Selasa, 28 September 2021

15 Film/Serial Lain Seperti Squid Game Yang Sama-Sama Mengusung Konsep Permainan Sakit Jiwa : Battle Royale Game


Hokeh...keknya lagi trending nih ya orang-orang pada ngomongin dan posting konten tentang game yang ada dalam serial Squid Game. Serial ini baru aja rilis di Netflix, konsep game di dalamnya mengusung tema "Battle Royale". Kalau disebut battle royale movies, orang-orang pada umumnya akan menyebut nama The Hunger Games sebagai film yang jadi pelopor tema ini. Tapi taukah kamu bahwa sebenarnya mereka itu salah? Karena yang menjadi perintis tema ini adalah film Jepang tahun 2000 yang berjudul Battle Royale. Film ini menceritakan tentang permainan dimana peserta harus membunuh satu sama lain untuk dapat menjadi pemenang. Makanya sejak saat itu, jika ada film yang memakai konsep ini, dia akan disebut battle royale movies. Bahkan sebelum The Hunger Games pun udah banyak film battle royale lain yang bagus-bagus, cuma ga booming aja. The Hunger Games itu cuma beruntung aja sih bisa lebih populer ketimbang film-film lain yang berkonsep sama.

Nah, disini saya akan sharing dan review film dan serial apa aja yang mengusung konsep battle royale selain Squid Game. Perlu diketahui bahwa saya mengklasifikasikan filmnya sebagai berikut :
  • Terdapat "permainan" di dalamnya, mengharuskan ada yang menang dan ada yang kalah.
  • Ada diiming-imingi hadiah, imbalan, ancaman atau hukuman.
  • Harus saling membunuh antar peserta, satu sama lain, bukan hanya diantara dua kubu saja.
Atas dasar unsur inilah saya menggugurkan judul The Purge dkk, karena meskipun dia itu saling bunuh tapi itu bukanlah permainan dan tidak ada imbalan atau hukuman. Kalopun ada pemenang dan imbalan seperti film Guns Akimbo, atau John Wick, film ini hanya saling bunuh antar dua pihak saja, si pemburu dan si target, bukan saling silang satu sama lain. Begitu pula film The Hunt dan Operation Endgame, mereka memang saling bunuh tapi hanya ada dua kubu. Ada juga film-film lain yang termasuk permainan seperti Escape Room, tapi masalahnya adalah dia tidak saling bunuh antar peserta, melainkan lebih tepat disebut sebagai film survival games, peserta hanya diminta menyelesaikan permainan dan bertahan hidup, tidak dipaksa atau terpaksa untuk saling bunuh.

So, tanpa banyak bacot lagi, lets scroll down ..


1. Battle Royale
Film ini udah saya tulis review panjangnya di blog ini, kalian bisa klik link ini : Review Battle Royale

2. The Hunger Games
Nah ini juga udah dituang reviewnya dimari : Review Hunger Games

3. The Belko Experiment
Menceritakan tentang sebuah perusahaan bernama Belko Industries, yang melakukan eksperimen dengan cara mengurung 80 orang karyawannya di dalam sebuah gedung tinggi yang jauh dari pusat kota. Lewat pengeras suara di dalam gedung, perusahaan menginstruksikan setiap karyawan untuk membunuh pegawai lain dalam tempo waktu yang perusahaan tentukan. Misalnya, dua orang harus mati setiap 30 menit, dan begitu seterusnya, jumlah dan waktunya bisa berubah-ubah. Kalo ga dilakuin, maka perusahaan akan membunuh satu per satu karyawan tersebut.
 

Awalnya tentu para karyawan menganggap ini hanya semacam prank, tapi semua berubah ketika dinding-dinding logam tiba-tiba menutupi setiap jalan keluar gedung, AC ruangan dimatiin, dan satu orang mati dengan kepala meledak untuk menjadi bukti keseriusan perusahaan. Panik ga? Panik ga? Panik lah..masa ngga! Gimana nasib para karyawan? Haruskah mereka membunuh rekan kerjanya sendiri untuk bisa selamat? Film ini bole dibilang sangat sadis, tipikal slasher movies, menonjolkan banyak darah dan luka yang menganga, terlihat sangat kontras dipermukaan pakaian kerja mereka yang serba putih. Cuma bedanya disini ga ada karakter villain yang bawa chainsaw atau kuku besi. Yang saling tusuk menusuk adalah teman sendiri, cukup seru dan menegangkan. Ada banyak tipe-tipe karyawan, karena beragamnya karakter inilah kita bisa sulit menebak siapa yang bertahan. Si bos kah? Si sexy kah? Si teknisi kah? Si pendiam kah?

