Jumat, 27 Oktober 2017

Why Indonesia, Why? Sebuah Ulasan Komparasi Perfilman Indonesia Dengan Perfilman Luar Negri

Ya, kenapa Indonesia, kenapa? Selain The Raid movies dan Pintu Terlarang, kenapa sih Indonesia ga bisa bikin film yang dapat menjadi perbincangan movie mania di berbagai belahan dunia? Maksud saya bukan film yang berprestasi di festival film ya, yang saya maksud adalah “Cult Movies”. Apa itu cult movies akan saya jelaskan di paragraf lain setelah ini. Kalau bicara festival film, Indonesia memang pernah beberapa kali mempunyai wakil yang berprestasi di festival film luar negri, tapiiiii....tapi nih ya, film-film tersebut menurut saya, menurut saya lho ya, ini subjektif dari sudut pandang saya sendiri, yang mungkin bisa dan sah saja berbeda dengan yang lain, menurut saya film Indonesia belum mempunyai ide cerita yang unik. Sebut saja yang baru-baru ini meraih penghargaan adalah film “Marlina : Pembunuh Dalam Empat Babak”, yang sinopsis ceritanya menurut saya masih ordinary alias umum, tentang balas dendam, tapi ga tau ya kalau nantinya (mudah-mudahan) bisa menjadi cult atau ga karena ini baru rilis. Termasuk juga film-film Indonesia lain yang meraih penghargaan Festival Film Internasional di tahun-tahun sebelum ini, rata-rata masih bersinopsiskan drama keluarga atau kehidupan sosial. Beberapa kadang hanya berupa film pendek atau berkutat di film dokumenter saja. Yang saya masih ingat adalah Donny Damara nyabet Best Actor di Asian Film Festival dari film Lovely Man yang sinopsisnya tentang drama keluarga seorang ayah transgender kepada putrinya.

http://www.newsth.com/bintang/49913/membanggakan-marlina-si-pembunuh-dalam-empat-babak-tayang-dan-harumkan-indonesia-di-festival-film-cannes-2017/
Gambar : newsth.com

Ya, tulisan ini mungkin memang ga penting-penting amat untuk dibaca, ini hanyalah rasa gundah gulana saya sebagai seorang movie mania yang mengharapkan filmmakers Indonesia dapat membuat film yang bisa menjadi perbincangan di seluruh dunia. Film-film yang bagaimana yang saya maksud? Film yang mempunyai ide cerita yang original, yang beda, berkualitas, atau cerita yang unik, out of the box, anti mainstream, weird ato bahkan bizzare. Tentu bukan film-film action atau sci-fi seperti film hollywood yang visual effectnya sangat canggih, karena ya you know lah, urusan teknologi, perfilman Indonesia ketinggalan sangat jauh, 20, 30, bahkan tertinggal 50 tahun kebelakang dari Hollywood. Lihat saja, tahun 90an Hollywood sudah bisa membangkitkan Dinosaurus dari kuburnya lewat film Jurassic Park, dan tahun 70an bahkan Hollywood sudah bisa terbang ke luar angkasa lewat Star Wars-nya. Jelas dari sisi VFX ini perfilman kita tak bisa diharapkan dapat menyusul dengan cepat dalam jangka waktu dekat. Filmmakers Indonesia pada umumnya masih bergantung pada pangsa pasar lokal, karena mereka berhubungan dengan produser yang hanya melihat dari segi keuntungan semata. Apa yang sedang disukai oleh penonton di Indonesia, itulah yang terus dibuat. Film-film Indonesia yang laris itu ya ceritanya itu-itu saja, tak lebih dari drama percintaan, cinta segitiga, atau masalah religi dan poligami, biografi pejabat atau sejarawan, komedi garing bullying, dan horor setan-setanan. Bahkan sebagian besar film itu diisi aktor-aktrisnya itu-itu aja, dia lagi, dia lagi, apa cuma dia yang bisa akting dari 250 juta penduduk Indonesia ini?? Hanya lokasi syuting aja yang berubah-ubah, meskipun lokasi syuting itu diluar negri, bagi saya itu tak cukup mengangkat filmnya jadi spesial, karena cerita masih ga berkembang, hanya nontonin artisnya jalan-jalan Eropa atau Amerika.

Menurut teman saya Nendra, selain faktor produser dan pangsa pasar lokal, faktor lain yang menyebabkan filmmakers Indonesia enggan membuat film yang unik adalah karena tidak adanya sistem rating atau nilai kualitas sebuah film di Indonesia layaknya Rotten Tomatoes atau Metacritic. "Prestasi" film di Indonesia sepertinya lebih diukur dari jumlah penonton, lihat betapa seringnya postingan di sosial media atau internet tentang capaian jumlah penonton sebuah film Indonesia, seolah-olah jumlah penonton menjadi sebuah kebanggaan, dan pertanda film itu bagus, padahal ngga jaminan sama sekali. Maka ada baiknya jika kita mempunyai sebuah wadah/forum yang menilai, mengkritik dan memberikan rating untuk film-film Indonesia seperti Rotten Tomatoes agar para filmmakers dapat termotivasi untuk terus memperbaiki kualitas film mereka atau menciptakan sebuah film yang unik dan menjadi perbincangan dunia.

Selasa, 24 Oktober 2017

Review Hardcore Henry (2015) : 2 Kata : Sokil Gob! Action Brutal Paling Gila dan Terbaik

Jika ada satu film action yang paling membuat saya penasaran bagaimana mereka membuatnya? Ini lah dia, Hardcore Henry. Sebelumnya tentu telah banyak rilis film-film action yang menawarkan adegan action brutal seperti The Raid, Crank, Ninja Assasins, 300, Kingsman The Secret Service dan lain sebagainya. Sesuai judul saya diatas, 2 kata yang saya ucap setelah menonton ini adalah gokil abisss! Standing applause deh, berani tarok angka 9/10, dijamin deh ini film keren pake banget, dengan syarat siapkan aspirin dan obat mual kalau nonton karena tidak semua orang sanggup menelan film ini mentah-mentah sepanjang 90 menitnya. Banyak hal yang membuat film ini spesial, namun yang pasti satu hal yang paling utama dan paling pertama yang membuat film ini sangat spesial adalah konsep point of view-nya yang FPS (First Person Shooter). Artinya, film ini disajikan dengan sudut pandang satu orang aktor utama saja, si Henry, sepanjang film, seperti kamu sedang bermain game Time Crisis buat kamu anak muda jaman 90an atau Call Of Duty buat kamu anak-anak jaman now. Udah kebayang kan gimana sensasinya menjadi “aktor” yang terlibat langsung dalam scenenya, kamu adalah dia dan dia adalah kamu. Untuk film lain dengan jenis point of view yang unik dapat juga kamu baca di artikel saya berikut ini : Film-Film Dengan Gaya Visual Unik.

Gambar : imdb.com

Film yang syuting dengan menggunakan kamera Action Cam ini menyajikan full-throttle-action sepanjang durasinya, gas terus, jangan harap bisa menghela nafas panjang, karena sutradara tak memberikan kesempatan tersebut. Dia tahu betul bahwa film ini all about action, dia memang tak mengeksplorasi banyak untuk tumbuh kembang karakter tokoh-tokohnya. Dia juga tak merangkai plot cerita yang kompleks karena yang dia ingin lakukan adalah memberikan sebuah pertunjukkan seru like everyone never seen before. Saya pribadi sangat suka film-film yang mengusung ide atau konsep yang original seperti ini, yang baru, yang beda, yang tidak mengikuti pasaran, out of the box atau anti mainstreamI’m sick of reboots and remakes, need something original. Dan atas dasar itu film ini bisa saya bilang adalah salah satu masterpiece.

Kamis, 05 Oktober 2017

Battle Royale (2000) : Sebelum The Hunger Games Ternyata Inilah Yang Lebih Dahulu Sang Pioner Teen Death Games

Kalau sebut judul film The Hunger Games, mungkin sebagian besar orang pasti kenal dan tahu itu film apa. Coba diajukan nama “Battle Royale”, tak semua orang yang tahu, termasuk saya sebelum ini, hehe... Orang-orang mengenal The Hunger Games sebagai film yang menampilkan teen death games yang bagus, namun jauh sebelum itu, telah hadir lebih dahulu film Battle Royale, yang menurut beberapa orang sebagai perintis alias pioner teen death games. Film-film sejenis death games yang muncul setelahnya yaitu The Purge, The Cabin In The Woods, The Belko Experiment, The Tournament dan The Condemned. Film dari negeri jepang ini menjadi sebuah film classic cult yang sampai saat ini terus menjadi perbincangan orang di seluruh dunia karena bagusnya dan tentu karena kontroversinya. Mana ada sih death games yang tidak kontroversi, hehe...


Bicara soal cerita, pada awal film, ada narasi yang menyebutkan bahwa negara sedang dalam kondisi buruk, pengangguran banyak, kriminalitas remaja meningkat dan orang dewasa kehilangan kepercayaan takut terhadap yang muda. Oleh karena itu pemerintah menciptakan Reformasi Pendidikan Milenium alias BR Act.  Nah setiap tahun digelar sebuah “death game”. Format gamenya adalah dimana sejumlah anak remaja sekitar 1 kelas, dikumpulkan di sebuah tempat terpencil seperti pulau tak berpenghuni. Permainannya adalah mereka diharuskan membunuh satu sama lain sampai tersisa hanya 1 orang yang kemudian dinyatakan sebagai pemenangnya. Persis seperti The Hunger Games bukan? Namun respon kritikus sedikit lebih baik dari beberapa yang membandingkannya dengan The Hunger Games. Sebut saja yang paling mencolok adalah ucapan dari sutradara favorit bro Ilham, Quentin Tarantino, yang menyatakan jika ada sebuah film yang ia harapkan untuk menyutradarainya sejak ia menjadi sutradara adalah film Battle Royale ini. 

