti penyutradaraan, skenario, akting, sinematografi, scoring, dll, yang telah diakui karena dapat awards dimana-mana. So, without bacot lebih banyak lagi, lets go to the list.

1. Oldboy (2003) : Mystery-Thriller

Current rating : 8.4/10 IMDb, 82% Rotten Tomatoes, 21+

Ini wajib, super wajib! Penjelasannya sih udah saya buat di artikel berikut ini : Beribu Alasan Kenapa Old Boy Adalah Film Terbaik Korea Yang Kamu Pasti Ga Nyangka! Tapi itu hanya untuk yang udah nonton aja. Nah bagi kamu yang belum nonton, film ini merupakan misteri tentang proses balas dendam seseorang bernama Oh Dae Su. Tanpa tau kenapa dan sebab apapun, dia disekap dalam ruangan selama 15 tahun! Gila ga tuh! Jadi dia bertekad untuk balas dendam dengan mencari siapa dalang penyekapnya. Uniknya, pelakunya bukan bersembunyi, tapi berani untuk berkomunikasi dengan Oh Dae Su. Dengan dibantu oleh seorang gadis yang dia temui, Mido, mereka berdua melakukan penelusuran terhadap petunjuk-petunjuk yang mereka punya. Gimana endingnya? You will never see that coming! Selain dari segi misteri, film ini juga mempunyai unsur fight action yang keren. Soal teknis ga usah ditanya, banyak menang award, semuanya outstanding, mulai dari script, akting, penyutradaraan, sinematografi, dan set produksi.

2. Memories of Murder (2003) : Mystery-Suspense

Current rating : 8.1/10 IMDb, 91% Rotten Tomatoes, 21+

Sutradara Parasite, Bong Joon Ho, naik daun ya lewat film ini nih. Berdasarkan kisah nyata, film ini bercerita tentang dua polisi yang melakukan penyelidikan terhadap kasus pembunuhan berantai di sebuah desa. Uniknya si serial-killer ini kalo membunuh punya ciri khas, seperti timing dan target yang diincer. Proses investigasi ini sangat menarik ditelusuri, apalagi dua detektif ini berbeda gaya dan punya keyakinan sendiri terhadap keampuhan metode yang mereka pakai. Yang satu santai dan data-based-guy, yang satu temperamental-judgemental yang mengintimidasi para suspects. Memories of Murder adalah sebuah presentasi yang hebat dari sebuah kisah nyata, dengan penyutradaraan, akting dan sinematografi yang berkelas. Untuk film ini kita udah ada reviewnya oleh Nendra, klik disini untuk baca reviewnya.

3. A Bittersweet Life (2005) : Action-Thriller

Current rating : 7.6/10 IMDb, 100% Rotten Tomatoes, 17+

A Bittersweet Life diisi oleh aktor Korea paling terkenal, Lee Byung Hun. Dalam film ini ia berperan sebagai seorang bodyguard, yang ditugaskan untuk menjaga pacar simpanan bosnya. Alih-alih menjaga, dia malah sepertinya jatuh cinta ama tuh cewek. Siapa yang ga bakal jatuh cinta wong cantik gitu, hehe.. Rada-rada mirip ama The Bodyguard From Beijing lah. Cuma bedanya A Bittersweet Life dikemas dengan cinematography apik dan makna yang filosofis. Ini tak lepas dari tangan salah satu sutradara terbaik Korea Selatan, Kim Jee Won yang juga menahkodai film Tale of Two Sisters. Urusan action, udah jaminan mutu, Lee Byung Hun bukan sembarang main film, disini banyak sekali adegan action dan fighting yang dahsyat dan memacu adrenalin. Bahkan bisa jadi film ini banyak dijadikan referensi oleh filmmaker-filmmaker lain dalam membuat sequence action, seperti adegan dalam gedung terbengkalai itu sepertinya menginspirasi Gareth Evans dalam film The Raid.

Kamis, 27 Agustus 2020

Beribu Alasan Kenapa Old Boy Adalah Film Terbaik Korea Yang Kamu Pasti Ga Nyangka!

