Rabu, 29 April 2020

Review Singkat Wayne's World (1992) : Duo Bromance Yang Suka Rock Ini Ibarat Duo The Comment Yang Gokil Pada Jamannya


Awalnya tuh ga sengaja tertonton sebuah scene film di sebuah channel tv berlangganan, ada adegan anak-anak muda Amrik yang lagi beraksi dengan backsound "Mission Impossible"nya Tom Cruise gitu. Saya kira ini parodi film seperti Scary Movie. Ternyata bukan, tapi mereka banyak menyelipkan unsur-unsur popculture di dalamnya, baik itu referensi perfilman, acara tv, musik, brand dan selebriti.

Filmnya sendiri sumpah kocak banget. Tapi bukan komedi konyol tingkah laku kayak komedi klasik ya, melainkan dengan mengusung inside jokes. Wayne dan Garth ini ibarat duo #TheComments versi jadul, mereka merupakan host sebuah talkshow hiburan di saluran indie. Yang berperan sebagai Wayne adalah si Austin Power #MikeMyers. Disini mereka kayak #Deadpool juga dalam hal #breaking the 4th wall. Wayne dan sobatnya, Garth, bisa ngomong ke kamera dan berinteraksi dengan penonton.

Kamis, 23 April 2020

Review Singkat Being John Malkovich (1999) : Drama Cinta Segitiga Yang Unik, Fresh dan Absurd Yang Ga Akan Ditemui Di Film Manapun


Nonton ini krn ada fan theory klo film ini adlh prekuel satu universe dgn filmnya Jordan Peele yg sensasional itu, Get Out.

Craig (#JohnCuszcak), seorg puppetmaster alias dalang boneka tali, hidup jobless, smpe suatu ktika disuruh bininya (#CameronDiaz) cari kerja, maka mlamarlah ia ke lowongan yg ada di prusahaan yg kantornya tu rada aneh. Gimana ga aneh? Wong kantornya berada di lantai 7 1/2! udh kyak Platform 9 3/4 nya Harry Potter.

Dan mmg bner, ddlm kantor itu pnya suatu keanehan. Ga sngaja, si Craig nemuin dinding bolong brupa lorong kecil yg trnyata adlh portal ke dlm jiwa seseorg. Dan seseorg ini adlh #JohnMalkovich (real name), aktor trnama kaya raya hidup enak dan mewah yg diimpikan byk org. Itu lho nyang maen R.E.D.

Sya sih sbnrnya krg setuju klo Malkovich ini yg diimpikan org, wong ga ganteng, ga brkharisma, hrsnya sih bs plih yg lain lah, tahun 1999 mgkn bs plih yg ganteng2 kek Van Damme, Arnold Siregar, Stallone, John Travolta.

Review Singkat Bad Times At The El Royale (2018) : Suprisingly A Great Quentin Tarantino "Fan Film"


Seriuously... trkdang mrasa ga adil klo film2 sprti ini jrang bngt msuk Oscar. What's wrong with you, academy..
Bahkan honestly, klo academy mnilai film2 true story itu mmbawa pesan moral/ttg khidupan yg sngat mngena, justru film ini jg ga klah jg kok, sya sngat trharu mlah dan mmecut iman jg (Scene Miles dan Flynn di ending).

Ni si pnulis crita, ane yakin udh mmutar otak utk bs mnyusun crita yg kreatif dan mnarik, tp yg bgni hrs (sring) kalah dr film2 "true story" yg notabene ga prlu effort yg wah utk bkin crita, toh critanya udh ada, nyata, tinggal di modif2 kasi bumbu aja biar dramatis dan pnya nilai jual sbgai film.

Sdgkan klo yg original screenplay gni diperlukan kcerdasan dan tingkat kreatifitas sang pmbuat crita utk bs mnjdikan critanya film yg bgs, yg notabene bkn dtg instant, it took years. Klo bkin true story mah instant. Klo kreatifitas slalu ga dianggap, ya mnusia ga akn brkembang.