Lalu, dimana sih letak lebih baiknya? Letak bagusnya?

Rabu, 04 Oktober 2017

Top 10 Film Yang Menyinggung Atau Berhubungan Dengan Overpopulasi

Tahukah anda bahwa jumlah manusia yang hidup diatas bumi saat ini telah mencapai angka 7,5 milyar jiwa??? Silahkan cek updatenya di world population meter ini. Sekedar pembanding yang paling gampang adalah lihat grafik pada gambar di bawah. Pada tahun 1900, kurang lebih satu abad lalu, jumlah penduduk hanyalah +/- 2 milyar jiwa saja. Yang kemudian meningkat sangat drastis pada tahun 2000an ini menjadi 6 milyar jiwa. Dan jika garis tanjakan itu diikuti, maka diprediksi akan terjadi ledakan penduduk dalam abad ini juga. Mungkin sebagian dari kita akan menjawab : “So, what’s the matter? Hidup masih baik-baik ini kok, kalaupun terjadi ledakan penduduk di masa depan itu mungkin kita udah pada mati, jadi ga ngaruh apa-apa di kita. So why should I f*cking care?”. Hell yeah...kalian memang mungkin udah mati, tapi warisan kematian yang kalian tinggalkan untuk anak, cucu dan cicit kalian adalah sebuah kiamat kecil, bumi yang sekarat, tertindih oleh padatnya penduduk, alam yang tergerus untuk kebutuhan hidup manusia. So, jika kalian sayang anak kalian, you should really f*cking care, right?.

Gambar : treehugger.com

Kita sendiri dapat membayangkan secara simpel apa saja akibat yang terjadi karena overpopulasi ini. Sebut saja misalnya lama-lama hutan akan habis, karena lahannya di pakai untuk membangun gedung atau perumahan baru, kayu-kayunya juga habis dipakai untuk terus memenuhi pesanan perabot rumah tangga, bukit semen akan tergerus habis untuk memenuhi permintaan konstruksi bangunan, bumi makin bolong akibat bijih besi di perut bumi terus ditambang, kendaraan tambah banyak sementara jalan aspal ga nambah-nambah, macet dan polusi udara akibat banyaknya kendaraan tentu makin parah, ozon di atmosfer makin tipis, hingga bumi makin panas, es di kutub mencair akan menjadi banjir sangat besar. Belum lagi banyaknya pengangguran dibandingkan lowongan kerja yang tersedia. Manusia hidup membutuhkan biaya, ini akan menjadi katalis yang paling kuat terhadap meningkatnya angka kemiskinan dan kemudian diikuti dengan tingkat kriminalitas karena keterpaksaan untuk memenuhi biaya kebutuhan. Sumber daya alam ini terbatas, yang konsumsi banyak, maka bisa jadi mungkin suatu saat akan terjadi perebutan sumber daya untuk dapat bertahan hidup. Final result? Jawab sendiri aja dalam hatimu.

Overpopulasi memang suatu masalah yang sangat concern disinggung oleh banyak pihak diseluruh belahan dunia sejak jaman milenial ini. Termasuklah para praktisi di bidang perfilman. Mereka yang merasa perlu untuk menyampaikan pendapat tentang overpopulasi ini berani untuk membuat karya yang isinya terdapat latar belakang alasan, ide, doktrin, dan akibat dari masalah overpopulasi ini. Ada yang masuk akal, tapi juga ada yang radikal. Doktrin yang dikumandangkan juga tak sembarangan karena disadur dari teori ilmiah dan ilmu pengetahuan. Gambaran bumi yang dystopia pasca mini apocalypse akibat dari overpopulasi juga menjadi imajinasi yang sangat berasa nyata di depan mata. Nah, dari itu semua, saya memilih dan membahas singkat 10 film yang menurut saya menyinggung atau menggambarkan tentang overpopulasi. But maaf nih, artikelnya tidak bisa saya buat spoiler free, karena sudah tentu mengandung spoiler, major spoiler malah, hehe...ya iya lah karena udah ketahuan bahwa ini film berlatar atau bersetting tentang masalah overpopulasi. Check this out :

Gambar : sonypictures.com
Film yang diangkat dari novel ini merupakan film ketiga dalam urutannya setelah sebelumnya ada The DaVinci Code dan Angels And Demon. Film ini dibintangi oleh aktor ternama Tom Hanks dan Felicity Jones. Ron Howard, yang menukangi installment ini dari film pertama, tetap membawa ciri khas film, yaitu teka-teki misteri yang dibumbui dengan crime-thriller-action plus banyak unsur pariwisatanya, hehe... Ya iyalah karena di tiap filmnya sang aktor banyak pergi ke tempat-tempat yang merupakan objek wisata sejarah yang menjadi clue atau hint dari teka-teki misteri yang coba dipecahkan, sehingga penonton berasa selalu diajak jalan-jalan wisata ke berbagai belahan Eropa. Film ketiga ini cukup bagus meskipun tak sebagus predesessornya. Tom yang berperan sebagai Robert Langdon, seorang ahli sejarah dan simbol, dilibatkan oleh WHO untuk dapat membantu mereka mengungkap sebuah rahasia besar dari seorang ilmuwan bernama Bertrand Zobrist. Rahasia itu adalah sebuah zat penemuan, yang dianggap dapat mengancam keselamatan penduduk dunia.

Apa yang menarik dari film ini? Dari opening scenenya saja sudah menyatakan bahwa ini tentang overpopulasi. Zobrist adalah ilmuwan yang sangat concern tentang masalah overpopulasi. Saya juga sangat setuju dengan presentasinya yang menyatakan manusia saat ini jumlahnya sudah sangat over dan mereka bereproduksi sangat cepat dan banyak. Zobrist menggambarkannya seperti bakteri dalam gelas kaca, yang dengan cepat membelah sel tunggal menjadi ganda, hingga gelas tersebut tidak lagi muat untuk menampungnya. Gelas itu adalah bumi kita, dan kita adalah bakterinya. Ilmuwan yang diperankan oleh Ben Foster ini berhasil menciptakan zat khusus yang dia anggap sebagai solusi untuk masalah overpopulasi ini. WHO mengira zat itu adalah senjata biologis pemusnah masal sehingga upaya melepaskan zat tersebut harus mereka cegah. Mengetahui hal ini, Zobrist telah dengan sangat cerdas membuat rencana pelepasan zat yang melibatkan banyak pihak dan tentu dengan teka-teki misteri yang menjadi ciri khas film. Sayangnya, endingnya berbeda dengan versi novelnya, terutama tentang kemampuan zatnya. Di film, zat ini memang untuk membunuh dan tak sempat dilepaskan, sedangkan di buku zat itu berhasil dilepaskan dan kemampuannya "hanya” untuk menghambat proses fertilisasi pada organ reproduksi manusia. Bertujuan untuk mengecilkan persentase pembuahan dan tentu berujung untuk menurunkan pertumbuhan penduduk. Ini sekaligus menjawab pertanyaan kita ya bro Nendra.

Selasa, 03 Oktober 2017

5 Provider Resmi Penyedia Layanan Nonton Film Secara Streaming

Menonton, selain memang karena melekat sebagai hobi, saat ini menonton itu sudah seperti sebuah kebutuhan bagi sebagian orang yang ingin meluangkan waktu untuk merefresh pikiran pasca rutinitas sehari-hari. Kegiatan menonton biasanya identik dengan bioskop, karena bioskop memang sebuah tempat yang menyediakan ruang khusus untuk orang menonton dalam sebuah teater yang besar dan dengan film-film terbaru, baik dalam negri maupun luar negri, genre apapun. Namun, sayangnya masih banyak orang yang belum punya banyak waktu luang dan kesempatan untuk dapat menghadiri sebuah showtime movie di bioskop, dikarenakan kesibukan pekerjaan atau masalah finansial. Untuk merespon hal ini, saat ini sudah ada beberapa provider yang menyediakan film secara streaming via internet. Provider ini adalah layanan yang bisa diakses oleh pengguna untuk dapat menonton film secara online maupun offline. Layanan ini bisa diakses melalui komputer atau handphone, jadi kapanpun dan dimanapun, orang dapat menonton film yang diinginkannya. 

Hanya saja, kelemahan dari layanan ini yang paling mendasar adalah film-film yang disediakan cenderung bukanlah film-film yang baru saja rilis, karena film yang baru rilis biasanya hanya ditayangkan di bioskop terlebih dahulu, baru deh sekitar 3 bulan setelah turun layar dari bioskop baru muncul di streaming. Tapi, kelebihannya tentu film yang tersedia lebih banyak dan lebih lengkap daripada di bioskop yang cuma sedikit dan ditayangkan dalam beberapa hari saja. Nah, kami telah memilih beberapa provider yang menyediakan layanan nonton film via streaming ini, berdasarkan popularitasnya, kemudahaan akses, fitur-fitur pendukungnya, kelengkapan filmnya, dan yang terpenting adalah semuanya legal. Oya perlu diperhatikan bahwa artikel ini hanya menyajikan provider yang menyediakan film dalam artian common movies, film-film layar lebar yang tayang di bioskop pada umumnya dan dikenal masyarakat. Karena memang ada juga provider lain yang menawarkan nonton streaming tapi isinya adalah film dokumenter, film indie, film klasik, TV Series atau Anime. 

