Minggu, 27 Desember 2020

Bedah Film Swiss Army Man (2016) : Perjuangan Melawan Depresi Yang Disajikan Dalam Kreatifitas Level Tertinggi

Part I : Non Spoiler Review

Kalian pernah liat pisau MacGyver? Sebuah pisau serba guna yang selalu dibawa tokoh utama dalam serial MacGyver itu, nah itu namanya Swiss Army Knife. Brand pisau ini memang cukup populer, dan istilah "Swiss Army" sering disematkan kepada hal/benda yang multi fungsi. Nah film ini tuh memang mencatut nama brand Swiss Army tersebut, untuk menggambarkan peran dari Manny, seorang mayat hidup yang ternyata serba guna, makanya diberi judul Swiss Army Man.


Oke, mau mulai dari mana dulu nih? Sinopsis aja dulu ya.. Swiss Army Man menceritakan seorang pemuda bernama Hank, yang mencoba untuk gantung diri di sebuah pulau. Untungnya, detik-detik jelang itu terjadi, dia melihat ada mayat yang tergeletak jauh di depannya. Penasaran dong, dia tunda bunuh dirinya dan ngedatengin tuh mayat. Eh busettt, mayatnya bisa ngomong guys! But ini bukan film horor ya, ini komedi, super kocak dan super unik. Ga pernah ada kalian liat film yang seperti ini.

Apa yang Hank lakukan terhadap mayat tersebut? Edan! Dijadiin temen tuh mayat, dikasih nama pula, Manny. Hebatnya, tubuh Manny ternyata juga banyak kegunaan, seperti tangannya yang kuat dan tajam bisa memotong pohon, mulutnya bisa dijadikan senjata tembakan bertenaga angin, bahkan "anunya" bisa jadi kompas penunjuk arah...wkwkwkwk... Apa misi mereka? Mencoba keluar dari hutan tersebut. So, berhasilkah mereka? Silahkan tonton sendiri, dijamin ga nyesel. Kamu akan tertawa terbahak-bahak melihat tingkah laku keduanya, yang berusaha untuk bertahan hidup, nyari sumber daya, sembari menghibur diri sendiri. Ada banyak humor yang diselipkan, terutama referensi kepada popculture. (Saya selalu suka dengan film-film yang hobi nyelipin popculture).


Swiss Army Man adalah sebuah film retorika-retrospektif, tentang orang hidup yang pengen mati malah mencoba "membujuk" orang mati agar hidup kembali, berupaya meyakinkan si orang mati bahwa hidup adalah sesuatu yang layak diperjuangkan. Lah dia aja pen bunuh diri..kan kebalik yah...betapa restrospektifnya ni film! 

Minggu, 01 November 2020

Film Paling Aneh di 2020 : Review Non Spoiler dan Penjelasan Ending I'm Thinking Of Ending Things (2020)

Judulnya tuh eye-catchy banget ya, I'm Thinking of Ending Things, jadi menggoda saya untuk langsung menontonnya. Entah ini genre apa, tentang apa, saya ga tau sama sekali, bahkan trailernya juga ga saya liat. Durasi demi durasi yang dilalui sebenarnya sangat membingungkan, tapi entah kenapa saya tetep aja terusin, mungkin karena narasi yang disampaikan dari perspektif si cewek dalam film ini menghipnotis sekali, jadi cukup membuat kepo ini sebenarnya ada apa gitu ya, gimana nasib ni cewek di ending. 

Filmnya menceritakan perjalanan sepasang kekasih, Lucy dan Jake, menuju rumah orang tua Jake, dalam rangka Jake yang mau ngenalin pacarnya ini ke ortunya. Mobil yang mereka kendarai harus melalui perjalanan jauh dan bersalju, menyiratkan suasana hati yang dingin dan terasa lama banget, scene yang sengaja dibuat demikian untuk "mendukung" ke-bete-an Lucy, menguatkan keinginannya untuk segera mengakhiri hubungannya dengan si Jake, karena pikiran "I'm Thinking Of Ending Things" ini yang terus berulang di pikirannya.

Selama perjalanan, percakapan terus diupayakan oleh Jake sehingga Lucy ga boring, atau Jake memang sengaja untuk mematahkan pikiran Lucy tadi, dengan selalu menyela dan menciptakan bahasan. Bahasannya ga tanggung-tanggung, dibungkus dengan dialog-dialog yang cerdas, mereka silih berganti saling lempar referensi pop-culture, sebut saja seperti review film, puisi, musikal, dan buku.

Sesampainya di rumah orang tua Jake, persepsi horor akan langsung tertancap di benak penonton, dikarenakan hadirnya Toni Collete, aktris yang peran horornya di Hereditary sangat membekas. Ditambah lagi dengan suasana awkward di meja makan, orang tua Jake mencoba untuk tampil ramah di hadapan calon mantunya, sedangkan Lucy ga tau ada apa sebenarnya di rumah mereka tersebut. Jake sendiri memang punya satu rahasia yang sangat tidak ingin terbongkar. Tak bisa dipungkiri filmnya memiliki unsur creepy yang cukup menakutkan.

Kamis, 22 Oktober 2020

Dua Film Kolosal Korea Yang "Kembar" : Masquerade (2012) vs I Am The King (2012)

Taukah kamu kalo ada sebuah kejadian unik di tahun 2012 dalam perfilman Korea Selatan, dimana ada 2 film yang sangat mirip dan rilisnya juga berdekatan. Keduanya sama-sama menceritakan kembali masa kedinastian disana. Dan kebetulannya lagi, keduanya sama-sama mengadaptasi tema dari novel The Prince and The Pauper, yaitu "pertukaran pemuda" 😂. Kisah pejabat yang bertukar identitas dengan rakjel yang kebetulan mukanya mirip. Jadi sebenarnya ini suatu kebetulan ato memang janjian sih? Hadeh... Untuk itu coba kita bandingin dan liat apa aja perbedaannya. Pembahasan ini aman dari spoiler kecuali yang ada spoiler alert-nya ya.


Rilis
Masquerade rilis di bulan September yang artinya satu bulan lebih lambat setelah I Am The King yang duluan rilis di bulan Agustus.

Pemeran
Masquerade "terpaksa" mengajak aktor kawakan Lee Byung Hun untuk mengisi peran utama, karena awalnya memang proyek ini targetnya bukan dia. Cuma karena pergantian sutradara, akhirnya juga ikut pergantian aktornya. Sedangkan I Am The King menggunakan jasa aktor yang populer lewat serial Princess Hours, yaitu Ju Ji Hoon.

Box Office
Masquerade memiliki budget sekitar 8 juta dollar AS atau setara 72 milyar rupiah kala itu, angkat itu bahkan lebih besar daripada penghasilan I Am The King yang hanya separuhnya. Penghasilan Masquerade sendiri termasuk salah satu dari 10 film Korea dengan pendapatan terbanyak dan menempati posisi 9 dengan angka 94 juta dollar AS. Banyak faktor yang membuatnya jadi "kaya" begini, disamping karena unsur teknisnya yang memang yahud, faktor external lain seperti invest di aktor papan atas berkelas Hollywood Lee Byung Hun, tentu menarik minat lebih banyak penonton, kemudian juga waktu itu berpas-pasan dengan akan digelarnya pilpres pekan depannya, jadi tema pemimpin ini sangat relevan dan jadi santapan hangat.

Jumat, 02 Oktober 2020

13 Film Korea Selatan Paling Esensial Yang Harus Kamu Tonton Sebelum Nyebur Ke Dalam Hallyuwood!

Kesuksesan Parasite dalam dunia perfilman global membuka mata penonton dunia ke arah Korea Selatan. Orang-orang mulai menjelajahi film-film asal negri ginseng tersebut, yang disebut dengan istilah Hallyuwood, sebagai "sinonim pelesetan" dari Hollywood-nya Korea. Ini terimbas juga kepada media penyiaran seperti tv dan video on demand yang ikut meramaikan bisnis mereka dengan mengisi film-film Korea di saluran mereka. Tapi, bagi kita sebagai penonton yang baru mau mulai, mau mulai dari mana? Ada sekian banyak film Korea yang bagus-bagus, tapi bagusnya nonton yang mana dulu nih? Nah..setelah saya tonton banyak film Korea, berikut ini adalah film-film Korea yang menurut saya paling esensial, yang harus kamu tonton terlebih dahulu, sebelum nonton film-film Korea lainnya.

