Minggu, 11 Februari 2018

Review The Village (2004) : Awas tertipu!

Benci dengan apa yang disajikan diending, tapi suka dengan film tipikal beginian. Tipikal yang membangun misteri untuk penonton ikuti, bertanya-tanya, mengasah praduga dan mengambil kesimpulan, menyimpan rahasia sepanjang film tapi di ending memutarbalikkan hal-hal semua tadi 180 derajat! Twist ending. Ya, saya selalu suka dengan tipikal film seperti ini. Bertemu dengan karya M. Night Shyamalan adalah sebuah anugrah. Shyamalan adalah seorang filmmakers yang mempunyai trademark suka membuat film yang mempunyai twist ending, seperti The Sixth Sense dan Unbreakable. Lalu, bencinya kenapa? Karena twist yang satu ini membuat kita dipermainkan mentah-mentah, kena troll, Shyamalan ngetawain kita di belakang layar sepanjang 1 jam 48 menit durasi filmnya.

Gambar : imdb.com

Ceritanya, ada sebuah desa, ya sesuai judulnya The Village, yang populasinya sangat sedikit, paling sekitar 100 orang, hidup damai rukun. Tapi tidak aman sentosa, karena ada mitos yang berkembang bahwa desa itu dikelilingi oleh hutan terlarang. Hutan yang tak bole dilewati oleh siapapun, siapa yang lewat akan diserang oleh monster seperti landak setinggi manusia gitu. Jadi dari tahun ke tahun mereka seperti terisolasi dari dunia luar, mereka hanya berinteraksi dalam radius desa itu saja, ga ada yang berani ke kota. Kalo ada yang mau ke kota, harus minta ijin dulu sama tuo tengganai desa apakah diijinkan ato tidak. 

Hal ini lah yang memulai misteri, ada seorang pemuda bernama Lucius Hunt (Joaquin Phoenix) yang berencana untuk pergi ke kota dengan tujuan mencari obat-obatan. Lucius pun meminta ijin kepada para pendiri desa, namun tak disetujui. Nekat, Lucius mencoba untuk diam-diam maju melewati batas desa dan masuk ke hutan, baru beberapa langkah saja ia malah mengurungkan niatnya, berbalik badan dan kembali ke desa. Entah apa yang membuatnya mundur, apakah yang dilihatnya dihutan itu beneran monster?? Perbuatan Lucius ini nantinya akan punya konsekuensi. Apa itu? Tentu ga asik kalo diceritain, asiknya kalo ditonton sendiri.

Kamis, 18 Januari 2018

Film-Film Yang Patut Kamu Tonton Di Paruh Pertama 2018

Hai..hai..ga terasa sekarang udah berjalan minggu ketiga di bulan Januari tahun 2018. Sayangnya bagi sebagian orang masih ada yang belum tau, mau nonton film apa aja sih di 2018? Well..untuk membantu dan sekedar sharing info, nih saya akan ulas singkat film-film apa saja yang patut kita tonton di paruh pertama 2018, check the list below ya, saya urutkan berdasarkan bulan rilisnya dan film dibatasi hanya sebatas film-film box office yang diprediksi banyak peminatnya atau bagus filmnya dan yang trailernya udah keluar ya.

JANUARI

Maze Runner : The Death Cure
Ini merupakan babak final dari trilogy Maze Runner. Sebagai sebuah film terakhir, tentu ini sangat ditunggu-tunggu. Bagaimana ending dari perjuangan Thomas dkk yang melawan Wicked Company akan kita ketahui dari film ini. Sekedar merefresh ingatan, Maze Runner adalah cerita tentang sekelompok anak muda, Thomas dkk, yang dikurung dalam sebuah area khusus bernama Glade, sebagai bentuk dari eksperimen Wicked Company dalam mencari obat wabah penyakit sunflare yang menerpa bumi. So, Wicked is good or bad? Tonton minggu depan guys, kalau trailernya disini kliknya.

Gambar : screencrush.com

FEBRUARI

Black Panther
Bulan ini punya film yang lebih banyak untuk ditonton ketimbang Januari. Ada 4 film yang layak kamu tunggu. Pertama jelas Black Panther, yang merupakan film superhero Marvel Cinematic Universe (MCU), ga usah dijelasin lagi deh apa itu MCU, kelewatan banget kalo kamu ga tau, hehe. Trailer Black Panther klik disini.

Winchester
Nah selain Black Panther, ada Winchester movie, sebuah film horor supranatural terinspirasi dari kisah nyata di California. Tentang sebuah mansion yang dihuni banyak hantu yang terbunuh atas insiden Winchester Riffle. Film ini dibintangi oleh aktris senior peraih Oscar, Helen Mirren yang berperan sebagai Sarah Winchester, pemilik mansion. Untuk lebih tau seramnya mansion tersebut seperti apa, kamu bisa lihat trailernya disini.

