Jumat, 12 Februari 2016

Review dan Preview Final Chapter Divergent Movie Series : Allegiant

Yap, awal Maret nanti kita akan memasuki babak pertama dari final chapter movie series : Divergent, yang akan dibagi kedalam 2 bagian. Babak pertama ini berjudul Allegiant, sekuel dari Insurgent Maret 2015 lalu. Lalu bagaimanakah kisahnya di babak pertama ini? Mari kita buka lembarannya dalam artikel berikut ini.

Gambar : imdb.com

Divergent, judul film yang muncul di tahun 2014 lalu cukup menarik perhatian para pemerhati film di dunia. Wajar saja, karena film ini muncul ke permukaan menyambung tongkat estafet yang telah dimulai oleh The Hunger Games dan The Mortal Instruments, film ini bergenre sama yaitu action drama remaja. Trend yang membuktikan kalo film remaja tak melulu film ringan yang hanya canda tawa dan cinta-cintaan belaka, kayak FTV, hehe...tapi juga dihiasi dengan perjuangan dan kerasnya kehidupan dalam kehidupan politik dan bermasyarakat. Hal tersebut saat ini terkenal dengan genre bernama Distopia.

Distopia adalah keadaan dimana imajinasi tentang masyarakat fiktif di masa depan atau masa lalu, yang berada di bawah pemerintah yang otoriter, dalam keadaan negara yang rusak akibat perbuatan manusia itu sendiri. Distopia merupakan antonim alias lawan kata dari Utopia, itu lho band yang nyanyiin lagu berjudul “Hujan”, hehe... Utopia berarti dimana keadaan imajinasi tentang masyarakat yang hidup baik dari semua hal positif yang ada, kayak mimpi atau angan-angan deh guys. 

Nah, The Hunger Games dan Divergent merupakan film yang memasukkan genre Distopia ini kedalam action-romancenya, sehingga sajiannya menjadi lengkap, dapat ditonton oleh setiap orang dengan selera masing-masing, mau action ada, mau drama ada, mau konspirasi politik juga ada.

Oke back to the movie guys, Divergent movie series ini berasal dari 3 buku novel karangan Veronica Roth, penulis muda dari Amerika sana yang hasil karyanya ini menjadi salah satu Best Selling. Diadaptasi kedalam film series yang terdiri dari 4 film. Yang pertama berjudul Divergent, kedua adalah Insurgent tahun lalu , selanjutnya Allegiant sebagai part 1 dari final chapter pada Maret ini dan terakhir Ascendant sebagai part 2-nya tahun 2017 nanti.


Pada film pertamanya, Divergent, menceritakan tentang kota Chicago, yang didalamnya hidup masyarakat yang dikelompokkan ke dalam 5 faksi berdasarkan karakter mereka masing-masing. Pertama adalah Abnegation, kumpulan orang-orang yang memiliki jiwa sosial dan kepedulian tinggi, atas karakter seperti inilah mereka diberikan wewenang untuk menjadi pemerintahan disana. Kedua adalah Erudite, berisikan orang-orang yang mempunyai kecerdasan intelektual, pintar dalam ilmu pengetahuan, perannya sebagai pembuat sarana dan prasarana kota. Ketiga adalah Dauntless, mereka yang berjiwa pemberani dan petarung yang tangguh, mereka berfungsi sebagai pihak keamanan kota, kayak polisi gitu deh, negakin hukum yang berlaku. Keempat adalah Candor, isinya orang-orang jujur, nah ini nih susah ditemui jaman sekarang, hehe, fungsinya sebagai tempat peradilan dong. Dan terakhir adalah faksi Amity, yaitu rombongan para pemaaf guys, mereka ga suka perang, mereka cinta damai, piss..piss...haha...kalo disini mereka sepertinya berfungsi sebagai petani dan peternak.