Nah apa saja provider nonton streaming ini? Berikut ringkasannya :

Gambar : thenextweb.com

Google Play Movies & TV
Jika kamu mencari film Hollywood yang terbaru, Google Play Movies & TV adalah rekomandasinya. Ini adalah provider yang paling gampang untuk diakses, koleksinya cukup update, dan murah. Dari namanya saja kita udah tau bahwa ini adalah bagian dari produknya Google. Aplikasi ini bisa kamu download di Play Store, so sangat gampang. Halaman muka pada Google Play Movies & TV langsung menawarkan beberapa film dalam banyak kategori, contohnya film yang baru tiba, film yang diskon 30%, hingga film berdasarkan genre. Film yang ditawarkan ini dapat kita tonton dengan 2 pilihan : sewa atau beli, yang tagihannya dapat dibayarkan dengan cara menggunakan kartu kredit atau pulsa. Untuk sewa 1 film berkisar di harga Rp. 19.000 s.d Rp. 29.000, tersedia dengan pilihan SD atau HD. Jika kamu memilih untuk menyewa, maka tempo sewa yang kamu punya adalah 30 hari untuk memulai/klik menontonnya. Dan jika sudah mulai menonton, kamu hanya boleh menyelesaikan nontonnya dalam kurun waktu 48 jam sejak start. Ya misalnya hari ini kamu pause nontonnya karena ada urusan, maka kalo mau lanjutin nonton kamu harus lanjutin dalam kurun waktu kurang dari 48 jam kedepannya. Lain halnya jika kamu membeli filmnya, kamu bebas menontonnya kapan saja tanpa batas waktu. Range harga beli filmnya berkisar di angka Rp. 50.000 sampai dengan Rp. 150.000. Film yang kamu beli akan masuk ke dalam media penyimpanan offline gitu deh, bukan berupa file yang bisa kamu copy atau pindah-pindahkan ke device lainnya. Tapi tentu kamu bisa menontonnya di HP lain dengan menggunakan akun Google kamu ketika log in. Google Play Movies & TV juga menampilkan informasi filmnya termasuk trailernya. Kekurangan Google Play Movies & TV adalah koleksi filmnya belum terlalu banyak, terutama film jadulnya atau film minornya, seperti film-film diluar Hollywood. Kebanyakan memang film-film Hollywood terbaru atau film populer saja, contohnya saya coba searching Donnie Darko dan 3 Idiots belum tersedia, tapi aplikasi menawarkan opsi “Wishlist” agar suatu saat jika filmnya telah masuk kita akan dapat pemberitahuan. Keunggulan dari Google Play Movies & TV ini adalah sudah banyak filmnya yang mempunyai subtitle Indonesia.

Kamis, 28 September 2017

Review Contact (1997) : Never Ending Question Dan Debatable Antara Science Versus Religion (By Muhammad Ilham - JMFC 041)

Salah satu film yang sudah lama saya rencanakan untuk di review, yang jadi permasalahan tertundanya rencana ini adalah dikarenakan sudah terlalu lama sejak terakhir saya menyaksikan film Contact jadi ingatan mengenai film ini sedikit kabur dan terlupakan, so perlu ada proses mengingat kembali sebelum saya berani menulis tentang film ini. Nah pada akhir pekan kemarin saya memutuskan untuk menonton kembali film yang dibintangi Matt McConaughey dan Jodie Foster ini.

Gambar : imdb.com

The Story
Dr. Ellie Arroway (Jodie Foster) adalah ilmuwan yang memang sedari kecil menyukai segala sesuatu yang berhubungan dengan kehidupan lain di luar angkasa. Hal ini dia dapatkan karena kedekatannya dengan sang ayah. Setelah ayahnya meninggal dan Ellie dewasa, gairahnya akan kehidupan lain selain di bumi semakin menguat. Dan Ellie memutuskan untuk belajar serta meneliti secara khusus untuk mencari tahu tentang adanya Alien di alam semesta ini, sehingga Ellie menjadi Radio Astronomer. Metode yang dipakai Ellie untuk bekerja adalah dengan menangkap dan mendengarkan gelombang suara melalui piringan antena raksasa. Namun ilmu dan ambisi Ellie dianggap remeh bahkan gila oleh para ilmuwan lain. Para ilmuwan berpikir kehidupan di luar angkasa adalah omong kosong belaka, dan tidak ada satu badan baik pemerintah maupun swasta yang mau mendukung serta mendanai penelitian Ellie. Namun sesosok misterius percaya dan yakin dengan ambisi ilmuwan muda ini serta bersedia mendanai penuh semua kebutuhan penilitiannya. Semua berjalan sesuai rencana, penelitian dimulai dan akhirnya satu pesan aneh tertangkap oleh Ellie dan kawan-kawannya berasal dari Bintang Vega yang berada di Konstelasi Lyra. Apa atau siapakah sang pengirim pesan ini? apakah Ellie berhasil membuktikan keyakinannya selama ini?

Kamis, 21 September 2017

Review American Dreamz (2006) : Komedi Satir Yang Menyindir Tentang Ajang Pencarian Bakat Yang Populer (By Muhammad Ilham - JMFC 041)

Salah satu hal yang paling saya ingat di tahun 2006 adalah persaingan dua raksasa ajang pencarian bakat menyanyi di Indonesia, dimana kedua acara ini masih berusia sangat muda pada saat itu. Keduanya lahir di tahun yang sama yaitu tahun 2004, walaupun kedua acara tersebut mengkopi acara dari negara luar, pada tahun itu hype kedua acara ini amat luar biasa. Tak hanya ajang menyanyi yang di tampilkan dalam membangun hype serta meningkatkan rating acara tersebut, namun kehidupan diluar panggung, baik ketika latihan, karantina, background story di exploitasi agar publik semakin tertarik dan addict akan talent show ini. Dan ketika film American Dreamz di rilis di tahun 2006 dan saya tonton di sekitar 2009, saya mendapati kalau American Dreamz menyindir fenomena talent show American Idol di Amerika, serta respon mengenai fenomena sosial dan gaya hidup orang Amerika pada saat itu. Apa hubungannya dengan kedua talent show yang saya sebut diatas? You’ll see.  

Gambar : wikipedia.org

The Story
Martin Tweed (Hugh Grant) adalah pembawa acara talent show dengan tajuk American Dreamz, Tweed adalah orang yang menyebalkan, egois, dan tak punya hati. Sebenarnya Tweed tidak menyukai acara American Dreamz, Tweed menjalankan show ini hanya demi ambisi pribadinya dan memuaskan egonya sendiri. Pada season baru American Dreamz, Tweed ingin membuat acara ini berbeda dari biasanya, maka dia mengutus para kru American Dreamz untuk mencari kontestan paling aneh dan tak biasa. Dan diantara yang terpilih adalah Omer (Sam Golzari). teroris ling-lung yang sedang menunggu wake up call dari komplotannya untuk melancarkan serangan pada Amerika. Dan ada Sally Kendoo (Mandy Moore), wanita super egois, ambisius dan tak pernah peduli dengan orang lain (bisa dibilang kalau Sally adalah Tweed versi perempuan). Di sisi lain presiden Amerika yang terpilih untuk kedua kalinya Joseph Staton (Dennis Quaid), mengalami nervous breakdown dan mempertanyakan kenapa dirinya menjadi presiden. Dengan dipengaruhi oleh sang kepala staffnya yang licik dan persuasif, Sutter (Willem Dafoe), sang presiden bersedia untuk menjadi juri spesial pada acara American Dreamz.

Senin, 11 September 2017

Review Music And Lyrics (2007) : Salah Satu Film Komedi Romantis Favorit Dari Hugh Grant

Sebenarnya sudah lama saya sering lihat box VCD film Music and Lyrics di rak tempat penyewaan VCD favorit saya, bahkan semenjak film ini dikeluarkan copy originalnya (artinya sekitar tahun 2008) baik judul dan cover VCD film ini sudah sangat sering saya lihat, tapi setiap kali saya melihatnya entah kenapa selalu saya lewatkan, mungkin karena judulnya, Music and Lyrics. Hal ini menimbulkan kesan kalau film ini adalah film musikal (karena saya suka film mengenai musik akan tetapi film musikal bukanlah genre favorit saya). Namun beberapa waktu yang lalu pada Instagram yang bertemakan tahun 90an memposting foto Hugh Grant dan isi captionnya adalah “sebutkan film Hugh Grant Favorit” anda, dan Music And Lyrics merupakan salah satu judul yang paling sering disebut dalam komentar postingan ini. Jadi timbul pertanyaan dalam hati “Is it really that good? So lets talk about it.”.

Gambar : imdb.com

The Story
Alex Fletcher dulunya adalah seorang penyanyi aliran musik Pop yang amat terkenal, Alex merupakan bagian dari sebuah band yang bernama PoP, namun ketenarannya memudar setelah band nya bubar, sekarang Alex hanya mendapat gig kecil di acara reunian sekolah ataupun di taman-taman hiburan, namun ketika manajernya memberitahu kalau Cora (Pop Star yang amat terkenal dengan persona gabungan antara Britney Spears dan Madonna wannabe) menginginkan Alex menulis lagu untuknya dan berduet bersamanya, dengan syarat lagu yang ditulis Alex harus diselesaikan dalam waktu yang telah ditentukan dan gagal memenuhi syarat tersebut maka Cora akan memilih orang lain untuk menulis lagu untuknya, Alex harus mencari penulis lirik yang handal, dan pilihannya jatuh pada Sophie (Drew Barrymore) seorang yang ditugaskan merawat tumbuhan Alex dan bukanlah seorang penulis lirik.

Senin, 04 September 2017

Baby Driver (2017) : Gila Asik Bener Ni Film

Gila..Asik bener nih film, saya rate 9,4/10!