Untuk list ini, saya perlu menyempitkan pilihan. Pertama saya sortir filmnya hanya yang dirilis maksimal tahun 2010 dan kebawahnya (sebelumnya). Karena mereka bukan film "baru", film lama, senior lah caknya, mereka yang lebih dahulu hadir. Kemudian, saya mencoba untuk memberikan keterwakilan untuk setiap genre film, baik murni satu genre di dalamnya maupun kombinasi beberapa genre. Dan saya pilih dari setiap genre itu, judul yang paling sering disebut oleh orang-orang alias yang lebih populer. Mungkin ada film yang bagus, tapi ga begitu populer seperti Il Mare, Shiri atau Going By The Book. Lalu jika ada satu sutradara yang punya banyak film bagus, maka saya juga hanya pilih satu atau dua saja sebagai perwakilan. Contoh, ada banyak film karya Park Chan Wook yang bagus-bagus yang rilis sebelum 2010, seperti Vengeance Trilogy, JSA, I am A Cyborg but That's OK, dan Thirst, tapi saya pilih hanya satu atau dua saja sebagai perwakilan. Dan terakhir saya jamin semua film ini sangat bagus dalam urusan teknis, seperti penyutradaraan, skenario, akting, sinematografi, scoring, dll, yang telah diakui karena dapat awards dimana-mana. So, without bacot lebih banyak lagi, lets go to the list.

1. Oldboy (2003) : Mystery-Thriller

Current rating : 8.4/10 IMDb, 82% Rotten Tomatoes, 21+

Ini wajib, super wajib! Penjelasannya sih udah saya buat di artikel berikut ini : Beribu Alasan Kenapa Old Boy Adalah Film Terbaik Korea Yang Kamu Pasti Ga Nyangka! Tapi itu hanya untuk yang udah nonton aja. Nah bagi kamu yang belum nonton, film ini merupakan misteri tentang proses balas dendam seseorang bernama Oh Dae Su. Tanpa tau kenapa dan sebab apapun, dia disekap dalam ruangan selama 15 tahun! Gila ga tuh! Jadi dia bertekad untuk balas dendam dengan mencari siapa dalang penyekapnya. Uniknya, pelakunya bukan bersembunyi, tapi berani untuk berkomunikasi dengan Oh Dae Su. Dengan dibantu oleh seorang gadis yang dia temui, Mido, mereka berdua melakukan penelusuran terhadap petunjuk-petunjuk yang mereka punya. Gimana endingnya? You will never see that coming! Selain dari segi misteri, film ini juga mempunyai unsur fight action yang keren. Soal teknis ga usah ditanya, banyak menang award, semuanya outstanding, mulai dari script, akting, penyutradaraan, sinematografi, dan set produksi.

2. Memories of Murder (2003) : Mystery-Suspense

Current rating : 8.1/10 IMDb, 91% Rotten Tomatoes, 21+

Sutradara Parasite, Bong Joon Ho, naik daun ya lewat film ini nih. Berdasarkan kisah nyata, film ini bercerita tentang dua polisi yang melakukan penyelidikan terhadap kasus pembunuhan berantai di sebuah desa. Uniknya si serial-killer ini kalo membunuh punya ciri khas, seperti timing dan target yang diincer. Proses investigasi ini sangat menarik ditelusuri, apalagi dua detektif ini berbeda gaya dan punya keyakinan sendiri terhadap keampuhan metode yang mereka pakai. Yang satu santai dan data-based-guy, yang satu temperamental-judgemental yang mengintimidasi para suspects. Memories of Murder adalah sebuah presentasi yang hebat dari sebuah kisah nyata, dengan penyutradaraan, akting dan sinematografi yang berkelas. Untuk film ini kita udah ada reviewnya oleh Nendra, klik disini untuk baca reviewnya.

3. A Bittersweet Life (2005) : Action-Thriller

Current rating : 7.6/10 IMDb, 100% Rotten Tomatoes, 17+

A Bittersweet Life diisi oleh aktor Korea paling terkenal, Lee Byung Hun. Dalam film ini ia berperan sebagai seorang bodyguard, yang ditugaskan untuk menjaga pacar simpanan bosnya. Alih-alih menjaga, dia malah sepertinya jatuh cinta ama tuh cewek. Siapa yang ga bakal jatuh cinta wong cantik gitu, hehe.. Rada-rada mirip ama The Bodyguard From Beijing lah. Cuma bedanya A Bittersweet Life dikemas dengan cinematography apik dan makna yang filosofis. Ini tak lepas dari tangan salah satu sutradara terbaik Korea Selatan, Kim Jee Won yang juga menahkodai film Tale of Two Sisters. Urusan action, udah jaminan mutu, Lee Byung Hun bukan sembarang main film, disini banyak sekali adegan action dan fighting yang dahsyat dan memacu adrenalin. Bahkan bisa jadi film ini banyak dijadikan referensi oleh filmmaker-filmmaker lain dalam membuat sequence action, seperti adegan dalam gedung terbengkalai itu sepertinya menginspirasi Gareth Evans dalam film The Raid.

Kamis, 10 September 2020

Arrival (2016) Adalah (Mungkin) Film Sci-Fi Terbaik. No. 8 Bikin Kamu Terkejut!

Jika kamu belum nonton ato belum tau Arrival itu film apa, kamu bisa dulu baca review dan penjelasannya di link ini, Dan...Tanpa banyak basa-basi lagi, berikut 11 alasan kenapa Arrival adalah (mungkin) film scifi terbaik sepanjang masa. Komen dibawah apakah kalian sepakat ato ngga dengan list berikut ini. 

1. Denis Villenueve
Mendengar nama Denis Villenueve itu udah kayak denger nama Lord Voldemort The "You-Know-Who" tapi versi baiknya. Nama dia tuh udah jaminan pasti filmnya bagus. Denis orang yang perfectionist dan visionary. Tingkat kejeniusannya bisa jadi mendekati Lord lainnya yaitu Lord Nolan. Kalo kamu baru mengenal Denis lewat Arrival, bagusnya kamu juga ikut mengenal karyanya yang lain. Kalo dia lagi pengen bikin film rumit, dipastikan itu akan menjadi never ending discussion seperti Arrival dan Enemy. Kalo dia lagi pengen bikin film yang ga rumit, maka dia akan bener-bener fokus di aspek cerita, plot dan karakter seperti Incendies dan Prisoners, sekalipun harus memakan durasi yang lama. Satu hal yang jadi trademarknya adalah slow pace. Meskipun Blade Runner 2049 dan Sicario punya unsur action tapi tidak menggebu-gebu.


2. 94% di Rotten Tomatoes, 7,9/10 IMDB dan Box-Office Success
Di puja oleh tukang kritik, masyarakat biasa pun juga suka, secara duit juga udah laba banyak. So, ga ada celah untuk membuat film ini disebut film gagal. 

3. Academy Awards Level
Diisi oleh pemain-pemain yang udah pernah masuk Oscar yaitu Jeremy Renner di film The Hurt Locker, Amy Adams di film American Hustle dan Forest Whitaker di film The Last King of Scotland. Filmnya pun masuk di 8 kategori Piala Oscar, Best Director, Best Cinematography, Best Adapted Screenplay, Best Sound Editing, Best Sound Mixing, Best Film Editing, Best Production Design, termasuk yang bergengsi yaitu Best Picture.

4. Sound Yang Merinding
Yang ini ga bisa diungkapkan dengan kata-kata, dengerin aja beberapa sound merinding hasil bikinan mereka di dalam filmnya.

5. Time Travel Logic
Film ini menunjukkan pendekatan lain tentang time travel, bahwa waktu itu "satu", ga linear maju, ga ada banyak versi, ga ada opsi ubah masa lalu, time travel disini hanyalah berupa penglihatan. Ini seprinsip dengan saya bahwa time travel is impossible, silahkan change my mind kalo punya bukti. Saya udah kenyang film-film timetravel, tapi ga ada satupun yang bisa mematahkan paradox. Sekalipun ada teori gila Einstein tentang relativitas ruang dan waktu, but I'm with Stephen Hawking. Ibarat penganut bumi datar, nah saya penganut timetravel is impossible, call me stupid, but I'm just being realistic with the paradoxes. Setiap timetravel paradox itu sangat fundamental, sebut saja Predestination Paradox, Bootstrap Paradox, Grandfather Paradox etc.

Jumat, 28 Agustus 2020

Penjelasan Ending : Arrival (2017) - Pendekatan Alternatif Logis Tentang Time Travel

Arrival merupakan salah satu film jenius yang dibuat oleh sutradara jenius. Dan kali ini adalah penjelasannya, yuk simak sampai habis ya.


Banyak yang salah nih kalo ngira ni film adalah film action perang lawan alien, padahal ya memang ga gitu. Filmnya emang dibuat drama yang cenderung membosankan bagi penonton awam. Tapi nih.. justru film ini yang menurut saya film paling bener tentang alien. Maksudnya ya film ini menunjukkan ini lho yang terjadi sebenernya kalo ada alien datang ke bumi. Ya kita ga ujug-ujug langsung perang, alien juga ga ujug-ujug langsung nyerang bumi. Tapi hal pertama yang dilakukan adalah cari tau apa maksud kedatangan mereka, apakah mereka berniat jahat atau baik. Kalo baik ya jadi teman, kalo jahat baru hajarrr…

Dalam film ini, interaksi dengan alien malah sepenuhnya aman, justru masalah datang dari internal manusianya sendiri.
“People fear what they don't understand and hate what they can't conquer.” - Andrew Smith

Sebuah quote populer yang mana quote ini muncul juga dalam film-film lainnya seperti Transcendence, Man of Steel dan Batman Begins, manusia takut akan sesuatu yang mereka ga ngerti, begitu pula dalam film ini, disumbang oleh 3 pihak mulai dari level terbawah hingga tertinggi : rakyat yang histeria dan panik masal, tentara yang rela membelot, hingga pemimpin negara yang mempersepsikan kedatangan alien sebagai tindakan yang agresif. Jadi apa bener mereka agresif?