Mereka semua telah hidup berkelompok seperti ini selama 200 tahun. Setiap anak ketika beranjak dewasa, bebas memilih faksi mereka sendiri, dan faksi tersebut akan menjadi keluarga baru mereka. Untuk masuk ke dalam faksi, mereka harus diuji, apakah mereka memang layak memilih faksi tersebut. Remaja yang menjadi tokoh utama dalam film ini adalah gadis cantik bernama Beatrice Prior, atau yang selalu dipanggil Tris, diperankan oleh Shailene Woodley dari film The Fault In Our Stars. Tris berasal dari keluarga Abnegation, namun ketika dewasa ia berpaling dari Abnegation dan memilih untuk menjadi Dauntless, begitu pula dengan abangnya, Caleb, yang diperankan oleh rekan mainnya di film The Fault In Our Stars, Ansel Elgort, yang akhirnya menjadi ilmuwan di Erudite.

Hal ini sebenarnya penggambaran tentang bagaimana orang tua yang pada jaman modern sekarang ini lebih demokratis dengan memberikan kebebasan kepada anak mereka tentan pilihan hidup yang mereka ambil saat mereka dewasa. Mau kuliah dimana, jurusan apa, pekerjaan seperti apa, dan jodohnya siapa, hoho....

Selama masa-masa baru menjadi Dauntless, Tris menunjukkan hal yang tak wajar dari dalam dirinya, ia dapat melewati berbagai ujian dengan mulus, baik itu simulasi maupun nyata. Widih...dapat bocoran soal kali ya, hehe... Ia tangguh dan pemberani seperti Dauntless itu so pasti, tapi ia juga cukup pintar seperti orang-orang Erudite pada umumnya, lalu juga sangat care seperti Abnegation, jujur layaknya orang-orang Candor juga, dan pemaaf seperti Amity. Nah loh, kok bisa dia seperti itu? Ternyata karakter seperti inilah yang dinamakan Divergent.

Divergent adalah keadaan dimana seseorang memiliki karakter yang bermacam-macam dan bisa masuk ke faksi mana saja. Apakah hal ini baik ato buruk? Dalam film pertama ini, Divergent merupakan suatu hal yang buruk. Divergent dianggap sebagai ancaman keamanan kota dikarenakan dianggap berbeda dari masyarakat pada umumnya, sikap dan karakternya yang tak stabil, sehingga dikhawatirkan cenderung memberontak dengan keadaan sekitar.


Gambar : pinterest.com

Para Divergent terpaksa menjadi buronan, tahanan bahkan korban pembunuhan selama ini, mereka hanya bisa bersembunyi dengan bantuan kaum Abnegation yang memang berjiwa sosial dan toleran. Pihak yang paling terganggu dengan keberadaan Divergent ini adalah kelompok Erudite. Mereka telah terbiasa damai dengan keadaan kota berdasarkan faksi, sehingga sangat khawatir jika ada orang-orang labil dan berbeda macam Divergent ini. Pimpinan Erudite bernama Jeanine, diperankan oleh tante cantik kita, Kate Winslett dari film legendaris Titanic, ia sangat paranoid akan hal ini, ketakutan yang berlebihan, sehingga ia berencana untuk memusnahkan semua orang yang terbukti Divergent.

Sebenarnya ini menjadi ambiguitas yang cukup membuat kita mempertanyakan apalah artinya perbedaan, apakah berarti baik atau buruk. But, kita tak bisa pungkiri memang sudah sifat alami manusia untuk merasa terancam terhadap suatu hal yang baru dan berbeda yang belum bisa dimengerti. Saya teringat dengan film Transcendence yang diperankan oleh Jhonny Depp. Pesan yang selalu disampaikan sang ilmuwan disana adalah kalimat ambigu tadi. Sama hal nya jika kita ditanyakan jika ada alien, gimana sikap kita hayo...??? Hehe... Mungkin sebagian besar dari kita akan berupaya untuk kabur, atau bahkan membunuh alien tersebut, karena kita tidak siap menerima adanya perbedaan disekitar yang belum kita mengerti. Udah banyak juga kan film-film tentang manusia yang menentang keberadaan makhluk alien, entah itu manusianya menghindari, membunuh atau mengajak perang si alien, haduh...

