Jumat, 29 Oktober 2021
Review non spoiler dan Penjelasan Ending Film : Censor (2021)
Selasa, 28 September 2021
15 Film/Serial Lain Seperti Squid Game Yang Sama-Sama Mengusung Konsep Permainan Sakit Jiwa : Battle Royale Game
- Terdapat "permainan" di dalamnya, mengharuskan ada yang menang dan ada yang kalah.
- Ada diiming-imingi hadiah, imbalan, ancaman atau hukuman.
- Harus saling membunuh antar peserta, satu sama lain, bukan hanya diantara dua kubu saja.
Permainannya beragam, sesuai dengan tipe kartu remi yang dijadikan hadiah. Keriting berarti kerjasama tim, Sekop artinya ketahanan dan kekuatan fisik, Wajik berarti kecerdasan perhitungan dan probabilitas, sedangkan Hati adalah masalah hati, iya, seperti kepercayaan, pengkhianatan dan pertemanan. Serialnya cukup seru, menegangkan, dan tricky. Kadang yang terlihat sulit ternyata ga seperti itu, malahan sangat simpel dan mudah untuk menang jika tau maksud dari permainannya. Hal ini mengingatkan saya akan sebuah game show favorit saya di tv jaman dulu bernama Crystal Maze.
"Good artist copy, great artist steal"Seniman yang levelnya "bagus" bisanya paling cuma plagiatin karya orang lain, tapi kalo seniman yang levelnya "hebat" dia tak hanya bisa meniru karya orang lain, tapi bisa membuat orang-orang percaya bahwa itu adalah karyanya. Inilah yang dilakuin Among Us, mereka "mencuri" ke-originalitas-an milik Werewolf game sehingga orang-orang lebih tau mereka ketimbang Werewolf (Sama kayak The Hunger Games terhadap Battle Royale). Namun sebenarnya si Werewolf game inipun juga "a great artist", karena game tersebut merupakan adaptasi dari Mafia Game, yang diciptakan pada tahun 1987 oleh Dmitry Davidoff, seorang guru SMA yang membuat game tersebut untuk tujuan penelitian di jurusan psikologi Universitas Moskow.
Jumat, 17 September 2021
9 Asian Superhero Movies Selain Shang-Chi
Marvel baru aja merilis film superhero Asia pertama yang berjudul Shang-Chi and The Legend of Ten Rings. Sayangnya, di Indonesia sampai hari ini belum bisa ditayangkan karena bioskop disini belum memperoleh ijin untuk dibuka kembali. Ya you know la karena pandemi. But, daripada meratapi kesedihan yang tak kunjung terobati, mari coba ubek-ubek film superhero Asia lainnya selain Shang-Chi. Karena, tahukah kamu, kita di Asia ini juga punya banyak film superhero selain bikinan Marvel atau DC Comics. Ya meskipun memang filmnya tak sehebat mereka, tapi ya setidaknya Asia juga punya dan berani mencoba untuk menyuguhkan film superhero yang penuh aksi, dengan segala kekurangan dan keabsurdan yang ada, hehe...
Saya mengkategorikan film superhero ini adalah yang bener-bener "superhero" dan solo, bukan sekedar orang yang punya kekuatan super dan beramai-ramai. Superhero bahkan terkadang muncul dari orang yang tak punya kekuatan super tapi punya keahlian beladiri dan strategi yang mumpuni. Kalo film yang mengisahkan orang yang punya kekuatan super mungkin ada banyak, tapi temanya ga sama dengan superhero. Superhero itu kegiatan intinya adalah membela kebenaran, menegakkan keadilan dan menyelamatkan dunia atau orang-orang. Filmnya juga saya batasi hanya yang rilis mulai tahun 2000 dan setelahnya. Setting waktunya pun yang berada di jaman modern, bukan jaman kolosal. Dan tak lupa, yang utama, memakai kostum khusus atau topeng.
1. Gundala - Indonesia
Kita mulai dari negeri kita sendiri, Indonesia. Gundala adalah superhero yang rada mirip seperti Thor, karena sama-sama mempunyai kekuatan petir. Filmnya dimulai dengan origin story dari sang pengampu superpower tersebut, Sancaka. Sedari kecil dia udah hidup susah, miskin dan ditinggal orang tua. Hidup di jalanan yang keras dan sebatang kara. Namun, cerita yang sebenarnya baru dimulai saat Sancaka dewasa, tepat ketika dia baru benar-benar menyadari bahwa dia punya kekuatan super. Dan saat itu, banyak desakan agar dia dapat menggunakannya untuk membantu orang lain. Apalagi, kondisi negaranya juga sedang mengalami krisis politik dan kesehatan. Sancaka harus menjadi Gundala untuk menyelamatkan banyak nyawa.