Untuk inilah diperlukan expert yang bisa memberi pencerahan. Tapi untuk bisa tau itu tentu harus berkomunikasi dengan alien, nah film ini mengajarkan gimana pendekatan yang bisa dilakukan untuk menjembatani komunikasi karena adanya perbedaan bahasa. Setelah dapat berkomunikasi baru deh kita bisa ngobrol dengan alien, nanya lu maunya apa, sini ngopi bareng dulu.. Arrival mendemonstrasikan tentang gimana reaksi manusia terhadap kedatangan alien, tapi juga secara simultan memanifestasikan gimana kita sendiri antar manusia berkomunikasi satu sama lain.


Ada lebih dari 1 kapal alien yang datang ke bumi dan tersebar di berbagai negara. Setiap negara, melalui pihak militer dan ilmuwan yang mereka punya melakukan penelitian secara kilat terhadap maksud kedatangan alien. Termasuk America, mereka mengandalkan Dr. Louise yang ahli bahasa dan Dr. Ian yang ahli fisika sebagai tim “translator”. Mereka beberapa kali masuk ke dalam kapal alien dan mempelajari bahasa alien tersebut. Tugas mereka berdua tidak mudah karena alien mempunyai bahasa yang aneh, berbentuk lingkaran. So, berhasilkah mereka menerjemahkan apa maksud kedatangan alien? Apa sebenarnya tujuan mereka? Filmnya akan menjawab semua pertanyaan tadi. Nah saya akan bahas film ini dengan sesimpel-simpelnya.

Kamis, 27 Agustus 2020

Beribu Alasan Kenapa Old Boy Adalah Film Terbaik Korea Yang Kamu Pasti Ga Nyangka!

Perfilman Korea Selatan langsung naik daun ya abis Parasite menang Best Picture Piala Oscar. Nah..terkuaklah kalo film Korea Selatan itu banyak yang bagus-bagus, ga kalah ama Hollywood. Trus diantara yang bagus-bagus itu, setuju ga kalo Oldboy adalah yang paling bagus? Bahkan saya berani bilang Parasite telah "merampok" Piala Oscar yang seharusnya telah lama dimiliki oleh Oldboy. Orang-orang hanya ga tau aja Oldboy sebagus ini. Fyi, untuk masuk nominasi Piala Oscar memang pihak film harus gencar melakukan yang namanya "Kampanye" jelang pergelaran. Nah si produsen Parasite ini memang ngelakuin ini, marketing dan word of mouth dimana-mana, hasilnya opini member Academy Award sebagai voters, ikut tergiring. Sedangkan Oldboy dulu mereka ga melakukan kampanye semacam ini.


Nah berikut adalah alasan kenapa Oldboy layak disebut sebagai film terbaik Korea. And of course, ini isinya SPOILER ya, jadi kalo kamu belum nonton, ya nonton dulu sana, baru kesini lagi.

Cerita yang unik
Meskipun temanya tentang balas dendam, tapi pengembangannya bener-bener ga seperti film-film balas dendam pada umumnya, yang biasanya tuh motifnya karena keluarganya dibunuh atau pengkhianatan. Disini tuh unik, dendam timbul karena dia dikurung 15 tahun tanpa alasan, tanpa tau, siapa dan kenapa. Sebaliknya, di kubu sebelah, dendam juga bukan akibat pembunuhan secara langsung, tapi mulutmu harimaumu, hanya karena gosip, yang mengakibatkan butterfly effect kepada kematian seseorang. Jadi tambah unik, dendamnya dibuat bukan cuma dari satu pihak, tapi terdapat di kedua pihak yang berseberangan, jadi sama-sama saling ingin balas dendam. Masing-masing mereka pun ya memiliki cara mengeksekusi akhir yang unik. Scriptnya yang di ungkapkan lewat kata-kata juga bagus banget.

Twist Ending
Sebuah film kalo bisa kasi twist ending tuh gimana gitu, lebih berasa spesial aja, karene meninggalkan rasa shock jadi bakal teringat-ingat. Dan membuat twist yang bener-bener unpredictable itu sulit, twistnya juga ga sembarangan twist lah, yang cuma fan service, tapi twist yang bagus, meskipun harus sad ending atau ga berpihak pada penonton. Disini, twistnya sumpah edan banget! Dan banyak pula. First, Mido ternyata anak Oh Dae Su. Second, Oh Dae Su minta hipnotis ngilangin memori, itu artinya dia memilih untuk saling mencintai, ini sama aja dia akhirnya yang jadi reinkarnasi Lee Woo Jin, yang tetap mau melakukan hubungan meskipun itu terlarang. Ketiga, parahnya lagi, menurut ane, hipnotis yang di ending malah menghasilkan kemungkinan terburuknya, yaitu Oh Dae Su yang hidup dalam dirinya adalah yang "monster". Coba perhatikan baik-baik dalam kalimat yang dibilang ama si tukang hipnotis : "yang berjalan ke depan adalah si monster". Nah scene langkah kaki di salju dan Oh Dae Su udah beranjak dari kursinya itu artinya dia adalah yang si monster! Keempat, sepanjang film penonton digiring untuk menganggap bahwa ini adalah proses balas dendamnya si Oh Dae Su, padahal ternyata Oh Dae Su merupakan bagian dalam rencana balas dendam-nya si Lee Woo Jin. Semua twist ini banyak yang ga sadarin.


Senin, 15 Juni 2020

Review Non Spoiler dan Penjelasan Ending The Lobster (2015)


Part I : Tanpa Spoiler

Mungkin hampir ga akan pernah ditemui film dengan tema relationship yang seunik ini. Pengen tau kenapa? Simak sampe abis ya. Film ini disutradarai Yorgos Lanthimos, seorang sutradara asal Yunani berkelas Oscar lewat film The Favourite. Castnya ada Colin Farrell, Rachel Weisz, Lea Seydoux, dan Olivia Colman. Memiliki rating di IMDB 7,2/10 dan Rotten Tomatoes 87%. Dengan budget hanya $4.5 juta mendulang $15.7 juta di Box Office.

Film ini bersetting di dunia atau masyarakat yang surealis, dimana ada peraturan bahwa setiap manusia harus hidup berpasangan. Jika ga, siap-siap yang jomblo akan dihukum diubah menjadi hewan yang mereka pilih. Seperti judul film ini, The Lobster, hewan ini lah yang dipilih oleh sang tokoh utama, David, yang diperankan oleh Colin Farrell jika dia tidak dapat pasangan. Tapi alih-alih tentang transformasi manusia menjadi binatang, film ini malah bukan menitikberatkan pada hal ini, tapi tentang bagaimana sang tokoh utama berada di kehidupan dengan aturan yang aneh ini. David, baru saja pisah dari istrinya, dia terpaksa harus ikut kegiatan semacam karantina atau pelatihan untuk mencari pasangan. Kegiatan ini digelar di sebuah hotel dan diberi waktu kepada setiap jomblowan dan jomblowati selama 45 hari untuk mendapatkan pasangan diantara mereka para peserta pelatihan. Jika dalam 45 hari mereka masih jomblo, maka mereka harus diubah menjadi binatang.


Sebuah premis yang sangat unik bukan? Kayak film "30 Hari Mencari Cinta", atau film drama cinta Indonesia lainnya, tapi percayalah film ini jauh berbeda. Meskipun sama-sama tentang tema yang hits, kekinian, umum, dan relevan dengan kehidupan nyata, yaitu pemuda galau mencari cinta, tapi sang filmmaker Yorgos Lantimos membuatnya dengan cara yang ga biasa, cenderung absurd dan nyeleneh. Menjadikan film ini segmented banget, ga semua orang bakalan suka. Apalagi Yorgos juga punya ciri khas dalam setiap filmnya yang selalu menampilkan 3 hal "membosankan" berikut ini :

1. Emotionless, setiap tokoh ga pake ekspresi, mau sedih senang mukanya datar gitu-gitu aja, ngomong juga ga pake intonasi, kayak robot.
2. Slow pace, ga terburu-buru, minim suspense.
3. Scoreless, ga ada musik latar, berasa hambar.
4. Metafor and irony, ga langsung to the point mengungkapkan tentang apa filmnya.