Perfilman Korea Selatan langsung naik daun ya abis Parasite menang Best Picture Piala Oscar. Nah..terkuaklah kalo film Korea Selatan itu banyak yang bagus-bagus, ga kalah ama Hollywood. Trus diantara yang bagus-bagus itu, setuju ga kalo Oldboy adalah yang paling bagus? Bahkan saya berani bilang Parasite telah "merampok" Piala Oscar yang seharusnya telah lama dimiliki oleh Oldboy. Orang-orang hanya ga tau aja Oldboy sebagus ini. Fyi, untuk masuk nominasi Piala Oscar memang pihak film harus gencar melakukan yang namanya "Kampanye" jelang pergelaran. Nah si produsen Parasite ini memang ngelakuin ini, marketing dan word of mouth dimana-mana, hasilnya opini member Academy Award sebagai voters, ikut tergiring. Sedangkan Oldboy dulu mereka ga melakukan kampanye semacam ini.


Nah berikut adalah alasan kenapa Oldboy layak disebut sebagai film terbaik Korea. And of course, ini isinya SPOILER ya, jadi kalo kamu belum nonton, ya nonton dulu sana, baru kesini lagi.

Cerita yang unik
Meskipun temanya tentang balas dendam, tapi pengembangannya bener-bener ga seperti film-film balas dendam pada umumnya, yang biasanya tuh motifnya karena keluarganya dibunuh atau pengkhianatan. Disini tuh unik, dendam timbul karena dia dikurung 15 tahun tanpa alasan, tanpa tau, siapa dan kenapa. Sebaliknya, di kubu sebelah, dendam juga bukan akibat pembunuhan secara langsung, tapi mulutmu harimaumu, hanya karena gosip, yang mengakibatkan butterfly effect kepada kematian seseorang. Jadi tambah unik, dendamnya dibuat bukan cuma dari satu pihak, tapi terdapat di kedua pihak yang berseberangan, jadi sama-sama saling ingin balas dendam. Masing-masing mereka pun ya memiliki cara mengeksekusi akhir yang unik. Scriptnya yang di ungkapkan lewat kata-kata juga bagus banget.

Twist Ending
Sebuah film kalo bisa kasi twist ending tuh gimana gitu, lebih berasa spesial aja, karene meninggalkan rasa shock jadi bakal teringat-ingat. Dan membuat twist yang bener-bener unpredictable itu sulit, twistnya juga ga sembarangan twist lah, yang cuma fan service, tapi twist yang bagus, meskipun harus sad ending atau ga berpihak pada penonton. Disini, twistnya sumpah edan banget! Dan banyak pula. First, Mido ternyata anak Oh Dae Su. Second, Oh Dae Su minta hipnotis ngilangin memori, itu artinya dia memilih untuk saling mencintai, ini sama aja dia akhirnya yang jadi reinkarnasi Lee Woo Jin, yang tetap mau melakukan hubungan meskipun itu terlarang. Ketiga, parahnya lagi, menurut ane, hipnotis yang di ending malah menghasilkan kemungkinan terburuknya, yaitu Oh Dae Su yang hidup dalam dirinya adalah yang "monster". Coba perhatikan baik-baik dalam kalimat yang dibilang ama si tukang hipnotis : "yang berjalan ke depan adalah si monster". Nah scene langkah kaki di salju dan Oh Dae Su udah beranjak dari kursinya itu artinya dia adalah yang si monster! Keempat, sepanjang film penonton digiring untuk menganggap bahwa ini adalah proses balas dendamnya si Oh Dae Su, padahal ternyata Oh Dae Su merupakan bagian dalam rencana balas dendam-nya si Lee Woo Jin. Semua twist ini banyak yang ga sadarin.


Selasa, 09 Juni 2020

Penjelasan Ending : The Wailing (2016)

Bagi temen-temen yang sudah nonton film The Wailing mungkin ada diantara kalian yang bertanya-tanya tentang ending dari film ini. Beberapa dari kita bahkan mungkin punya interpretasi sendiri. Disini kami akan mencoba memberikan penjelasan tentang apa aja yang terjadi dalam film The Wailing. Apa saja dia? Akan kita bahas disini.

Sebelum lanjut, kami pastikan bahwa ini hanya untuk yang udah nonton aja, karena penuh dengan spoiler, jadi buat temen-temen yang belum nonton filmnya bisa baca review non spoilernya di link yang ini. Dan buat yang udah nonton, yuk simak penjelasan ini sampai habis.