Menariknya adalah, tau ga kalo konflik yang diciptakan dalam film ini rada mirip ama cerita pandemi sekarang ini, dan "kebetulan" bangetnya, film ini di rilis 4 bulan sebelum kasus pertama Covid-19 muncul. Hmm..kebetulan? Urusan action, film ini mengandalkan adegan fighting ketimbang visual effect, dikarenakan Gundala belum sepenuhnya unjuk kebolehan, masih disimpan untuk penampilan selanjutnya dalam film-film superhero Indonesia yang tergabung dalam Bumi Langit Cinematic Universe.
2. Madame-X - Indonesia
Superhero itu biasanya bad-ass ya, pandai bertarung, garang, mau cowok ataupun cewek. Nah..gimana kalo superheronya adalah banci?? 😱Iya, banci..kok bisa? Ya bisa dong..kek di film ini. Apalagi yang jadi superheronya adalah aktor yang paling mahir berakting sebagai banci, siapa lagi kalo bukan Aming, yang berperan sebagai Adam. Jadi ceritanya tuh di suatu daerah, ada satu organisasi yang men-sweeping para banci, semacam ormas radikal gitu, disini mereka bernama Bogem. Pada suatu malam, mereka menculik rombongan si Adam, untungnya si Adam berhasil selamat meskipun dalam keadaan celaka. Adam akhirnya ditampung dan dirawat oleh sebuah keluarga yang kebetulan juga berisi banyak banci. Disana dia juga dilatih dan dibekali "modal" untuk menjadi seorang superhero. Tugasnya adalah memberantas kejahatan human-trafficking yang membahayakan orang-orang sekitarnya. Mampukah seorang bencong menjadi superhero?
Film ini akan sangat absurd dan kocak, belum pernah ada yang begini, tagline nya aja "Tegakkan keadilan jaga penampilan", senjatanya pun unik, menyesuaikan dengan perlengkapan yang biasa digunakan wanita, kek hairdryer dan lipstik. 😅 Apalagi saat melihat sutradara Gundala, Joko Anwar, berakting menjadi salah satu bancinya, bener-bener ga nyangka. Kalo kamu butuh kursus bahasa waria, film ini bisa jadi kamusnya. 😂
3. Cicakman - Malaysia
Setelah Indonesia, sekarang kita ke tetangga sebelah, Malaysia. Ternyata, mereka juga punya film superhero, bergenre komedi, superheronya kurus dan namanya pun lucu, Cicakman. 😆 Dari namanya aja sudah pasti kalian tau ini superhero berkekuatan apa. Cicakman bisa manjat dinding dan lidahnya panjang seperti cicak. Tapi ada satu yang paling akurat, dia takut sama karet cabe (karet gelang) 😅 Dia lemah kalo kena betet (bahasa sini), iItu ibarat "batu kripton"nya dia. Nah, Cicakman ini filmnya lumayan bertahan, karena dibuat sampe 2 sekuel.
Cicakman merupakan sosok low budget superhero, ala kadar, cuma rakyat biasa, ga pakai gadget canggih, bekerja sendirian dan otodidak. Tugasnya adalah melindungi kota tempat tinggalnya yang bernama Metrofulus. Ya, kalian ga salah baca, "Fulus", seperti kata alm. Wan Abud, artinya adalah duit. Jadi di kota ini ga ada yang gratis, semuanya bayar, seperti kata announcer radio di opening scene yang bikin ngakak banget. Situasi kota Metrofulus kurang lebih sangat mirip dengan dunia saat ini, lebih tepatnya mirip dengan rumor "Konspirasi Virus Corona". Cicakman harus berpacu dengan waktu untuk mencegah penyalahgunaan wewenang pemerintah terhadap wabah dan mengungkapkan dalangnya kepada publik.
Filmnya sangat ringan dan absurd. Ada banyak aksi konyol nan receh. Aksi Cicakman pun rada-rada mirip Spiderman, climbing and swinging. Dan taukah kamu, kalo artis Indonesia, Tamara Blezinsky, berperan sebagai salah satu villain Cicakman, yang karakternya sangat kontradiktif dengan apa yang kita tonton di layar kaca Indonesia.