Tapi menikmati karya Yorgos bukan pada saat menontonnya, tapi setelah menonton. Yorgos membuat film untuk bercerita dan menyampaikan sesuatu. Filmnya merupakan satirisme dan black comedy dari kehidupan sosial. Bagaimana ia berupaya membuat sindiran dan tamparan terhadap hal-hal umum kemasyarakatan. Meskipun satir tapi ini bukanlah suatu film yang rumit, alurnya linear maju dan bisa dicerna setiap orang, seperti drama pada umumnya. Tapi yang perlu ditelaah adalah makna dari setiap persoalan di dalamnya. 

Selasa, 09 Juni 2020

Penjelasan Ending : The Wailing (2016)

Bagi temen-temen yang sudah nonton film The Wailing mungkin ada diantara kalian yang bertanya-tanya tentang ending dari film ini. Beberapa dari kita bahkan mungkin punya interpretasi sendiri. Disini kami akan mencoba memberikan penjelasan tentang apa aja yang terjadi dalam film The Wailing. Apa saja dia? Akan kita bahas disini.

Sebelum lanjut, kami pastikan bahwa ini hanya untuk yang udah nonton aja, karena penuh dengan spoiler, jadi buat temen-temen yang belum nonton filmnya bisa baca review non spoilernya di link yang ini. Dan buat yang udah nonton, yuk simak penjelasan ini sampai habis.

Apa yang sebenarnya terjadi?
Dukun Il-Gwang ternyata adalah temennya kakek Jepang. Ini dibuktikan dengan adegan ending yang memperlihatkan dukun Il-Gwang bongkar muat box kardus yang isinya adalah foto-foto para korban. Dalam video alternate ending, scene-nya malah dengan gamblang memperlihatkan dukun Il-Gwang menjemput kakek Jepang pake mobilnya. Ini juga dibuktikan dengan celana dalam yang mereka pakai sama. Mereka berdua berteman, bekerja sama untuk menjalankan semacam ritual pengambilan roh untuk memberi "makan" sang iblis, dan sekalian menjadikannya bisnis. Si kakek Jepang menebar santet kepada warga, warga kemudian nyewa dukun Il-Gwang untuk ngusir santet. Il-Gwang hanya perlu berpura-pura dan berbohong kepada warga dengan bilang bahwa dia akan melawan si kakek Jepang. So, mereka dapat uangnya, dapat rohnya juga, beginilah model bisnis konspirasi yang mereka jalankan. Roh korban mereka ambil melalui perantara kamera. Mereka mempercayai bahwa kamera dapat mengambil dan menyimpan roh-roh para korban setelah di jepret.
 

Siapa sebenarnya si kakek Jepang ini?
Sang kakek sebenarnya adalah manusia, namun ia sesekali dirasuki oleh iblis yang merupakan "tuan" mereka berdua. Ketika dalam mode manusia, sang kakek adalah seorang dukun juga, tapi dukun hitam alias jahat, yang bertugas menebar teror ke desa lewat santetnya. Ia melakukan ritual santet terhadap korban melalui perantara benda yang ia ambil, seperti sepatu Hyo Jin. Setelah korban kena santet maka korban akan mulai mengalami gejala ruam merah pada kulit mereka, lalu beberapa waktu kemudian mereka kehilangan kewarasan dan melakukan pembunuhan terhadap anggota keluarganya sendiri.

Ketika dalam mode "iblis", sang kakek menjelma menjadi sosok iblis beneran yakni yang kukunya panjang, mata merah dan mempunyai tanduk. Dalam mode iblis ini ia tidak bisa dibunuh, hal ini dibuktikan oleh dirinya yang hidup kembali setelah tertabrak mobil pick-up yang dikemudikan Jong Goo dan kemudian dibuang ke jurang. Iblis ini tidak hanya merasuki si kakek, tapi juga bisa merasuki orang lainnya. Ini dibuktikan dari scene perkelahian Jong Goo dkk melawan zombie yang tak bisa mati-mati setelah dihajar oleh mereka, karena di dalam zombie ini ada iblis tersebut.
 

Lalu siapa wanita yang berpakaian putih itu?
Ada 2 interpretasi atas sosok ini. Yang pertama dia adalah jelmaan malaikat atau sosok yang "diisi" oleh roh baik. Yang kedua, dia adalah dukun putih alias dukun baik, dalam film ini sebagai lawan si dukun hitam. Apapun interpretasinya, yang dia lakukan adalah sama, yaitu melindungi warga desa dengan segala kemampuan yang dia bisa, seperti menaruh benda dan tanaman yang udah dijampi-jampi sebagai jimat pelindung. Untuk melindungi warga yang sedang "diserang" oleh dukun hitam, dia juga harus mengambil benda milik warga tersebut, yang digunakannya sebagai perantara ilmunya. Contohnya seperti cardigan milik wanita penghibur, jaket milik sopir pick up, dan pita milik Hyo Jin. 

Tes keimanan
Di ending, wanita ini bertemu dengan Jong Goo dan memintanya untuk percaya kepadanya dan menuruti perkataannya untuk tidak masuk kerumah agar jimatnya berhasil. Ini adalah simbol dari ujian ke-iman-an seseorang, untuk dapat percaya pada sesuatu tanpa harus melihat, representasi dari keyakinan manusia terhadap adanya tuhan. Tuhan memerintahkan sesuatu untuk kebaikan manusia itu sendiri tapi acap kali diabaikan. Begitu pula di film ini, diwakilkan lewat Jong Goo yang gagal melewati ujian ini. Jong Goo melihat beberapa benda korban yang melekat dibadan wanita itu, seperti jaket dan cardigan, maka ia menganggap bahwa wanita itu adalah pelakunya. Saat itu Jong Goo memang baru saja dihasut oleh Il-Gwang yang berbohong bahwa wanita itu adalah dukun jahatnya. Jong Goo yang tunduk kepada ucapan tersebut akhirnya tidak mengindahkan permintaan wanita itu di detik-detik terakhir saat ayam akan berkokok ketiga kali, Jong Goo malah pergi masuk rumah. Alhasil upaya wanita ini meminta kepercayaan kepadanya menjadi sia-sia.
 

Jika kita perhatikan lebih detail, jimat dari wanita ini juga dapat kita jumpai di awal-awal film saat Jong Goo mendatangi kasus pembunuhan pertama. Bukti bahwa wanita itu adalah dukun baik dan melawan ilmu hitam juga ditunjukkan lewat scene dukun Il-Gwang yang hidungnya berdarah-darah saat mencoba melewati jimat yang ia pasang. Il-Gwang bereaksi terhadap jimat tersebut karena memang dalam diri Il-Gwang terdapat ilmu hitam.

Pertarungan antar dukun adalah tipuan scene
Nah catatan penting disini adalah scene dimana dukun Il-Gwang melakukan ritual pengusiran santet, itu adalah optical illusion yang sepertinya sengaja ditarok untuk menipu penonton. Dalam scene tersebut seolah-olah Il-Gwang bertarung melawan kakek Jepang yang juga melakukan ritual, padahal yang terjadi sebenarnya adalah itu kejadiannya dalam waktu yang berbeda. Il-Gwang melakukan ritual untuk memperkuat santet dalam diri Hyo-Jin, liat saja setiap yang dilakuin Il-Gwang berakibat sama kepada Hyo-Jin. Sementara ritual kakek Jepang diwaktu yang berbeda untuk menjadikan mayat di dalam mobil pick-up dirasuki iblis dan hidup kembali, mungkin si kakek mau menggunakannya sebagai zombie untuk melawan Jong Goo dkk. Tapi saat ritual ini dilakukan mendapatkan perlawanan dari si wanita misterius, yang sepertinya lebih kuat dan berhasil melumpuhkan si kakek Jepang hingga dia ketakutan masuk kamarnya.

Makna lemparan batu si wanita berpakaian putih?
Ini adalah referensi dari injil yang bunyinya "Let he who is without sin cast the first stone", yang artinya kurang lebih "Yang boleh melempar batu hanyalah dia yang suci alias ga punya dosa", maknanya dalam film ini adalah menyindir sikap main hakim sendiri yang dilakukan oleh Jong Goo, yang seharusnya tidak bole dilakukan, karena untuk menghakimi seseorang (yaitu melempar batu) hanya boleh dilakukan oleh seorang yang berhak (alias yang ga punya dosa).
 

Apa tema dari film ini?
Film ini memiliki tema tentang iman. Dibuka dengan ayat dari injil, kemudian di metaforakan dalam film horor. Jong Goo, adalah kita banget, manusia, yang kurang imannya, dia tidak punya cukup kepercayaan dan membuat keluarganya terbunuh. Tapi ya kita juga ga bisa nyalahin Jong Goo, karena memang akan sulit bagi siapa pun untuk mengambil keputusan saat kondisi seperti itu. Kemudian scene si kakek Jepang mancing dengan umpan, itu juga beberapa kali repetitif dalam film bahwa yang iblis lakukan hanyalah menebar umpan dan menggoda manusia untuk sesat, tinggal kita sebagai manusia apakah termakan umpan atau tidak.