Lanjut ke filmnya, untuk mewujudkan ambisi Jeanine tadi, ia mengkudeta kekuasaan dari kaum Abnegation, sehingga bisa menggunakan wewenang semena-mena. Ia dan kaum Eruditenya menciptakan serum “patuh” yang kemudian disuntikkan ke kaum Dauntless, kemudian mereka memerintahkan para Dauntless untuk menghabisi semua kaum Abnegation, karena mereka menganggap kaum Abnegation telah melanggar hukum dengan menampung dan membantu para Divergent.

Untungnya, tindakan ini dapat dicegah oleh Tris dkk. Tris bersama seorang pria yang menjadi love interestnya dalam film ini yang juga seorang Divergent, Tobias “Beton” kata temen ane Ilham, haha... atau nama bekennya “Four”, diperankan oleh Theo James, berhasil membekuk Jeanine dan membatalkan perintah “serum patuh” tadi, para Dauntless pun kembali normal. Tris dkk pergi kabur mencari tempat “penampungan” di pemukiman faksi Amity. Film Divergent selesai sampai disini. Dilanjutkan dengan film keduanya, Insurgent. Penampilan Shailene Woodley cukup saya beri applaus, anggap upah capek dia belajar “macho”, hehe... Nampak memang beban berat dipundaknya untuk berada di puncak paling tinggi peran tokoh paling utama dalam film ini. Justru saya kecewa dengan penampilan Theo James, yang terkesan malah dimacho-machoin, kurang natural, meskipun tampangnya macho boookk....uuupppsss, hahaha......

Gambar : Lionsgate

Next, di film kedua, kota Chicago tak lagi normal seperti biasa. Jeanine tak berhenti sampai disana, ia tetap memerintahkan Dauntless untuk memburu Abnegation dan Divergent. Para Dauntless yang tak mau menuruti perintahnya bersembunyi di faksi Candor. Sementara Dauntless yang menjadi suruhan Jeanine, dipimpin oleh Eric, yang diperankan oleh Jai Courtney dari film Terminator – Genesys, terus mengejar Tris dkk, melewati pemukiman faksi Amity, memaksa Tris dkk lari bersembunyi di markas Factionless. Terkecuali si Peter, teman Tris yang diperankan oleh Miles Teller, sang drummer dari film peraih Oscar, Whiplash. Peter tidak ikut kabur malah berubah haluan memihak Jeanine. Tersisalah hanya mereka bertiga, Tris, Four dan Caleb yang bertemu para Factionless. Teller...Teller....tampang muka kamu tuh emang cocok banget untuk peran-peran beginian, orang yang labil ga berpendirian dan ga punya rasa optimisme, haha...

Apa pula Factionless itu? Mereka adalah orang-orang yang tak lulus di 5 faksi yang tersedia, mereka lemah dalam segala hal, tak diterima disetiap faksi, sehingga membentuk kelompok sendiri. Ternyata Factionless ini dipimpin oleh emaknya si Four, Evelyn, kali ini diperankan oleh tante cantik lainnya, Naomi Watts, sang pujaan hati dalam film King Kong itu lho, hehe. Evelyn berencana membujuk Four dan para Dauntless yang tersisa untuk melakukan pemberontakan terhadap kekuasaan Jeanine. Widih...jadi tante cantik lawan tante cantik nih, bukannya perang malah bergosip nih ntar, haha....

Four menolak untuk bekerja sama dengan emaknya ini, ternyata karena memang dia masih sentimentil sejak ditinggal pergi saat masih kecil. Four juga merasa pemberontakan itu hanyalah ambisi Evelyn pribadi untuk menjadi penguasa di Chicago. Kok jadi berasa rada-rada mirip The Hunger Games ya? Pemberontakan dan kudeta kekuasaan. Evelyn kayak pemimpin Distrik 13, Tante Coin, sementara Jeanine kayak Presiden Capitol, Opa Snow. Yah mungkin ini kali yang namanya genre Distopia, karena dikekang oleh pemerintahan otoriter jadi selalu ada bumbu pemberontakan dan kekudetaan, halah....haha...