Gambar : popsugar.com
Fifty Shades Freed
Bulan yang dikatakan bulan cinta tentu tak lengkap jika tak diisi dengan film romance. Apalagi ini adalah romance yang super hot. Ya, ini adalah lanjutan dari Fifty Shades Darker dan film terakhir dari trilogy erotic romance Fifty Shades of Grey. Masih dibintangi aktris manis idola Ridho, Dakota Johnson, film ini patut dinanti oleh para pencinta drama romantis. Tapi tidak saya rekomendasikan untuk kamu yang single, karena nanti bisa iri dibuatnya, hehe. Trailernya? Klik disini.

Rabu, 10 Januari 2018

Top 10 Movies 2017

2018 tiba, 2017 telah berlalu. 2017 menurut saya adalah tahunnya movie mania banget. Bagaimana tidak? Film-film mega blockbuster dari franchise yang berbeda-beda pada “janjian” rilis tahun 2017. Sebut saja dari Marvel ada 4 film, DC Comics 3 film, ada Transformers 5, Pirates of The Carribean 5, Alien 5, kemudian ada Star Wars VIII, Fasf Furious 8, lalu dari animasi juga ada Cars 3, Despicable Me 3, ahh...banyak lagi... 

Nah dari beberapa film yang telah saya tonton di tahun 2017, saya memilih beberapa diantaranya yang pantas untuk saya nobatkan ke dalam daftar 10 film terbaik di tahun 2017. Penilaian film terbaik ini tentu saja subjektif dari sudut pandang penilaian saya pribadi. Bisa saja kalian mempunyai list yang lain karena selera orang kan beda-beda. Pilihan film saya beragam, mulai dari action, horor, history hingga thriller, namun sayang memang tak ada drama dalam list saya, karena memang saya kurang suka drama apalagi drama sosial murni *hoaahmmm*.

Nah...Apa saja list top 10 movie saya? Check these out. Saya urutkan dari yang terendah nomor 10 hingga terbaik di nomor 1. 

Gambar : pinterest.com
10. Split
Film ini memang berada tipis di penghujung batas list, ada The Hitman Bodyguard yang juga berebut masuk list. Saya lebih memilih Split karena ide cerita dari M. Night Syahmalan ini adalah sesuatu yang unik dimana seseorang punya kelainan multiple personality. Penyakit ini tentu mengharuskan akting yang bagus dari seorang James McAvoy, membuat situasi film bervariasi. Tak hanya Avoy, Anya Taylor juga tampil memukau. Filmnya sendiri juga memiliki ending dengan twist yang tak dilupakan oleh Syahmalan.

9. Sang Pengabdi Setan
Ini layak dimasukkan dalam daftar karena mengingat ini adalah non hollywood movie, terlebih berasal dari Indonesia, yang notabene memang jarang menghadirkan film yang bisa membuat saya terkesima. Ini pun juga karena memang  sutradaranya adalah Joko Anwar, filmmaker yang memang karyanya beda dari film-film Indonesia pada umumnya. Film ini menghadirkan horor klasik yang telah lama hilang dari perfilman Indonesia. Bagaimana suasana menyeramkan tetap terjaga tanpa terlalu mengandalkan jump-scare melulu. Color grading filmnya juga pas banget untuk settingan jadul.

8. Bad Genius
Sesama produk dari Asia Tenggara, namun film asal Thailand ini unggul sedikit dari Sang Pengabdi Setan dalam list saya. Jangan bandingkan color gradingnya karena mereka berdua menampilkan pewarnaan yang sama-sama ajib. Bad Genius unggul dikarenakan tema yang mereka usung sangat simpel, Ujian Tertulis. Bagaimana tidak? Hanya bermodalkan kisah ujian tertulis para siswa sekolah, tapi bisa dibuat menegangkan ala-ala thriller. Dibalut dengan twist-twist kecil, soundtrack musik klasik, drama remaja yang rasa ke-innocent-annya masih tinggi linear dengan impian dan cita-cita mereka, film ini layak ditonton seluruh sekolah di belahan bumi manapun karena meninggalkan nilai positif untuk dunia pendidikan.

Minggu, 07 Januari 2018

Top 20 Superhero/Superhuman Movies Diluar Marvel Dan DC Comics (By Muhammad Ilham – JMFC 041)