Dan saat si pendeta muda menemui si kakek Jepang dalam gua, si kakek bilang "Jika anda sudah percaya saya iblis, maka saya adalah beneran iblis.". Nah coba dibalik seperti ini : "Jika anda tidak percaya adanya Tuhan, maka tidak ada lah Tuhan itu." Intinya adalah iblis/Tuhan tidak perlu menunjukkan dirinya sendiri agar kita percaya pada keberadaannya, tetapi kita sering berharap iblis/Tuhan untuk menunjukkannya kepada kita baru deh kita percaya ada. Ini juga repetitif dalam kalimat pendeta tua di gereja : "Bagaimana kamu bisa meyakini sesuatu yang tidak kamu lihat dengan mata kamu sendiri?".

Dan pertarungan antara wanita dengan kedua dukun antagonis adalah representasi dari good vs bad, angel vs evil, dan diantaranya ada para korban yang "innocent" seperti Hyo-Jin. The Good mengambil barang bagian atas korban (Cardigan, jaket dan pita) sebagai simbol untuk melindungi mereka, sementara The Bad ngambil bagian bawah (sepatu) sebagai simbol untuk menjatuhkan mereka.
 

Oke demikian penjelasan ending film The Wailing. Jika temen-temen punya pemikiran lain, silahkan komen ya. Mana tau ada yang salah atau terlewatkan. Thanks for visiting.


 

Review non spoiler The Wailing (2016) : Cerita Horor Terbaik Yang Datang Menakutkan dan Menegangkan Tanpa Harus Punya Jumpscare

Mungkin diantara temen-temen banyak yang belum tau film ini, karena film ini memang tidak sepopuler bikinan Hollywood, tapi percayalah bahwa ini termasuk salah satu film horor dengan cerita terbaik. Pengen tau kenapa? Simak sampe abis ya. Sebelum lanjut, kami pastikan bahwa disini adalah review tanpa spoiler, jadi aman untuk temen-temen yang belum nonton. Film The Wailing merupakan film bikinan Korea Selatan pada tahun 2016. Film ini disutradarai oleh Na Hong Jin yang juga menahkodai film The Chaser tahun 2008 yang mengantarkannya mendapatkan penghargaan Sutradara Terbaik pada Korean Film Awards. 


Film ini menawarkan sebuah film horor yang kaya akan cerita misteri dan memiliki plot yang berbobot ketimbang menebar jumpscare disana-sini atau makhluk-makhluk yang menyeramkan, The Wailing bahkan hampir tidak memiliki itu semua. Perlu dicamkan bahwa disini saya bukan berarti menentang jumpscare, karena jumpscare adalah bagian dari film horor. Tapi ketika sebuah film terlalu mengandalkan jumpscare yang terlalu banyak dan melupakan plot cerita, disitulah ketidakpuasan biasanya muncul terhadap filmnya yang berkesan murahan. 

Rabu, 29 April 2020

Review Singkat Mom And Dad (2017) : Super Madness dan Mess Dari Black Comedy Tentang Orang Tua Yang Meluapkan Amarah Secara Brutal Kepada Anaknya


Klo liat kondisi skrg, ni film bs jd representative lho. Saat Corona gni, para ortu psti sebel ama anak2 yg msh bandel nongki2. Pdhal pemerintah udh ngelarang ngumpul, disuruh stay at home. Plg2 krmh mreka mlah bawa virus buat ortu mreka, yg jls2 rentan nyawanya klo trtular virus. Kesel kan psti para ortu?? So..What if your beloved parents, turn out become the one who want to kill you? This movie is all about. Entah apa sebabnya ga dikasi tau. Film ini mgkn trinspirasi dr peluh kesah orangtua scara umum, yg mana sbgai ortu psti prnh mrasa kesel/jengkel atas kelakuan anak2 yg kadang nyebelin, sprti main berantakan, nyuri uang jajan, malas blajar, bolos skolah, dll.

Tanpa origin story, tiba2 aja sluruh pnduduk kota udh kena "virus" yg mngubah stiap orang tua mjdi pnya keinginan utk mmbunuh anak mreka masing2! Bkn jd zombie, tp ttp manusia normal yg pnya akal. Uniknya, mreka hnya brniat mmbunuh anak sndiri, klo mreka jumpa anak org laen mreka ga prdulikan atau mreka berinteraksi sprti biasanya. Mreka cuma brubah jahat trhdap anak mreka sndiri. Sesama orang tua pun mreka ga mnghiraukan. Pokoknya konflik hnya antara ortu-anak kandung.

Review Singkat : Enter Nowhere (2011) : A Gem From Nowhere Dari Low Budget Indie Yang Memberikan Cerita Misteri Horor Non-Konvensional

Mnemukan film bgs dr antah berantah itu ibarat nemuin permata. Slhsatu permata itu adlh film ini. Ga populer, budget minim, aktor ala kadar, dan set lokasi yg sempit, tp ga mmbuat mreka inferior ktimbang film lain. Skilas akn trlihat sprti horror-flick dgn gubuk tua sbgai ikonnya, ckup mmbuat suasana tokoh dan pnonton mrasa claustrophobic. Tp ga sprti Cabin In The Woods, dsni horornya dkit dan bkn gore. Film ini lbh kpda pmecahan misteri yg dimiliki.

Ada 2 wanita dan 1 pria, Samantha, Jody dan Tom. Mreka smua somehow, ga tau gmn, satu per satu brgantian, dtg mlanglahkan kaki ke sbuah gubuk tua di tengah hutan antah berantah. Tom, krn dia pria, mmberanikan diri brusaha mncari jalan plg, kliling hutan brkali2, tp ujung2nya kmnapun ia jalan, ia akan tiba kembali di gubuk tsb. Sprti paradox box, hutan ini bkn hutan biasa. Kita akn pnasaran gmn cara mreka utk bs kluar dr hutan tsb.

Review Singkat Green Book (2018) : A True Friendship Yang Lucu dan Menyentuh Yang Datang Dari Antitesis Kedua Tokoh Utama


Film2 oscar mmg ga prnh mngecewakan. Film oscar itu awalnya mmg ga mnarik minat utk ditonton. Jarang ada action2, thriller, misteri, ato crita yg unik2. Tp klo udh trtonton, kita mau menyelesaikannya smpe abis krn mmg bgus alur ceritanya, naskah, akting dan sinematografinya.

Cuma mmg..ide2 crita oscar slalu itu2 mulu : drama, biografi, LGBT, rasis. Trmasuk yg satu ni. Saat nonton sya ga tau klo ni trnyata biografi. Kirain emg cerita karangan. Ini ttg musisi negro, Don Shirley (#MahershalaAli) yg lulus kuliah seni smpe bergelar doktor atas krmahirannya main piano. Dlm film ni, dia mlakukan konser mini ke kota2 yg rasismenya tinggi di wilayah selatan Amerika.

Dia mmperkerjakan sopir utk tur, namanya Jhonny Lip (#ViggoMortensen). Lip adlh antitesis dr Don. Jika Don adlh org yg trobsesi utk mmprjuangkan ksetaraan rasis lewat musiknya, Lip adlh seorg Italian yg sngat rasis dan anti negro. Awalnya Lip dilema utk mnerima job sopir ini hrs "brteman dgn negro", namun trpaksa ia ambil krn mmg lg btuh pekerjaan utk biayain rumah tangganya.

Review Singkat Mortal Engines (2018) : Visual Astonishingnya Melelahkan Yang Menenggelamkan Drama Dan Karakter Yang Kurang Personal


Film ini mrupakan slah satu biggest box office bomb 2018. Pdhal mmbawa nama besar Peter Jackson (Lord of The Rings) sbgai produser. So, where it goes wrong? Here we go.. Ini adlh bukti jika hnya jualan visual aja ga ckup utk sukses. Sya akui visualnya "astonishing", one of the greatest visionary, dlm mnerjemahkan novel ke dlm live action. Kota yg brdiri diatas fondasi mesin yg bs brjalan mngunakan roda besi bergerigi itu. Tak hnya itu, kotanya jg pnya artileri. Mjdikannya sbuah kombinasi sempurna antara alat berat dgn armada tank brukuran sribu kali lapangan bola! Ibarat film Mad Max Fury Road dlm skala raksasa.

Brcrita ttg bumi di masa depan, kira2 tahun 3.000an dmn mnusia hidup pasca perang dunia yg mnghancurkan seisi bumi dlm 60 menit saja. Hukum rimbapun brlaku dsni, kota2 yg kuat "mmakan" kota2 yg lemah, demi mmperebutkan sumber daya utk terus mnyalakan mesin pnggerak kota.

3 Drama Korea Terbaik 2019 Versi JMFC

Anyonghaseo.. #DrakorLovers.. Mumpung kita2 pd #StayAtHome gegara Corona, nah bs nnton drakor sbgai time-killer alternative..so kali ni mimin mo coba share 3 #DrakorTerbaik2019 versi mimin. Tnpa byk basa-basi lg krn ktrbatasan karakter huruf, ini dia listnya.