Senin, 16 Agustus 2021
Review dan Penjelasan : John And The Hole (2021)
Sinopsis :
John, adalah seorang remaja laki-laki berusia 13 tahun yang hidup dari keluarga kaya. Mereka tinggal di villa yang berada di tengah hutan. Keseharian mereka biasa saja normal sebagaimana keluarga lainnya. Ayah dan ibu bekerja, kakaknya sekolah dan pacaran, sementara John hobinya latian tenis. Mereka juga rutin melakukan dinner keluarga dan ngobrol bareng. Sampai tiba-tiba John menemukan bunker di dekat villanya.
Kalo anak-anak lain nemu bunker, kebanyakan pasti ngehindar ya. Tapi si John malah lain. Dia malah melakukan hal yang boleh dibilang aneh, ekstrim dan kejam. Dia mengurung ayah, ibu dan kakaknya ke dalam bunker tersebut.
Anak macam apa coba yang tega mengurung keluarganya sendiri di dalam bunker. Lalu bagaimana respon anggota keluarganya terhadap John? Akankah mereka terdampar mati kelaparan di dalam bunker? Apakah maksud John sebenarnya? Apa dia berniat jahat? Nah inilah yang jadi suguhan filmnya.
Jumat, 29 Januari 2021
10 Film Komedi Paling Kreatif Yang Pernah Ada : Smart Unik Absurd Cult!
Halo..back again..nulis lagi..ga mau banyak omonglah, to the point aja. Kali ini saya mau share beberapa film komedi yang menurut saya paling kreatif, paling kocak, paling unik, paling absurd tapi tetap smart, dan menjadi cult perbincangan orang-orang di dunia. Dibilang kreatif ya karena dapat dinilai dari beberapa hal seperti set dan properti syuting yang digunakan, kemudian kreatifnya juga dapat dinilai dari keunikan ide cerita yang dipunya dan gimana penyajiannya..
Unlike anything else..these are something that you never seen before. Lets go to the list..
Kita singkirkan dulu siapa juara I, II dan III-nya, saya akan mulai dari peringkat ke-4.
4. What We Do In The Shadow (2014)
Wait, jangan salah dulu kalo ngira ini adalah serial tv yang lagi airing now. Justru serial tersebut memang diangkat dari film aslinya yang berjudul sama. Film ini dibesut oleh sutradara Thor - Ragnarok : Taika Waititi. Kalo liat nama Taika Waititi udah tau la kan gimana kocaknya beliau. Taika ini selalu memberikan sentuhan komedi yang khas dalam setiap filmnya. Termasuk di film ini, dia pake metode yang populer dengan istilah "Mockumentary", sebagai pelesetan dari "mocking-documentary", sebutan untuk film dokumenter yang dibuat untuk mengejek, menyindir, atau mengkritisi sesuatu, ya semacam dokumenter parodi gitulah. Kalo mockumentary lain biasanya mengambil tema dari kejadian-kejadian yang ada di dunia nyata, lain halnya dengan film ini, dia menceritakan tentang kehidupan vampir yang selama ini hidup diantara kita!
Just imagine, kayak kalian lagi nonton dokumenter profil publik figur gitu, cuma yang diwawancara adalah para vampir, yang terdiri dari 3 orang : Viago, Vladislav, dan Deacon. Disini mereka adalah vampir yang hidup sejak jaman dahulu kala, kan vampir awet muda ya. Mereka berbaur dengan manusia juga, cuma manusia ga tau kalo mereka adalah vampir. Mereka hidup secara rahasia, seperti sebuah secret community. Nah pura-puranya tuh ada pihak tv yang berhasil mendapatkan kesempatan untuk meliput mereka, weh, bahaya ga tuh? Ntar digigit pula?!
Nah untungnya dalam sesi liputan ini, pihak vampir menjamin keselamatan para kru, ya kek gimana kalo ada wartawan yang ngeliput teroris gitu lah. Selanjutnya ya ceritanya mengalir simpel gitu aja, gimana keseharian mereka baik saat di rumah atau saat "nyamar" di masyarakat. Trus apa enaknya jadi vampir, apa hambatannya, apa pendapat mereka tentang keadaan di sekitar, ya dibuat sok-sok serius gitulah, jadinya malah lucu dan kita yang nontonnya ya ngakak terus anjir... Dan untuk lebih menarik lagi, akan ada beberapa pelebaran karakter dan alur cerita, yang nantinya akan menjadikan filmnya makin konyol dan banyak kejutan.