Apa yang sebenarnya terjadi?
Dukun Il-Gwang ternyata adalah temennya kakek Jepang. Ini dibuktikan dengan adegan ending yang memperlihatkan dukun Il-Gwang bongkar muat box kardus yang isinya adalah foto-foto para korban. Dalam video alternate ending, scene-nya malah dengan gamblang memperlihatkan dukun Il-Gwang menjemput kakek Jepang pake mobilnya. Ini juga dibuktikan dengan celana dalam yang mereka pakai sama. Mereka berdua berteman, bekerja sama untuk menjalankan semacam ritual pengambilan roh untuk memberi "makan" sang iblis, dan sekalian menjadikannya bisnis. Si kakek Jepang menebar santet kepada warga, warga kemudian nyewa dukun Il-Gwang untuk ngusir santet. Il-Gwang hanya perlu berpura-pura dan berbohong kepada warga dengan bilang bahwa dia akan melawan si kakek Jepang. So, mereka dapat uangnya, dapat rohnya juga, beginilah model bisnis konspirasi yang mereka jalankan. Roh korban mereka ambil melalui perantara kamera. Mereka mempercayai bahwa kamera dapat mengambil dan menyimpan roh-roh para korban setelah di jepret.
 

Siapa sebenarnya si kakek Jepang ini?
Sang kakek sebenarnya adalah manusia, namun ia sesekali dirasuki oleh iblis yang merupakan "tuan" mereka berdua. Ketika dalam mode manusia, sang kakek adalah seorang dukun juga, tapi dukun hitam alias jahat, yang bertugas menebar teror ke desa lewat santetnya. Ia melakukan ritual santet terhadap korban melalui perantara benda yang ia ambil, seperti sepatu Hyo Jin. Setelah korban kena santet maka korban akan mulai mengalami gejala ruam merah pada kulit mereka, lalu beberapa waktu kemudian mereka kehilangan kewarasan dan melakukan pembunuhan terhadap anggota keluarganya sendiri.

Ketika dalam mode "iblis", sang kakek menjelma menjadi sosok iblis beneran yakni yang kukunya panjang, mata merah dan mempunyai tanduk. Dalam mode iblis ini ia tidak bisa dibunuh, hal ini dibuktikan oleh dirinya yang hidup kembali setelah tertabrak mobil pick-up yang dikemudikan Jong Goo dan kemudian dibuang ke jurang. Iblis ini tidak hanya merasuki si kakek, tapi juga bisa merasuki orang lainnya. Ini dibuktikan dari scene perkelahian Jong Goo dkk melawan zombie yang tak bisa mati-mati setelah dihajar oleh mereka, karena di dalam zombie ini ada iblis tersebut.
 

Lalu siapa wanita yang berpakaian putih itu?
Ada 2 interpretasi atas sosok ini. Yang pertama dia adalah jelmaan malaikat atau sosok yang "diisi" oleh roh baik. Yang kedua, dia adalah dukun putih alias dukun baik, dalam film ini sebagai lawan si dukun hitam. Apapun interpretasinya, yang dia lakukan adalah sama, yaitu melindungi warga desa dengan segala kemampuan yang dia bisa, seperti menaruh benda dan tanaman yang udah dijampi-jampi sebagai jimat pelindung. Untuk melindungi warga yang sedang "diserang" oleh dukun hitam, dia juga harus mengambil benda milik warga tersebut, yang digunakannya sebagai perantara ilmunya. Contohnya seperti cardigan milik wanita penghibur, jaket milik sopir pick up, dan pita milik Hyo Jin. 

