Senin, 11 September 2017

Review Music And Lyrics (2007) : Salah Satu Film Komedi Romantis Favorit Dari Hugh Grant

Sebenarnya sudah lama saya sering lihat box VCD film Music and Lyrics di rak tempat penyewaan VCD favorit saya, bahkan semenjak film ini dikeluarkan copy originalnya (artinya sekitar tahun 2008) baik judul dan cover VCD film ini sudah sangat sering saya lihat, tapi setiap kali saya melihatnya entah kenapa selalu saya lewatkan, mungkin karena judulnya, Music and Lyrics. Hal ini menimbulkan kesan kalau film ini adalah film musikal (karena saya suka film mengenai musik akan tetapi film musikal bukanlah genre favorit saya). Namun beberapa waktu yang lalu pada Instagram yang bertemakan tahun 90an memposting foto Hugh Grant dan isi captionnya adalah “sebutkan film Hugh Grant Favorit” anda, dan Music And Lyrics merupakan salah satu judul yang paling sering disebut dalam komentar postingan ini. Jadi timbul pertanyaan dalam hati “Is it really that good? So lets talk about it.”.

Gambar : imdb.com

The Story
Alex Fletcher dulunya adalah seorang penyanyi aliran musik Pop yang amat terkenal, Alex merupakan bagian dari sebuah band yang bernama PoP, namun ketenarannya memudar setelah band nya bubar, sekarang Alex hanya mendapat gig kecil di acara reunian sekolah ataupun di taman-taman hiburan, namun ketika manajernya memberitahu kalau Cora (Pop Star yang amat terkenal dengan persona gabungan antara Britney Spears dan Madonna wannabe) menginginkan Alex menulis lagu untuknya dan berduet bersamanya, dengan syarat lagu yang ditulis Alex harus diselesaikan dalam waktu yang telah ditentukan dan gagal memenuhi syarat tersebut maka Cora akan memilih orang lain untuk menulis lagu untuknya, Alex harus mencari penulis lirik yang handal, dan pilihannya jatuh pada Sophie (Drew Barrymore) seorang yang ditugaskan merawat tumbuhan Alex dan bukanlah seorang penulis lirik.

Senin, 04 September 2017

Baby Driver (2017) : Gila Asik Bener Ni Film

Gila..Asik bener nih film, saya rate 9,4/10!

Ya, itulah kalimat pertama yang keluar dari mulut saya tepat selangkah setelah melewati pintu keluar teater sehabis nonton film Baby Driver. Bener-bener asik, pake banget. Wait..sebelum langsung kepada inti, kita pemanasan dulu. Film apa ini sebenarnya? Pertama kali saya ketemu film ini lewat Trailer Official di Youtube dengan backsound yang keren dari Boga - Nowhere To Run. Opening scene pada trailernya memperlihatkan seorang anak muda cute kayak saya, hehe..., sedang mendengarkan musik dengan headsetnya, wah...saya banget nih, hehe...sesama suka dengerin musik, kalo udah pakai headset berasa autis. Si anak muda ini diperankan oleh Ansel Elgort, yang biasanya suka main mewek-mewek di film drama, karena badannya yang kurus dan wajahnya yang imut kayak boyband. But...alih-alih nyanyi ataupun ngedance ala boyband, justru Ansel disini tampil beda dengan "boyband" yang beda pula, tepatnya boyband sangar dan bertato, kayak Jon Bernthal (Griff) dan Jamie Foxx (Bats). Boyband yang bernyanyi di belakang kemudi, berdansa dengan mobil sport, bergaya dalam merampok bank, lirik-lirikan saat sedang kebut-kebutan dan bunuh-bunuhan. Well...this is what I call love at the first sight.


Love at the second sight datang ketika rilis trailer "TeKillYah" dimana dalam trailer tersebut, selain lagu Tequila dari Vinnie Maniscalco yang diremix oleh The Champs memang asik betul, karena disana juga dicantumkan penggalan review positif dari media dan kritikus film, seperti "Beyond F*cking Awesome" dari Rolling Stone, "5 stars" dari Empire Magazine, bahkan termasuk 100% at Rotten Tomatoes (kala itu, sekarang 93%), WTF...!!! Film apa ini??? Kalo liat plot story kayaknya udah pasaran yah, perampokan bank, good guy and bad guy, tembak-tembakan dan kebut-kebutan, sampai adanya bumbu asmara dengan gadis cantik. Cuma dari trailernya saja saya udah suka banget. Bukan karena liat muka si Ansel ya, ane masih normal bookk...haha... Tapi melainkan karena film ini film action yang beda,.