4. Circle
Disini ga ada sadis-sadisan, karena setiap peserta hanya "musyawarah" meskipun tidak mufakat. Tapi meskipun ga sadis, tetep aja taruhannya nyawa. Jadi ceritanya nih, ada 50 orang yang tanpa diketahui asalnya dari mana dan sebabnya apa, dikumpulkan tanpa mereka sadar, di dalam sebuah ruangan yang unik. Ruangan itu ada ornamen bulat di lantainya dimana mereka berdiri berjejer membentuk lingkaran, dan di lantai bagian tengahnya ada banyak segitiga kecil berbentuk panah. Gunanya adalah sebagai lampu indikator "kearah" siapa mereka memilih. Iya, mereka tugasnya adalah memvoting, siapa diantara mereka semua yang harus mati setiap 2 menit sekali. Jika mereka ga ngelakuin itu, maka salah satu dari mereka akan ditembak mati secara random. Widih..panik ga? Panik ga? Paniklah..masa ngga..


Meskipun cuma di satu ruangan, tapi menurutku film ini sangat bagus. Mereka sengaja meletakkan banyak karakter peserta yang bervariasi agar tidak membosankan, mengingat hanya bersetting satu lokasi saja. Pesertanya ada yang dari berbagai usia dan latar belakang, baik pekerjaan, sosial maupun ekonomi. Kemudian diselipkan juga perwakilan setiap ras, suku bangsa dan agama, seperti Mongoloid (China dan sekitarnya), Kaukasoid (Eropa-Amerika), Arab atau Timur Tengah, Negro, Indian. Atau juga berbagai macam prinsip dan cerita masa lalu. Nah bisa kebayang kan gimana alotnya "musyawarah" yang harus mereka jalani untuk menentukan siapa yang "berhak" mati. Akan ada banyak benturan konflik pemikiran dan kepentingan. Disinilah letak praktek demokrasi pemungutan suara dilakukan dengan memperhitungkan segala pertimbangan, ada yang rasis, ada yang sexis, ada yang sinis.
 
5. Alice in Borderland
Serial ini merupakan campuran antara battle royale dan survival games. Karena ada banyak permainan yang mereka sajikan di dalamnya. Menceritakan tentang kota Tokyo, yang tiba-tiba aja jadi sepi, karena hampir semua penduduknya menghilang. Hanya tersisa beberapa orang secara random, mereka udah kayak Will Smith di kota mati dalam film I am Legend. Ada pihak misterius yang bertanggung jawab atas menghilangnya orang-orang, dan mereka menyelenggarakan permainan untuk orang-orang yang tertinggal. Hadiahnya adalah kartu remi dan "jatah waktu" untuk memperpanjang hidup, dalam satuan hari. Jika jatah waktunya habis, mereka akan dibunuh dengan laser dari langit.



Permainannya beragam, sesuai dengan tipe kartu remi yang dijadikan hadiah. Keriting berarti kerjasama tim, Sekop artinya ketahanan dan kekuatan fisik, Wajik berarti kecerdasan perhitungan dan probabilitas, sedangkan Hati adalah masalah hati, iya, seperti kepercayaan, pengkhianatan dan pertemanan. Serialnya cukup seru, menegangkan, dan tricky. Kadang yang terlihat sulit ternyata ga seperti itu, malahan sangat simpel dan mudah untuk menang jika tau maksud dari permainannya. Hal ini mengingatkan saya akan sebuah game show favorit saya  di tv jaman dulu bernama Crystal Maze.
 
