Thursday, June 9, 2016

Eternal Sunshine Of The Spotless Mind (2004), Film Romantis Yang Tidak Biasa dan Sangat Dewasa (Review By Chanriatno Saputra - JMFC 001)


Kalimat pembuka saya adalah : ini film paling romantis yang sangat dewasa dan rumit. Sejarahnya pengen nonton film ini sih karena memang udah menjadi target, tapi ditunda melulu karena saya berpikiran ini film drama-romance, genre yang nomor sekian dalam list saya, hehe...jarang-jarang memang film berat bertemakan romantisme, biasanya tentang detektif, science fiction, time travel paradox atau scizorfrenia, but makin kenceng nafsu pengen nonton ini setelah melihat formulir pendaftaran member JMFC dari om Lukman Tanjung, apa kabar om? Senggol dikit nih gapapa ye, haha... Saat bagian kolom “Sebutkan 3 film terbaik menurut kamu”, om Lukman mengisi salah satunya berjudul “Eternal Sunshine Of The Spotless Mind”. Njelimet memang judulnya, apalagi buat lidah Wak Noval yang orang seberang, haha...piss Wak... Judul yang sangat jarang sekali disebut orang-orang dalam kolom tersebut, biasanya berisi film-film superhero atau action.

Gambar : en.wikipedia.org

Film ini tergolong film berat, film yang butuh mikir buat mencerna dan menikmatinya. Apalagi di dalam film tidak dituliskan waktu kejadian, kita harus pandai melihat dan memilah itu scene yang kapan. Untuk awal-awal, kita harus bisa menangkap kapan setting waktunya dari narator yang berbicara, sementara pertengahan sampai ending film pandai-pandailah melihat background, benda-benda dan ucapan tokohnya, ucapan yang saling berkaitan dengan momen lain dalam film. Apalagi kata-kata skenario yang digunakan juga unik, layaknya orang bercakap-cakap pada kehidupan sehari-sehari tapi agak implisit dikit sih. Pantes aja menang Piala Oscar kategori Best Original Screenplay (Naskah).


Naratornya disini adalah salah satu tokoh utamanya, yaitu Jim Carrey yang berperan sebagai Joel. Agak aneh sih sebenarnya melihat sosok Jim Carrey main film serius apalagi film drama romance gini. Disini dia memang mencoba menampilkan aktingnya yang beda, jauh dari kata “konyol” dan “lucu” yang biasa disematkan padanya. Nikmatin aja seberapa romantis sih pelawak kalo lagi galau, haha...

(Minor Spoiler Warning)
Joel disini adalah sosok pria yang lagi broken heart banget, gegara diputusin sepihak ama ceweknya, Clementine, yang diperankan oleh tante tantik, Kate Winslet. Saking dahsyatnya “putusnya” mereka ini, si Clementine sampe rela pergi ke sebuah klinik, Lacuna Inc, yang menyediakan jasa penghapusan memori, dalam hal ini tentu Clementine menghapus memori tentang Joel. Biar bisa move on, ga keinget lagi sehabis putus, haha... Hal ini semestinya rahasia, tapi Joel akhirnya bisa tau. Clementine sendiri merupakan sosok wanita yang sangat unik, seorang yang impulsif, sporty, dan friendly. Rambutnya itu lho, gonta-ganti warna terus. Hehe...

Mengetahui hal ini, Joel makin sedih, puncaknya ia juga memutuskan untuk menghapus memorinya tentang Clementine. Duh...kalo putus ga baek-baek gini nih memang jadinya, huhu... Nah proses penghapusan memori si Joel ini lah yang mengisi sebagian besar durasi film. Dengan alur maju mundur maju, nah loh...haha...iya alur ceritanya maju sebentar diawal doank mah, habis tuh ya mundur ke belakang, backward, menggambarkan bagaimana sejarahnya Joel bisa putus, kemudian bagaimana saat-saat mesra dan bahagianya mereka, hingga momen saat pertama kali mereka bertemu.