Kalau berbicara film Superheroes di zaman sekarang, pasti yang disebut adalah Avenger, Captain America, atau yang paling baru Wonderwoman dan yang sedang tayang Thor : Ragnarok serta Justice League. Dunia superheroes entah itu di komik atau perfilman sudah dikuasai dua pemain besar, siapa lagi kalau bukan DC Comics dan Marvel Comics. Namun berbeda di Era 70’s, 80’s, sampai pada 90’s ketika perfilman superheroes dikuasai dan didominasi oleh DC dengan punggawa utamanya yaitu Batman dan Superman Franchise. Baik di layar lebar maupun pada Tv series Batman dan Superman merajai pasaran film Superhero, tapi berbanding terbalik dengan keadaan sekarang dimana Marvel hampir merajai dunia perfilman superhero entah di layar lebar maupun seri, dengan mengeluarkan satu bahkan dua film per tahunnya, walaupun DC terus mengimbangi dengan sedikit terengah-engah. Nampaknya Marvel baru menyadari potensi yang ada pada adaptasi film produk komik mereka, karena pada komik kebanyakan hanya geek dan nerd yang memang menggandrungi dunia ini, nah pada film mereka mampu menancapkan akarnya dan merambah kepada masyarakat yang malas membaca dan awam pada komik serta karakter yang mereka miliki sekaligus mencetak milyaran dollar melalui konsep film-film yang berkaitan satu sama lain. Konsep ini membentuk satu dunia tersendiri yang disebut dengan Marvel Cinematic Universe, DC yang terlambat menyadari akan hal ini mencoba mengejar dengan konsep yang sama. Konsep ini menciptakan banyak darah-darah baru penggemar tokoh Superheroes khusus pada film saja yang kecintaannya sama gilanya apabila dibandingkan dengan nerd ataupun geek pada penggemar komik. Nah pada era film Superheroes belum booming seperti sekarang, banyak film superheroes yang bukan berada pada jalur mainstream dan bukan ciptaan DC ataupun marvel, mereka mencoba mencari tempat di hati publik (kadang berhasil kadang gagal) namun bukan berarti mereka jelek, inilah tribute kepada mereka, they deserve the respect.


20. Blankman (1994)
Director: Mike Binder
Writers: Damon Wayans (screenplay), J.F. Lawton (screenplay) 
Stars: Damon Wayans, David Alan Grier, Robin Givens 

Blankman mungkin ga akan membuat anda terpesona atau berdecak kagum namun Blankman pasti akan mengocok perut anda, adalah Daryl (Wayans) pria dewasa namun berkelakuan seperti anak-anak, tapi Daryl adalah sosok yang berhati baik dan jenius. Daryl mampu membuat sampah-sampah tak berguna menjadi penemuan yang berguna (bahkan kacau). Keinginannya menjadi superhero sangat besar terutama setelah kematian neneknya. Kevin yang merupakan saudara Daryl selalu menjaga adiknya dan mengikuti fantasi sang adik untuk menjadi superhero, Kevin mengira seperti inilah cara adiknya berkabung atas kematian nenek mereka. Namun keinginan Daryl untuk jadi superhero bukan hanya jadi keinginan semata, berbekal kejeniusannya Daryl berubah menjadi “low budget superhero” yang mencoba menuntaskan permasalahan di lingkungannya. Berhasilkah Daryl? Beberapa adegan di film ini cukup konyol karena memang film ini adalah film parodi, banyak yang beranggapan Blankman adalah film superheroes dan komedi yang dangkal, tapi apa salahnya dengan film yang dangkal? Jujur Blankman membuat saya tertawa terbahak-bahak (terutama adegan di lift sewaktu Blankman akan menolong wanita melahirkan), so bagi kalian penggemar Wayans brothers Blankman patut untuk dicoba.

19. Spawn (1997)
Director: Mark A.Z. Dippé
Writers: Todd McFarlane (comic book), Alan B. McElroy (screen story) (as Alan McElroy) 
Stars: John Leguizamo, Michael Jai White, Martin Sheen 

Al Simmons (M.J. White) adalah pembunuh bayaran, ketika melaksanakan misinya dia justru dibunuh oleh majikannya sendiri Wynn (Sheen). Simmons tentu masuk neraka, namun rasa sayangnya yang kuat membuat dia melakukan perjanjian kepada iblis untuk kembali ke dunia menemui istrinya. Simmons kembali ke dunia dalam bentuk suatu mahluk yang mengerikan (namun keren) yang disebut Spawn. Simmons malu akan bentuk dirinya dan memilih untuk mengasingkan diri. Spawn marah akan dunia, di sisi lain iblis juga mengadakan perjanjian (udah kayak pengusaha aje ni iblis) dengan Wynn untuk meledakkan bom yang memicu kiamat agar neraka mampu menyerang surga. Saya ingat nonton film ini sewaktu masih SMP, betapa keren Spawn di kala itu, VFX-nya luar biasa, bersenjatakan heavy arsenal, rantai iblis dan cloak ajaib membuat Spawn terlihat semakin keren. Banyak yang mengkritik film ini, but for me, this movie was not so bad at all

Gambar : denofgeek.com
18. Mystery Men (1999)
Director: Kinka Usher
Writers: Neil Cuthbert, Bob Burden (creator: comic book series)
Stars: Ben Stiller, Janeane Garofalo, William H. Macy 

