Tuesday, July 21, 2015

Duet Tokoh Sosial Dalam Dunia Perfilman : Sharlto Copley – Neill Blomkamp



Duet Maut Bernilai Sosial Tinggi : Sharlto Copley – Neill Blomkamp

Hai guys..pasca lebaran ini bawaannya diri menjadi lebih baik dong, terutama mengenai sisi sosial kita. Kita akan merasa lebih bersih, suci, lebih penuh kasih, lebih mempunyai rasa ingin berbuat kebaikan, baik untuk diri sendiri maupun kepada orang lain. Oleh karena itu, ane kali ini mau mengangkat tema sosial dalam film. Yang terlintas pertama kali dalam pikiran saya kalo ngomongin film berbau sosial, ane langsung teringat ama film District 9. Jujur ane bilang, ni film buat mata ane berkaca-kaca, bodo deh mau kalian bilang ane cowok tapi kok nangis, haha… memang ni film sedih banget. Nah, bermula dari District 9, maka ane mendapati figur yang mau ane angkat dalam postingan film berbau sosial kali ini. Ada 2 orang, mereka adalah duet aktor dan sutradara, Sharlto Copley dan Neill Blomkamp. Keduanya terlibat di 3 film yang mengangkat tema sosial : District 9 (2009), Elysium (2013), Chappie (2015).


Oke mari kita mulai dari mengenal siapa sih sebenarnya mereka bedua? Kok sibuknya bikin film tema sosial aja? Profil yang sama dari mereka berdua adalah mereka sama-sama berasal dari satu kampung guys, yaitu di Johannesburg, Afrika Selatan. Kalo kita mendengar kata Afrika, opini yang umumnya keluar adalah negara miskin dan tertinggal. Mungkin hal ini lah yang menjadi dasar ide dari duet Copley-Blomkamp untuk membuat film tentang masalah sosial di Afrika.


Selain Afrika Selatan, yang kita ketahui memang Afrika Selatan adalah negara maju yang penduduknya sudah bercampur dengan pendatang (termasuk Copley dan Blomkamp sendiri adalah orang kulit putih) dan bisa menggelar event sekelas Piala Dunia, negara-negara Afrika lainnya tidaklah semaju Afrika Selatan, masih banyak negara Afrika yang penduduknya miskin dan tertinggal, bahkan ada negara disana yang nilai mata uangnya sangat jauh lebih rendah dari mata uang dunia, harga sepotong roti atau sebutir telur disana bisa jutaan angkanya guys..kalo lebih mahal lagi seperti elektronik harganya milyaran, gibehhh…. Mungkin karna mereka berdua hidup dan besar di daerah yang kental dengan masalah sosial makanya mereka berniat mengangkat isu tersebut ke bentuk film. 


Berbicara soal film-filmnya, menurut saya ada 3 masalah inti yang mereka angkat ke dalam film, yaitu pertama rasisme, kedua kesenjangan sosial dan yang ketiga masalah tingkat kriminalitas.  Masalah sosial yang pertama adalah isu rasisme, ini yang saya petik dari film layar lebar pertama mereka berdua : District 9. Rasisme adalah isu yang menyinggung masyarakat kulit hitam dengan kulit putih disana. Common issue dewasa ini soal rasisme adalah masyarakat kulit putih suka mengolok-olok masyarakat kulit hitam, orang negro menjadi bahan ejekan, adanya diskriminasi ras, membeda-bedakan sesuatu atas warna kulit, masyarakat kulit putih merasa mereka mempunyai “kelebihan” dari segala sisi dibandingkan dengan masyarakat kulit hitam. Isu rasisme ini tak hanya berlaku di Afrika, tapi justru telah meluas ke seluruh dunia.