Gambar : neuwritesd.org

Semua itu dikemas dengan unik oleh sutradaranya (Michel Gondry), visualisasi Joel yang berjuang dalam memorinya, keberadaan di tempat-tempat kenangan bersama mantan, kalimat-kalimat yang pernah terucap, struggling antara kata hati dan emosi, ikut bergejolak bersama sosok Clementine sendiri di dalamnya. Diluar memori, cerita makin dibuat rumit dengan adanya karakter Frodo Baggins dalam film ini, hehe...maksudnya si Elijah Wood. Dia berperan sebagai Patrick. 

Bersama dengan “Hulk”, Mark Ruffalo, yang berperan sebagai Stan, mereka berdua adalah tim dari klinik yang bekerja untuk menghapus memori Joel dengan menggunakan sebuah alat helm scanner gitu deh, agak mirip Cerebro-nya si Prof.X. Patrick merupakan sosok pengalihan yang penting dalam film ini. Dia ini ibarat sambungan pipa, ga begitu keliatan sih tapi menghubungkan ceritanya, membuat semakin greget. Apalagi selama proses penghapusan memori itu, apa saja yang diucapkan oleh mereka diluar sana terdengar oleh pasien mereka sendiri, si Joel ini, yang sedang dalam keadaan tidur. Ucapan itu menjadi kunci, dan menjadi bantuan buat penonton menerka-nerka ceritanya.

Unik banget deh pokoknya, saya sangat menikmati proses ini, makin seru lagi di tengah-tengah film dengan masuknya peran karakter lain yang diperankan oleh si “Mary Jane”, Kirsten Dust, memerankan pegawai klinik bernama Mary, ia mempunyai rahasia tersembunyi yang justru menjadi twist krusial dalam ending film ini, saya bener-bener ga nyangka lho, hehe... Film ini menampilkan sesuatu yang romantisnya dewasa banget deh pokoknya, sampe ke ending-endingnya juga, tanpa perlu rangkaian bunga atau puisi, apalagi sampe pelukan dan ciuman.


Satu-satunya kelemahan dalam film ini hanyalah tingkat kegantengan Jim Carrey belum pantes untuk nge-date-in si Kate Winslet, huahahahaha.... Ga imbang, saya masih merasa film ini akan sempurna jika saja pemeran cowoknya yang gantengnya memang berkharisma untuk bermain romance, biar pas, hehe...apalagi kalo untuk disandingkan dengan Kate Winslet, kan bisa saja milih saya gitu, hahaha... *pembaca muntah-muntah*. Ya entah kenapa memang telah tercipta saja image konyol tiap liat muka Jim Carrey tuh, jadi masih merasa kurang pas untuk film se-romance ini, kenapa mereka meng-cast Jim Carrey mungkin karena dalam film ada adegan yang membutuhkan aksen konyol juga sih. But, it’s oke lah, he tried his best to do that, Jim Carrey telah melakukannya yang terbaik untuk membuat film ini tetap bagus. Lumayan dia masuk nominasi Best Actor di Golden Globe Awards masa itu, sementara si Kate Winslet nominasi Best Actress di Piala Oscar.

Satu hal yang didapat dari film ini sangat menyentuh, sesuai judulnya, Eternal Sunshine Of The Spotless Mind, kata hati nurani itu adalah sesuatu yang seperti sinar abadi di dalam memori, tetap saja ada, sekalipun memori itu telah hilang. Itulah yang menggerakan kita untuk tidak menjadi orang yang impulsif (orang yang tak mau dengar atau tak percaya dengan kata hati). Widih...om Chan bisa romantis juga ya, hehe... Kalo yang belum nonton, tonton deh, very recomended, apalagi buat kamu yang sedang dilanda kegalauan atau patah hati, silahkan pertimbangkan kembali, haha...
See you guys on the next review...hint-nya film yang berjudul “Double D”, hehe...pantengin terus blog kita ini ya. Comment or share jika suka. Terima kasih telah membaca.
JMFC 001 – Om Chan


2 comments:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...