Sekelompok superhero pecundang yang tak lazim dan aneh bersatu untuk menyelamatkan kota dari ancaman supervillain. Grup aneh ini terdiri dari The Shoveler yang menggunakan sekop sebagai senjatanya, Blue Rajah yang mahir melempar sendok dan garpu, The Bowler yang menggunakan lembaran bola bowling sebagai senjatanya, Mr. Furious yang kepengennya marah mulu, The Spleen yang memiliki kekuatan kentut dan Invisible Boy yang mengklaim memiliki kekuatan menghilang tapi kalo orang ga ada yang ngeliatin. Entah kenapa sekilas Mystery Men seperti parodi komedi superheroes (memang iya sih) namun sebenarnya Mystery Men di adaptasi dari komik berjudul sama keluaran Dark Horse Comics (franchise yang cukup terkenal selain Marvel dan DC). Sepanjang film memang kita akan diajak tertawa terbahak-bahak oleh team superhero paling tidak effisien dan tidak kompeten ini. Mulai dari perseteruan satu sama lain, sampai kepada mencari sosok legenda Sphinx untuk mengasah kekuatan mereka. Yah gimana kita ga ketawa kalo superhero yang harus melawan supervillain hanya memiliki kentut sebagai senjatanya, but trust me, it works.

17. Flash Gordon (1980)
Director: Mike Hodges
Writers: Lorenzo Semple Jr. (screenplay), Michael Allin (adaptation) 
Stars: Sam J. Jones, Melody Anderson, Max von Sydow 

Banyak yang tidak terlalu menyukai film Flash Gordon baik penggemar komiknya atau penonton yang awam dengan tokoh ini, efeknya yang terbilang jelek, akting Sam Jones yang payah (kebanyakan dialognya juga di dubbing justru memperburuk keadaan). Bercerita tentang pahwalan Football Amerika yang bertualang ke luar angkasa menuju Planet Mongo bersama pacarnya ternyata Planet Mongo dikuasai oleh Kaisar Ming yang Kejam dan Ming berusaha untuk mengambil pacar flash, membunuh flash serta mengancam kehidupan di Bumi, maka Flash Gordon harus berusaha menghentikan niat jahat Ming. I know its little bit chessy, script yang buruk, akting yang jelek, dialognya pun sedikit memalukan, berbicara SFX?, SFX nya bisa disebut konyol, tapi entah kenapa bagi saya film ini menghibur, bisa dibilang Flash Gordon salah satu guilty pleasure bagi saya. Dan lagi theme songnya selalu terngiang-ngiang di kepala saya, Flash…..aaaa….aaaa.

Jumat, 27 Oktober 2017

Why Indonesia, Why? Sebuah Ulasan Komparasi Perfilman Indonesia Dengan Perfilman Luar Negri

Ya, kenapa Indonesia, kenapa? Selain The Raid movies dan Pintu Terlarang, kenapa sih Indonesia ga bisa bikin film yang dapat menjadi perbincangan movie mania di berbagai belahan dunia? Maksud saya bukan film yang berprestasi di festival film ya, yang saya maksud adalah “Cult Movies”. Apa itu cult movies akan saya jelaskan di paragraf lain setelah ini. Kalau bicara festival film, Indonesia memang pernah beberapa kali mempunyai wakil yang berprestasi di festival film luar negri, tapiiiii....tapi nih ya, film-film tersebut menurut saya, menurut saya lho ya, ini subjektif dari sudut pandang saya sendiri, yang mungkin bisa dan sah saja berbeda dengan yang lain, menurut saya film Indonesia belum mempunyai ide cerita yang unik. Sebut saja yang baru-baru ini meraih penghargaan adalah film “Marlina : Pembunuh Dalam Empat Babak”, yang sinopsis ceritanya menurut saya masih ordinary alias umum, tentang balas dendam, tapi ga tau ya kalau nantinya (mudah-mudahan) bisa menjadi cult atau ga karena ini baru rilis. Termasuk juga film-film Indonesia lain yang meraih penghargaan Festival Film Internasional di tahun-tahun sebelum ini, rata-rata masih bersinopsiskan drama keluarga atau kehidupan sosial. Beberapa kadang hanya berupa film pendek atau berkutat di film dokumenter saja. Yang saya masih ingat adalah Donny Damara nyabet Best Actor di Asian Film Festival dari film Lovely Man yang sinopsisnya tentang drama keluarga seorang ayah transgender kepada putrinya.

http://www.newsth.com/bintang/49913/membanggakan-marlina-si-pembunuh-dalam-empat-babak-tayang-dan-harumkan-indonesia-di-festival-film-cannes-2017/
Gambar : newsth.com