Dimana-mana masyarakat kulit hitam dikucilkan. Dalam hal pelayanan hak-hak sosial juga dibeda-bedakan. Sampai-sampai dalam dunia persepakbolaan juga terjadi kasus rasisme, dalam pertandingan sepakbola yang ada pemain kulit hitamnya pernah beberapa kali penonton melempari lapangan dengan kulit pisang dan mengeluarkan nada seperti suara monyet, hal ini pun memaksa badan sepakbola dunia FIFA untuk mengkampanyekan damai “Say No To Racism” di setiap event sepakbola. Uppsss…kok malah ke sepakbola ya? Hehe..maaf…kan masih lebaranan..



Ayo kembali ke laptop, eh ke filmnya, District 9 itu ceritanya berlokasi di Johannesburg, Afrika Selatan. Disana terdampar pesawat induk alien yang sangat besar , rusak hanya melayang diudara dan tak bisa terbang kembali ke planet asal aliennya. Jadi aliennya mau tak mau terpaksa tinggal menetap di Johannesburg. Aliennya berjumlah banyak banget guys, satu kecamatan keknya, haha…mereka disini divisualkan seperti hewan udang yang mempunyai badan setinggi manusia, jelek, kurus, jorok, bodoh (padahal sebenarnya ngga, hanya ga bisa berkomunikasi dengan bahasa manusia, mreka mempunyai bahasa sendiri). Selama mereka tinggal 20 tahun disana, mereka diperlakukan tidak manusiawi. Mungkin karna hal-hal negatif tadi. Mereka hanya diberikan tempat tinggal gubuk kecil, mereka makan dari sampah-sampah sisa masyrakat. Lama-kelamaan para alien ini makin bertindak menjurus membahayakan penduduk setempat. Ada yang melakukan pembunuhan, pemerkosaan, hingga kerusuhan merusak fasilitas umum. Mungkin karena mereka juga menginginkan hak sosial yang lebih layak dari yang selama ini diberikan pemerintah setempat. Para alien ini bermukim di daerah kumuh yang diberi nama District 9.

District 9 ini dikelola oleh perusahaan MNU. Dalam film ini MNU berusaha merelokasi para alien ke tempat lain yang jauh dari penduduk setempat, dikarenakan penduduk sudah mulai resah dengan keberadaan alien yang menjurus kriminal. Selain bertujuan merelokasi, ternyata MNU juga mempunyai tujuan tersembunyi, yaitu untuk memiliki dan meneliti teknologi alien tersebut, alien itu terdampar juga membawa senjata juga guys.

Konflik intinya terjadi ketika salah satu pegawai MNU, Wikus Van Der Merwe, yang diperankan langsung oleh Sharlto Copley, tertular cairan alien saat hendak mengusir para alien. Gara-gara itu dia mulai berubah bentuk menjadi setengah manusia setengah alien. Dengan kondisi seperti itu, Wikus dikucilkan oleh teman-teman dan keluarganya, bahkan dia mau dijadikan bahan eksperimen perjabat MNU lainnya. 


Mengetahui hal ini Wikus berontak, bersembunyi dan berkoalisi dengan alien. Jadi Wikus pun merasakan bagaimana tidak enaknya menjadi alien, banyak adegan kesedihan setelah Wikus benar-benar menjadi teman alien, sampai-sampai dia rela berkorban mati melawan tentara MNU untuk memberikan jalan bagi Christopher, temen aliennya, untuk melarikan diri dan membawa terbang kembali pesawat induk ke planet asalnya. Fiuhhh…pembuat film ini bener-bener sialan dah, maksudnya sialan bisa banget bikin ane sedih, mereka pasang backsound yang bikin merinding mengiris hati paling dalam, ada 2 adegan yang ane maksud, yaitu adegan ketika anak Christopher minta pulang ke planet asal dan ketika Wikus berkorban diri melawan tentara MNU.




