Thursday, July 28, 2016

Review Film Mr. Nobody (2009) : Wonderful! (Review By Chanriatno Saputra – JMFC 001)

Satu kata yang paling pas untuk mewakili pendapat saya tentang film ini, Wonderful. Film yang bernilai seni tinggi, powerful dalam penampilan, panggung yang ekspresif, dan cerita yang menghanyutkan. Sang penggarap, sutradara Jaco Van Dormael, mungkin memang bukanlah sutradara yang populer dikalangan moviegoers, termasuk saya, namun disini ia menegaskan keambisiusannya lewat sajian motion picture Mr. Nobody yang ia garap ini, pertanda bahwa ia bukanlah sineas sembarangan. Filmnya ini berhasil memenangkan beberapa kategori di festival-festival film.

Film ini ber-budget sekitar 33 juta dollar AS demi untuk mewujudkan ambisi sang sutradara. Angka termahal untuk film Belgia tersebut dipakai untuk English-Languange movie, syuting di beberapa negara seperti Belgia, Jerman dan Kanada serta menggunakan “pekerja film” bertalenta seperti : aktor Jared Leto dan Rhys Ifans, aktris Diana Kruger, Visual Effects (VFX) supervisor Louis Morin yang membuat VFX film Eternal Sunshine Of The Spotless Mind dan beberapa soundtrack dari Hans Zimmer.

 Mr. Nobody
Gambar : en.unifrance.org

Yang ingin saya ungkapkan terlebih dahulu adalah hasil kerja sinematografi-nya yang fantasis. Bukan tentang CGI dan VFX, tapi tentang kreasi. Pujian patut saya layangkan buat Christophe Beaucame. Kreatifitasnya menggabungkan benda-benda nyata, interior-exterior, pemilihan warna, kontras, pencahayaan dan perpaduan dengan motif, mampu membuat mata penonton terhanyut buaian lembut scene transition-nya, tapi beberapa kali juga sanggup mengejutkan dengan unpredictable moment. Berkat supervisi Louis Morin tadi, apa yang disajikan dalam film ini memang memiliki “rasa” Eternal Sunshine Of The Spotless Mind, tapi lebih imajinatif. Saya merasa sedang melihat versi panjang dari video klip band-band artistik seperti Coldplay atau bandnya sang aktor utama sendiri, Thirty Second To Mars.


Setelah visual, tentu audio yang mendampingi. Nada yang dikumandangkan dalam film ini seperti nemu jodoh yang pas, tingkat kecocokan 99%, haha... Baik itu lagu, maupun instrumental yang menghipnotis penonton. Lagu-lagu vintage mendukung apa yang telah dihiasi oleh Sinematografernya, dan instrumen akustik gitarnya menyentuh romansa ke dalam hati yang paling dalam. *edisisokputis*. Eh...lagu Sweet Dreams Are Made Of This – Eurythmics muncul juga disini, legend banget keknya lagu ini di masanya ya, yang saya tau aja selain dalam film ini, lagunya juga dipakai di Sucker Punch (2011) dan X-Men – Apocalypse (2016), tapi masih banyak lagi di film lainnya guys.

 Mr. Nobody
Gambar : deviantart.com

Menikmati visual-audio, itulah kesan dalam satu jam pertama durasi film ini, karena memang kalo bicara cerita, akan sulit kita mengerti. Film ini menggunakan non linear narrative, tidak berjalan lurus maju kedepan, seperti film Memento dan The Prestige, namun lebih random. Hal itu dikarenakan storyline-nya mempunyai persimpangan berkali-kali dari setiap jalan yang diambil. Disamping itu juga karena paruh pertama film ini diperankan mayoritas oleh pemeran muda, anak-anak yang berusia 9 tahun dan 15 tahun.

Film ini menceritakan seorang anak bernama Nemo Nobody, lucu ya namanya kayak nama ikan, dan kata "Nobody" yang juga berarti “bukan siapa-siapa”. Tapi justru sebaliknya, anak inilah yang menjadi peranan penting. Hanya sedikit yang bisa saya bocorkan mengenai plotnya, disini Nemo berada dalam beberapa realita dalam waktu bersamaan, nah loh, kok bisa gitu? Apa yang terjadi sebenarnya? Masing-masing realita memiliki kesamaan dan keterkaitan causality, mulai dari hal kecil sampai hal besar, ibarat istilah yang populer :“The Butterfly Effects”. Tonton guys untuk tau kebenarannya, karena hal inilah yang menjadi menu utama sajian spesial dari film maker-nya.
 Quote
Gambar : in.pinterest.com

Akting Jared Leto makin terasah dari sini. Setelah mode depresinya di film Requiem For A Dream, perannya sebagai Mr. Nobody dewasa dan tua, dengan berbagai ekspresi dan kondisi disini membuat talentanya keluar. Ia menikahi 3 wanita, dan masing-masing kehidupan rumah tangganya memiliki kondisi yang berbeda-beda. Film ini menyiratkan nilai sosial dan moral seperti kesetiaan, pengertian, kesabaran, tanggung jawab dan pilihan. Dia seperti nyaman dan nge-blend banget dengan keberadaannya dalam film itu. Jared Leto, seperti (memang) musisi yang mencoba menyampaikan true love-nya. Akting pemeran lainnya juga total, baik para orang tua maupun anak-anak mudanya seperti Toby Regbo dan si seksi Juno Temple. 

Overall, film ini hanya lemah dari segi plot cerita, cerita yang biasa, bukan sebuah kisah yang kokoh. Mungkin karena Jaco Van Dormael tau bahwa dia tak bisa mengandalkan cerita yang maksimal, maka dia perkuat lini lain dari sebuah film, membuat cerita yang ordinary ini menjadi extra ordinary.
Dengan bumbu romantic dan sci-fi, film ini sangat recomended untuk kamu yang hobi dengan film-film anti mainstream. Kamu akan melihat matahari ada 2, lalu motif khas Burb*rry dimana-mana, maket yang menjadi nyata, pemandangan Eropa yang romantis, sampai perjalanan ke planet Mars. Wonderful. Bravo.

JMFC 001 – Om Chan


Gambar : pinterest.com

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...