Ini film kkurangannya cuma satu, critanya singkat hnya dlm 1 malam, scopenya ga luas. Slbhnya, good.. El Royale, hotel trkenal yg udh ga trkenal lg, dlu rame kini sepi, dlm 1 malam, ada sbuah kbtulan dmn bbrp stranger nginap dsana, ex : ada pendeta, ada pnyanyi, ada hippie, ada sales, dan 1 bad boy pendatang.

Review Singkat Back To 90s (2015 Thai Movie) : Cinta Remaja 90an Yang Punya Kualitas Filmmaking, Ga Kayak Yang Itu Tuh.



Klo Dilan mw ngecontoh gmn bkin film 90an yg cinematic look, ni dia filmnya. Sya heran ama film Dilan, yg dipuja2 dan laku, kelasnya "film" tp hasil visualnya FTV, yg ga ada sinemetografinya samsek, ga ada 3 point lighting, smua yg pnting terang. Ga pake rule of third, ga pake leading line, asal yg pnting aktor dlm frame, jadi la tuh.

Beda bngt klo di film ini, Thailand yg bkin. Temanya sama lho pdhal, ttg cinta monyet ala anak skolahan. Cuma mskipun alur crita yg biasa aja, tp scra visual ttp mmproduksi dgn mnerapkan unsur2 sinematografi td. Kita yg nnton pun betah, mskipun crita predictable.

Review Singkat Brightburn (2019) : Ga Lebih Dari Sekedar Plesetan Superman Tanpa Pengembangan Cerita dan Horornya Juga Tanggung


Tak ada kesan laen stlh nonton ini sampe ke post credit scene, slain bhwa ni cuma film plesetan Superman (dan superhero DC lainnya yg mgkn akan dibuat), plesetan horor caknya. Alurnya jg ga berasa original, copypaste, dan bagian ending lbh parah lg krn ga mmberikan konklusi.

Klian smua psti tau origin Superman kan? Nah andai2 aja "gmn ya klo Superman bayi itu malah tumbuh jd anak yg jahat?? Just as simple as that. Motif seorg bocah jd brbuat sbgtu jahatnya jg trlalu gampangan. Ini pure evil dr jiwanya psti. Krn klo mliat orang tua asuhnya yg baik hati dan super sabar, ya ga matching masa hasil didikannya gni.

Selasa, 21 April 2020

Review Singkat Cast Away (2000) : Hanks..Hanks..Hankss...Ga Ada kata Lain Selain Performa Superb Dari Tom Hanks Di Film One-Man Show Ini


Film survival ini mncritakan ttg sbuah psawat muatan paket kiriman Fed Ex mngalami kecelakaan jatuh di laut. Smua awak mati kecuali Chuck, pegawai Fed Ex. Chuck trdampar di pulau kecil tak brpenghuni. Bisakah chuck brtahan hidup atau ditemukan tim SAR?

Review Singkat A Clockwork Orange (1971) : Film Yang Selangkah Lebih Maju Di Jamannya, Satir, Kelam dan Provokatif, Keras Diawal Namun Esensial Diending


Oke..ni film untungnya ga serumit karya Kubrick yg ngono tu, 2001 A Space Oddisey. Yg ini ckup gampang utk dicerna, drama sosial yg alurnya biasa. Cuma spesialnya adlh set produksi, akting, script, dan tingkat kesatiran pesan yg ingin disampaikan.

Alex (#MalcolmMcDowell), tokoh utama dan jg narator, mnceritakan kmbli kisah hidupnya, diawali dgn dia yg msh usia anak skolahan SMA, tp pnya geng berandal, yg gawenya negatif2, sprti mnyiksa org, mmperkosa, bahkan mmbunuh. Akibat prbuatan ini, Alex, hrs mndekam dlm penjara.

Gmn khidupannya disana? Adkah ia brubah mjdi baik?