Minggu, 27 Desember 2020
Bedah Film Swiss Army Man (2016) : Perjuangan Melawan Depresi Yang Disajikan Dalam Kreatifitas Level Tertinggi
Minggu, 01 November 2020
Film Paling Aneh di 2020 : Review Non Spoiler dan Penjelasan Ending I'm Thinking Of Ending Things (2020)
Judulnya tuh eye-catchy banget ya, I'm Thinking of Ending Things, jadi menggoda saya untuk langsung menontonnya. Entah ini genre apa, tentang apa, saya ga tau sama sekali, bahkan trailernya juga ga saya liat. Durasi demi durasi yang dilalui sebenarnya sangat membingungkan, tapi entah kenapa saya tetep aja terusin, mungkin karena narasi yang disampaikan dari perspektif si cewek dalam film ini menghipnotis sekali, jadi cukup membuat kepo ini sebenarnya ada apa gitu ya, gimana nasib ni cewek di ending.
Filmnya menceritakan perjalanan sepasang kekasih, Lucy dan Jake, menuju rumah orang tua Jake, dalam rangka Jake yang mau ngenalin pacarnya ini ke ortunya. Mobil yang mereka kendarai harus melalui perjalanan jauh dan bersalju, menyiratkan suasana hati yang dingin dan terasa lama banget, scene yang sengaja dibuat demikian untuk "mendukung" ke-bete-an Lucy, menguatkan keinginannya untuk segera mengakhiri hubungannya dengan si Jake, karena pikiran "I'm Thinking Of Ending Things" ini yang terus berulang di pikirannya.
Selama perjalanan, percakapan terus diupayakan oleh Jake sehingga Lucy ga boring, atau Jake memang sengaja untuk mematahkan pikiran Lucy tadi, dengan selalu menyela dan menciptakan bahasan. Bahasannya ga tanggung-tanggung, dibungkus dengan dialog-dialog yang cerdas, mereka silih berganti saling lempar referensi pop-culture, sebut saja seperti review film, puisi, musikal, dan buku.
Sesampainya di rumah orang tua Jake, persepsi horor akan langsung tertancap di benak penonton, dikarenakan hadirnya Toni Collete, aktris yang peran horornya di Hereditary sangat membekas. Ditambah lagi dengan suasana awkward di meja makan, orang tua Jake mencoba untuk tampil ramah di hadapan calon mantunya, sedangkan Lucy ga tau ada apa sebenarnya di rumah mereka tersebut. Jake sendiri memang punya satu rahasia yang sangat tidak ingin terbongkar. Tak bisa dipungkiri filmnya memiliki unsur creepy yang cukup menakutkan.
Kamis, 22 Oktober 2020
Dua Film Kolosal Korea Yang "Kembar" : Masquerade (2012) vs I Am The King (2012)
Jumat, 02 Oktober 2020
13 Film Korea Selatan Paling Esensial Yang Harus Kamu Tonton Sebelum Nyebur Ke Dalam Hallyuwood!
Kesuksesan Parasite dalam dunia perfilman global membuka mata penonton dunia ke arah Korea Selatan. Orang-orang mulai menjelajahi film-film asal negri ginseng tersebut, yang disebut dengan istilah Hallyuwood, sebagai "sinonim pelesetan" dari Hollywood-nya Korea. Ini terimbas juga kepada media penyiaran seperti tv dan video on demand yang ikut meramaikan bisnis mereka dengan mengisi film-film Korea di saluran mereka. Tapi, bagi kita sebagai penonton yang baru mau mulai, mau mulai dari mana? Ada sekian banyak film Korea yang bagus-bagus, tapi bagusnya nonton yang mana dulu nih? Nah..setelah saya tonton banyak film Korea, berikut ini adalah film-film Korea yang menurut saya paling esensial, yang harus kamu tonton terlebih dahulu, sebelum nonton film-film Korea lainnya.