Ya, itulah kalimat pertama yang keluar dari mulut saya tepat selangkah setelah melewati pintu keluar teater sehabis nonton film Baby Driver. Bener-bener asik, pake banget. Wait..sebelum langsung kepada inti, kita pemanasan dulu. Film apa ini sebenarnya? Pertama kali saya ketemu film ini lewat Trailer Official di Youtube dengan backsound yang keren dari Boga - Nowhere To Run. Opening scene pada trailernya memperlihatkan seorang anak muda cute kayak saya, hehe..., sedang mendengarkan musik dengan headsetnya, wah...saya banget nih, hehe...sesama suka dengerin musik, kalo udah pakai headset berasa autis. Si anak muda ini diperankan oleh Ansel Elgort, yang biasanya suka main mewek-mewek di film drama, karena badannya yang kurus dan wajahnya yang imut kayak boyband. But...alih-alih nyanyi ataupun ngedance ala boyband, justru Ansel disini tampil beda dengan "boyband" yang beda pula, tepatnya boyband sangar dan bertato, kayak Jon Bernthal (Griff) dan Jamie Foxx (Bats). Boyband yang bernyanyi di belakang kemudi, berdansa dengan mobil sport, bergaya dalam merampok bank, lirik-lirikan saat sedang kebut-kebutan dan bunuh-bunuhan. Well...this is what I call love at the first sight.


Love at the second sight datang ketika rilis trailer "TeKillYah" dimana dalam trailer tersebut, selain lagu Tequila dari Vinnie Maniscalco yang diremix oleh The Champs memang asik betul, karena disana juga dicantumkan penggalan review positif dari media dan kritikus film, seperti "Beyond F*cking Awesome" dari Rolling Stone, "5 stars" dari Empire Magazine, bahkan termasuk 100% at Rotten Tomatoes (kala itu, sekarang 93%), WTF...!!! Film apa ini??? Kalo liat plot story kayaknya udah pasaran yah, perampokan bank, good guy and bad guy, tembak-tembakan dan kebut-kebutan, sampai adanya bumbu asmara dengan gadis cantik. Cuma dari trailernya saja saya udah suka banget. Bukan karena liat muka si Ansel ya, ane masih normal bookk...haha... Tapi melainkan karena film ini film action yang beda,.

Apa bedanya?

Minggu, 03 September 2017

Review Warkop DKI Reborn : Jangkrik Boss - Part 2 (2017) : Nostalgia Penikmat Komedi Tempoe Doele (By Muhammad Hasbiy - JMFC 066)

Siapa yang tidak kenal dengan Warkop DKI? Dono, Kasino dan Indro (DKI) adalah legend besar dalam dunia perfilman Indonesia. Tahun lalu, dibuatlah sebuah film yang bisa dibilang reboot untuk mengangkat dan mengingat kembali sosok mereka ke masa perfilman sekarang. Film itu berjudul Warkop DKI : Jangkrik Boss - Part 1. Sesuai prediksi banyak orang, film ini menjadi film yang sangat laris bahkan memecahkan rekor film terlaris sepanjang masa mengalahkan Ada Apa Dengan Cinta 2 dan Laskar Pelangi karena sebegitu besarnya kekangenan masyarakat akan lelucon konyol ala mereka.

Gambar : Falcon Picture

Nah, tahun ini dilanjutkan dengan rilisnya Part ke-2 nya. Plotnya tentu tentang bagaimana DKI plus Sophie melanjutkan petualangan mereka mencari harta karun di Malaysia. Seperti part sebelumnya, film yang kedua ini tetap berisi banyak pernak-pernik ala Warkop DKI jaman dulu. Mulai dari callback kata-kata yang pernah menjadi judul-judul film DKI pada jaman bengen, kemudian juga ada comotan dari film-film jadul lain seperti filmnya si raja dangdut, Bang Rhoma Irama, aktor laga top Barry Prima, serta tak lupa tayangan tarian, syair, dan lelucon khas DKI.

Review The Battleship Island (2017) : Perang Epic Antara Tahanan Korea Dengan Tentara Jepang (By Muhammad Hasbiy - JMFC 066)

Lagi-lagi kali ini saya tonton a based on true story film. Dari judulnya aja udah cukup oke kayaknya, The Battleship Island. Awalnya saya kira film ini tentang gontok-gontokan di kapal, semacam Pirates Of The Carribean-nya edisi Asia timur, haha... But it was totally wrooooong... Salah saya juga sih, ga lihat trailernya dulu, hehe... Film ini menceritakan tentang sekumpulan penduduk Korea yang dipekerjakan secara paksa di tambang Jepang di Pulau Hashima pada tahun 1945. 

Gambar : imdb.com

Sekitar 400an orang Korea ditawan dan dijadikan budak oleh negara Jepang. Mereka dipaksa kerja di pertambangan yang tempatnya 1 KM dibawah permukaan laut sehingga membuatnya "inescapable prison". Keseharian pekerja digambarkan secara brutal dan detail, hingga pada sebuah titik keinginan untuk merdeka itu muncul. Merdeka, membebaskan diri dari perbudakan Jepang. Merdeka itu bukan cuma soal perkataan dan teriakan. Ah...malu euy...disaat orang lain mengangkat senjata untuk meraih kebebasan bernegaranya, saya malah hobi cekikikan pas upacara kemerdekaan. Berjuang untuk merdeka tidak pernah sebercanda itu, tidak pernah segampang upload status tulisan "Merdeka" atau "Dirgahayu", tidak juga diukur dari foto tujuh-belasan di media sosial kamu.

Review American Made (2017) : Really Unbelievable True Story (by Muhammad Hasbiy - JMFC 066)

Pada awal penayangan, disebutkan bahwa film ini based on true story, sehingga saya sempat nyeletuk ''Owh...kisah nyata, kagak ada efek wah dong ini, bakalan krik..krik aja nih...''. Ini merupakan film ketiga Tom Cruise yang bergenre biografi, setelah Born on the Fourth of July (1989) dan Valkyrie (2008). But..ehm...ternyata lumayan keren juga. Tidak banyak komedi yang disajikan, itupun harus ''digali'' terlebih dahulu. Tetapi saya merasa cukup terhibur. Plot dibuat sedemikian rupa sehingga tidak terasa hambar. 

Gambar : imdb.com

Pengalaman sang sutradara film, Doug Liman, yang kita kenal dari karya film-film actionnya yang berjudul Edge Of Tomorrow dan Jason Bourne movies, berhasil menjaga konsistensi film ini sehingga penonton (atau dalam kasus ini, saya) tidak merasa bosan meskipun ini adalah sebuah biography. Twistnya juga lumayan bagus, ga ketebak-ketebak amat walaupun akhirnya ketebak juga (naon sih...). Endingnya juga bagus, ga kriuk-kriuk. Akhir kata tidak perlu film dengan efek yang membahana, cukup dengan alur cerita yang jujur dan sederhanapun sudah dapat membuat saya terpana.

Rabu, 30 Agustus 2017

Review : Seabiscuit (2003) : Lebih Dari Sekedar Drama Pacuan Kuda (By Muhammad Ilham - JMFC 041)

Film tentang pencapaian memang menarik untuk disimak, terutama dalam bidang olahraga, it's sort of my thing you know, entah itu fiksi ataupun dari kisah nyata baik biografi maupun sebuah kelompok secara keseluruhan, beberapa favorit saya ada Rush (2013), Greatest Game Ever Played (2005), Coach Carter (2005), Remember The Titans (2000), etc. Seabiscuits sendiri sebenarnya film yang bisa dibilang lawas (hitung hitung udah satu dekade rilisnya) namun saya sendiri baru tertarik untuk menontonnya sekarang, salah satu penyebabnya adalah tema “kuda” yang memang agak asing bagi saya, namun karena genre sport adalah salah satu dari main genre saya, jadi apa salahnya kalo dicoba, okay lets talk about the movie, Skadaddle…...

Gambar : joblo.com

The Story
Dengan latar belakang era Depresi Besar, seorang anak yang ditinggalkan orang tua yang mempunyai passion menjadi jockey, seorang animal trainer yang tak dikenal, dan pengusaha sukses yang depresi akibat kematian anaknya, ketiganya dipertemukan oleh seekor kuda undersize alias mungil untuk ukuran race horse yang tidak pernah dihargai, yang sering di abused dan diremehkan serta dijadikan kuda sparing bagi kuda unggulan. Ketiga pria dan seekor kuda ini bersatu dengan ambisi untuk membuat hal yang tak mungkin menjadi mungkin, mampukah mereka melakukannya?

Rabu, 09 Agustus 2017

Review Annabele Creation : Jauh Lebih Horor Ketimbang Annabele Yang Pertama

Nama David F. Sandberg mungkin masih awam di telinga para movie mania. Tapi dalam sekejap dia dapat menjadi salah satu sutradara yang menjadi perbincangan. Karena dalam kurun waktu lebih kurang hanya 1 tahun lebih, dia telah membesut 2 film horor. Lights Out dan Annabele Creation, yang kedua film tersebut meraih respon sangat positif baik dari rating para kritikus maupun box office yang laris manis tanjung kimpul. Langkah naik dan tinggi dari David, yang kita baru kenal dia lewat short movie Lights Out yang kemudian diangkat ke layar lebar dan di produseri sutradara terkenal, James Wan, tapi tetap di sutradarai David. 

Gambar : wikipedia.org

Berkat kesuksesan Lights Out, dia langsung dipercaya menggarap sebuah film franchise film horror yang udah punya nama, Annabele. Wah, tentu ini sesuatu yang signifikan dan penting bagi karir dia. Semua itu dijawabnya dengan sensasional. Karena film Annabele Creation yang digarapnya ini menurut saya jauh lebih baik ketimbang Annabele yang pertama, ratingnya 8,2/10 deh, bahkan saya bisa bilang untuk bagian horornya lebih baik dari Conjuring 2. Kenapa? Berikut ulasannya.