Apa bedanya?

Minggu, 03 September 2017

Review Warkop DKI Reborn : Jangkrik Boss - Part 2 (2017) : Nostalgia Penikmat Komedi Tempoe Doele (By Muhammad Hasbiy - JMFC 066)

Siapa yang tidak kenal dengan Warkop DKI? Dono, Kasino dan Indro (DKI) adalah legend besar dalam dunia perfilman Indonesia. Tahun lalu, dibuatlah sebuah film yang bisa dibilang reboot untuk mengangkat dan mengingat kembali sosok mereka ke masa perfilman sekarang. Film itu berjudul Warkop DKI : Jangkrik Boss - Part 1. Sesuai prediksi banyak orang, film ini menjadi film yang sangat laris bahkan memecahkan rekor film terlaris sepanjang masa mengalahkan Ada Apa Dengan Cinta 2 dan Laskar Pelangi karena sebegitu besarnya kekangenan masyarakat akan lelucon konyol ala mereka.

Gambar : Falcon Picture

Nah, tahun ini dilanjutkan dengan rilisnya Part ke-2 nya. Plotnya tentu tentang bagaimana DKI plus Sophie melanjutkan petualangan mereka mencari harta karun di Malaysia. Seperti part sebelumnya, film yang kedua ini tetap berisi banyak pernak-pernik ala Warkop DKI jaman dulu. Mulai dari callback kata-kata yang pernah menjadi judul-judul film DKI pada jaman bengen, kemudian juga ada comotan dari film-film jadul lain seperti filmnya si raja dangdut, Bang Rhoma Irama, aktor laga top Barry Prima, serta tak lupa tayangan tarian, syair, dan lelucon khas DKI.

Review The Battleship Island (2017) : Perang Epic Antara Tahanan Korea Dengan Tentara Jepang (By Muhammad Hasbiy - JMFC 066)

Lagi-lagi kali ini saya tonton a based on true story film. Dari judulnya aja udah cukup oke kayaknya, The Battleship Island. Awalnya saya kira film ini tentang gontok-gontokan di kapal, semacam Pirates Of The Carribean-nya edisi Asia timur, haha... But it was totally wrooooong... Salah saya juga sih, ga lihat trailernya dulu, hehe... Film ini menceritakan tentang sekumpulan penduduk Korea yang dipekerjakan secara paksa di tambang Jepang di Pulau Hashima pada tahun 1945. 

Gambar : imdb.com

Sekitar 400an orang Korea ditawan dan dijadikan budak oleh negara Jepang. Mereka dipaksa kerja di pertambangan yang tempatnya 1 KM dibawah permukaan laut sehingga membuatnya "inescapable prison". Keseharian pekerja digambarkan secara brutal dan detail, hingga pada sebuah titik keinginan untuk merdeka itu muncul. Merdeka, membebaskan diri dari perbudakan Jepang. Merdeka itu bukan cuma soal perkataan dan teriakan. Ah...malu euy...disaat orang lain mengangkat senjata untuk meraih kebebasan bernegaranya, saya malah hobi cekikikan pas upacara kemerdekaan. Berjuang untuk merdeka tidak pernah sebercanda itu, tidak pernah segampang upload status tulisan "Merdeka" atau "Dirgahayu", tidak juga diukur dari foto tujuh-belasan di media sosial kamu.

Review American Made (2017) : Really Unbelievable True Story (by Muhammad Hasbiy - JMFC 066)

Pada awal penayangan, disebutkan bahwa film ini based on true story, sehingga saya sempat nyeletuk ''Owh...kisah nyata, kagak ada efek wah dong ini, bakalan krik..krik aja nih...''. Ini merupakan film ketiga Tom Cruise yang bergenre biografi, setelah Born on the Fourth of July (1989) dan Valkyrie (2008). But..ehm...ternyata lumayan keren juga. Tidak banyak komedi yang disajikan, itupun harus ''digali'' terlebih dahulu. Tetapi saya merasa cukup terhibur. Plot dibuat sedemikian rupa sehingga tidak terasa hambar. 

Gambar : imdb.com

Pengalaman sang sutradara film, Doug Liman, yang kita kenal dari karya film-film actionnya yang berjudul Edge Of Tomorrow dan Jason Bourne movies, berhasil menjaga konsistensi film ini sehingga penonton (atau dalam kasus ini, saya) tidak merasa bosan meskipun ini adalah sebuah biography. Twistnya juga lumayan bagus, ga ketebak-ketebak amat walaupun akhirnya ketebak juga (naon sih...). Endingnya juga bagus, ga kriuk-kriuk. Akhir kata tidak perlu film dengan efek yang membahana, cukup dengan alur cerita yang jujur dan sederhanapun sudah dapat membuat saya terpana.