Tes keimanan
Di ending, wanita ini bertemu dengan Jong Goo dan memintanya untuk percaya kepadanya dan menuruti perkataannya untuk tidak masuk kerumah agar jimatnya berhasil. Ini adalah simbol dari ujian ke-iman-an seseorang, untuk dapat percaya pada sesuatu tanpa harus melihat, representasi dari keyakinan manusia terhadap adanya tuhan. Tuhan memerintahkan sesuatu untuk kebaikan manusia itu sendiri tapi acap kali diabaikan. Begitu pula di film ini, diwakilkan lewat Jong Goo yang gagal melewati ujian ini. Jong Goo melihat beberapa benda korban yang melekat dibadan wanita itu, seperti jaket dan cardigan, maka ia menganggap bahwa wanita itu adalah pelakunya. Saat itu Jong Goo memang baru saja dihasut oleh Il-Gwang yang berbohong bahwa wanita itu adalah dukun jahatnya. Jong Goo yang tunduk kepada ucapan tersebut akhirnya tidak mengindahkan permintaan wanita itu di detik-detik terakhir saat ayam akan berkokok ketiga kali, Jong Goo malah pergi masuk rumah. Alhasil upaya wanita ini meminta kepercayaan kepadanya menjadi sia-sia.
 

Jika kita perhatikan lebih detail, jimat dari wanita ini juga dapat kita jumpai di awal-awal film saat Jong Goo mendatangi kasus pembunuhan pertama. Bukti bahwa wanita itu adalah dukun baik dan melawan ilmu hitam juga ditunjukkan lewat scene dukun Il-Gwang yang hidungnya berdarah-darah saat mencoba melewati jimat yang ia pasang. Il-Gwang bereaksi terhadap jimat tersebut karena memang dalam diri Il-Gwang terdapat ilmu hitam.

Pertarungan antar dukun adalah tipuan scene
Nah catatan penting disini adalah scene dimana dukun Il-Gwang melakukan ritual pengusiran santet, itu adalah optical illusion yang sepertinya sengaja ditarok untuk menipu penonton. Dalam scene tersebut seolah-olah Il-Gwang bertarung melawan kakek Jepang yang juga melakukan ritual, padahal yang terjadi sebenarnya adalah itu kejadiannya dalam waktu yang berbeda. Il-Gwang melakukan ritual untuk memperkuat santet dalam diri Hyo-Jin, liat saja setiap yang dilakuin Il-Gwang berakibat sama kepada Hyo-Jin. Sementara ritual kakek Jepang diwaktu yang berbeda untuk menjadikan mayat di dalam mobil pick-up dirasuki iblis dan hidup kembali, mungkin si kakek mau menggunakannya sebagai zombie untuk melawan Jong Goo dkk. Tapi saat ritual ini dilakukan mendapatkan perlawanan dari si wanita misterius, yang sepertinya lebih kuat dan berhasil melumpuhkan si kakek Jepang hingga dia ketakutan masuk kamarnya.

Makna lemparan batu si wanita berpakaian putih?
Ini adalah referensi dari injil yang bunyinya "Let he who is without sin cast the first stone", yang artinya kurang lebih "Yang boleh melempar batu hanyalah dia yang suci alias ga punya dosa", maknanya dalam film ini adalah menyindir sikap main hakim sendiri yang dilakukan oleh Jong Goo, yang seharusnya tidak bole dilakukan, karena untuk menghakimi seseorang (yaitu melempar batu) hanya boleh dilakukan oleh seorang yang berhak (alias yang ga punya dosa).
 

Apa tema dari film ini?
Film ini memiliki tema tentang iman. Dibuka dengan ayat dari injil, kemudian di metaforakan dalam film horor. Jong Goo, adalah kita banget, manusia, yang kurang imannya, dia tidak punya cukup kepercayaan dan membuat keluarganya terbunuh. Tapi ya kita juga ga bisa nyalahin Jong Goo, karena memang akan sulit bagi siapa pun untuk mengambil keputusan saat kondisi seperti itu. Kemudian scene si kakek Jepang mancing dengan umpan, itu juga beberapa kali repetitif dalam film bahwa yang iblis lakukan hanyalah menebar umpan dan menggoda manusia untuk sesat, tinggal kita sebagai manusia apakah termakan umpan atau tidak.

Dan saat si pendeta muda menemui si kakek Jepang dalam gua, si kakek bilang "Jika anda sudah percaya saya iblis, maka saya adalah beneran iblis.". Nah coba dibalik seperti ini : "Jika anda tidak percaya adanya Tuhan, maka tidak ada lah Tuhan itu." Intinya adalah iblis/Tuhan tidak perlu menunjukkan dirinya sendiri agar kita percaya pada keberadaannya, tetapi kita sering berharap iblis/Tuhan untuk menunjukkannya kepada kita baru deh kita percaya ada. Ini juga repetitif dalam kalimat pendeta tua di gereja : "Bagaimana kamu bisa meyakini sesuatu yang tidak kamu lihat dengan mata kamu sendiri?".