Well…film ini menurut saya mengajarkan bagaimana kalo seandainya kita yang berada di posisi jadi orang ras yang dibeda-bedakan tersebut, pasti sangat tidak enak rasanya bukan, maka alangkah baiknya kita tidak membeda-bedakan ras, atau dalam hal ini bisa kita perluas pengertiannya seperti respect, saling menghargai, jangan melakukan diskriminasi, membeda-bedakan perlakuan atau pelayanan dan pergaulan kita berdasarkan ras, suku, agama, strata sosial maupun derajat ekonomi. Bukan begitu bukan? Hehe…


Lanjut ke film kedua yaitu Elysium. Film ini sama aja, bikin gue mewek endingnya bangke banget tu jagoan pake berkorban mati pula si Matt Damon-nya, haha…  Jadi ceritanya tuh ni film tentang kesenjangan sosial. Diskenariokan di jaman beberapa tahun kedepan, orang-orang kaya hidup di luar angkasa, mereka dibuatin tempat tinggal yang seperti mininya surga, eh kalo ga salah juga Elysium artinya surga bukan ya? Di tempat itu memiliki satu fasilitas kesehatan yang bisa mengobati segala macam penyakit dan kerusakan tubuh, diberi nama Kapsul Medis, cukup tarok orang yang sakit baring diatasnya, kemudian discan dan sembuh deh. Saking ajaibnya fasilitas kesehatan ini bisa bikin muda kembali bahkan sampai mengembalikan wajah rusak akibat ledakan. Ajaib beuet yak…


Nah ni alat yang menjadi konflik inti film. Orang-orang miskin yang tinggal di bumi tidak berhak untuk menggunakan alat itu guys. Matt Damon tadi disini berperan sebagai Max, orang bumi yang tertular radiasi mematikan dan membutuhkan alat itu untuk sembuh. Apapun ia lakukan untuk dapat terbang ke Elysium dan ke Kapsul Medis untuk sembuh. Sang sutradara Neill Blomkamp memberi bumbu action laga dan tembak menembak serta visual effect futuristik yang saya akui sangat keren untuk membuat ini film bernilai lebih tak hanya bernilai sosial. Selain bumbu action, ada sedikit diselipin bumbu politik juga dengan adanya Mentri Pertahanan Elysium, Ny. Delacourt, yang berencana mengkudeta Presiden Patel, ia dibantu dengan tentara bayaran Agen Krugger yang sadis. Nah disini kita akan melihat akting berbeda dari Sharlto Copley guys, dia jadi Agen Krugger yang sadis itu, bolela…cukup meyakinkan kok, apalagi sepertinya ia nge-gym untuk nambahin berat badan dan kegarangan badannya sebagai tentara.


Krugger dan Delacourt lah yang menjadi hambatan Max untuk menduduki Kapsul Medis, namun Max punya sesuatu yang sangat berharga didalam kepalanya, yaitu data reboot sistem Elysium buat kudeta tadi. Di endingnya Max mengorbankan dirinya lewat upload data di kepalanya untuk membuat seluruh warga bumi tercatat sebagai warga Elysium dan berhak atas pelayanan Kapsul Medis. Owh…pahlawan banget…


Ya menurut saya film ini ingin menyampaikan masalah kesenjangan sosial, entah itu di Afrika maupun di seluruh dunia, bahwa pelayanan medis yang baik itu selama ini hanya hak orang kaya saja, orang miskin tidak dapat menikmatinya. Film ini mempunyai impian seandainya saja memungkinkan bagi orang miskin juga mendapatkan pelayanan kesehatan yang baik, sehingga semua manusia sehat walafiat tanpa ada kesenjangan sosial, berharap ya kalo memang orang kaya punya peralatan yang bagus buat mengobati semua orang, ya bole lah digunakan juga oleh rakyat miskin. Meskipun kita tau sih sebenarnya alat itu mahal, namun ya biaya yang mahal itu lah yang ditanggung bersama semua orang kaya, anggap saja sumbangan dari orang-orang yang kelebihan duit mensubsidi buat orang yang kekurangan duit, sistem gotong royong, begitulah kira-kira, hehe…maaf kalo salah.