Dalam film Annabele Creation ini, kita dibuat ikut bercengkram ria dengan bangku duduk kita, karena horor yang disajikan bener-bener dipandu secara apik, tanpa banyak basa basi, singkat, tepat, tapi padat, hanya bersetting di rumah jadul nan terpencil. Boneka Annabele tuuuu...cuma duduk aja dia udah terliat seram kan, apalagi pake bergerak segala, hoho... Dan ya cukup memuaskan untuk penonton dalam mengetahui origin story dari boneka "imut" satu ini. 2 film layar lebar Sandberg memang durasinya singkat-singkat aja, tapi tak membuat kita kehilangan momen ketakutan yang mengerikan. Terkadang kalo kepanjangan durasi dan drama juga dapat merusak momen seperti kejadian di The Conjuring 2.

Review Valerian And The City Of Thousand Planets (By Ary - JMFC 050) : Scifi Fantasy Yang Sangat Unik dan Futuristik

Bagaimana jadinya kalau film "Avatar", "Star Wars", "Star Trek" bertemu dan dijadikan satu?Mungkin film inilah jawabannya. Jangan ditanya tentang visualnya yang "aje gileeee", itu mungkin kata yang tepat,  sungguh memanjakan mata dengan tampilan warna-warna  grafis yang cerah, kemudian musik klasik sebagai pembuka dari David Bowie pun terdengar enak ditelinga. Adegan awal diplanet Mul, planet yang seperti pantai-pantai di Hawaii yang eksotis itu, yang katanya surganya alam semesta pun terlihat sangat menawan, ditambah dengan penghuni planetnya, "The Pearls", makhluk yang menyerupai manusia yang sangat cinta damai,  lihat cara mereka berkomunikasi satu sama lain, mungkin kita bisa mencontoh gesture mereka dalam memberikan salam,  "sangat santun". 

Gambar : imdb.com

Luc Besson memang sangat visionary deh. Sutradara yang membesut The Fifth Element dan Lucy ini menggambarkan masa depan dengan sangat futuristik, terlihat dari kota Alpha,"The city of a thousand planets". Kota ini sendiri berkonsep seperti dokter, programmer dan petani, tempat dimana alien dan manusia yang saling menerima satu sama lain, berbagi ilmu pengetahuan dan kebudayaan, yang digambarkan seperti neuron saraf, board matrix, dll, menambah liarkan imajinasi tentang konsep 1000 tahun mendatang. Belum lagi teknologi hologram, robotik dan pesawat yang canggih-canggih.

Top 10 Heist Movies (Film Tentang Perampokan) Review By Muhammad Ilham (JMFC 041)

Kenapa sih film perampokan selalu menarik untuk disimak? Pertama karena tingginya intensitas film-film yang bertemakan pencurian/perampokan, penonton dibuat menahan nafas sewaktu para perampok harus diam-diam membobol brankas atau pun kejar-kejaran dengan pihak yang berwajib. Kedua, Hollywood membangun image para perampok sebagai sosok penjahat yang sexy dan intelektual, dan karena merampok bukanlah one man job maka para perampok ini seringkali berupa kru yang biasanya terdiri dari The Brain, The Muscle, The Driver, The Lockpicker/Tehnician dan Demolition Man (dalam beberapa film), mereka harus memiliki kerjasama tim yang kompak (walau kadang masing-masing kru mempunyai agenda tertentu). Ketiga, all star cast,  dengan banyaknya jumlah kru yang ada dalam film bertemakan perampok maka tentu perlu cast yang banyak pula, dan agar menarik biasanya film maker akan menggunakan cast yang sudah bernama untuk mengisi role pembantu sekalipun, sehingga pada film perampokan seringnya kita dapat melihat aktor dan aktris kelas A bersatu padu dalam sebuah tim, tentu ini faktor yang dapat memancing rasa penasaran para penggemar film. Yang terakhir adalah aksi serta plot yang menipu mata, hampir semua aksi yang ada dalam film perampokan terlihat extravagant dan apa yang kita lihat belum tentu itu adalah benar, layaknya sulap, film perampokan dapat menipu mata kita. So here we go guys……………..

Gambar : imdb.com
10. Swordfish (2001)
Director: Dominic Sena
Writer: Skip Woods
Stars: John Travolta, Hugh Jackman, Halle Berry, Don Cheadle, Sam Shepard, Vinnie Jones

Stanley (Hugh Jackman), seorang hacker kawakan yang pernah dipenjara mendapatkan tawaran untuk menjadi crew dalam sebuah aksi perampokan yang dilakukan oleh seorang intelektual nyentrik bernama Gabriel (John Travolta) yang mengaku bahwa dia adalah pimpinan organisasi rahasia bernama Black Cell yang merupakan organisasi rahasia anti teroris. Demi melaksanakan tujuan dari organisasi yang dipimpinnya, Gabriel berencana membobol uang milik pemerintah yang diklaim oleh gabriel adalah uang ilegal hasil dari sebuah perusahaan palsu buatan DEA yang diberi nama Swordfish. Demi mendapatkan hak asuh anaknya Stanley mau tak mau ikut bekerja sama dengan Gabriel untuk mendapatkan uang senilai 9.5 miliar dollar tersebut, namun Gabriel punya agenda tersendiri.  Salah satu film perampokan yang solid dan menghibur, aksinya terbilang keren, dan ending dari cerita sendiri memiliki kejutan yang menarik, karena formula film perampokan adalah ketika diakhir cerita dijelaskan kepada kita bagaimana perampokan itu sesungguhnya terjadi, apa ini tergolong twist ending? Hmmmm I don’t think so…., tapi ga bisa juga dibilang bukan, karena biasanya film-film bergenre serupa khususnya perampokan, twist yang disajikan merupakan penjelasan mengenai apa yang sebenarnya terjadi, sehingga kita yang semula bingung mendapatkan sensasi clarity, karena kita sudah tau hal tersebut akan dijelaskan diakhir cerita, berbeda dengan twist ending dimana dari awal penonton diharapkan tidak tahu sama sekali apa yang akan terjadi diakhir (kecuali udah baca-baca artikel dsb).


Gambar : imdb.com

9. Going In Style (2017)
Director: Zach Braff
Writers: Theodore Melfi (screenplay), Edward Cannon 
Stars: Michael Caine, Morgan Freeman, Alan Arkin, Richie Moriarty, Josh Pais, Christopher Lloyd

Salah satu faktor yang membuat list ini begitu lama diselesaikan adalah karena riset menonton langsung yang mesti saya lakukan dalam pembuatan list ini, menonton dan menonton kembali film-film yang telah ditonton untuk memastikan kalau sebuah film memang tepat (in my personal opinion) dimasukkan dalam list ini. Dan Going in Style (2017) menjadi film terakhir yang saya tonton dalam pembuatan list ini, film yang pada dasarnya sifatnya fun ini cukup menghibur dan menyenangkan untuk ditonton, bercerita mengenai tiga pensiunan yang sedari muda merupakan pekerja keras namun di hari tua mereka terancam untuk kehilangan pensiun yang merupakan hak mereka di masa tua nya. Geram dengan keadaan yang ada, ketiga kakek ini menyewa seorang penjahat untuk menjadi mentor mereka untuk mengajari cara dan sistem merampok bank yang baik dan benar. Digawangi oleh aktor-aktor favorit saya, Alan Arkin, Morgan Freeman dan Michael Caine, ketiganya walau udah sepuh tapi tak pernah menghilangkan karisma masing-masing, joke yang lumayan kocak menambah suasana fun dalam film ini, walau tak sampai tertawa terbahak-bahak paling tidak tetap membuat kita tersenyum. Kehadiran Christopher “Doc” Lloyyd menambah warna dalam film ini.

Rabu, 26 Juli 2017

Review Dunkirk (2017) : Amazing Thrilling For A Thriumph From Nolan

#InNolanWeTrust

Ya, slogan yang begitu catchy ini memang wajar untuk dipopulerkan. Sebagai salah satu die hard fans-nya Nolan, saya memang percaya apapun karya Christopher Nolan pastilah bagus. Begitu pula dengan film teranyarnya Dunkirk, saya tetap menaruh rating diatas 9/10 untuk semua film Nolan. Padahal awalnya, selalu bertanya-tanya, gimanakah bakal dikemas oleh sang maestro tentang film ini, film yang jelas-jelas diangkat dari kisah nyata, tentang sejarah yang tidak bisa diubah-ubah atau dimodifikasi. Akankah monoton? Akankah membosankan? Akankah Nolan mampu menyuguhkan sesuatu yang “WAH” sebagaimana film-film terdahulunya? Karena kita tau selama ini Nolan bermain dalam ranah fiksi yang bisa sekehendaknya memanipulasi cerita dan imajinasi. Semua ini terjawab saat filmnya rilis pekan lalu dan...langsung ditonton dong.

Gambar : express.co.uk

Sekedar mengingat kembali, Dunkirk adalah sebuah sejarah perang dunia ke-II tentang evakuasi 300rbuan tentara sekutu (Inggris, Perancis, Belgia, Belanda) di pantai Dunkirk, yang mana mereka disana sudah dikepung oleh musuh yaitu tentara Jerman. Mereka dievakuasi dengan menggunakan bantuan dari kapal-kapal nelayan dan warga. Evakuasi ini tidaklah mudah karena pesawat dan kapal selam tentara Jerman terus memborbardir Dunkirk dan sekitarnya.