Dan pertarungan antara wanita dengan kedua dukun antagonis adalah representasi dari good vs bad, angel vs evil, dan diantaranya ada para korban yang "innocent" seperti Hyo-Jin. The Good mengambil barang bagian atas korban (Cardigan, jaket dan pita) sebagai simbol untuk melindungi mereka, sementara The Bad ngambil bagian bawah (sepatu) sebagai simbol untuk menjatuhkan mereka.
 

Oke demikian penjelasan ending film The Wailing. Jika temen-temen punya pemikiran lain, silahkan komen ya. Mana tau ada yang salah atau terlewatkan. Thanks for visiting.


 

Review non spoiler The Wailing (2016) : Cerita Horor Terbaik Yang Datang Menakutkan dan Menegangkan Tanpa Harus Punya Jumpscare

Mungkin diantara temen-temen banyak yang belum tau film ini, karena film ini memang tidak sepopuler bikinan Hollywood, tapi percayalah bahwa ini termasuk salah satu film horor dengan cerita terbaik. Pengen tau kenapa? Simak sampe abis ya. Sebelum lanjut, kami pastikan bahwa disini adalah review tanpa spoiler, jadi aman untuk temen-temen yang belum nonton. Film The Wailing merupakan film bikinan Korea Selatan pada tahun 2016. Film ini disutradarai oleh Na Hong Jin yang juga menahkodai film The Chaser tahun 2008 yang mengantarkannya mendapatkan penghargaan Sutradara Terbaik pada Korean Film Awards. 


Film ini menawarkan sebuah film horor yang kaya akan cerita misteri dan memiliki plot yang berbobot ketimbang menebar jumpscare disana-sini atau makhluk-makhluk yang menyeramkan, The Wailing bahkan hampir tidak memiliki itu semua. Perlu dicamkan bahwa disini saya bukan berarti menentang jumpscare, karena jumpscare adalah bagian dari film horor. Tapi ketika sebuah film terlalu mengandalkan jumpscare yang terlalu banyak dan melupakan plot cerita, disitulah ketidakpuasan biasanya muncul terhadap filmnya yang berkesan murahan. 

Senin, 13 April 2020

Review non spoiler dan Penjelasan Ending Film Burning (2018)


Ini film menurut saya berkesan artsy, atau dulu istilahnya arthouse. Tapi sejak negara api menyerang (baca : indie), istilah arthouse lebih sering diucap "artsy", karena saking menjamurnya anak indie yang klaim berjiwa seni dengan kata-kata puitis dan melukis, mereka menyebut diri mereka anak artsy..katanya artsy sudah pasti indie..sementara indie belum tentu artsy.. Arthouse, sesuai kata dasarnya "art" : bernilai seni, punya estetika. Film artsy temponya cenderung lambat, biar "seni"nya dapet..dan berusaha keras untuk tampil "tidak biasa", baik dialog maupun alur. Tapi sayangnya beberapa diantaranya ga mampu menyajikan plot cerita yg jelas, cuma berkedok estetika dan seni aja. (Ex : Upstream Color, Lost In Translation). Tapi tidak untuk film ini, setidaknya plot ceritanya jelas dan kalo dirunut-runut ya seperti drama misteri pada umumnya. Trailernya bisa klik disini dan berikut adalah reviewnya, tanpa spoiler.

Jong Su, adalah seorang pemuda yang boleh dibilang jobless, punya kerjaan tapi cuma paruh waktu, jadi hidup juga pas-pasan. Suatu hari dia ga sengaja bertemu cewek yang "ngaku"nya temen masa kecilnya, namanya Hae-Mi. Hae-Mi merupakan sosok cewek yang mandiri, sederhana, supel, sepertinya dia pandai bergaul dengan siapa saja. Selain itu dia juga unik, memiliki cara pandang sendiri terhadap dunianya, dia selalu ingin mencari tau arti kehidupan.
 