Ya, tulisan ini mungkin memang ga penting-penting amat untuk dibaca, ini hanyalah rasa gundah gulana saya sebagai seorang movie mania yang mengharapkan filmmakers Indonesia dapat membuat film yang bisa menjadi perbincangan di seluruh dunia. Film-film yang bagaimana yang saya maksud? Film yang mempunyai ide cerita yang original, yang beda, berkualitas, atau cerita yang unik, out of the box, anti mainstream, weird ato bahkan bizzare. Tentu bukan film-film action atau sci-fi seperti film hollywood yang visual effectnya sangat canggih, karena ya you know lah, urusan teknologi, perfilman Indonesia ketinggalan sangat jauh, 20, 30, bahkan tertinggal 50 tahun kebelakang dari Hollywood. Lihat saja, tahun 90an Hollywood sudah bisa membangkitkan Dinosaurus dari kuburnya lewat film Jurassic Park, dan tahun 70an bahkan Hollywood sudah bisa terbang ke luar angkasa lewat Star Wars-nya. Jelas dari sisi VFX ini perfilman kita tak bisa diharapkan dapat menyusul dengan cepat dalam jangka waktu dekat. Filmmakers Indonesia pada umumnya masih bergantung pada pangsa pasar lokal, karena mereka berhubungan dengan produser yang hanya melihat dari segi keuntungan semata. Apa yang sedang disukai oleh penonton di Indonesia, itulah yang terus dibuat. Film-film Indonesia yang laris itu ya ceritanya itu-itu saja, tak lebih dari drama percintaan, cinta segitiga, atau masalah religi dan poligami, biografi pejabat atau sejarawan, komedi garing bullying, dan horor setan-setanan. Bahkan sebagian besar film itu diisi aktor-aktrisnya itu-itu aja, dia lagi, dia lagi, apa cuma dia yang bisa akting dari 250 juta penduduk Indonesia ini?? Hanya lokasi syuting aja yang berubah-ubah, meskipun lokasi syuting itu diluar negri, bagi saya itu tak cukup mengangkat filmnya jadi spesial, karena cerita masih ga berkembang, hanya nontonin artisnya jalan-jalan Eropa atau Amerika.

Menurut teman saya Nendra, selain faktor produser dan pangsa pasar lokal, faktor lain yang menyebabkan filmmakers Indonesia enggan membuat film yang unik adalah karena tidak adanya sistem rating atau nilai kualitas sebuah film di Indonesia layaknya Rotten Tomatoes atau Metacritic. "Prestasi" film di Indonesia sepertinya lebih diukur dari jumlah penonton, lihat betapa seringnya postingan di sosial media atau internet tentang capaian jumlah penonton sebuah film Indonesia, seolah-olah jumlah penonton menjadi sebuah kebanggaan, dan pertanda film itu bagus, padahal ngga jaminan sama sekali. Maka ada baiknya jika kita mempunyai sebuah wadah/forum yang menilai, mengkritik dan memberikan rating untuk film-film Indonesia seperti Rotten Tomatoes agar para filmmakers dapat termotivasi untuk terus memperbaiki kualitas film mereka atau menciptakan sebuah film yang unik dan menjadi perbincangan dunia.

Selasa, 24 Oktober 2017

Review Hardcore Henry (2015) : 2 Kata : Sokil Gob! Action Brutal Paling Gila dan Terbaik

Jika ada satu film action yang paling membuat saya penasaran bagaimana mereka membuatnya? Ini lah dia, Hardcore Henry. Sebelumnya tentu telah banyak rilis film-film action yang menawarkan adegan action brutal seperti The Raid, Crank, Ninja Assasins, 300, Kingsman The Secret Service dan lain sebagainya. Sesuai judul saya diatas, 2 kata yang saya ucap setelah menonton ini adalah gokil abisss! Standing applause deh, berani tarok angka 9/10, dijamin deh ini film keren pake banget, dengan syarat siapkan aspirin dan obat mual kalau nonton karena tidak semua orang sanggup menelan film ini mentah-mentah sepanjang 90 menitnya. Banyak hal yang membuat film ini spesial, namun yang pasti satu hal yang paling utama dan paling pertama yang membuat film ini sangat spesial adalah konsep point of view-nya yang FPS (First Person Shooter). Artinya, film ini disajikan dengan sudut pandang satu orang aktor utama saja, si Henry, sepanjang film, seperti kamu sedang bermain game Time Crisis buat kamu anak muda jaman 90an atau Call Of Duty buat kamu anak-anak jaman now. Udah kebayang kan gimana sensasinya menjadi “aktor” yang terlibat langsung dalam scenenya, kamu adalah dia dan dia adalah kamu. Untuk film lain dengan jenis point of view yang unik dapat juga kamu baca di artikel saya berikut ini : Film-Film Dengan Gaya Visual Unik.

Gambar : imdb.com

Film yang syuting dengan menggunakan kamera Action Cam ini menyajikan full-throttle-action sepanjang durasinya, gas terus, jangan harap bisa menghela nafas panjang, karena sutradara tak memberikan kesempatan tersebut. Dia tahu betul bahwa film ini all about action, dia memang tak mengeksplorasi banyak untuk tumbuh kembang karakter tokoh-tokohnya. Dia juga tak merangkai plot cerita yang kompleks karena yang dia ingin lakukan adalah memberikan sebuah pertunjukkan seru like everyone never seen before. Saya pribadi sangat suka film-film yang mengusung ide atau konsep yang original seperti ini, yang baru, yang beda, yang tidak mengikuti pasaran, out of the box atau anti mainstream, I’m sick of reboots and remakes, need something original. Dan atas dasar itu film ini bisa saya bilang adalah salah satu masterpiece.