<Spoiler Alert>

Review saya ini mengandung spoiler, karena susah juga nulis review film ini tanpa spoiler. Lagian ini kan kisah nyata, jadi untuk urusan cerita dan ending seperti apa tentu sudah bisa kalian tau sendiri kan. Disini yang dibahas bukan ceritanya, melainkan bagaimana film ini divisualisasikan oleh sang sutradara idola, Christopher Nolan. Sekalipun ini kisah nyata, ternyata Nolan tetap pada ciri khasnya yang suka membuat penonton sedikit mikir dan bingung, hehe.. Dengan menggunakan non-linear narative, film ini dipecahnya menjadi 3 plot : The Mole (One Week), The Sea (One Day)dan The Air (One Hour), yang membuat kita harus pandai-pandai mengingat masing-masing scene merupakan bagian dari plot sequence yang mana. 

Selasa, 11 Juli 2017

Penjelasan Film Alien : Covenant Dan Kronologi Hubungannya Dengan Film Prometheus (Review By Muhammad Ilham - JMFC 041)

Sekelompok kru kapal koloni bernama Covenant menjelajahi luar angkasa dan memiliki satu tujuan yaitu Origae-6 planet yang telah lama diamati dan diharapkan menjadi tempat koloni baru manusia, namun dipertengahan jalan mereka menemukan sebuah Planet asing yang amat mirip dengan bumi tanpa mengetahui bahwa sesuatu yang amat mengerikan menunggu mereka disana.

Ga banyak yang akan saya ceritakan mengenai sinopsis film ini karena memang artikel ini ditujukan bagi orang-orang yang telah menonton filmnya dan masih garuk-garuk kepala mencoba menelaah hal-hal yang ga dimengerti dalam film ini. And now saya akan mencoba menganalisa hal-hal ini yang walaupun belum tentu benar, dari artikel-artikel yang saya baca digabung dengan hipotesa saya sendiri.

Gambar : imdb.com

<Warning Spoiler Alert, bagian selanjutnya dari artikel ini mengandung bocoran cerita (spoiler)>

Dalam film ini terlihat bung Ridley Scott berusaha keras untuk memenuhi selera audience agar Alien Covenant mampu memberikan jawaban dari film Prometheus dan menonjolkan sisi Alien serta Xenomorph (Apa itu Xenomorph? Baca disini donk bro) lebih kuat lagi dalam satu bungkus, hasilnya? Hampir seperti nasi bungkus hehehehe. Banyak yang mencela dan memaki film ini, tidak realistis, kru ilmuwan super bodoh dan tak masuk diakal, repetitive, sadly its true.., what? Ya dapat kita bayangkan ilmuwan mana sih yang meresikokan seluruh koloni dengan tujuan planet yang sudah puluhan tahun diamati eh malah mampir ke planet yang memancarkan sinyal asing tak jelas tanpa tau disitu ada apaan?atau para ilmuwan yang menjelajahi planet tanpa pakaian pelindung ataupun masker? (Ada android kan disitu? Kenapa ga android aja), atau ilmuwan yang diajak ke lantai bawah gelap gulita oleh android jahat “mas ikut adek kebawah yok, adek mau nunjukkin sesuatu” anehnya Kang mas mau azza, terus kata sang android jahat “ada telur alien disitu mas, mas liatin deh bagus kok” eh kang mas mau lagi, yaelah kang disuruh nungging kali tu ilmuwan tetap aja mungkin nurut wae hehehehe. Tapi sutra lah, dibalik itu semua masih ada sedikit titik terang dalam Alien Covenant, visualnya mampu diacungi jempol, penampakan Aliennya pun sangat detail dan rapi. Namun yang paling saya sukai di film ini adalah bagaimana cara dari senor Scott memasukkan kandungan Filosofis, budaya dan kepercayaan serta agama lalu mengkoneksikan antara Saga Alien dan Prometheus secara bersamaan sehingga Alien Covenant dapat menjawab beberapa pertanyaan dalam film Prometheus dan membuat kita tetap intrigue menunggu seri selanjutnya. Apa aja yang dijawab disitu?

Hal-Hal Yang Perlu Kamu Tau SETELAH Nonton Spiderman Homecoming

First of all, saya mau ngutarain perasaan saya...*sok serius*... Saya terharu banget baca komen-komen dari para pembaca di artikel-artikel MCU saya, respon mereka sungguh positif, terima kasih, senang kalo memang membantu teman-teman sekalian dalam memahami MCU, bahkan ada yang setia menantikan part selanjutnya alias part VII, sampe ada yang bilang dia ngecek tiap bulan, huhu...kan jadi haru...hiks...hiks...*sok mewek*. But sekalian lah saya mau minta maaf karena belum sempat melanjutkan artikel part selanjutnya dikarenakan belum punya waktu luang yang banyak *sok sibuk*, karena memang untuk membuat artikel part MCU itu butuh waktu yang panjang, tenaga yang ekstra, snack yang banyak, kopi 13 gelas, tempat duduk yang empuk dan jaringan internet yang kencang, haha...

Gambar : comicbook.com

Tapi setidaknya saya buatkan artikel review buat teman-teman sekalian, ya seperti artikel berikut ini mengikuti trend artikel yang sudah-sudah yaitu apa saja hal-hal yang perlu kamu ketahui SETELAH nonton film-film MCU, kali ini giliran Spiderman Homecoming, yang masih fresh from the oven. Udah nonton belum? Kalo belum, balik kanan, cuci kaki, bobok, besok pergi nonton ke bioskop, karena artikel ini hanya untuk kamu yang udah nonton filmnya, karena tentu saya akan memuntahkan spoiler dimana-dimana. Tapi kalo kamu nekat juga mau baca, luar biasa, resiko tanggung sendiri ya, hehe...

Gambar : comingsoon.net

Karakter Michelle yang diperankan Zendaya ternyata adalah “MJ”
Di ending film, Michelle dipilih menjadi ketua tim lomba cerdas cermat yang dimana Peter Parker adalah salah satu anggotanya. Saat itu Michelle menyebutkan “Teman-teman lebih suka memanggilku dengan nama MJ”. Wahhh...apakah ini artinya pacar Peter si Mary Jane itu?? Wait a minute...kalo saya pribadi, memprediksi MJ disini bukanlah Mary Jane, tapi mungkin kata “MJ” ini memang konotasinya dibuat Sony untuk mengarahkan bahwa Michelle adalah calon pacar Peter di film selanjutnya, mencoba untuk tidak mengadaptasi mentah-mentah sosok MJ yang udah pernah muncul di film lama, agar ada bedanya gitu. Saya melihat memang antara Peter dan Liz itu ga keliatan chemistry-nya, justru lebih ada di sosok Michelle, Michelle diam-diam mengagumi Peter, suka stalking Peter, dan selalu hadir dimana Peter berada, dan tatapan matanya ke Peter juga beda, Peter aja yang ga peka, dasar cowok, cowok memang gitu, haha...

Kemungkinan existnya Black Spiderman
Karakter yang diperankan Donald Glover, Aaron Davis itu ternyata adalah The Prowler. Saat Karen menampilkan riwayat hidup si Davis ini, ada nama jukukannya, The Prowler. Siapa The Prowler? Hanya seorang karakter villain komik Marvel yang jadi superhero dimasa berikutnya, tapi bagian pentingnya adalah dia ini pamannya Miles Morales a.k.a Black Spiderman! Wow...apakah ini berarti Black Spiderman masuk dalam MCU? Kemungkinan besar : Ya! Karena di film Aaron Davis ini saat diinterogasi oleh Spiderman menerangkan bahwa dia punya keponakan di sekitar situ, which means itu mungkin Miles Morales!

Gambar : wikipedia.org

Minggu, 09 Juli 2017

Preview Film Dunkirk : 8 Hal Yang Perlu Kamu Tau Tentang Film Teranyar Christopher Nolan, Dunkirk (By Nendra Pratama - JMFC 069)

When 400.000 Men Couldn’t Get Home, Home Came For Them
Beberapa hari yang lalu saya ditantang Om Chan untuk menulis preview, sesuatu yang belum pernah saya tulis sebelumnya, ya, soalnya lebih enak nulis review daripada preview, makanya saya beranikan diri untuk nulis preview ini, ya berhubung karena ini film garapannya Om Nolan, sutradara yang saya kagumi banget. 

Mari kita jabarin satu persatu hehehe...sebelum itu klik dan liat dulu trailer #1 dan trailer#2 nya.

Gambar : comingsoon.net

1. Durasi film "hanya" 1 jam 47 menit
Film ini akan rilis pada 21 Juli mendatang dan merupakan film karya Nolan yang memiliki durasi paling singkat yaitu 1 jam 47 menit atau sekitar 107 menit. Loh? Bukannya kalo film bagus lebih lama durasinya lebih enak nontonnya? Ohhh tidak kalo untuk film – film karya Nolan yang sudah – sudah, karena untuk dapat memahami film karya Nolan dibutuhkan setidaknya dua atau tiga kali tonton agar kita dapat memahami apa yang aan disampaikan melalui film tersebut, maka ketika mendengar bahwa film ini akan memiliki durasi yang singkat itu merupakan sebuah alasan yang tepat untuk menontonnya.

Review Film Fist Fight (2017) By Muhammad Ilham (JMFC 041)

Apakah anda orang yang suka berkonfrontasi dengan seseorang? Atau anda seseorang yang cenderung menghindari pertikaian? You know, kalo kata orang-orang, seorang yang tidak pernah punya musuh dalam hidupnya adalah seorang yang tak pernah memiliki keberanian untuk mempertahankan sesuatu yang dia anggap benar, really? ada juga yang bilang buat apa kita berseteru sama seseorang yang memang dalam hidupnya selalu buat masalah, artinya kita ga lebih baek dari dia donk, use your head don’t use your fist. Nah tema inilah yang diangkat oleh film Fist Fight (2017).