6. The Werewolf Game
Nah, ini nih yang sebenarnya lebih dahulu hadir dari Among Us. Cuma Among Us hadir dimasa dimana sesuatu gampang banget viral, jadi ya dia yang lebih terkenal dan dicap orang-orang sebagai "social seduction game", game yang mencari tau identitas seseorang dan manipulatif sisi sosialnya. Saya jadi ingat sebuah quote Pablo Picasso dalam video channel youtube Vincent Ricardo yang berbunyi :
"Good artist copy, great artist steal"
Seniman yang levelnya "bagus" bisanya paling cuma plagiatin karya orang lain, tapi kalo seniman yang levelnya "hebat" dia tak hanya bisa meniru karya orang lain, tapi bisa membuat orang-orang percaya bahwa itu adalah karyanya. Inilah yang dilakuin Among Us, mereka "mencuri" ke-originalitas-an milik Werewolf game sehingga orang-orang lebih tau mereka ketimbang Werewolf (Sama kayak The Hunger Games terhadap Battle Royale). Namun sebenarnya si Werewolf game inipun juga "a great artist", karena game tersebut merupakan adaptasi dari Mafia Game, yang diciptakan pada tahun 1987 oleh Dmitry Davidoff, seorang guru SMA yang membuat game tersebut untuk tujuan penelitian di jurusan psikologi Universitas Moskow.


Kembali ke filmnya, kalo kalian tau Among Us ya setidaknya sudah bisa nebak ini film tentang apa. Ya, dalam film ini, ada 1 grup berisi 10 orang remaja, yang harus menjalankan permainan Werewolf. Buat yang belum tau, permainan ini simpelnya begini, orang-orang dalam grup dibagi perannya menjadi dua kubu, yaitu yang baik dan yang jahat, misalnya 8 orang baik dan 2 orang jahat. Nah ga bole ada yang tau peran setiap orang, itu rahasia masing-masing. Tugas kubu jahat untuk memenangkan permainan adalah membunuh orang baik secara diam-diam saat "sesi malam", sampai mereka habis, dan mereka harus berpura-pura memasang tampang ga bersalah, berakting, bersandiwara, jangan sampai identitas mereka sebagai kubu jahat terungkap. Sedangkan tugas kubu baik kalo mau menang adalah mencari tau dan mengungkapkan siapa yang jahat. Selanjutnya saat "sesi pagi", mereka semua berkumpul dan berdiskusi untuk menentukan dan memvoting siapakah yang jahat yang telah melakukan pembunuhan di "sesi malam".
 
Kalau di permainan ya ga ada resiko ya, karena hanya pura-pura aja matinya, tapi di film ini resikonya dibuat nyata, bahwa yang dibunuh memang beneran harus mati. Jadi setiap peserta harus saling "bunuh" satu sama lain, vote yang mereka lakukan harus direalisasikan. Mereka tidak punya pilihan lain, karena mereka dikurung di dalam gedung dan ga bisa keluar. Kalo mencoba keluar, mereka akan mati akibat bom saraf yang dipasang di tubuh mereka. Jadi yang akan kalian saksikan adalah sebuah histeria masal, tekanan psikologi, ketakutan dan kesedihan yang ga bisa kalian bayangkan rasanya.
 
Bonus : Werewolf Game ini juga di rip-off ke dalam film pendek oleh youtuber Ferry Irwandi yang berjudul Manipulator. Apakah Ferry Irwandi juga mau jadi "a great artist"?

Jumat, 17 September 2021

9 Asian Superhero Movies Selain Shang-Chi

Marvel baru aja merilis film superhero Asia pertama yang berjudul Shang-Chi and The Legend of Ten Rings. Sayangnya, di Indonesia sampai hari ini belum bisa ditayangkan karena bioskop disini belum memperoleh ijin untuk dibuka kembali. Ya you know la karena pandemi. But, daripada meratapi kesedihan yang tak kunjung terobati, mari coba ubek-ubek film superhero Asia lainnya selain Shang-Chi. Karena, tahukah kamu, kita di Asia ini juga punya banyak film superhero selain bikinan Marvel atau DC Comics. Ya meskipun memang filmnya tak sehebat mereka, tapi ya setidaknya Asia juga punya dan berani mencoba untuk menyuguhkan film superhero yang penuh aksi, dengan segala kekurangan dan keabsurdan yang ada, hehe... 

Saya mengkategorikan film superhero ini adalah yang bener-bener "superhero" dan solo, bukan sekedar orang yang punya kekuatan super dan beramai-ramai. Superhero bahkan terkadang muncul dari orang yang tak punya kekuatan super tapi punya keahlian beladiri dan strategi yang mumpuni. Kalo film yang mengisahkan orang yang punya kekuatan super mungkin ada banyak, tapi temanya ga sama dengan superhero. Superhero itu kegiatan intinya adalah membela kebenaran, menegakkan keadilan dan menyelamatkan dunia atau orang-orang. Filmnya juga saya batasi hanya yang rilis mulai tahun 2000 dan setelahnya. Setting waktunya pun yang berada di jaman modern, bukan jaman kolosal. Dan tak lupa, yang utama, memakai kostum khusus atau topeng.