Kamis, 05 Oktober 2017

Battle Royale (2000) : Sebelum The Hunger Games Ternyata Inilah Yang Lebih Dahulu Sang Pioner Teen Death Games

Kalau sebut judul film The Hunger Games, mungkin sebagian besar orang pasti kenal dan tahu itu film apa. Coba diajukan nama “Battle Royale”, tak semua orang yang tahu, termasuk saya sebelum ini, hehe... Orang-orang mengenal The Hunger Games sebagai film yang menampilkan teen death games yang bagus, namun jauh sebelum itu, telah hadir lebih dahulu film Battle Royale, yang menurut beberapa orang sebagai perintis alias pioner teen death games. Film-film sejenis death games yang muncul setelahnya yaitu The Purge, The Cabin In The Woods, The Belko Experiment, The Tournament dan The Condemned. Film dari negeri jepang ini menjadi sebuah film classic cult yang sampai saat ini terus menjadi perbincangan orang di seluruh dunia karena bagusnya dan tentu karena kontroversinya. Mana ada sih death games yang tidak kontroversi, hehe...


Bicara soal cerita, pada awal film, ada narasi yang menyebutkan bahwa negara sedang dalam kondisi buruk, pengangguran banyak, kriminalitas remaja meningkat dan orang dewasa kehilangan kepercayaan takut terhadap yang muda. Oleh karena itu pemerintah menciptakan Reformasi Pendidikan Milenium alias BR Act.  Nah setiap tahun digelar sebuah “death game”. Format gamenya adalah dimana sejumlah anak remaja sekitar 1 kelas, dikumpulkan di sebuah tempat terpencil seperti pulau tak berpenghuni. Permainannya adalah mereka diharuskan membunuh satu sama lain sampai tersisa hanya 1 orang yang kemudian dinyatakan sebagai pemenangnya. Persis seperti The Hunger Games bukan? Namun respon kritikus sedikit lebih baik dari beberapa yang membandingkannya dengan The Hunger Games. Sebut saja yang paling mencolok adalah ucapan dari sutradara favorit bro Ilham, Quentin Tarantino, yang menyatakan jika ada sebuah film yang ia harapkan untuk menyutradarainya sejak ia menjadi sutradara adalah film Battle Royale ini. 

Lalu, dimana sih letak lebih baiknya? Letak bagusnya?

Rabu, 04 Oktober 2017

Top 10 Film Yang Menyinggung Atau Berhubungan Dengan Overpopulasi

Tahukah anda bahwa jumlah manusia yang hidup diatas bumi saat ini telah mencapai angka 7,5 milyar jiwa??? Silahkan cek updatenya di world population meter ini. Sekedar pembanding yang paling gampang adalah lihat grafik pada gambar di bawah. Pada tahun 1900, kurang lebih satu abad lalu, jumlah penduduk hanyalah +/- 2 milyar jiwa saja. Yang kemudian meningkat sangat drastis pada tahun 2000an ini menjadi 6 milyar jiwa. Dan jika garis tanjakan itu diikuti, maka diprediksi akan terjadi ledakan penduduk dalam abad ini juga. Mungkin sebagian dari kita akan menjawab : “So, what’s the matter? Hidup masih baik-baik ini kok, kalaupun terjadi ledakan penduduk di masa depan itu mungkin kita udah pada mati, jadi ga ngaruh apa-apa di kita. So why should I f*cking care?”. Hell yeah...kalian memang mungkin udah mati, tapi warisan kematian yang kalian tinggalkan untuk anak, cucu dan cicit kalian adalah sebuah kiamat kecil, bumi yang sekarat, tertindih oleh padatnya penduduk, alam yang tergerus untuk kebutuhan hidup manusia. So, jika kalian sayang anak kalian, you should really f*cking care, right?.

Gambar : treehugger.com

Kita sendiri dapat membayangkan secara simpel apa saja akibat yang terjadi karena overpopulasi ini. Sebut saja misalnya lama-lama hutan akan habis, karena lahannya di pakai untuk membangun gedung atau perumahan baru, kayu-kayunya juga habis dipakai untuk terus memenuhi pesanan perabot rumah tangga, bukit semen akan tergerus habis untuk memenuhi permintaan konstruksi bangunan, bumi makin bolong akibat bijih besi di perut bumi terus ditambang, kendaraan tambah banyak sementara jalan aspal ga nambah-nambah, macet dan polusi udara akibat banyaknya kendaraan tentu makin parah, ozon di atmosfer makin tipis, hingga bumi makin panas, es di kutub mencair akan menjadi banjir sangat besar. Belum lagi banyaknya pengangguran dibandingkan lowongan kerja yang tersedia. Manusia hidup membutuhkan biaya, ini akan menjadi katalis yang paling kuat terhadap meningkatnya angka kemiskinan dan kemudian diikuti dengan tingkat kriminalitas karena keterpaksaan untuk memenuhi biaya kebutuhan. Sumber daya alam ini terbatas, yang konsumsi banyak, maka bisa jadi mungkin suatu saat akan terjadi perebutan sumber daya untuk dapat bertahan hidup. Final result? Jawab sendiri aja dalam hatimu.