Akhirnya Four dan Tris memutuskan untuk mencari petunjuk terlebih dahulu ke Candor, menemui teman-teman Dauntless yang bersembunyi disana. Sementara si Caleb ga ikutan kesana, ia diam-diam malah berkhianat ke Erudite untuk berpihak kepada Jeanine, sepertinya prinsip faksi diatas keluarga tertanam di benak Caleb.

Di Candor, Four dan Dauntless lainnya malah diserang oleh Eric dan pasukannya, yang tetap mengincar Tris dan Divergent yang masih ada. Tapi untungnya Four berhasil membalikkan serangan tersebut dan membunuh Eric. Mengetahui pasukannya gagal, Jeanine frustasi memikirkan bagaimana cara untuk membuat Tris bertekuk lutut. Saat inilah Peter yang berkhianat memiliki peran, ia memberitahukan cara agar Tris bisa tunduk, yaitu dengan cara mengancam nyawa orang-orang disekitar Tris akan membuat Tris iba dan terpaksa menyerahkan diri, karena Tris juga mempunyai sifat sosial Abnegation toh. Super sekali, cara itu memang ampuh dan akhirnya Tris menyerahkan diri. Hal ini pun memaksa Four untuk menerima tawaran emaknya, Evelyn, untuk melakukan pemberontakan di markas Jeanine, dengan tujuan menyelamatkan Tris.

Di markas Jeanine, Tris bertemu dengan Caleb, ia kecewa atas pilihan Caleb yang berpihak kepada musuh. Disini, sebelum Jeanine membunuh Tris, ia akan memanfaatkan Tris untuk uji simulasi kotak rahasia yang ia temukan di pemukiman Abnegation, tepatnya ternyata disimpan orang tua Tris dirumahnya. Wah apa itu kotak rahasia?

Kotak itu adalah kotak yang berasal dari para tuo tengganai kota Chicago, haha...berisikan pesan dari pendiri kota tentang ada apa sebenarnya kota Chicago ini. Bentuk kotak ini mempunyai 5 sisi dengan 5 lambang faksi, menandakan hanya bisa dibuka dengan uji simulasi ke setiap kondisi faksi. Tentu saja yang bisa masuk ke semua faksi adalah para Divergent. Sudah beberapa orang Divergent yang menjadi korban ujian ini, tapi tetap belum ada yang berhasil lulus dari semua uji simulasi ini.

Sampai akhirnya tiba saatnya untuk Tris yang mencobanya. Hebat, Tris bisa melalui semua ujiannya, kotak pun terbuka dan mengejutkan orang yang melihatnya. Kotak itu berisi video pernyataan dari pendiri kota Chicago bernama Edith Prior. Ia bilang bahwa kota Chicago ini didirikan untuk tujuan eksperimen menghasilkan gen yang sempurna. Jika ada yang bisa lulus uji simulasi setiap faksi dan bisa membuka kotak ini, berarti eksperimen tersebut berhasil. Divergent, merekalah gen yang sempurna itu , elemen yang penting untuk kehidupan yang lebih baik di masa depan. Diluar Chicago masih ada manusia lainnya, dan Edith Prior ini mengajak para Divergent untuk bergabung dengan mereka yang ada di luar pagar tembok batas kota.

Quite well menurut saya, tim produksi tetap menampilkan segala sesuatunya dengan balance, saling menyeimbangkan. Ketika penonton mendayu-dayu melihat melonya bagian drama, tiba-tiba diajak bergairah kebagian actionnya, begitu pula sebaliknya, dengan disisipi visual effect science fictionnya lewat uji simulasi.