1. Gundala - Indonesia

Kita mulai dari negeri kita sendiri, Indonesia. Gundala adalah superhero yang rada mirip seperti Thor, karena sama-sama mempunyai kekuatan petir. Filmnya dimulai dengan origin story dari sang pengampu superpower tersebut, Sancaka. Sedari kecil dia udah hidup susah, miskin dan ditinggal orang tua. Hidup di jalanan yang keras dan sebatang kara. Namun, cerita yang sebenarnya baru dimulai saat Sancaka dewasa, tepat ketika dia baru benar-benar menyadari bahwa dia punya kekuatan super. Dan saat itu, banyak desakan agar dia dapat menggunakannya untuk membantu orang lain. Apalagi, kondisi negaranya juga sedang mengalami krisis politik dan kesehatan. Sancaka harus menjadi Gundala untuk menyelamatkan banyak nyawa. 

Menariknya adalah, tau ga kalo konflik yang diciptakan dalam film ini rada mirip ama cerita pandemi sekarang ini, dan "kebetulan" bangetnya, film ini di rilis 4 bulan sebelum kasus pertama Covid-19 muncul. Hmm..kebetulan? Urusan action, film ini mengandalkan adegan fighting ketimbang visual effect, dikarenakan Gundala belum sepenuhnya unjuk kebolehan, masih disimpan untuk penampilan selanjutnya dalam film-film superhero Indonesia yang tergabung dalam Bumi Langit Cinematic Universe.

2. Madame-X - Indonesia

Superhero itu biasanya bad-ass ya, pandai bertarung, garang, mau cowok ataupun cewek. Nah..gimana kalo superheronya adalah banci?? 😱Iya, banci..kok bisa? Ya bisa dong..kek di film ini. Apalagi yang jadi superheronya adalah aktor yang paling mahir berakting sebagai banci, siapa lagi kalo bukan Aming, yang berperan sebagai Adam. Jadi ceritanya tuh di suatu daerah, ada satu organisasi yang men-sweeping para banci, semacam ormas radikal gitu, disini mereka bernama Bogem. Pada suatu malam, mereka menculik rombongan si Adam, untungnya si Adam berhasil selamat meskipun dalam keadaan celaka. Adam akhirnya ditampung dan dirawat oleh sebuah keluarga yang kebetulan juga berisi banyak banci. Disana dia juga dilatih dan dibekali "modal" untuk menjadi seorang superhero. Tugasnya adalah memberantas kejahatan human-trafficking yang membahayakan orang-orang sekitarnya. Mampukah seorang bencong menjadi superhero?

Film ini akan sangat absurd dan kocak, belum pernah ada yang begini, tagline nya aja "Tegakkan keadilan jaga penampilan", senjatanya pun unik, menyesuaikan dengan perlengkapan yang biasa digunakan wanita, kek hairdryer dan lipstik. 😅 Apalagi saat melihat sutradara Gundala, Joko Anwar, berakting menjadi salah satu bancinya, bener-bener ga nyangka. Kalo kamu butuh kursus bahasa waria, film ini bisa jadi kamusnya. 😂

3. Cicakman - Malaysia

Setelah Indonesia, sekarang kita ke tetangga sebelah, Malaysia. Ternyata, mereka juga punya film superhero, bergenre komedi, superheronya kurus dan namanya pun lucu, Cicakman. 😆 Dari namanya aja sudah pasti kalian tau ini superhero berkekuatan apa. Cicakman bisa manjat dinding dan lidahnya panjang seperti cicak. Tapi ada satu yang paling akurat, dia takut sama karet cabe (karet gelang) 😅 Dia lemah kalo kena betet (bahasa sini), iItu ibarat "batu kripton"nya dia. Nah, Cicakman ini filmnya lumayan bertahan, karena dibuat sampe 2 sekuel.

Cicakman merupakan sosok low budget superhero, ala kadar, cuma rakyat biasa, ga pakai gadget canggih, bekerja sendirian dan otodidak. Tugasnya adalah melindungi kota tempat tinggalnya yang bernama Metrofulus. Ya, kalian ga salah baca, "Fulus", seperti kata alm. Wan Abud, artinya adalah duit. Jadi di kota ini ga ada yang gratis, semuanya bayar, seperti kata announcer radio di opening scene yang bikin ngakak banget. Situasi kota Metrofulus kurang lebih sangat mirip dengan dunia saat ini, lebih tepatnya mirip dengan rumor "Konspirasi Virus Corona". Cicakman harus berpacu dengan waktu untuk mencegah penyalahgunaan wewenang pemerintah terhadap wabah dan mengungkapkan dalangnya kepada publik.

