Tuesday, May 2, 2017

Review : Under The Skin (2013) : Another Challenge For The Mind F*cker Movie Lover (By : JMFC 001 - Chanri)

Hmm...hmm..hmmm...*tik..tok..tik..tok..* Kelamaan mikir, haha.. Iya guys..saya mikir, ini film gimana mau reviewnya yah, filmnya rumit banget, ga tau nih persisnya tentang apa, maksudnya apa.. Film ini rumit, rumit banget, jika di ranking ulang dalam artikel saya : 10 Film Paling Rumit Ala Chanri, film ini bagi saya layak ditempatkan di dalam 3 besar, bersaing dengan 2001 : A Space Oddisey dan Primer.


 Poster Under The Skin

Film ini jelas bukan untuk kalian penikmat film-film biasa alias casual moviegoers, tapi levelnya berada di zona Moviefreaks. Ya, hanya orang-orang tertentu saja yang bisa menikmati film begini mah. Jangankan untuk menikmati, untuk memilih menyempatkan waktu untuk menonton inipun juga butuh level keinginan yang kuat dari seorang moviefreaks.

Lalu, setelah bacotan diatas, dimana sih sebenernya yang rumit? Apa sih yang sulit dimengerti? Kalo alur ceritanya sih ga rumit ya, karena alurnya maju tanpa bolak-balik maju mundur kayak film rumit lainnya, Memento atau Enemy. Ceritanya dibuka dengan seorang pemuda dengan gaya pembalap, pakaian dan motornya, menyediakan mayat hidup berjenis kelamin perempuan, ke sebuah van, yang kemudian pakaiannya diambil oleh aktris utama film ini, Scarlett Johannson.


Beware of spoiler, karena sulit mereview film ginian tanpa ngespoiloer.

Scarjo nih keknya seorang alien, yang menyerupai manusia. Dia gawenya keliling-keliling Skotlandia, mengendarai van. Beberapa kali dia temui laki-laki dijalanan, dia pura-pura bertanya sebuah alamat, dan sembari menawarkan tumpangan kepada laki-laki tersebut. Jika dia beruntung, maka akan ada laki-laki yang menerima tawarannya, namun kemudian ternyata itu adalah umpan untuk jebakan yang telah disiapkannya. Laki-laki tersebut "dimangsa"nya. Bagaimana cara mangsanya? Sang filmmaker ini otaknya abstrak juga ya, dia menggambarkan proses "mangsa" ini dengan cara yang aneh, tak lazim, membuat kita mengerutkan dahi.

 Scarlett Johannson Under The Skin

Nah kegiatan ini dia lakukan berulang-ulang. Sampailah pada satu masa dimana dia memilih untuk stop melakukan itu, setelah mengenal 2 laki-laki terakhir yang ditemuinya. Yang menjadi poin rumitnya adalah, apa sih sebenernya maksud dari pemangsaan ini? Siapa jati diri Scarlett Johansson sebenarnya? Kenapa mesti ada pemuda bergaya pembalap yang selalu hadir setelah dia memangsa? 
Sampai akhir film, tak satupun titik terang yang saya dapati. Film ini membuat saya hanya bisa menarik kesimpulan sendiri saja. 

Genrenya sih scifi, memang cukup diwakilkan lewat proses dan visual didalamnya. Namun bagi saya unsur drama misteriusnya lebih kuat. Apalagi backsound yang sangat minimal, hanya bunyi-bunyi ketukan dan dengungan saja, memaksa penonton harus berkelahi dengan rasa kantuk dan bosan agar dapat bertahan menonton filmnya hingga usai dan menguak misterinya. Saya pikir, ini adalah sebuah film yang menyampaikan rasa humanity seseorang. Bagaimana transformasi rasa empati seorang alien terhadap berbagai jenis manusia, sampai ia menemui manusia yang beda, yang membuat hatinya tergugah.

Kata orang sih film ini bernilai seni tinggi..well..sepertinya saya memang bukan orang seni yah, hehe..karna ga tau letak nilai seni tingginya dimana. Hanya kisah abstrak, yang dibumbui sensualitas seorang Scarlett Johansson. Akting Scarlett Johannson disini juga sangat natural. Terlebih lagi memang beberapa adegan obrolan antara beberapa pria jalanan itu adalah orang biasa, bukan aktor, real event yang direkam menggunakan hidden camera (sumber : IMDB : Under The Skin (2013) Trivia). Widih..some lucky bastards yang bisa ngobrol dengan Scarjo face to face..  Bagi kamu-kamu moviefreaks yang pikirannya memang abstrak dan menganggap film 2001 : A Space Oddisey adalah masterpiece, maka film juga bole lah menjadi tantangan kamu berikutnya.

Rate : 7,1/10
Level : Movie Freaks
[JMFC 001 - Om Chan]

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...