Gambar : imdb.com

Andy Campbell (Charlie Day) adalah seorang guru di Rooselvelt High School, Andy adalah sosok yang bisa dibilang pengecut di lingkungan sosialnya, karena Andy lebih suka menghindari konfrontasi baik dalam pergaulannya sesama guru, bahkan dalam menghadapi para siswanya (yang rata-rata semuanya bandel). Kebandelan dan kenakalan para siswa meningkat tajam dengan terjadinya Senior’s Pranks day (hari jahilnya para senior) dimana siswa tahun akhir bebas dan berlomba-lomba untuk melakukan pranks atau practical joke atau disebut juga kejahilan fisik terhadap sesama mereka, sekolah dan terutama para guru (hmmm very bad example for our teenager in Indonesia, setelah prom yang sudah banyak diadopsi dan dilakukan oleh sekolah-sekolah di Indonesia bahkan di kota saya sendiri, bukan tidak mungkin hal-hal yang kek gini ditiru oleh anak-anak remaja kita). 

Kamis, 06 Juli 2017

Review Film 3 Alif Lam Mim : Film Indonesia Bertema Futuristik Pertama Namun Dekat Dengan Realita Hidup Kita (By Nendra Pratama - JMFC 069)

Huft setelah sekian lama absen dari mencoret – coret blog kita tercinta ini, akhirnya saya megang laptop lagi buat nulis review ini, bukan film baru memang, namun sebagai seseorang yang mengaku menyukai film saya merasa harus menyampaikan sedikit apa yang saya rasakan ketika melihat film ini, ya, film 3 (Alif Lam Mim) yang previewnya pernah ditulis oleh Agent 001 disini memang merupakan film yang unik untuk ukuran perfilman negara kita, mengapa? Karena apa yang ditampilkan dalam film ini sangat berbeda dari film dalam negeri kebanyakan yang selama ini kita tau. Jadi mari kita kupas satu persatu mengapa film ini begitu membekas buat saya. J


Gambar : imdb.com

Jajaran Pemeran Yang Memiliki Jaminan Mutu
Film yang ditulis dan disutradarai oleh Anggi Umbara dan diproduseri oleh Arie Untung ini memang memiliki nama – nama pemeran yang layak jual, coba aja liat deretan list pemeran film ini, dimulai dari Cornelius Sunny, Abimana Aryasata, Agus Kuncoro, Prisia Nasution sampai Cecep Rahman. Setiap cast mendapat peran yang pas dengan akting yang memang wajar dan sangat natural, Cornelius Sunny yang berperan sebagai Alif, seorang aparat negara berperan sesuai namanya, Alif, yang berbentuk lurus, tidak neko – neko, ikut garis komando dan sangat disiplin serta memiliki loyalitas yang tinggi, sedangkan Agus Kuncoro sebagai Mim seorang pengajar disebuah padepokan berperan sangat misterius dan mencurigakan, dan Abimana Aryasata yang mendapat jatah sebagai Lam seorang jurnalis surat kabar terkemuka berperan memang seakan dia adalah wartawan yang benar – benar ingin mengetahui suatu pristiwa dari berbagai sisi, dan khusus untuk Abimana, saya sangat suka karakter dia di film ini, saya menunggu setiap kemunculannya di layar dan menurut saya karakternya benar – benar menginspirasi, bagaimana dia memperlakukan sahabatnya, Alif dan Mim, bagaimana cara dia bekerja mencari berita, bagaimana cara dia menghadapi bos dan rekan kerjanya, tapi yang paling memukau adalah bagaimana cara dia berkomunikasi dengan istrinya, sangat susah melupakan adegan Lam dan istrinya berbincang tentang masalah pekerjaan, bahkan saya masih ingat dialog Gendis, istri Lam, saat itu, kurang lebih begini : “ Inget Lam, kamu dulu datang ke papa aku bukan untuk ngajak aku bahagia, tapi untuk ngajak aku berjuang, itu yang membuat kamu dipilih oleh papa aku Lam” ohhh so sweet banget kan? Ahhh jadi baper saya huhuhu. Disamping ketiga karakter utama diatas maih ada banyak nama – nama besar yang ikut ambil bagian dalam film ini, dan memiliki peran dan karakter yang pas, sehingga membuat jalan cerita menjadi hidup dan terjalin apik.

Senin, 05 Juni 2017

Review : Seeking a Friend for The End of The World (2012) By Muhammad Ilham - JMFC 041

JMFC 041 - Muhammad Ilham score :
Rate : 7.7/10
Level : Movie Mania

 Seeking A Friend For The End Of The World
Gambar : imdb.com

Film yang mengusung tema armageddon, apocalypse atau kiamat sudah sering menjadi suguhan yang dibawakan para sineas Hollywood, misalnya Armageddon (2000), Deep Impact (2000), World War Z (2013), The Day After Tommorow (2004) The Core (2003), atau 2012 (2012), yang sumber kiamat itu berasal dari beragam faktor, entah meteor, gelombang panas matahari, pemanasan gobal atau bahkan zombie.

Namun kebanyakan dari film tersebut menceritakan tentang perjuangan para manusia yang heroik untuk bertahan atau menghindarkan diri kepunahan yang ada di depan mata mereka dengan berbagai cara, mulai dari misi ke luar angkasa untuk menghancurkan meteor, membangun versi modern kapal Nabi Nuh A.S dan lain-lain. Tapi apa jadinya kalau kiamat yang akan terjadi tak bisa dihindarkan lagi, segala upaya telah dilakukan namun meteor itu tetap datang? Dan kiamat dapat dipastikan hanya tinggal sebulan lagi, apa yang akan kita lakukan? Apa yang anda lakukan?

Nah aspek inilah yang ditonjolkan dalam Seeking a Friend for The End of The World (2012), aspek yang lebih humanis, yang lebih emosional dari dalam manusia. Dodge (Steve Carrel) adalah seorang average joe, seorang yang biasa saja tak ada yang istimewa, begitu pihak pemerintah mengumumkan kalau Matilda (sebuah meteor) akan menghantam bumi dalam hitungan hari lagi, tanpa aba-aba dan kata-kata sang isteri meninggalkannya begitu saja, Dodge heran, apa yang salah dari dirinya, hidupnya memang tak istimewa namun apa isterinya tidak sebahagia itu bersamanya? 

Selasa, 02 Mei 2017

Review : Under The Skin (2013) : Another Challenge For The Mind F*cker Movie Lover

Hmm...hmm..hmmm...*tik..tok..tik..tok..* Kelamaan mikir, haha.. Iya guys..saya mikir, ini film gimana mau reviewnya yah, filmnya rumit banget, ga tau nih persisnya tentang apa, maksudnya apa.. Film ini rumit, rumit banget, jika di ranking ulang dalam artikel saya : 10 Film Paling Rumit, film ini bagi saya layak ditempatkan di dalam 3 besar, bersaing dengan 2001 : A Space Oddisey dan Primer.


Poster Under The Skin

Film ini jelas bukan untuk kalian penikmat film-film biasa alias casual moviegoers, tapi levelnya berada di zona Moviefreaks. Ya, hanya orang-orang tertentu saja yang bisa menikmati film begini mah. Jangankan untuk menikmati, untuk memilih menyempatkan waktu untuk menonton inipun juga butuh level keinginan yang kuat dari seorang moviefreaks.

Lalu, setelah bacotan diatas, dimana sih sebenernya yang rumit? Apa sih yang sulit dimengerti? Kalo alur ceritanya sih ga rumit ya, karena alurnya maju tanpa bolak-balik maju mundur kayak film rumit lainnya, Memento atau Enemy. Ceritanya dibuka dengan seorang pemuda dengan gaya pembalap, pakaian dan motornya, menyediakan mayat hidup berjenis kelamin perempuan, ke sebuah van, yang kemudian pakaiannya diambil oleh aktris utama film ini, Scarlett Johannson.

Rabu, 26 April 2017

Review Film Life (2017) : Alien Yang Luar Biasa All Brains, Muscles, and Eyes

Film Life menurut saya adalah film bergenre sci-fi thriller, tentang sebuah stasiun luar angkasa dimana para astronotnya berhadapan dengan Alien yang mengancam hidup mereka. Dibintangi oleh bintang terkenal diantaranya Jake Gyllenhaal (Enemy), Ryan Reynolds (Deadpool), Rebecca Ferguson (Mission Impossible - Rogue Nation).


 Life (2017) Poster
Gambar : impawards.com

Life movie is great, tapi memang belum bisa mengalahkan sang legend, Alien movies. Film ini ga banyak basa basi, cuma mukadimah sebentar, langsung disuguhkan makhluk yang menjadi terornya. Ga masalah sih ya, karena yang dijual adalah terornya, bukan kisah tokoh-tokohnya. Cerita sepanjang film hanya berkutat seputar survival challenge para astronot terhadap ancaman dari Alien yang ada di dalam pesawat. 

Dalam film bertemakan "Strange Creatures", sering kata "Karantina" diabaikan, bak dilema antara nurutin prosedural atau mempertaruhkan nyawa, termasuklah film ini. Mereka telah merencanakan berbagai macam jenis karantina, yang disebut sebagai Firewall 1 sampe 3. Ya lain kali ya mbok nurut lah dengan yang namanya si Tina ini ya, hehe..