Filmnya sangat ringan dan absurd. Ada banyak aksi konyol nan receh. Aksi Cicakman pun rada-rada mirip Spiderman, climbing and swinging. Dan taukah kamu, kalo artis Indonesia, Tamara Blezinsky, berperan sebagai salah satu villain Cicakman, yang karakternya sangat kontradiktif dengan apa yang kita tonton di layar kaca Indonesia.

Senin, 16 Agustus 2021

Review dan Penjelasan : John And The Hole (2021)

Sinopsis :

John, adalah seorang remaja laki-laki berusia 13 tahun yang hidup dari keluarga kaya. Mereka tinggal di villa yang berada di tengah hutan. Keseharian mereka biasa saja normal sebagaimana keluarga lainnya. Ayah dan ibu bekerja, kakaknya sekolah dan pacaran, sementara John hobinya latian tenis. Mereka juga rutin melakukan dinner keluarga dan ngobrol bareng. Sampai tiba-tiba John menemukan bunker di dekat villanya.

Kalo anak-anak lain nemu bunker, kebanyakan pasti ngehindar ya. Tapi si John malah lain. Dia malah melakukan hal yang boleh dibilang aneh, ekstrim dan kejam. Dia mengurung ayah, ibu dan kakaknya ke dalam bunker tersebut. 

Anak macam apa coba yang tega mengurung keluarganya sendiri di dalam bunker. Lalu bagaimana respon anggota keluarganya terhadap John? Akankah mereka terdampar mati kelaparan di dalam bunker? Apakah maksud John sebenarnya? Apa dia berniat jahat? Nah inilah yang jadi suguhan filmnya. 

Jumat, 29 Januari 2021

10 Film Komedi Paling Kreatif Yang Pernah Ada : Smart Unik Absurd Cult!

Halo..back again..nulis lagi..ga mau banyak omonglah, to the point aja. Kali ini saya mau share beberapa film komedi yang menurut saya paling kreatif, paling kocak, paling unik, paling absurd tapi tetap smart, dan menjadi cult perbincangan orang-orang di dunia. Dibilang kreatif ya karena dapat dinilai dari beberapa hal seperti set dan properti syuting yang digunakan, kemudian kreatifnya juga dapat dinilai dari keunikan ide cerita yang dipunya dan gimana penyajiannya..

Unlike anything else..these are something that you never seen before. Lets go to the list..

Kita singkirkan dulu siapa juara I, II dan III-nya, saya akan mulai dari peringkat ke-4.

4. What We Do In The Shadow (2014)

Wait, jangan salah dulu kalo ngira ini adalah serial tv yang lagi airing now. Justru serial tersebut memang diangkat dari film aslinya yang berjudul sama. Film ini dibesut oleh sutradara Thor - Ragnarok : Taika Waititi. Kalo liat nama Taika Waititi udah tau la kan gimana kocaknya beliau. Taika ini selalu memberikan sentuhan komedi yang khas dalam setiap filmnya. Termasuk di film ini, dia pake metode yang populer dengan istilah "Mockumentary", sebagai pelesetan dari "mocking-documentary", sebutan untuk film dokumenter yang dibuat untuk mengejek, menyindir, atau mengkritisi sesuatu, ya semacam dokumenter parodi gitulah. Kalo mockumentary lain biasanya mengambil tema dari kejadian-kejadian yang ada di dunia nyata, lain halnya dengan film ini, dia menceritakan tentang kehidupan vampir yang selama ini hidup diantara kita!

Just imagine, kayak kalian lagi nonton dokumenter profil publik figur gitu, cuma yang diwawancara adalah para vampir, yang terdiri dari 3 orang : Viago, Vladislav, dan Deacon. Disini mereka adalah vampir yang hidup sejak jaman dahulu kala, kan vampir awet muda ya. Mereka berbaur dengan manusia juga, cuma manusia ga tau kalo mereka adalah vampir. Mereka hidup secara rahasia, seperti sebuah secret community. Nah pura-puranya tuh ada pihak tv yang berhasil mendapatkan kesempatan untuk meliput mereka, weh, bahaya ga tuh? Ntar digigit pula?!