Overpopulasi memang suatu masalah yang sangat concern disinggung oleh banyak pihak diseluruh belahan dunia sejak jaman milenial ini. Termasuklah para praktisi di bidang perfilman. Mereka yang merasa perlu untuk menyampaikan pendapat tentang overpopulasi ini berani untuk membuat karya yang isinya terdapat latar belakang alasan, ide, doktrin, dan akibat dari masalah overpopulasi ini. Ada yang masuk akal, tapi juga ada yang radikal. Doktrin yang dikumandangkan juga tak sembarangan karena disadur dari teori ilmiah dan ilmu pengetahuan. Gambaran bumi yang dystopia pasca mini apocalypse akibat dari overpopulasi juga menjadi imajinasi yang sangat berasa nyata di depan mata. Nah, dari itu semua, saya memilih dan membahas singkat 10 film yang menurut saya menyinggung atau menggambarkan tentang overpopulasi. But maaf nih, artikelnya tidak bisa saya buat spoiler free, karena sudah tentu mengandung spoiler, major spoiler malah, hehe...ya iya lah karena udah ketahuan bahwa ini film berlatar atau bersetting tentang masalah overpopulasi. Check this out :

Gambar : sonypictures.com
Film yang diangkat dari novel ini merupakan film ketiga dalam urutannya setelah sebelumnya ada The DaVinci Code dan Angels And Demon. Film ini dibintangi oleh aktor ternama Tom Hanks dan Felicity Jones. Ron Howard, yang menukangi installment ini dari film pertama, tetap membawa ciri khas film, yaitu teka-teki misteri yang dibumbui dengan crime-thriller-action plus banyak unsur pariwisatanya, hehe... Ya iyalah karena di tiap filmnya sang aktor banyak pergi ke tempat-tempat yang merupakan objek wisata sejarah yang menjadi clue atau hint dari teka-teki misteri yang coba dipecahkan, sehingga penonton berasa selalu diajak jalan-jalan wisata ke berbagai belahan Eropa. Film ketiga ini cukup bagus meskipun tak sebagus predesessornya. Tom yang berperan sebagai Robert Langdon, seorang ahli sejarah dan simbol, dilibatkan oleh WHO untuk dapat membantu mereka mengungkap sebuah rahasia besar dari seorang ilmuwan bernama Bertrand Zobrist. Rahasia itu adalah sebuah zat penemuan, yang dianggap dapat mengancam keselamatan penduduk dunia.

Apa yang menarik dari film ini? Dari opening scenenya saja sudah menyatakan bahwa ini tentang overpopulasi. Zobrist adalah ilmuwan yang sangat concern tentang masalah overpopulasi. Saya juga sangat setuju dengan presentasinya yang menyatakan manusia saat ini jumlahnya sudah sangat over dan mereka bereproduksi sangat cepat dan banyak. Zobrist menggambarkannya seperti bakteri dalam gelas kaca, yang dengan cepat membelah sel tunggal menjadi ganda, hingga gelas tersebut tidak lagi muat untuk menampungnya. Gelas itu adalah bumi kita, dan kita adalah bakterinya. Ilmuwan yang diperankan oleh Ben Foster ini berhasil menciptakan zat khusus yang dia anggap sebagai solusi untuk masalah overpopulasi ini. WHO mengira zat itu adalah senjata biologis pemusnah masal sehingga upaya melepaskan zat tersebut harus mereka cegah. Mengetahui hal ini, Zobrist telah dengan sangat cerdas membuat rencana pelepasan zat yang melibatkan banyak pihak dan tentu dengan teka-teki misteri yang menjadi ciri khas film. Sayangnya, endingnya berbeda dengan versi novelnya, terutama tentang kemampuan zatnya. Di film, zat ini memang untuk membunuh dan tak sempat dilepaskan, sedangkan di buku zat itu berhasil dilepaskan dan kemampuannya "hanya” untuk menghambat proses fertilisasi pada organ reproduksi manusia. Bertujuan untuk mengecilkan persentase pembuahan dan tentu berujung untuk menurunkan pertumbuhan penduduk. Ini sekaligus menjawab pertanyaan kita ya bro Nendra.