 Life (2017) Lab

Thrillernya cukup intense, kagetnya ada tapi cuma sedikit. Berbicara tentang sosok aliennya...like alien movies often said "It's beautiful" at the begining, haha..awalnya sih indah, tapi setelah mengetahui apa kemampuan aliennya, apakah masih bisa menyebut itu "Beautiful"? Haha... Alien disini dinamakan Calvin, diringkas oleh ucapan Miranda (Rebecca Ferguson) :"All brains, all muscles, all eyes". Damn..para astronot harus berpikir lebih cerdas untuk mengatur strategi survival mereka menghadapi alien jenis begini, pinterlah aliennya lagi dari pada kita.huhuuu... 

Review : Beauty And The Beast (2017) : Disney Never Fail

Saya ga nyangka kalo ini musikal, dikit-dikit nyanyi..hehe..tapi nyanyian, dansa dan aransemen mereka magnificent! Menyadari bahwa cerita Beauty And The Beast ini sudah berkali-kali dibuat dan hampir semua orang tau, Disney mendiversikan filmnya menjadi musikal yang penuh dengan nyanyian, dansa dan paduan suara. Ini yang bikin beda, saya terhipnotis dengan ketukan kaki mereka saat berdansa yang seirama dengan beatnya. Saya suka bagian dimana Gaston (Luke Evans) berdansa bersama orang-orang di sebuah cafe jadul itu dan saat Lumierre bernyanyi dengan hiasan background visual effect yang variatif.

 Beauty And The Beast (2017) Poster
Gambar : imdb.com

Berbeda dengan versi Lea Seydoux (2014) yang seriusan, film ini lebih banyak unsur komedinya yang datang dari sosok sahabat Gaston bernama Le Fou (Josh Gad). Tubuhnya yang gemuk dan perawakannya yang gemulai mampu menarik tawa penonton. Sayang karakternya diindikasikan sebagai seorang gay, hal ini tentu menjadi kontroversi di kalangan dunia, karena ini film yang akan dikonsumsi oleh anak-anak. Kontroversi ini bahkan ada yang sampai pelarangan tayang dan konflik dengan distributor. Jika temen-temen mau tau lebih detail tentang kontroversi ini, ada satu artikel menarik dari CNN Indonesia di link berikut ini : "Ribut-ribut 4,5 Menit Gay di Beauty and the Beast".
 Beauty And The Beast (2014)
Gambar : amazon.com

Disney sangat menyiapkan set produksinya hingga ke pernak-perniknya, semuanya kuno banget, masih jaman kuda makan batu, haha... Tapi ketika sudah bermain diranah CGI, penampilan penghuni kastil seperti Beast dan peralatan rumah tangganya masih terlihat seperti buatan komputer. Syukurlah hal ini mampu ditutupi oleh audio terutama lagu, aransemen dan choir yang kita dengar, hypnotized banget. Untungnya nyanyiannya tidak sesering dan sepanjang Into The Woods, hehe...kalah film India, haha...

 Gaston And Lefou
Gambar : etonline.com

Btw, akan ada masa dimana anak-anak jaman sekarang mengenal Emma Watson sebagai Belle, bukan Hermione Granger, hehe.. 1 film Belle ini mampu mengimbangi ke-ikonik-an Hermione Granger dalam 7 film Harry Potter movies. Ya karena memang penampilannya sebagai Belle di film ini sangat cocok, sosok Emma Watson yang polos lugu dan innocent ini memang Disney Princess banget lah. Dengan gaun kuning yang ngembang itu dan menari-menari di lantai dansa membuat semua pria merasa ingin menjadi Beastnya, haha... Sayang Beast disini kurang garang, Beastnya terpelajar dan beretika, jadi mukanya pun terlihat tidak terlalu menyeramkan sebagaimana kata "Beast" semestinya.

Film ini sangat tepat dalam memuaskan nostalgia kita akan cerita dongeng masa kecil, yang kemarin-kemarin belum terpuaskan oleh versi animasinya maupun versi live action Perancisnya. Mengajak keluarga tercinta juga bole, hanya saja tetap perlu guidance dari parents ya perihal apa saja yang dirasa perlu dibimbing, meskipun ini cerita anak-anak. Yang jelas siapin aja telinga untuk dihipnotis oleh aransemen musikalitasnya.

JMFC 001 - Om Chan Score
Rate : 7,5/10
Level : Casual Moviegoers

Rabu, 19 April 2017

Preview Guardians Of The Galaxy 2 : Welcome To The Freaking Guardians Of The Galaxy

Eh..dah lama banget ga nulis preview. *soksibuk* To the point saja, bagi sebagian kamu mungkin belum familiar dengan film yang satu ini. Wajar sih ya karena memang ini bukan superhero Marvel yang populer, di layar lebar pun baru 1 film yang telah dibuat. But, semestinya film inilah yang sangat pantas untuk kamu tunggu-tunggu di tahun 2017 ini, seperti saya. Kenapa? Pertama, karena film pertamanya yang sukses, seru dan kocak banget. Film kedua ini pun juga dipastikan kocak abis. Kedua, karena mendapat respon 100% positif dalam screening test para kritikus film seperti yang diberitakan oleh slashfilm.com. Ketiga, karena lagu-lagu jadulnya asik-asik, setelah Awesome Mix Vol. 1, next Vol. 2 nya donk. Keempat, karena ada Baby Groot. Kelima, yang paling penting karena GOTG adalah gerbang penghubung antara The Avengers dengan Marvel Universe yang luas.

 GOTG 2 Title
Gambar : bleedingcool.net

Yak, alam GOTG yang notabene adalah di galaksi, tentu membuat film ini mempunyai alternatif yang tak terbatas, ga kayak tetangga sebelah, judulnya sih Perang Bintang, tapi ceritanya itu-itu aja ga berkembang, uppssss *ngajakperangsomeone*. Segala lokasi yang antah berantah, makhluk yang aneh-aneh, plot cerita yang variatif, teknologi yang super canggih, spaceship yang keren-keren, kekuatan yang tak terbatas, segala faktor ini juga tentu membuat kamu wajib menonton film ini.

 GOTG 2 Poster
Gambar : imdb.com

Preview ini dibuat bukan untuk kamu yang belum nonton film pertamanya, karena saya akan langsung to the point saja membahas apa yang akan ada di film kedua ini. So, bagi kamu yang belum menonton film pertamanya, termasuk golongan orang-orang yang merugilah, haha...*colekhasbiy*, segera tonton dan kesini lagi untuk membacanya. Sebelum itu liat dulu trailernya ini, klik Trailer 1 dan Trailer 2.

Alright then, apa saja yang perlu kamu ketahui tentang film GOTG 2? Simak poin-poinnya berikut ini :

GOTG 2 bersetting waktu hanya beberapa bulan setelah event di film pertamanya dan beberapa bulan sebelum event di film Captain America – Civil War.

Yak, kita mesti mengabaikan tahun kapan filmnya rilis. Meskipun GOTG 2 dirilis 3 tahun setelah filmnya yang pertama dan setahun setelah Captain America – Civil War, bukan berarti timelinenya mengikuti tahun tersebut. Setelah mereka menyelamatkan galaksi satu kali (dari Ronan “The Accuser”) dan menjadi mitra Nova Corps, kali ini mereka harus menyelamatkan galaksi untuk kedua kalinya, hanya  beberapa bulan setelah event di film pertamanya. Berarti juga, film ini sebelum Doctor Strange dan Avengers – Age Of Ultron, yang tentu bisa saja mempunyai kaitan, seperti monster seperti gurita di trailer rada mirip ama Shuma Gorath, monster yang pernah dihadapi oleh Doctor Strange di komik, dan tentu saja hubungan antar Infinity Stone.

Senin, 17 April 2017

Review Film Fast Furious 8 (2017) : Keren dan Gila-Gilaan Berbarengan Dengan Irrasional

Banyak orang berkomentar pasca keluar bioskop bilang "Wih..keren banget filmnya". Yah..ga salah sih ya..just another perspective from innocent movie viewers..haha.. Gimana denganku? Hmm..keren sih memang, tapi ga pake banget. Paling banter memang ga sampe saya kasi nilai tembus 8. Karena memang tak membekas di hati saya, just another perspective juga lho ya.. Cuma memang masih tinggi antusias saya untuk selalu menonton franchise ini, karena disaat Need For Speed dan The Transporter ga jalan lagi, maka hanya tersisa inilah film yang mengobati nutrisi keinginan menyaksikan film balapan action yang menegangkan.

 Fast Furious 8 Poster
Gambar : empireonline.com

Diakui, filmnya memang keren dari sisi aksinya, mobilnya, kebut-kebutannya, tembak-tembakannya, hancur-hancurannya, hingga ledakannya. Seperti movie series Fast Furious sebelumnya, film ini hanya menjual sisi itu semua untuk dapetin pendapatan yang besar, fokusnya lebih dititik beratkan kepada gimana membuat kesan "wah" dan membuat penonton terdecak kagum dengan mata belo. But not for me, filmnya berlalu begitu saja tak membekas, karena memang seperti saya sedang berjalan-jalan di mall untuk window shopping alias cuci mata doank. 

Banyak adegan yang tak masuk diakal, serba bisa, serba kebetulan, ada beberapa alur yang dapat menjadi plot hole, dan visualisasi yang overkill dan IMBA. Sebut saja satu-dua contohnya bagaimana sebanyak itu rombongan Rusia yang bawa senapan Riffle satupun ga ada tembakannya yang mengenai Roman yang hanya menggunakan pintu Lamborghini sebagai tameng, bahkan kalah cepat bisa digebuk! Hadeh... Atau ngapain pejabat Rusia bawa kode nuklir kemana-mana kayak bawa koper belanjaan.