Senin, 13 April 2020

Review non spoiler dan Penjelasan Ending Film Burning (2018)


Ini film menurut saya berkesan artsy, atau dulu istilahnya arthouse. Tapi sejak negara api menyerang (baca : indie), istilah arthouse lebih sering diucap "artsy", karena saking menjamurnya anak indie yang klaim berjiwa seni dengan kata-kata puitis dan melukis, mereka menyebut diri mereka anak artsy..katanya artsy sudah pasti indie..sementara indie belum tentu artsy.. Arthouse, sesuai kata dasarnya "art" : bernilai seni, punya estetika. Film artsy temponya cenderung lambat, biar "seni"nya dapet..dan berusaha keras untuk tampil "tidak biasa", baik dialog maupun alur. Tapi sayangnya beberapa diantaranya ga mampu menyajikan plot cerita yg jelas, cuma berkedok estetika dan seni aja. (Ex : Upstream Color, Lost In Translation). Tapi tidak untuk film ini, setidaknya plot ceritanya jelas dan kalo dirunut-runut ya seperti drama misteri pada umumnya. Trailernya bisa klik disini dan berikut adalah reviewnya, tanpa spoiler.

Jong Su, adalah seorang pemuda yang boleh dibilang jobless, punya kerjaan tapi cuma paruh waktu, jadi hidup juga pas-pasan. Suatu hari dia ga sengaja bertemu cewek yang "ngaku"nya temen masa kecilnya, namanya Hae-Mi. Hae-Mi merupakan sosok cewek yang mandiri, sederhana, supel, sepertinya dia pandai bergaul dengan siapa saja. Selain itu dia juga unik, memiliki cara pandang sendiri terhadap dunianya, dia selalu ingin mencari tau arti kehidupan.
 
Sekali dua kali jalan, ya mereka akhirnya jadian. Cita-cita Hae-Mi adalah menjadi aktor, dia pandai bersandiwara, dalam 1 momen dia pamer skill akting makan jeruk yang bisa dibilang memang sangat bagus membuat kita percaya dia makan jeruk beneran dan ngiler. Dia juga suka traveling. Ketika dia berangkat ke Afrika, Hae-Mi menitipkan rumah dan kucingnya kepada Jong Su.
 
Lihat kompaknya Ben dan Haemi pake baju putih dan tatapan yang akrab sementara Jong Su diletakkan ditengah mereka sebagai pemisah dengan warna berbeda
 
Keadaan berubah 180 derajat sepulang Hae-Mi dari sana, karena di Afrika dia berjumpa dengan Ben, cowok tajir ganteng cool baik hati. Hae-Mi terlihat nyaman berada dekat Ben. Membuat Jong Su "terbakar" cemburu. Tapi disini Jong Su ga langsung "sumbu pendek", malah seperti berteman, ngikutin arus, sampe sejauh mana mereka melangkah. Dalam sikapnya yang pendiam, Jong Su justru orang yang paling terjaga untuk melihat gerak-gerik Ben, "lawan"nya yang membuatnya iri. Tapi dia hanya tidak bisa mengungkapkannya lewat kata-kata, it's only burning inside, itulah kenapa diberi judul "Burning".

Senin, 16 Maret 2020

The Invisible Man (2020) : Terror Menakutkan Sang Mantan Yang Tak Kasat Mata (By Om Boy – JMFC 030)

Awas neng...ada sesuatu di belakang!
Sebelum kita mulai mengulik film The Invisible man, mari kita berbicara Fun Fact dulu. Universal Studio diketahui berusaha membuat Shared Universe ala-ala Marvel dengan MCU-nya, yang nanti isinya adalah film-film yang bercerita tentang monster-monster dan mahluk supranatural seperti Mummy, Frankenstein, Dracula, The Invisible Man, Creature from Dark Lagoon, Jekyll and Hyde dan lainnya. Shared Universe ini mereka beri nama Dark Universe. Rencananya Dark Universe ini dimulai dengan Film The Mummy (2017) yang dibintangi oleh Tom Cruise. Namun rupanya pesona Tom Cruise tidak bisa membuat film ini laris dipasaran. Dengan gagalnya film The Mummy, Universal Studios nampaknya tidak lagi melanjutkan Dark Universenya. Nah saya pun mengira begitu. Sampai pada akhir tahun 2019 saya mendapat kabar udah ada trailer film The Invisible Man. Tentunya menjadi sangat excited mengingat saya menanti-nanti film kelanjutan dari Dark Universe. Ternyata film yang ditayangkan pada 26 Februari 2020 ini bukan bagian dari Dark Universe. Tidak ada benang merah sama sekali dengan film The Mummy (2017) ataupun tidak ada set up untuk next installmentnya. 