#HotelDeLLuna
Dr critanya aja udh unik ya, dmn klian bs nemuin ada Hotel yg isinya hantu smua?? Ya cuma dsni..jdi nih critanya Hotel ini mrupakan tmpat para arwah sblm mnuju akhirat. Brbgai jenis arwah ada ddlmnya, trgantung kmatiannya gmn..tp mskipun ini hotel arwah, tp hotel ini mmiliki fasilitas yg diluar nalar, hotel bintang 5 kalah, ni bintang 10 dah..wkwkwk.

Review Singkat Wayne's World (1992) : Duo Bromance Yang Suka Rock Ini Ibarat Duo The Comment Yang Gokil Pada Jamannya


Awalnya tuh ga sengaja tertonton sebuah scene film di sebuah channel tv berlangganan, ada adegan anak-anak muda Amrik yang lagi beraksi dengan backsound "Mission Impossible"nya Tom Cruise gitu. Saya kira ini parodi film seperti Scary Movie. Ternyata bukan, tapi mereka banyak menyelipkan unsur-unsur popculture di dalamnya, baik itu referensi perfilman, acara tv, musik, brand dan selebriti.

Filmnya sendiri sumpah kocak banget. Tapi bukan komedi konyol tingkah laku kayak komedi klasik ya, melainkan dengan mengusung inside jokes. Wayne dan Garth ini ibarat duo #TheComments versi jadul, mereka merupakan host sebuah talkshow hiburan di saluran indie. Yang berperan sebagai Wayne adalah si Austin Power #MikeMyers. Disini mereka kayak #Deadpool juga dalam hal #breaking the 4th wall. Wayne dan sobatnya, Garth, bisa ngomong ke kamera dan berinteraksi dengan penonton.

Kamis, 23 April 2020

Review Singkat Being John Malkovich (1999) : Drama Cinta Segitiga Yang Unik, Fresh dan Absurd Yang Ga Akan Ditemui Di Film Manapun


Nonton ini krn ada fan theory klo film ini adlh prekuel satu universe dgn filmnya Jordan Peele yg sensasional itu, Get Out.

Craig (#JohnCuszcak), seorg puppetmaster alias dalang boneka tali, hidup jobless, smpe suatu ktika disuruh bininya (#CameronDiaz) cari kerja, maka mlamarlah ia ke lowongan yg ada di prusahaan yg kantornya tu rada aneh. Gimana ga aneh? Wong kantornya berada di lantai 7 1/2! udh kyak Platform 9 3/4 nya Harry Potter.

Dan mmg bner, ddlm kantor itu pnya suatu keanehan. Ga sngaja, si Craig nemuin dinding bolong brupa lorong kecil yg trnyata adlh portal ke dlm jiwa seseorg. Dan seseorg ini adlh #JohnMalkovich (real name), aktor trnama kaya raya hidup enak dan mewah yg diimpikan byk org. Itu lho nyang maen R.E.D.

Sya sih sbnrnya krg setuju klo Malkovich ini yg diimpikan org, wong ga ganteng, ga brkharisma, hrsnya sih bs plih yg lain lah, tahun 1999 mgkn bs plih yg ganteng2 kek Van Damme, Arnold Siregar, Stallone, John Travolta.

Review Singkat Bad Times At The El Royale (2018) : Suprisingly A Great Quentin Tarantino "Fan Film"


Seriuously... trkdang mrasa ga adil klo film2 sprti ini jrang bngt msuk Oscar. What's wrong with you, academy..
Bahkan honestly, klo academy mnilai film2 true story itu mmbawa pesan moral/ttg khidupan yg sngat mngena, justru film ini jg ga klah jg kok, sya sngat trharu mlah dan mmecut iman jg (Scene Miles dan Flynn di ending).

Ni si pnulis crita, ane yakin udh mmutar otak utk bs mnyusun crita yg kreatif dan mnarik, tp yg bgni hrs (sring) kalah dr film2 "true story" yg notabene ga prlu effort yg wah utk bkin crita, toh critanya udh ada, nyata, tinggal di modif2 kasi bumbu aja biar dramatis dan pnya nilai jual sbgai film.

Sdgkan klo yg original screenplay gni diperlukan kcerdasan dan tingkat kreatifitas sang pmbuat crita utk bs mnjdikan critanya film yg bgs, yg notabene bkn dtg instant, it took years. Klo bkin true story mah instant. Klo kreatifitas slalu ga dianggap, ya mnusia ga akn brkembang.

Ini film kkurangannya cuma satu, critanya singkat hnya dlm 1 malam, scopenya ga luas. Slbhnya, good.. El Royale, hotel trkenal yg udh ga trkenal lg, dlu rame kini sepi, dlm 1 malam, ada sbuah kbtulan dmn bbrp stranger nginap dsana, ex : ada pendeta, ada pnyanyi, ada hippie, ada sales, dan 1 bad boy pendatang.

Review Singkat Back To 90s (2015 Thai Movie) : Cinta Remaja 90an Yang Punya Kualitas Filmmaking, Ga Kayak Yang Itu Tuh.



Klo Dilan mw ngecontoh gmn bkin film 90an yg cinematic look, ni dia filmnya. Sya heran ama film Dilan, yg dipuja2 dan laku, kelasnya "film" tp hasil visualnya FTV, yg ga ada sinemetografinya samsek, ga ada 3 point lighting, smua yg pnting terang. Ga pake rule of third, ga pake leading line, asal yg pnting aktor dlm frame, jadi la tuh.

Beda bngt klo di film ini, Thailand yg bkin. Temanya sama lho pdhal, ttg cinta monyet ala anak skolahan. Cuma mskipun alur crita yg biasa aja, tp scra visual ttp mmproduksi dgn mnerapkan unsur2 sinematografi td. Kita yg nnton pun betah, mskipun crita predictable.

Review Singkat Brightburn (2019) : Ga Lebih Dari Sekedar Plesetan Superman Tanpa Pengembangan Cerita dan Horornya Juga Tanggung


Tak ada kesan laen stlh nonton ini sampe ke post credit scene, slain bhwa ni cuma film plesetan Superman (dan superhero DC lainnya yg mgkn akan dibuat), plesetan horor caknya. Alurnya jg ga berasa original, copypaste, dan bagian ending lbh parah lg krn ga mmberikan konklusi.

Klian smua psti tau origin Superman kan? Nah andai2 aja "gmn ya klo Superman bayi itu malah tumbuh jd anak yg jahat?? Just as simple as that. Motif seorg bocah jd brbuat sbgtu jahatnya jg trlalu gampangan. Ini pure evil dr jiwanya psti. Krn klo mliat orang tua asuhnya yg baik hati dan super sabar, ya ga matching masa hasil didikannya gni.

Selasa, 21 April 2020

Review Singkat Cast Away (2000) : Hanks..Hanks..Hankss...Ga Ada kata Lain Selain Performa Superb Dari Tom Hanks Di Film One-Man Show Ini


Film survival ini mncritakan ttg sbuah psawat muatan paket kiriman Fed Ex mngalami kecelakaan jatuh di laut. Smua awak mati kecuali Chuck, pegawai Fed Ex. Chuck trdampar di pulau kecil tak brpenghuni. Bisakah chuck brtahan hidup atau ditemukan tim SAR?

Review Singkat A Clockwork Orange (1971) : Film Yang Selangkah Lebih Maju Di Jamannya, Satir, Kelam dan Provokatif, Keras Diawal Namun Esensial Diending


Oke..ni film untungnya ga serumit karya Kubrick yg ngono tu, 2001 A Space Oddisey. Yg ini ckup gampang utk dicerna, drama sosial yg alurnya biasa. Cuma spesialnya adlh set produksi, akting, script, dan tingkat kesatiran pesan yg ingin disampaikan.

Alex (#MalcolmMcDowell), tokoh utama dan jg narator, mnceritakan kmbli kisah hidupnya, diawali dgn dia yg msh usia anak skolahan SMA, tp pnya geng berandal, yg gawenya negatif2, sprti mnyiksa org, mmperkosa, bahkan mmbunuh. Akibat prbuatan ini, Alex, hrs mndekam dlm penjara.

Gmn khidupannya disana? Adkah ia brubah mjdi baik?

Senin, 13 April 2020

Review non spoiler dan Penjelasan Ending Film Burning (2018)


Ini film menurut saya berkesan artsy, atau dulu istilahnya arthouse. Tapi sejak negara api menyerang (baca : indie), istilah arthouse lebih sering diucap "artsy", karena saking menjamurnya anak indie yang klaim berjiwa seni dengan kata-kata puitis dan melukis, mereka menyebut diri mereka anak artsy..katanya artsy sudah pasti indie..sementara indie belum tentu artsy.. Arthouse, sesuai kata dasarnya "art" : bernilai seni, punya estetika. Film artsy temponya cenderung lambat, biar "seni"nya dapet..dan berusaha keras untuk tampil "tidak biasa", baik dialog maupun alur. Tapi sayangnya beberapa diantaranya ga mampu menyajikan plot cerita yg jelas, cuma berkedok estetika dan seni aja. (Ex : Upstream Color, Lost In Translation). Tapi tidak untuk film ini, setidaknya plot ceritanya jelas dan kalo dirunut-runut ya seperti drama misteri pada umumnya. Trailernya bisa klik disini dan berikut adalah reviewnya, tanpa spoiler.