Sekali dua kali jalan, ya mereka akhirnya jadian. Cita-cita Hae-Mi adalah menjadi aktor, dia pandai bersandiwara, dalam 1 momen dia pamer skill akting makan jeruk yang bisa dibilang memang sangat bagus membuat kita percaya dia makan jeruk beneran dan ngiler. Dia juga suka traveling. Ketika dia berangkat ke Afrika, Hae-Mi menitipkan rumah dan kucingnya kepada Jong Su.
 
Lihat kompaknya Ben dan Haemi pake baju putih dan tatapan yang akrab sementara Jong Su diletakkan ditengah mereka sebagai pemisah dengan warna berbeda
 
Keadaan berubah 180 derajat sepulang Hae-Mi dari sana, karena di Afrika dia berjumpa dengan Ben, cowok tajir ganteng cool baik hati. Hae-Mi terlihat nyaman berada dekat Ben. Membuat Jong Su "terbakar" cemburu. Tapi disini Jong Su ga langsung "sumbu pendek", malah seperti berteman, ngikutin arus, sampe sejauh mana mereka melangkah. Dalam sikapnya yang pendiam, Jong Su justru orang yang paling terjaga untuk melihat gerak-gerik Ben, "lawan"nya yang membuatnya iri. Tapi dia hanya tidak bisa mengungkapkannya lewat kata-kata, it's only burning inside, itulah kenapa diberi judul "Burning".

Rabu, 19 Februari 2020

Review Extreme Job (2019) : Anying Gokil Parah Ni Film! Unik dan Komedi Tingkat Dewa!

Korea Selatan...selalu kontras antara film layar lebar dengan serial. Jika serial itu ceritanya selalu monoton itu ke itu aja, drama bucin cowok kaya naksir cewek miskin, nah film layar lebarnya malah selalu bisa menghadirkan sesuatu yang unik dan fresh. Termasuk yang satu ini. Saya dapat rekomendasi film ini sih pertama kali dari Maul anak JMFC juga, lalu kemudian ada video dari salah satu youtuber favorit saya, Kevin Anggara, yang dalam videonya menyebutkan film ini termasuk ke dalam list Film-Film Terbaik 2019 versi dia. Kalo panutan udah mention, itu berarti ni film udah dijamin kebagusannya, hehe.. Dan ini bukan pertama kalinya, tahun lalu dia masukin One Cut of The Dead, dan itu bener bagus banget, cuma belum direview aja dimari, ntar deh. Sekarang, kupas dulu film Extreme Job, yang berhasil menduduki peringkat kedua film terlaris sepanjang masa di korea ini! Tenang aja, ga spoiler kok..

Nb : Kalo di Korea ini fair ya, yang laris-laris juga yang punya kualitas, seperti ini atau Along With Gods. Coba kalo di Indonesia, yang laris tuh yang biasa aja, yang berkualitas malah ga disukai. Selera people+62 memang beda dengan people+82!

Film Terlaris Kedua Sepanjang Masa di Korea
Dari sinopsisnya aja ni film udah unik banget, liat trailernya klik disini. Begini ringkasannya, ada 1 tim dari divisi narkoba kepolisian sana, yang berisikan 5 orang pecundang, hidup juga pas-pas-an. Karena kegoblokan mereka dalam menciduk bandar narkoba kelas teri, akhirnya mereka kena skors. Tapi ada 1 kesempatan terakhir yang diberikan kepada mereka untuk memulihkan nama tim mereka, yaitu dengan menangkap bandar narkoba kelas kakap bernama Moo Bae. Tentu saja kesempatan ini akan mereka manfaatkan sebaik-baiknya toh. Segala daya upaya mereka lakukan demi suksesnya kasus ini, termasuk mencari lokasi penyelidikan. Yang ternyata, lokasi ini lah yang menjadi keunikan film ini, yaitu warung ayam goreng! What?? Yak..mereka rela sampai merogoh kocek demi membeli warung tersebut yang kebetulan berada persis di seberang basecamp bandar narkoba tadi. Agar kedok mereka tidak ketahuan, mereka berpura-pura sebagai pedagang ayam goreng dan membuka warungnya. Apa yang terjadi selanjutnya kalian tidak akan pernah duga, warungnya malah laris dan ayam goreng buatan mereka laku keras! Pendapatan melimpah! Nah...Selanjutnya apa yang akan mereka lakukan? Udah stop aja penyelidikan beralih profesi jadi pedagang aja? Atau lanjutkan penyelidikan? Dari ini aja sinopsisnya udah unik banget kan? 