Rabu, 30 Agustus 2017

Review : Seabiscuit (2003) : Lebih Dari Sekedar Drama Pacuan Kuda (By Muhammad Ilham - JMFC 041)

Film tentang pencapaian memang menarik untuk disimak, terutama dalam bidang olahraga, it's sort of my thing you know, entah itu fiksi ataupun dari kisah nyata baik biografi maupun sebuah kelompok secara keseluruhan, beberapa favorit saya ada Rush (2013), Greatest Game Ever Played (2005), Coach Carter (2005), Remember The Titans (2000), etc. Seabiscuits sendiri sebenarnya film yang bisa dibilang lawas (hitung hitung udah satu dekade rilisnya) namun saya sendiri baru tertarik untuk menontonnya sekarang, salah satu penyebabnya adalah tema “kuda” yang memang agak asing bagi saya, namun karena genre sport adalah salah satu dari main genre saya, jadi apa salahnya kalo dicoba, okay lets talk about the movie, Skadaddle…...

Gambar : joblo.com

The Story
Dengan latar belakang era Depresi Besar, seorang anak yang ditinggalkan orang tua yang mempunyai passion menjadi jockey, seorang animal trainer yang tak dikenal, dan pengusaha sukses yang depresi akibat kematian anaknya, ketiganya dipertemukan oleh seekor kuda undersize alias mungil untuk ukuran race horse yang tidak pernah dihargai, yang sering di abused dan diremehkan serta dijadikan kuda sparing bagi kuda unggulan. Ketiga pria dan seekor kuda ini bersatu dengan ambisi untuk membuat hal yang tak mungkin menjadi mungkin, mampukah mereka melakukannya?

Rabu, 09 Agustus 2017

Review Annabele Creation : Jauh Lebih Horor Ketimbang Annabele Yang Pertama

Nama David F. Sandberg mungkin masih awam di telinga para movie mania. Tapi dalam sekejap dia dapat menjadi salah satu sutradara yang menjadi perbincangan. Karena dalam kurun waktu lebih kurang hanya 1 tahun lebih, dia telah membesut 2 film horor. Lights Out dan Annabele Creation, yang kedua film tersebut meraih respon sangat positif baik dari rating para kritikus maupun box office yang laris manis tanjung kimpul. Langkah naik dan tinggi dari David, yang kita baru kenal dia lewat short movie Lights Out yang kemudian diangkat ke layar lebar dan di produseri sutradara terkenal, James Wan, tapi tetap di sutradarai David. 

Gambar : wikipedia.org

Berkat kesuksesan Lights Out, dia langsung dipercaya menggarap sebuah film franchise film horror yang udah punya nama, Annabele. Wah, tentu ini sesuatu yang signifikan dan penting bagi karir dia. Semua itu dijawabnya dengan sensasional. Karena film Annabele Creation yang digarapnya ini menurut saya jauh lebih baik ketimbang Annabele yang pertama, ratingnya 8,2/10 deh, bahkan saya bisa bilang untuk bagian horornya lebih baik dari Conjuring 2. Kenapa? Berikut ulasannya.

Dalam film Annabele Creation ini, kita dibuat ikut bercengkram ria dengan bangku duduk kita, karena horor yang disajikan bener-bener dipandu secara apik, tanpa banyak basa basi, singkat, tepat, tapi padat, hanya bersetting di rumah jadul nan terpencil. Boneka Annabele tuuuu...cuma duduk aja dia udah terliat seram kan, apalagi pake bergerak segala, hoho... Dan ya cukup memuaskan untuk penonton dalam mengetahui origin story dari boneka "imut" satu ini. 2 film layar lebar Sandberg memang durasinya singkat-singkat aja, tapi tak membuat kita kehilangan momen ketakutan yang mengerikan. Terkadang kalo kepanjangan durasi dan drama juga dapat merusak momen seperti kejadian di The Conjuring 2.