Nah untungnya dalam sesi liputan ini, pihak vampir menjamin keselamatan para kru, ya kek gimana kalo ada wartawan yang ngeliput teroris gitu lah. Selanjutnya ya ceritanya mengalir simpel gitu aja, gimana keseharian mereka baik saat di rumah atau saat "nyamar" di masyarakat. Trus apa enaknya jadi vampir, apa hambatannya, apa pendapat mereka tentang keadaan di sekitar, ya dibuat sok-sok serius gitulah, jadinya malah lucu dan kita yang nontonnya ya ngakak terus anjir... Dan untuk lebih menarik lagi, akan ada beberapa pelebaran karakter dan alur cerita, yang nantinya akan menjadikan filmnya makin konyol dan banyak kejutan.

Minggu, 27 Desember 2020

Bedah Film Swiss Army Man (2016) : Perjuangan Melawan Depresi Yang Disajikan Dalam Kreatifitas Level Tertinggi

Part I : Non Spoiler Review

Kalian pernah liat pisau MacGyver? Sebuah pisau serba guna yang selalu dibawa tokoh utama dalam serial MacGyver itu, nah itu namanya Swiss Army Knife. Brand pisau ini memang cukup populer, dan istilah "Swiss Army" sering disematkan kepada hal/benda yang multi fungsi. Nah film ini tuh memang mencatut nama brand Swiss Army tersebut, untuk menggambarkan peran dari Manny, seorang mayat hidup yang ternyata serba guna, makanya diberi judul Swiss Army Man.


Oke, mau mulai dari mana dulu nih? Sinopsis aja dulu ya.. Swiss Army Man menceritakan seorang pemuda bernama Hank, yang mencoba untuk gantung diri di sebuah pulau. Untungnya, detik-detik jelang itu terjadi, dia melihat ada mayat yang tergeletak jauh di depannya. Penasaran dong, dia tunda bunuh dirinya dan ngedatengin tuh mayat. Eh busettt, mayatnya bisa ngomong guys! But ini bukan film horor ya, ini komedi, super kocak dan super unik. Ga pernah ada kalian liat film yang seperti ini.

Apa yang Hank lakukan terhadap mayat tersebut? Edan! Dijadiin temen tuh mayat, dikasih nama pula, Manny. Hebatnya, tubuh Manny ternyata juga banyak kegunaan, seperti tangannya yang kuat dan tajam bisa memotong pohon, mulutnya bisa dijadikan senjata tembakan bertenaga angin, bahkan "anunya" bisa jadi kompas penunjuk arah...wkwkwkwk... Apa misi mereka? Mencoba keluar dari hutan tersebut. So, berhasilkah mereka? Silahkan tonton sendiri, dijamin ga nyesel. Kamu akan tertawa terbahak-bahak melihat tingkah laku keduanya, yang berusaha untuk bertahan hidup, nyari sumber daya, sembari menghibur diri sendiri. Ada banyak humor yang diselipkan, terutama referensi kepada popculture. (Saya selalu suka dengan film-film yang hobi nyelipin popculture).


Swiss Army Man adalah sebuah film retorika-retrospektif, tentang orang hidup yang pengen mati malah mencoba "membujuk" orang mati agar hidup kembali, berupaya meyakinkan si orang mati bahwa hidup adalah sesuatu yang layak diperjuangkan. Lah dia aja pen bunuh diri..kan kebalik yah...betapa restrospektifnya ni film! 

Minggu, 01 November 2020

Film Paling Aneh di 2020 : Review Non Spoiler dan Penjelasan Ending I'm Thinking Of Ending Things (2020)

Judulnya tuh eye-catchy banget ya, I'm Thinking of Ending Things, jadi menggoda saya untuk langsung menontonnya. Entah ini genre apa, tentang apa, saya ga tau sama sekali, bahkan trailernya juga ga saya liat. Durasi demi durasi yang dilalui sebenarnya sangat membingungkan, tapi entah kenapa saya tetep aja terusin, mungkin karena narasi yang disampaikan dari perspektif si cewek dalam film ini menghipnotis sekali, jadi cukup membuat kepo ini sebenarnya ada apa gitu ya, gimana nasib ni cewek di ending. 