Selasa, 03 Oktober 2017

5 Provider Resmi Penyedia Layanan Nonton Film Secara Streaming

Menonton, selain memang karena melekat sebagai hobi, saat ini menonton itu sudah seperti sebuah kebutuhan bagi sebagian orang yang ingin meluangkan waktu untuk merefresh pikiran pasca rutinitas sehari-hari. Kegiatan menonton biasanya identik dengan bioskop, karena bioskop memang sebuah tempat yang menyediakan ruang khusus untuk orang menonton dalam sebuah teater yang besar dan dengan film-film terbaru, baik dalam negri maupun luar negri, genre apapun. Namun, sayangnya masih banyak orang yang belum punya banyak waktu luang dan kesempatan untuk dapat menghadiri sebuah showtime movie di bioskop, dikarenakan kesibukan pekerjaan atau masalah finansial. Untuk merespon hal ini, saat ini sudah ada beberapa provider yang menyediakan film secara streaming via internet. Provider ini adalah layanan yang bisa diakses oleh pengguna untuk dapat menonton film secara online maupun offline. Layanan ini bisa diakses melalui komputer atau handphone, jadi kapanpun dan dimanapun, orang dapat menonton film yang diinginkannya. 

Hanya saja, kelemahan dari layanan ini yang paling mendasar adalah film-film yang disediakan cenderung bukanlah film-film yang baru saja rilis, karena film yang baru rilis biasanya hanya ditayangkan di bioskop terlebih dahulu, baru deh sekitar 3 bulan setelah turun layar dari bioskop baru muncul di streaming. Tapi, kelebihannya tentu film yang tersedia lebih banyak dan lebih lengkap daripada di bioskop yang cuma sedikit dan ditayangkan dalam beberapa hari saja. Nah, kami telah memilih beberapa provider yang menyediakan layanan nonton film via streaming ini, berdasarkan popularitasnya, kemudahaan akses, fitur-fitur pendukungnya, kelengkapan filmnya, dan yang terpenting adalah semuanya legal. Oya perlu diperhatikan bahwa artikel ini hanya menyajikan provider yang menyediakan film dalam artian common movies, film-film layar lebar yang tayang di bioskop pada umumnya dan dikenal masyarakat. Karena memang ada juga provider lain yang menawarkan nonton streaming tapi isinya adalah film dokumenter, film indie, film klasik, TV Series atau Anime. 

Nah apa saja provider nonton streaming ini? Berikut ringkasannya :

Gambar : thenextweb.com

Google Play Movies & TV
Jika kamu mencari film Hollywood yang terbaru, Google Play Movies & TV adalah rekomandasinya. Ini adalah provider yang paling gampang untuk diakses, koleksinya cukup update, dan murah. Dari namanya saja kita udah tau bahwa ini adalah bagian dari produknya Google. Aplikasi ini bisa kamu download di Play Store, so sangat gampang. Halaman muka pada Google Play Movies & TV langsung menawarkan beberapa film dalam banyak kategori, contohnya film yang baru tiba, film yang diskon 30%, hingga film berdasarkan genre. Film yang ditawarkan ini dapat kita tonton dengan 2 pilihan : sewa atau beli, yang tagihannya dapat dibayarkan dengan cara menggunakan kartu kredit atau pulsa. Untuk sewa 1 film berkisar di harga Rp. 19.000 s.d Rp. 29.000, tersedia dengan pilihan SD atau HD. Jika kamu memilih untuk menyewa, maka tempo sewa yang kamu punya adalah 30 hari untuk memulai/klik menontonnya. Dan jika sudah mulai menonton, kamu hanya boleh menyelesaikan nontonnya dalam kurun waktu 48 jam sejak start. Ya misalnya hari ini kamu pause nontonnya karena ada urusan, maka kalo mau lanjutin nonton kamu harus lanjutin dalam kurun waktu kurang dari 48 jam kedepannya. Lain halnya jika kamu membeli filmnya, kamu bebas menontonnya kapan saja tanpa batas waktu. Range harga beli filmnya berkisar di angka Rp. 50.000 sampai dengan Rp. 150.000. Film yang kamu beli akan masuk ke dalam media penyimpanan offline gitu deh, bukan berupa file yang bisa kamu copy atau pindah-pindahkan ke device lainnya. Tapi tentu kamu bisa menontonnya di HP lain dengan menggunakan akun Google kamu ketika log in. Google Play Movies & TV juga menampilkan informasi filmnya termasuk trailernya. Kekurangan Google Play Movies & TV adalah koleksi filmnya belum terlalu banyak, terutama film jadulnya atau film minornya, seperti film-film diluar Hollywood. Kebanyakan memang film-film Hollywood terbaru atau film populer saja, contohnya saya coba searching Donnie Darko dan 3 Idiots belum tersedia, tapi aplikasi menawarkan opsi “Wishlist” agar suatu saat jika filmnya telah masuk kita akan dapat pemberitahuan. Keunggulan dari Google Play Movies & TV ini adalah sudah banyak filmnya yang mempunyai subtitle Indonesia.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...