Review Valerian And The City Of Thousand Planets (By Ary - JMFC 050) : Scifi Fantasy Yang Sangat Unik dan Futuristik

Bagaimana jadinya kalau film "Avatar", "Star Wars", "Star Trek" bertemu dan dijadikan satu?Mungkin film inilah jawabannya. Jangan ditanya tentang visualnya yang "aje gileeee", itu mungkin kata yang tepat,  sungguh memanjakan mata dengan tampilan warna-warna  grafis yang cerah, kemudian musik klasik sebagai pembuka dari David Bowie pun terdengar enak ditelinga. Adegan awal diplanet Mul, planet yang seperti pantai-pantai di Hawaii yang eksotis itu, yang katanya surganya alam semesta pun terlihat sangat menawan, ditambah dengan penghuni planetnya, "The Pearls", makhluk yang menyerupai manusia yang sangat cinta damai,  lihat cara mereka berkomunikasi satu sama lain, mungkin kita bisa mencontoh gesture mereka dalam memberikan salam,  "sangat santun". 

Gambar : imdb.com

Luc Besson memang sangat visionary deh. Sutradara yang membesut The Fifth Element dan Lucy ini menggambarkan masa depan dengan sangat futuristik, terlihat dari kota Alpha,"The city of a thousand planets". Kota ini sendiri berkonsep seperti dokter, programmer dan petani, tempat dimana alien dan manusia yang saling menerima satu sama lain, berbagi ilmu pengetahuan dan kebudayaan, yang digambarkan seperti neuron saraf, board matrix, dll, menambah liarkan imajinasi tentang konsep 1000 tahun mendatang. Belum lagi teknologi hologram, robotik dan pesawat yang canggih-canggih.

Top 10 Heist Movies (Film Tentang Perampokan) Review By Muhammad Ilham (JMFC 041)

Kenapa sih film perampokan selalu menarik untuk disimak? Pertama karena tingginya intensitas film-film yang bertemakan pencurian/perampokan, penonton dibuat menahan nafas sewaktu para perampok harus diam-diam membobol brankas atau pun kejar-kejaran dengan pihak yang berwajib. Kedua, Hollywood membangun image para perampok sebagai sosok penjahat yang sexy dan intelektual, dan karena merampok bukanlah one man job maka para perampok ini seringkali berupa kru yang biasanya terdiri dari The Brain, The Muscle, The Driver, The Lockpicker/Tehnician dan Demolition Man (dalam beberapa film), mereka harus memiliki kerjasama tim yang kompak (walau kadang masing-masing kru mempunyai agenda tertentu). Ketiga, all star cast,  dengan banyaknya jumlah kru yang ada dalam film bertemakan perampok maka tentu perlu cast yang banyak pula, dan agar menarik biasanya film maker akan menggunakan cast yang sudah bernama untuk mengisi role pembantu sekalipun, sehingga pada film perampokan seringnya kita dapat melihat aktor dan aktris kelas A bersatu padu dalam sebuah tim, tentu ini faktor yang dapat memancing rasa penasaran para penggemar film. Yang terakhir adalah aksi serta plot yang menipu mata, hampir semua aksi yang ada dalam film perampokan terlihat extravagant dan apa yang kita lihat belum tentu itu adalah benar, layaknya sulap, film perampokan dapat menipu mata kita. So here we go guys……………..

Gambar : imdb.com
10. Swordfish (2001)
Director: Dominic Sena
Writer: Skip Woods
Stars: John Travolta, Hugh Jackman, Halle Berry, Don Cheadle, Sam Shepard, Vinnie Jones

Stanley (Hugh Jackman), seorang hacker kawakan yang pernah dipenjara mendapatkan tawaran untuk menjadi crew dalam sebuah aksi perampokan yang dilakukan oleh seorang intelektual nyentrik bernama Gabriel (John Travolta) yang mengaku bahwa dia adalah pimpinan organisasi rahasia bernama Black Cell yang merupakan organisasi rahasia anti teroris. Demi melaksanakan tujuan dari organisasi yang dipimpinnya, Gabriel berencana membobol uang milik pemerintah yang diklaim oleh gabriel adalah uang ilegal hasil dari sebuah perusahaan palsu buatan DEA yang diberi nama Swordfish. Demi mendapatkan hak asuh anaknya Stanley mau tak mau ikut bekerja sama dengan Gabriel untuk mendapatkan uang senilai 9.5 miliar dollar tersebut, namun Gabriel punya agenda tersendiri.  Salah satu film perampokan yang solid dan menghibur, aksinya terbilang keren, dan ending dari cerita sendiri memiliki kejutan yang menarik, karena formula film perampokan adalah ketika diakhir cerita dijelaskan kepada kita bagaimana perampokan itu sesungguhnya terjadi, apa ini tergolong twist ending? Hmmmm I don’t think so…., tapi ga bisa juga dibilang bukan, karena biasanya film-film bergenre serupa khususnya perampokan, twist yang disajikan merupakan penjelasan mengenai apa yang sebenarnya terjadi, sehingga kita yang semula bingung mendapatkan sensasi clarity, karena kita sudah tau hal tersebut akan dijelaskan diakhir cerita, berbeda dengan twist ending dimana dari awal penonton diharapkan tidak tahu sama sekali apa yang akan terjadi diakhir (kecuali udah baca-baca artikel dsb).