Filmnya menceritakan perjalanan sepasang kekasih, Lucy dan Jake, menuju rumah orang tua Jake, dalam rangka Jake yang mau ngenalin pacarnya ini ke ortunya. Mobil yang mereka kendarai harus melalui perjalanan jauh dan bersalju, menyiratkan suasana hati yang dingin dan terasa lama banget, scene yang sengaja dibuat demikian untuk "mendukung" ke-bete-an Lucy, menguatkan keinginannya untuk segera mengakhiri hubungannya dengan si Jake, karena pikiran "I'm Thinking Of Ending Things" ini yang terus berulang di pikirannya.

Selama perjalanan, percakapan terus diupayakan oleh Jake sehingga Lucy ga boring, atau Jake memang sengaja untuk mematahkan pikiran Lucy tadi, dengan selalu menyela dan menciptakan bahasan. Bahasannya ga tanggung-tanggung, dibungkus dengan dialog-dialog yang cerdas, mereka silih berganti saling lempar referensi pop-culture, sebut saja seperti review film, puisi, musikal, dan buku.

Sesampainya di rumah orang tua Jake, persepsi horor akan langsung tertancap di benak penonton, dikarenakan hadirnya Toni Collete, aktris yang peran horornya di Hereditary sangat membekas. Ditambah lagi dengan suasana awkward di meja makan, orang tua Jake mencoba untuk tampil ramah di hadapan calon mantunya, sedangkan Lucy ga tau ada apa sebenarnya di rumah mereka tersebut. Jake sendiri memang punya satu rahasia yang sangat tidak ingin terbongkar. Tak bisa dipungkiri filmnya memiliki unsur creepy yang cukup menakutkan.

Kamis, 22 Oktober 2020

Dua Film Kolosal Korea Yang "Kembar" : Masquerade (2012) vs I Am The King (2012)

Taukah kamu kalo ada sebuah kejadian unik di tahun 2012 dalam perfilman Korea Selatan, dimana ada 2 film yang sangat mirip dan rilisnya juga berdekatan. Keduanya sama-sama menceritakan kembali masa kedinastian disana. Dan kebetulannya lagi, keduanya sama-sama mengadaptasi tema dari novel The Prince and The Pauper, yaitu "pertukaran pemuda" 😂. Kisah pejabat yang bertukar identitas dengan rakjel yang kebetulan mukanya mirip. Jadi sebenarnya ini suatu kebetulan ato memang janjian sih? Hadeh... Untuk itu coba kita bandingin dan liat apa aja perbedaannya. Pembahasan ini aman dari spoiler kecuali yang ada spoiler alert-nya ya.


Rilis
Masquerade rilis di bulan September yang artinya satu bulan lebih lambat setelah I Am The King yang duluan rilis di bulan Agustus.

Pemeran
Masquerade "terpaksa" mengajak aktor kawakan Lee Byung Hun untuk mengisi peran utama, karena awalnya memang proyek ini targetnya bukan dia. Cuma karena pergantian sutradara, akhirnya juga ikut pergantian aktornya. Sedangkan I Am The King menggunakan jasa aktor yang populer lewat serial Princess Hours, yaitu Ju Ji Hoon.

Box Office
Masquerade memiliki budget sekitar 8 juta dollar AS atau setara 72 milyar rupiah kala itu, angkat itu bahkan lebih besar daripada penghasilan I Am The King yang hanya separuhnya. Penghasilan Masquerade sendiri termasuk salah satu dari 10 film Korea dengan pendapatan terbanyak dan menempati posisi 9 dengan angka 94 juta dollar AS. Banyak faktor yang membuatnya jadi "kaya" begini, disamping karena unsur teknisnya yang memang yahud, faktor external lain seperti invest di aktor papan atas berkelas Hollywood Lee Byung Hun, tentu menarik minat lebih banyak penonton, kemudian juga waktu itu berpas-pasan dengan akan digelarnya pilpres pekan depannya, jadi tema pemimpin ini sangat relevan dan jadi santapan hangat.

Jumat, 02 Oktober 2020

13 Film Korea Selatan Paling Esensial Yang Harus Kamu Tonton Sebelum Nyebur Ke Dalam Hallyuwood!

Kesuksesan Parasite dalam dunia perfilman global membuka mata penonton dunia ke arah Korea Selatan. Orang-orang mulai menjelajahi film-film asal negri ginseng tersebut, yang disebut dengan istilah Hallyuwood, sebagai "sinonim pelesetan" dari Hollywood-nya Korea. Ini terimbas juga kepada media penyiaran seperti tv dan video on demand yang ikut meramaikan bisnis mereka dengan mengisi film-film Korea di saluran mereka. Tapi, bagi kita sebagai penonton yang baru mau mulai, mau mulai dari mana? Ada sekian banyak film Korea yang bagus-bagus, tapi bagusnya nonton yang mana dulu nih? Nah..setelah saya tonton banyak film Korea, berikut ini adalah film-film Korea yang menurut saya paling esensial, yang harus kamu tonton terlebih dahulu, sebelum nonton film-film Korea lainnya.