Okey..lanjut ke film ketiga, Chappie. Dari namanya aja udah kayak judul film anak-anak yak. Ya memang itu adalah nama seorang anak. Tapi anak ini bukanlah anak manusia. Melainkan robot guys. Sebenarnya film ini mengangkat tema maraknya kriminalitas yang terjadi di Afrika. Namun Blomkamp mengemasnya dalam bentuk action comedy berbau sedikit childish, hehe. Jadi ceritanya begini, di Johannesburg, lagi-lagi Jo-burg guys, tingkat kriminalitas tinggi, untuk mengantisipasi hal ini pemerintah setempat memperkerjakan polisi robot, yang menurut mereka kerjanya sangat bagus dalam menangani para penjahat. Robotnya bisa bergerak sendiri sesuai perintah.


Nah, si Deon, ilmuwan muda yang membuat ni robot, berhasil membuat Artificial Intelegence (AI) sendiri untuk robot, artinya robot bisa punya pikiran sendiri tanpa harus diperintah. Keberhasilan Deon ga didukung ama atasannya, jadi dia diam-diam ngambil robot bekas yang rusak untuk dia tanam tuh AI ke dalamnya. Sehingga robot itu lahir dan bermula seperti bayi, bayi yang pintar, daya tangkap dan daya belajarnya sangat cepat, robot itu diberi nama Chappie dan Chappie disini diperankan oleh Sharlto Copley. Dalam beberapa hari saja Chappie sudah bisa bertindak selayaknya orang dewasa, bahkan cukup tangguh. Namun yang menjadi masalah disini adalah Chappie tadi tumbuh besar dibawah asuhan para gangster penjahat disana, Ninja dkk.



Ninja mengajarkan dia cara menjadi perampok, haduh…  Proses “pengasuhan” ini dibumbui dengan unsur komedi yang lucu, membuat penonton tertawa. Namun tawa berubah kesedihan ketika film memasuki bagian akhir. Terjadi baku tembak dengan robot raksasa, Moose, yang dikendalikan oleh Vincent Moore, ilmuwan lain saingannya Deon di dalam perusahaan. Moose membuat para pengasuh Chappie tewas, yakni Yolandi yang jadi mamanya Chappie dan Amerika yang jadi pamannya Chappie. Huuuaaa….sedih banget….Blompkamp pandai banget memainkan perasaan sedih penontonnya, awas loe ya, haha… 

Film ini menyampaikan bahwa lingkungan sangat mempengaruhi seseorang dalam membentuk kepribadiannya. Tingkat kriminalitas yang tinggi di Afrika bisa saja disebabkan karena pengaruh lingkungan yang buruk seperti yang digambarkan dalam film ini, lingkungan yang penuh dengan kekerasan, berandalan, gangster, pengangguran, pendidikan yang rendah, kemiskinan, untuk hidup mereka harus berjuang mati-matian menghalalkan segala cara. Mungkin Copley dan Blomkamp berharap lingkungan yang buruk ini dapat diperbaiki, agar lebih kondusif dan positif dalam memberikan pengaruh kepada orang-orang di dalamnya.

Selesai…hehe…maaf ya kalo ada salah dalam penafsiran reviewnya. Mudah-mudahan kita dapat mengambil hikmah dan pelajaran yang positif dari nilai-nilai sosial yang disampaikan oleh film-film td. Saya pribadi mengacungkan jempol untuk Sharlto Copley dan Neill Blomkamp atas dedikasi mereka membuat film yang memuat unsur sosial disaat serbuan film-film yang hanya menarok kepentingan komersial. Mereka berdua cerdas, dapat mengemas film sindirian sosial dengan unsur action, komedi dan sci-fi sehingga film mereka pun juga enak untuk ditonton secara komersial. Bagaimana menurut pendapat kawan-kawan? Komen ya, hehe…

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...