Gambar : imdb.com

9. Going In Style (2017)
Director: Zach Braff
Writers: Theodore Melfi (screenplay), Edward Cannon 
Stars: Michael Caine, Morgan Freeman, Alan Arkin, Richie Moriarty, Josh Pais, Christopher Lloyd

Salah satu faktor yang membuat list ini begitu lama diselesaikan adalah karena riset menonton langsung yang mesti saya lakukan dalam pembuatan list ini, menonton dan menonton kembali film-film yang telah ditonton untuk memastikan kalau sebuah film memang tepat (in my personal opinion) dimasukkan dalam list ini. Dan Going in Style (2017) menjadi film terakhir yang saya tonton dalam pembuatan list ini, film yang pada dasarnya sifatnya fun ini cukup menghibur dan menyenangkan untuk ditonton, bercerita mengenai tiga pensiunan yang sedari muda merupakan pekerja keras namun di hari tua mereka terancam untuk kehilangan pensiun yang merupakan hak mereka di masa tua nya. Geram dengan keadaan yang ada, ketiga kakek ini menyewa seorang penjahat untuk menjadi mentor mereka untuk mengajari cara dan sistem merampok bank yang baik dan benar. Digawangi oleh aktor-aktor favorit saya, Alan Arkin, Morgan Freeman dan Michael Caine, ketiganya walau udah sepuh tapi tak pernah menghilangkan karisma masing-masing, joke yang lumayan kocak menambah suasana fun dalam film ini, walau tak sampai tertawa terbahak-bahak paling tidak tetap membuat kita tersenyum. Kehadiran Christopher “Doc” Lloyyd menambah warna dalam film ini.

Rabu, 26 Juli 2017

Review Dunkirk (2017) : Amazing Thrilling For A Thriumph From Nolan

#InNolanWeTrust

Ya, slogan yang begitu catchy ini memang wajar untuk dipopulerkan. Sebagai salah satu die hard fans-nya Nolan, saya memang percaya apapun karya Christopher Nolan pastilah bagus. Begitu pula dengan film teranyarnya Dunkirk, saya tetap menaruh rating diatas 9/10 untuk semua film Nolan. Padahal awalnya, selalu bertanya-tanya, gimanakah bakal dikemas oleh sang maestro tentang film ini, film yang jelas-jelas diangkat dari kisah nyata, tentang sejarah yang tidak bisa diubah-ubah atau dimodifikasi. Akankah monoton? Akankah membosankan? Akankah Nolan mampu menyuguhkan sesuatu yang “WAH” sebagaimana film-film terdahulunya? Karena kita tau selama ini Nolan bermain dalam ranah fiksi yang bisa sekehendaknya memanipulasi cerita dan imajinasi. Semua ini terjawab saat filmnya rilis pekan lalu dan...langsung ditonton dong.

Gambar : express.co.uk

Sekedar mengingat kembali, Dunkirk adalah sebuah sejarah perang dunia ke-II tentang evakuasi 300rbuan tentara sekutu (Inggris, Perancis, Belgia, Belanda) di pantai Dunkirk, yang mana mereka disana sudah dikepung oleh musuh yaitu tentara Jerman. Mereka dievakuasi dengan menggunakan bantuan dari kapal-kapal nelayan dan warga. Evakuasi ini tidaklah mudah karena pesawat dan kapal selam tentara Jerman terus memborbardir Dunkirk dan sekitarnya.

<Spoiler Alert>

Review saya ini mengandung spoiler, karena susah juga nulis review film ini tanpa spoiler. Lagian ini kan kisah nyata, jadi untuk urusan cerita dan ending seperti apa tentu sudah bisa kalian tau sendiri kan. Disini yang dibahas bukan ceritanya, melainkan bagaimana film ini divisualisasikan oleh sang sutradara idola, Christopher Nolan. Sekalipun ini kisah nyata, ternyata Nolan tetap pada ciri khasnya yang suka membuat penonton sedikit mikir dan bingung, hehe.. Dengan menggunakan non-linear narative, film ini dipecahnya menjadi 3 plot : The Mole (One Week), The Sea (One Day)dan The Air (One Hour), yang membuat kita harus pandai-pandai mengingat masing-masing scene merupakan bagian dari plot sequence yang mana. 
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...