Jong Su, adalah seorang pemuda yang boleh dibilang jobless, punya kerjaan tapi cuma paruh waktu, jadi hidup juga pas-pasan. Suatu hari dia ga sengaja bertemu cewek yang "ngaku"nya temen masa kecilnya, namanya Hae-Mi. Hae-Mi merupakan sosok cewek yang mandiri, sederhana, supel, sepertinya dia pandai bergaul dengan siapa saja. Selain itu dia juga unik, memiliki cara pandang sendiri terhadap dunianya, dia selalu ingin mencari tau arti kehidupan.
 
Sekali dua kali jalan, ya mereka akhirnya jadian. Cita-cita Hae-Mi adalah menjadi aktor, dia pandai bersandiwara, dalam 1 momen dia pamer skill akting makan jeruk yang bisa dibilang memang sangat bagus membuat kita percaya dia makan jeruk beneran dan ngiler. Dia juga suka traveling. Ketika dia berangkat ke Afrika, Hae-Mi menitipkan rumah dan kucingnya kepada Jong Su.
 
Lihat kompaknya Ben dan Haemi pake baju putih dan tatapan yang akrab sementara Jong Su diletakkan ditengah mereka sebagai pemisah dengan warna berbeda
 
Keadaan berubah 180 derajat sepulang Hae-Mi dari sana, karena di Afrika dia berjumpa dengan Ben, cowok tajir ganteng cool baik hati. Hae-Mi terlihat nyaman berada dekat Ben. Membuat Jong Su "terbakar" cemburu. Tapi disini Jong Su ga langsung "sumbu pendek", malah seperti berteman, ngikutin arus, sampe sejauh mana mereka melangkah. Dalam sikapnya yang pendiam, Jong Su justru orang yang paling terjaga untuk melihat gerak-gerik Ben, "lawan"nya yang membuatnya iri. Tapi dia hanya tidak bisa mengungkapkannya lewat kata-kata, it's only burning inside, itulah kenapa diberi judul "Burning".

Senin, 16 Maret 2020

The Invisible Man (2020) : Terror Menakutkan Sang Mantan Yang Tak Kasat Mata (By Om Boy – JMFC 030)

Awas neng...ada sesuatu di belakang!
Sebelum kita mulai mengulik film The Invisible man, mari kita berbicara Fun Fact dulu. Universal Studio diketahui berusaha membuat Shared Universe ala-ala Marvel dengan MCU-nya, yang nanti isinya adalah film-film yang bercerita tentang monster-monster dan mahluk supranatural seperti Mummy, Frankenstein, Dracula, The Invisible Man, Creature from Dark Lagoon, Jekyll and Hyde dan lainnya. Shared Universe ini mereka beri nama Dark Universe. Rencananya Dark Universe ini dimulai dengan Film The Mummy (2017) yang dibintangi oleh Tom Cruise. Namun rupanya pesona Tom Cruise tidak bisa membuat film ini laris dipasaran. Dengan gagalnya film The Mummy, Universal Studios nampaknya tidak lagi melanjutkan Dark Universenya. Nah saya pun mengira begitu. Sampai pada akhir tahun 2019 saya mendapat kabar udah ada trailer film The Invisible Man. Tentunya menjadi sangat excited mengingat saya menanti-nanti film kelanjutan dari Dark Universe. Ternyata film yang ditayangkan pada 26 Februari 2020 ini bukan bagian dari Dark Universe. Tidak ada benang merah sama sekali dengan film The Mummy (2017) ataupun tidak ada set up untuk next installmentnya. 

Dark Universe Casts
The Invisible Man (2020) ini merupakan adaptasi kekinian dari novel berjudul sama karya HG Wells yang juga pernah difilmkan pada tahun 1933. Adaptasi kali ini juga sedikit mengambil unsur Sci-Fi. Yang agak berbeda dengan adaptasinya pada film Hollowman (2000). Ok. Jadi itulah alasannya kenapa saya akhirnya menonton film The Invisible Man, karena saya mengira ini adalah bagian dari Dark Universe. Secara pribadi saya tidak terlalu menyukai genre film Horror. Sekarang kita kembali ke Review The Invisible Man. Review ini saya sudah usahakan spoiler-free. Jadi cukup aman untuk dibaca sebelum menonton filmnya. Trailernya bisa klik disini. And here we go...

Sinopsis :
Cecilia terperangkap dalam hubungan yang toxic dengan pasangannya Adrian, seorang ilmuwan brilliant yang sangat over protective, posesif dan abusif. Yang membuat Cecilia hidup dalam ketakutan. Hingga pada suatu malam Cecilia kabur dari kediaman Adrian. Tak lama setelah kabur dari rumahnya, Cecilia mendapatkan kabar bahwa Adrian ditemukan mati dikediamannya, bunuh diri. Dan Cecilia mendapatkan hak waris atas hartanya Ardian. Apa yang dianggap Cecilia sebagai suatu kebebasan ternyata bukanlah seperti yang dibayangkannya. Kejadian-kejadian aneh mulai terjadi disekitarnya. Sesuatu yang tidak kelihatan membuat hidup Cecilia kembali dihantui ketakutan.

Kamis, 05 Maret 2020

Review Captive State (2019) : Film Politik Interogatif Yang Dibungkus Kedok Invasi Alien

Ya, Captive State yang dinahkodai sutradara blockbuster 2011, Rise of The Planet of The Apes, tidak tampil untuk menonjolkan sisi sci-fi, melainkan menyajikan cerita politik yang menggunakan invasi alien sebagai katalisnya. Alih-alih banyak visual efek dan action, film ini justru dominan pada drama investigasi. So, bagi kamu yang ngarep ini film invasi alien kayak Independence Day, segera mundur. Tapi kalo kamu suka Se7en dan Hunger Games, film ini bole kamu coba tontonin. Kalo mau liat trailernya dulu klik disini.

Poster Captive State
Awalnya alien datang pada 2019, seperti plot umum kalo alien udah datang, image-nya pasti mau nge-invasi bumi. Begitupula dalam film ini, hanya saja proses mereka menginvasi dan segala pertempuran yang terjadi tidak masuk dalam kisah. Hanya menyisakan 1 adegan alien membunuh orang tua dari kedua tokoh utama, yaitu Gabriel dan Rafe. Film ini selanjutnya melakukan time-jump 8 tahun setelah kejadian tersebut, dengan sequence berisi slide show dan potongan footage seperti demo, pejabat pidato, pembangunan tembok, dan sebagainya. Penonton diharapkan bisa mengerti sendiri apa yang terjadi selama itu, manusia kalah dan alien menang. Di tahun 2027, alien adalah penguasa di bumi, dengan sebutan Legislator. Manusia hidup di bawah peraturan hukum mereka. Yang tidak patuh, dead. Legislator beraktifitas di dalam area bawah tanah yang disebut Closed Zone. Dan hanya pejabat atau otoritas lembaga negara yang boleh masuk ke dalamnya. Dibawah perintah Legislator, manusia terpaksa bekerja mengeruk sumber daya alam bumi untuk mereka, manusia jadi budak di tanah sendiri.

Minggu, 23 Februari 2020

Review Sound of My Voice (2011) : Itu Semua Pada Akhirnya Terserah Kamu Yang Memutuskan

Poster Sound of My Voice : imdb

Melanjutkan ke-cult-an film Brit Marling sebelum ini, Another Earth (yang mungkin nanti saya review juga), saya turut menonton film dia lainnya yang juga menjadi cult, Sound of My Voice. Trailernya bisa klik disini. Filmnya sih ga bagus-bagus amat, apalagi temponya sama lambannya dengan Another Earth, cukup untuk membuat penonton berasa diuji kesabarannya. Termasuk saya, seperti biasa, film-film seperti ini memang butuh sabar untuk menunggu apa yang terjadi di ending. Kadang endingnya luar biasa, kadang juga dapat yang zonk. Untuk Sound of My Voice ini, endingnya tengah-tengah lah, ga jelek, tapi juga ga wah..

Filmnya sih drama, cuma menyisipkan sedikit unsur sci-fi time travel di dalamnya. Ini keknya gawe si Brit Marling deh, di Another Earth juga gitu, drama dengan katalis sci-fi di dalamnya. Marling mungkin punya kekaguman tersendiri tentang science, ia merupakan penulis, produser sekaligus pemeran untuk kedua filmnya. Sinopsisnya simpel, ada seorang wanita dari masa depan, tepatnya tahun 2054, bernama Maggie, ya pasti Marling nih yang meranin. Tanpa diketahui sebabnya kenapa, dia terdampar ke tahun 2010, dan diselamatkan oleh pria tua bernama Klaus. Apa yang mereka lakukan selanjutnya ini lah yang jadi plot cerita utama. Mereka membangun sebuah fasilitas tersembunyi di bawah tanah, seperti perkumpulan sekte atau klub pasien, yang isinya adalah orang-orang yang mau "dicerahkan" oleh si Maggie. Orang-orang ini yang diduga atau ingin mempercayai bahwa Maggie adalah benar orang dari masa depan.