Hasil uji tadi membuat shock banget kan Jeanine, yang selama ini menganggap Divergent adalah ancaman, malah menjadi harapan tujuan yang sebenarnya. Dengan bantuan Peter yang sudah insaf, akhirnya Four berhasil menyelamatkan Tris dan pasukan Evelyn berhasil mengkudeta Jeanine dari tampuk kekuasaan. Evelyn membunuh Jeanine, dan Caleb pun akhirnya dipenjarakan. Film Insurgent selesai sampai disini. Tuh kan Teller si Peter...lagi-lagi deh labil, haha...

Dari 2 Installment yang telah disaji, mempertegas bahwa film ini memang bergenre science fiction yang diharapkan dapat menjadi simbiosis mutualisme bersama, seimbang dengan unsur drama dan actionnya membentuk film yang balance, beda dengan film Distopia lainnya, The Hunger Games yang lebih menitik beratkan dan kuat genre dramanya.


Gambar : amazon.com

Apakah yang ada diluar pagar tembok batas kota? Siapakah manusia yang dimaksud dalam video kotak rahasia tadi? Dan apakah Tris dkk akan pergi keluar tembok dan bergabung dengan mereka? Semua pertanyaan ini akan terjawab dalam sekuel ke-2 Divergent, Maret nanti berjudul Allegiant.

Nah, untuk sedikit mengetahui apa yang akan terjadi dalam film Allegiant ini, simak previewnya berikut ini. Agak sdikit berbeda dari film-film sebelumnya, installment ke-3 ini akan lebih memberikan sajian hardcore science-fiction, akan lebih banyak membuat dahi berkerut melihat visual daerah gersang, kekerasan terhadap warga, dan lagi-lagi tentu pemberontakan.

Pasca kudeta kekuasaan di Chicago, Evelyn memimpin kota dengan tidak memberlakukan sistem faksi, dan melarang warga keluar pagar tembok batas kota, karena kota dibatasi tembok bukan tanpa sebab, melainkan untuk melindungi kota dari apa yang ada diluar sana. Evelyn tau bahwa ada orang-orang diluar sana yang mengisolasi mereka selama 200 tahun, dan dia tak ingin terlibat lebih jauh kepadanya. 

Kebijakan ini akan menjadi polemik perdebatan buat penonton di akhir film nanti, apakah kebijakan ini salah atau benar. Itulah susahnya menjadi seorang pemimpin, apa yang menurutnya baik belum tentu benar untuk rakyatnya. Duh...kayak politik Indonesia sekarang yak.. Dulu juga kata member kita, Maulana, The Hunger Games itu adalah film yang menggambarkan pertarungan politik Indonesia bangetzzz.... Sepertinya kita, Indonesia ini, sedang berada dalam keadaan Distopia-kah?

Back to topic, kebijakan Evelyn ini tidak serta merta disetujui oleh semua pihak. Bagi beberapa orang yang telah terbiasa dengan sistem faksi merasa keberatan, dan membentuk kelompok sendiri bernama Allegiant, termasuklah Tris dkk didalamnya. Allegiant mengutus Tris dkk untuk keluar kota, mencari tau kebenaran diluar sana, but, mencari kebenaran tentang pelarian dari tempat yang kacau bukan berarti mencari aman juga, justru bahkan mungkin dunia diluar ini lebih membahayakan ketimbang Chicago, yang didesain menjadi surga manusia disana untuk beberapa waktu. Diluar tembok mereka langsung menapaki daerah tandus, gersang kemerah-merahan seperti lingkungan beracun dan tidak sehat.

Disana akhirnya mereka disambut oleh orang-orang utusan lembaga bernama Bureau of Genetic  Welfare (saya singkat aja BoGW). Ternyata ada orang-orang dengan peradaban canggih diluar tembok guys, hi-tech gitu deh, saking canggihnya mereka tetap bisa memantau perkembangan kehidupan di Chicago, termasuk kemunculan Tris dkk. Lembaga ini dipimpin oleh David, yang diperankan oleh Jeff Daniels. Yaelah pemeran film Dumb and Dumber bisa jadi pemimpin yang cool, haha.... 