Untuk list ini, saya perlu menyempitkan pilihan. Pertama saya sortir filmnya hanya yang dirilis maksimal tahun 2010 dan kebawahnya (sebelumnya). Karena mereka bukan film "baru", film lama, senior lah caknya, mereka yang lebih dahulu hadir. Kemudian, saya mencoba untuk memberikan keterwakilan untuk setiap genre film, baik murni satu genre di dalamnya maupun kombinasi beberapa genre. Dan saya pilih dari setiap genre itu, judul yang paling sering disebut oleh orang-orang alias yang lebih populer. Mungkin ada film yang bagus, tapi ga begitu populer seperti Il Mare, Shiri atau Going By The Book. Lalu jika ada satu sutradara yang punya banyak film bagus, maka saya juga hanya pilih satu atau dua saja sebagai perwakilan. Contoh, ada banyak film karya Park Chan Wook yang bagus-bagus yang rilis sebelum 2010, seperti Vengeance Trilogy, JSA, I am A Cyborg but That's OK, dan Thirst, tapi saya pilih hanya satu atau dua saja sebagai perwakilan. Dan terakhir saya jamin semua film ini sangat bagus dalam urusan teknis, seperti penyutradaraan, skenario, akting, sinematografi, scoring, dll, yang telah diakui karena dapat awards dimana-mana. So, without bacot lebih banyak lagi, lets go to the list.
1. Oldboy (2003) : Mystery-Thriller
Current rating : 8.4/10 IMDb, 82% Rotten Tomatoes, 21+
Ini wajib, super wajib! Penjelasannya sih udah saya buat di artikel berikut ini : Beribu Alasan Kenapa Old Boy Adalah Film Terbaik Korea Yang Kamu Pasti Ga Nyangka! Tapi itu hanya untuk yang udah nonton aja. Nah bagi kamu yang belum nonton, film ini merupakan misteri tentang proses balas dendam seseorang bernama Oh Dae Su. Tanpa tau kenapa dan sebab apapun, dia disekap dalam ruangan selama 15 tahun! Gila ga tuh! Jadi dia bertekad untuk balas dendam dengan mencari siapa dalang penyekapnya. Uniknya, pelakunya bukan bersembunyi, tapi berani untuk berkomunikasi dengan Oh Dae Su. Dengan dibantu oleh seorang gadis yang dia temui, Mido, mereka berdua melakukan penelusuran terhadap petunjuk-petunjuk yang mereka punya. Gimana endingnya? You will never see that coming! Selain dari segi misteri, film ini juga mempunyai unsur fight action yang keren. Soal teknis ga usah ditanya, banyak menang award, semuanya outstanding, mulai dari script, akting, penyutradaraan, sinematografi, dan set produksi.
2. Memories of Murder (2003) : Mystery-Suspense
Current rating : 8.1/10 IMDb, 91% Rotten Tomatoes, 21+
Sutradara Parasite, Bong Joon Ho, naik daun ya lewat film ini nih. Berdasarkan kisah nyata, film ini bercerita tentang dua polisi yang melakukan penyelidikan terhadap kasus pembunuhan berantai di sebuah desa. Uniknya si serial-killer ini kalo membunuh punya ciri khas, seperti timing dan target yang diincer. Proses investigasi ini sangat menarik ditelusuri, apalagi dua detektif ini berbeda gaya dan punya keyakinan sendiri terhadap keampuhan metode yang mereka pakai. Yang satu santai dan data-based-guy, yang satu temperamental-judgemental yang mengintimidasi para suspects. Memories of Murder adalah sebuah presentasi yang hebat dari sebuah kisah nyata, dengan penyutradaraan, akting dan sinematografi yang berkelas. Untuk film ini kita udah ada reviewnya oleh Nendra, klik disini untuk baca reviewnya.
3. A Bittersweet Life (2005) : Action-Thriller
Current rating : 7.6/10 IMDb, 100% Rotten Tomatoes, 17+
A Bittersweet Life diisi oleh aktor Korea paling terkenal, Lee Byung Hun. Dalam film ini ia berperan sebagai seorang bodyguard, yang ditugaskan untuk menjaga pacar simpanan bosnya. Alih-alih menjaga, dia malah sepertinya jatuh cinta ama tuh cewek. Siapa yang ga bakal jatuh cinta wong cantik gitu, hehe.. Rada-rada mirip ama The Bodyguard From Beijing lah. Cuma bedanya A Bittersweet Life dikemas dengan cinematography apik dan makna yang filosofis. Ini tak lepas dari tangan salah satu sutradara terbaik Korea Selatan, Kim Jee Won yang juga menahkodai film Tale of Two Sisters. Urusan action, udah jaminan mutu, Lee Byung Hun bukan sembarang main film, disini banyak sekali adegan action dan fighting yang dahsyat dan memacu adrenalin. Bahkan bisa jadi film ini banyak dijadikan referensi oleh filmmaker-filmmaker lain dalam membuat sequence action, seperti adegan dalam gedung terbengkalai itu sepertinya menginspirasi Gareth Evans dalam film The Raid.