Lorna and Peter
Kegiatan ini tercium oleh seorang guru yang terobsesi untuk membuat film dokumenter secara diam-diam tentang "sekte" ini. Namanya Peter, ia merasa curiga bahwa perkumpulan ini adalah sebuah penipuan dan dapat membahayakan masyarakat. Bersama pacarnya Lorna, mereka berdua rela bersandiwara ikut menjadi anggota. Nah, apakah Peter berhasil membuktikan kecurigaannya? Apakah benar ini penipuan? Atau memang Maggie berasal dari masa depan? Inilah yang akan penonton ikuti sampai di ending.

Kamis, 20 Februari 2020

Penjelasan Ending I Am Mother (2019)

Poster : I Am Mother (2019)
Oke...kenapa judulnya penjelasan? Bukan review? Karena susah sekali rasanya kalo ngereview ni film tanpa spoiler, film ini sih lebih seru untuk dibahas. Karena filmnya akan menyebabkan terjadinya konflik batin bagi para penonton, pasti ada dualisme pendapat yang saling bergejolak. Dan juga kalo cuma bikin review non spoilernya, palingan cuma dapet 1 paragraf, hehe.. Itu karena film ini hanya menyajikan 3 tokoh, Robot, Daughter dan Woman. Settingnya juga sebagian besar hanya di 1 gedung yang bernama Repopulation Facility. Sekilas akan terlihat membosankan, tapi nyatanya ga gitu kok. Malah kamu akan terpaku terus dibangkumu untuk menikmati setiap misteri yang mengalir. Dan ini film adalah drama ya, jangan harap ada banyak sci-fi futuristik roboticnya disini. Karena sesuai judul, ini lebih menitikberatkan kepada hubungan antara ibu dan anak.

Meskipun memang tak banyak yang bisa dibahas dari unsur teknisnya, tapi apa yang ada di bagian terdalam film ini lebih kompleks ketimbang apa yang tampak di permukaannya. Filmnya sendiri hanya diperankan oleh 2 orang saja, plus 1 suara orang untuk robotnya. Dua pemeran tersebut berbeda 180 derajat, yang satu adalah aktris berkelas pemenang Oscar, Hilary Swank, yang diadu dengan nubie, Clara Rurgaard Larsen, yang sepak terjangnya di dunia perfilman belum seberapa. Tapi bukan berarti aktingnya jelek ya. Malah cukup meyakinkan sebagai tokoh dengan screentime terlama dalam film ini. Dan untuk pengisi suara robot adalah Rose Byrne, yang kita kenal lewat film X-Men sebagai Moira.

So, what's really happened in I Am Mother? Akan kita kupas, setajam...silet...hehe.. and of course, ini hanya untuk kalian yang udah nontonin filmnya, karena tentu banyak spoiler disini. Perhatikan batas spoilernya ya, mulai paragraf ketiga. Kalo mau liat trailernya klik disini.

Daughter

Ini bukan tipikal film scifi pada umumnya yang menjual action dan visual effects, melainkan fokus pada drama dan ceritanya. Karena baru sampai ending kita akan menemukan jawabannya, or..really?? 

1. Sinopsis.
Film akan dimulai dengan scene yang menyatakan bahwa bumi dalam kondisi seperti post-apocalyptic gitu, manusia punah ga ada lagi, jumlahnya 0. Habitat ga bisa ditinggalin lagi, lingkungan beracun. Yang tersisa adalah sebuah gedung bernama Repopulation Facility. Gedung ini memang sepertinya dibangun untuk kondisi kiamat gini. Karena di dalamnya terdapat ribuan stok embrio manusia yang siap untuk ditumbuhkembangkan. Nah, siapa yang menumbuhkembangkannya? Perkenalkan, Mother, seorang robot humanoid atau droid dengan AI sangat canggih hampir menyamai pemikiran manusia.

Pada hari pertama setelah kepunahan, Mother memilih satu embrio untuk ditumbuhkembangkan. Hari berlalu, tahun berganti, Mother telah mengasuh embrio menjadi remaja dewasa perempuan yang cerdas dan baik hati, dialah Daughter. Ya, jangan heran kenapa ga ada nama, karena memang ga ada pake nama dalam film ini. Mother mengasuh Daughter dengan "standar" yang dia harapkan, makanan yang disediakan adalah makanan sehat untuk raga yang sehat, pendidikan ilmiah dan moral juga ikut diberikan. Dengan harapan saat manusia hidup kembali ke habitatnya mereka adalah manusia yang berkualitas.

Filmnya akan berjalan dengan tempo yang lamban, sampai bagian dimana muncul satu karakter lagi yang disebut Woman. Woman inilah yang akan membuat film ini menjadi sangat menarik dan punya konflik yang kuat. Bagaimana tidak, selama ini Daughter hanya tau kalo sepertinya dialah the one and only human di dunia, tiba-tiba Woman muncul ke dalam gedung meminta pertolongan karena baru saja tertembak di perutnya. Woman menceritakan kepada Daughter kalo diluar sana masih ada manusia lainnya. Dan mereka semua takut kepada droid, termasuk Mother, karena droid ini kejam, membunuh manusia, ini menjawab insiden kenapa perut Woman tertembak. Tentu kebingungan kan si Daughter, mana nih cerita yang benar? Manusia beneran punah ato memang masih ada yang hidup diluar sana? Trus benar atau tidak Mother dan para droid itu jahat? Siapa yang harus dia percaya? Mother atau Woman?

Rabu, 19 Februari 2020

Review Extreme Job (2019) : Anying Gokil Parah Ni Film! Unik dan Komedi Tingkat Dewa!

Korea Selatan...selalu kontras antara film layar lebar dengan serial. Jika serial itu ceritanya selalu monoton itu ke itu aja, drama bucin cowok kaya naksir cewek miskin, nah film layar lebarnya malah selalu bisa menghadirkan sesuatu yang unik dan fresh. Termasuk yang satu ini. Saya dapat rekomendasi film ini sih pertama kali dari Maul anak JMFC juga, lalu kemudian ada video dari salah satu youtuber favorit saya, Kevin Anggara, yang dalam videonya menyebutkan film ini termasuk ke dalam list Film-Film Terbaik 2019 versi dia. Kalo panutan udah mention, itu berarti ni film udah dijamin kebagusannya, hehe.. Dan ini bukan pertama kalinya, tahun lalu dia masukin One Cut of The Dead, dan itu bener bagus banget, cuma belum direview aja dimari, ntar deh. Sekarang, kupas dulu film Extreme Job, yang berhasil menduduki peringkat kedua film terlaris sepanjang masa di korea ini! Tenang aja, ga spoiler kok..

Nb : Kalo di Korea ini fair ya, yang laris-laris juga yang punya kualitas, seperti ini atau Along With Gods. Coba kalo di Indonesia, yang laris tuh yang biasa aja, yang berkualitas malah ga disukai. Selera people+62 memang beda dengan people+82!

Film Terlaris Kedua Sepanjang Masa di Korea
Dari sinopsisnya aja ni film udah unik banget, liat trailernya klik disini. Begini ringkasannya, ada 1 tim dari divisi narkoba kepolisian sana, yang berisikan 5 orang pecundang, hidup juga pas-pas-an. Karena kegoblokan mereka dalam menciduk bandar narkoba kelas teri, akhirnya mereka kena skors. Tapi ada 1 kesempatan terakhir yang diberikan kepada mereka untuk memulihkan nama tim mereka, yaitu dengan menangkap bandar narkoba kelas kakap bernama Moo Bae. Tentu saja kesempatan ini akan mereka manfaatkan sebaik-baiknya toh. Segala daya upaya mereka lakukan demi suksesnya kasus ini, termasuk mencari lokasi penyelidikan. Yang ternyata, lokasi ini lah yang menjadi keunikan film ini, yaitu warung ayam goreng! What?? Yak..mereka rela sampai merogoh kocek demi membeli warung tersebut yang kebetulan berada persis di seberang basecamp bandar narkoba tadi. Agar kedok mereka tidak ketahuan, mereka berpura-pura sebagai pedagang ayam goreng dan membuka warungnya. Apa yang terjadi selanjutnya kalian tidak akan pernah duga, warungnya malah laris dan ayam goreng buatan mereka laku keras! Pendapatan melimpah! Nah...Selanjutnya apa yang akan mereka lakukan? Udah stop aja penyelidikan beralih profesi jadi pedagang aja? Atau lanjutkan penyelidikan? Dari ini aja sinopsisnya udah unik banget kan?