Dark Universe Casts
The Invisible Man (2020) ini merupakan adaptasi kekinian dari novel berjudul sama karya HG Wells yang juga pernah difilmkan pada tahun 1933. Adaptasi kali ini juga sedikit mengambil unsur Sci-Fi. Yang agak berbeda dengan adaptasinya pada film Hollowman (2000). Ok. Jadi itulah alasannya kenapa saya akhirnya menonton film The Invisible Man, karena saya mengira ini adalah bagian dari Dark Universe. Secara pribadi saya tidak terlalu menyukai genre film Horror. Sekarang kita kembali ke Review The Invisible Man. Review ini saya sudah usahakan spoiler-free. Jadi cukup aman untuk dibaca sebelum menonton filmnya. Trailernya bisa klik disini. And here we go...

Sinopsis :
Cecilia terperangkap dalam hubungan yang toxic dengan pasangannya Adrian, seorang ilmuwan brilliant yang sangat over protective, posesif dan abusif. Yang membuat Cecilia hidup dalam ketakutan. Hingga pada suatu malam Cecilia kabur dari kediaman Adrian. Tak lama setelah kabur dari rumahnya, Cecilia mendapatkan kabar bahwa Adrian ditemukan mati dikediamannya, bunuh diri. Dan Cecilia mendapatkan hak waris atas hartanya Ardian. Apa yang dianggap Cecilia sebagai suatu kebebasan ternyata bukanlah seperti yang dibayangkannya. Kejadian-kejadian aneh mulai terjadi disekitarnya. Sesuatu yang tidak kelihatan membuat hidup Cecilia kembali dihantui ketakutan.

Kamis, 05 Maret 2020

Review Captive State (2019) : Film Politik Interogatif Yang Dibungkus Kedok Invasi Alien

Ya, Captive State yang dinahkodai sutradara blockbuster 2011, Rise of The Planet of The Apes, tidak tampil untuk menonjolkan sisi sci-fi, melainkan menyajikan cerita politik yang menggunakan invasi alien sebagai katalisnya. Alih-alih banyak visual efek dan action, film ini justru dominan pada drama investigasi. So, bagi kamu yang ngarep ini film invasi alien kayak Independence Day, segera mundur. Tapi kalo kamu suka Se7en dan Hunger Games, film ini bole kamu coba tontonin. Kalo mau liat trailernya dulu klik disini.

Poster Captive State
Awalnya alien datang pada 2019, seperti plot umum kalo alien udah datang, image-nya pasti mau nge-invasi bumi. Begitupula dalam film ini, hanya saja proses mereka menginvasi dan segala pertempuran yang terjadi tidak masuk dalam kisah. Hanya menyisakan 1 adegan alien membunuh orang tua dari kedua tokoh utama, yaitu Gabriel dan Rafe. Film ini selanjutnya melakukan time-jump 8 tahun setelah kejadian tersebut, dengan sequence berisi slide show dan potongan footage seperti demo, pejabat pidato, pembangunan tembok, dan sebagainya. Penonton diharapkan bisa mengerti sendiri apa yang terjadi selama itu, manusia kalah dan alien menang. Di tahun 2027, alien adalah penguasa di bumi, dengan sebutan Legislator. Manusia hidup di bawah peraturan hukum mereka. Yang tidak patuh, dead. Legislator beraktifitas di dalam area bawah tanah yang disebut Closed Zone. Dan hanya pejabat atau otoritas lembaga negara yang boleh masuk ke dalamnya. Dibawah perintah Legislator, manusia terpaksa bekerja mengeruk sumber daya alam bumi untuk mereka, manusia jadi budak di tanah sendiri.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...