Minggu, 03 September 2017

Review The Battleship Island (2017) : Perang Epic Antara Tahanan Korea Dengan Tentara Jepang (By Muhammad Hasbiy - JMFC 066)

Lagi-lagi kali ini saya tonton a based on true story film. Dari judulnya aja udah cukup oke kayaknya, The Battleship Island. Awalnya saya kira film ini tentang gontok-gontokan di kapal, semacam Pirates Of The Carribean-nya edisi Asia timur, haha... But it was totally wrooooong... Salah saya juga sih, ga lihat trailernya dulu, hehe... Film ini menceritakan tentang sekumpulan penduduk Korea yang dipekerjakan secara paksa di tambang Jepang di Pulau Hashima pada tahun 1945. 

Gambar : imdb.com

Sekitar 400an orang Korea ditawan dan dijadikan budak oleh negara Jepang. Mereka dipaksa kerja di pertambangan yang tempatnya 1 KM dibawah permukaan laut sehingga membuatnya "inescapable prison". Keseharian pekerja digambarkan secara brutal dan detail, hingga pada sebuah titik keinginan untuk merdeka itu muncul. Merdeka, membebaskan diri dari perbudakan Jepang. Merdeka itu bukan cuma soal perkataan dan teriakan. Ah...malu euy...disaat orang lain mengangkat senjata untuk meraih kebebasan bernegaranya, saya malah hobi cekikikan pas upacara kemerdekaan. Berjuang untuk merdeka tidak pernah sebercanda itu, tidak pernah segampang upload status tulisan "Merdeka" atau "Dirgahayu", tidak juga diukur dari foto tujuh-belasan di media sosial kamu.

Jumat, 19 Agustus 2016

Bermain Teka – Teki Dengan Memories Of Murders (Review Film Korea By Nendra Pratama)

Tahun 2003 mungkin adalah tahun kebangkitan sebuah genre yang mengarah pada arah dark dan sedikit twist yang bercampur dengan komedi satir yang dikemas dengan apik. Setelah melihat Oldboy beberapa waktu yang lalu, yang mana telah mengantarkan saya bertemu dengan teman – teman yang asik di blog ini :bighug: saya kembali dipertemukan dengan sebuah film yang bergenre hampir sama namun dengan kadar yang sedikit berbeda, jika Oldboy bermain dalam ranah mindblowing yang kuat dengan aroma pembalasan dendam maka Memories of Murder (MoM) ini menyajikan sebuah thriller yang mengajak kita berpikir dan mencoba menebak apa yang terjadi dan endingnya sangat – sangat motherfather, hahaha.... 

 MoM

Film arahan Bong Joon-Ho ini dibuka dengan seorang anak yang sedang menangkap belalang di areal pesawahan yang indah, lalu datanglah seorang detektif yang menumpang traktor, ini beneran, jadi ceritanya film ini adalah tentang pemecahan kasus pembunuhan berantai yang terjadi pada tahun 1986 di provinsi Gyeonggi, Korea Selatan. Pembunuhan itu sendiri mempunyai beberapa kesamaan yaitu, wanita muda, memakai baju merah dan dibunuh pada saat hujan.

Senin, 14 September 2015

Review / Ulasan : Snowpiercer (2013) : Best Under Rated Movie 2013 By Muhammad Ilham



Review / Ulasan : Snowpiercer (2013) : Best Under Estimate Movie 2013 By Muhammad Ilham
Hey Guys, jumpa lagi nih sama saya dan tulisan saya di Blog kita tercinta ini, pekan ini saya akan membahas mengenai sebuah film yang Flying Below the Radar, maksudnya guys adalah dimana kebanyakan orang ga tau, atau bahkan tidak mengenal film ini sewaktu rilis, dan baru mengetahui film ini setelah rilis resmi di USA atau bahkan setelah keluar versi video dan tayang di Channel TV berbayar. Kok bisa? Karena Snowpiercer adalah film bikinan Korea Selatan. Premiere atau penayangan pertama Film Snowpiercer adalah di Korea Selatan pada bulan Juli 2013. Penayangan di USA sendiri dilaksanakan pada bulan Juni 2014.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...