David menceritakan bahwa lembaga ini melakukan eksperimen yang bertujuan baik untuk masa depan. Eksperimen yang dilakukan kepada manusia saat dunia sedang dilanda kekacauan, dengan cara memindahkan mereka dari lingkungan beracun ke tempat yang terisolasi dan bersih seperti Chicago, dengan harapan dapat menemukan obat penyembuh bagi lingkungan yang beracun tadi. So, is BoGW good or bad? Haha...udah kayak jargon dari film The Maze Runner “WICKED is good”. Duh...suseh ye kalo film genre sejenis, sesama teenage action sci-fi, memang jadinya mirip-mirip getoh...sama-sama eksperimen dari suatu penyakit/racun, sama-sama lingkungan yang merah dan tandus gersang kayak The Scorch Trials.

Apakah yang diceritakan David tadi sepenuhnya benar? Belum tentu, bisa ya, bisa juga ngga. David yang awalnya terlihat baik dan membantu, malah hendak “menghapus” Chicago, mereka ingin me-reset kota Chicago menjadi awal yang baru lagi, untuk menghasilkan penemuan eksperimen yang baru-baru lagi, karena “stok” lama yang ada di Chicago itu sudah tak bagus lagi, melenceng dan berbuat kekacauan. 

Hal ini memaksa Tris dan kawan-kawan berbalik pulang kampung. Udah kabur dari sana kok malah mau balik lagi sih? Kan kekacauan disana juga tak membuat mereka betah. Disinilah letak kunci filmnya. Kepada siapakah mereka harus percaya? Dapatkah mereka mempercayai kebenaran yang ada diceritakan tadi? Mungkinkah ada suatu cerita kebenaran yang disembunyikan oleh David?

Masih banyak pertanyaan yang belum terjawab. Termasuk juga kenapa si Four dipisahkan dengan Tris setelah mereka di tes di dalam lab? Bisa jadi ini adalah pertanda bahwa mereka memang sebenarnya berbeda secara genetik. Four akan bergabung dengan kelompok dimana ia akan beraktifitas bersama orang-orang sejenis dia sebagai sebuah pasukan. Sementara Tris menjadi “anak emas” lembaga yang dibanggakan David.

Tak perduli yang mana kebenaran sebenarnya, kalo udah urusan kemanusiaan, Tris akan bertindak. Udah merupakan wujud nyata dari sifat Abnegation si Tris yang care terhadap orang-orang yang dicintainya, sehingga ia tak mau keluarga dan teman-temannya di Chicago “dibersihkan” oleh lembaganya si David itu. Konflik tak terelakkan, Tris bersama warga Chicago akan melawan orang-orang dari luar kota. 

Akankah sajian part I dari final chapter ini dapat membakar semangat kita untuk menontonnnya kembali? Setidaknya film ini akan menyajikan sesuatu yang sedikit beda dari 2 film sebelumnya. Akan lebih banyak visual effect dan konflik yang diperdebatkan. Mari kita tunggu rilisnya di 10 Maret nanti ya. Masih tetap menggunakan cast yang sama seperti film-film sebelumnya, hanya ditambahkan penampilan sedikit orang-orang baru seperti Matthew (Bill Skarsgard) dan Nita (Nadia Hilker). Nita disini akan memiliki pengaruh yang cukup kuat terhadap Four yang sedang lemah jiwanya.

Divergent Final Chapter : Tris akan memimpin perselisihan ini untuk bertahan hidup dengan pilihan yang tak mungkin antara keberanian, keteguhan hati, kesetiaan, pengorbanan dan cinta. Good luck for you Tris.

2 komentar:

  1. Kelihatannya bagus dan tidak mengecewakan (mudah-mudahan).. Hehehe..
    Ini pake Part 1 gitu ya Om Chan...?

    BalasHapus
  2. Thanks udh baca om dika. Lbh bgs kok dr 2 film sblmnya. Ini mmg sbgai part 1 nya.. kalo part 2 nya judulnha Ascendant. Nanti 2017.

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...