Untuk list ini, saya perlu menyempitkan pilihan. Pertama saya sortir filmnya hanya yang dirilis maksimal tahun 2010 dan kebawahnya (sebelumnya). Karena mereka bukan film "baru", film lama, senior lah caknya, mereka yang lebih dahulu hadir. Kemudian, saya mencoba untuk memberikan keterwakilan untuk setiap genre film, baik murni satu genre di dalamnya maupun kombinasi beberapa genre. Dan saya pilih dari setiap genre itu, judul yang paling sering disebut oleh orang-orang alias yang lebih populer. Mungkin ada film yang bagus, tapi ga begitu populer seperti Il Mare, Shiri atau Going By The Book. Lalu jika ada satu sutradara yang punya banyak film bagus, maka saya juga hanya pilih satu atau dua saja sebagai perwakilan. Contoh, ada banyak film karya Park Chan Wook yang bagus-bagus yang rilis sebelum 2010, seperti Vengeance Trilogy, JSA, I am A Cyborg but That's OK, dan Thirst, tapi saya pilih hanya satu atau dua saja sebagai perwakilan. Dan terakhir saya jamin semua film ini sangat bagus dalam urusan teknis, seperti penyutradaraan, skenario, akting, sinematografi, scoring, dll, yang telah diakui karena dapat awards dimana-mana. So, without bacot lebih banyak lagi, lets go to the list.

1. Oldboy (2003) : Mystery-Thriller

Current rating : 8.4/10 IMDb, 82% Rotten Tomatoes, 21+

Ini wajib, super wajib! Penjelasannya sih udah saya buat di artikel berikut ini : Beribu Alasan Kenapa Old Boy Adalah Film Terbaik Korea Yang Kamu Pasti Ga Nyangka! Tapi itu hanya untuk yang udah nonton aja. Nah bagi kamu yang belum nonton, film ini merupakan misteri tentang proses balas dendam seseorang bernama Oh Dae Su. Tanpa tau kenapa dan sebab apapun, dia disekap dalam ruangan selama 15 tahun! Gila ga tuh! Jadi dia bertekad untuk balas dendam dengan mencari siapa dalang penyekapnya. Uniknya, pelakunya bukan bersembunyi, tapi berani untuk berkomunikasi dengan Oh Dae Su. Dengan dibantu oleh seorang gadis yang dia temui, Mido, mereka berdua melakukan penelusuran terhadap petunjuk-petunjuk yang mereka punya. Gimana endingnya? You will never see that coming! Selain dari segi misteri, film ini juga mempunyai unsur fight action yang keren. Soal teknis ga usah ditanya, banyak menang award, semuanya outstanding, mulai dari script, akting, penyutradaraan, sinematografi, dan set produksi.

2. Memories of Murder (2003) : Mystery-Suspense

Current rating : 8.1/10 IMDb, 91% Rotten Tomatoes, 21+

Sutradara Parasite, Bong Joon Ho, naik daun ya lewat film ini nih. Berdasarkan kisah nyata, film ini bercerita tentang dua polisi yang melakukan penyelidikan terhadap kasus pembunuhan berantai di sebuah desa. Uniknya si serial-killer ini kalo membunuh punya ciri khas, seperti timing dan target yang diincer. Proses investigasi ini sangat menarik ditelusuri, apalagi dua detektif ini berbeda gaya dan punya keyakinan sendiri terhadap keampuhan metode yang mereka pakai. Yang satu santai dan data-based-guy, yang satu temperamental-judgemental yang mengintimidasi para suspects. Memories of Murder adalah sebuah presentasi yang hebat dari sebuah kisah nyata, dengan penyutradaraan, akting dan sinematografi yang berkelas. Untuk film ini kita udah ada reviewnya oleh Nendra, klik disini untuk baca reviewnya.

3. A Bittersweet Life (2005) : Action-Thriller

Current rating : 7.6/10 IMDb, 100% Rotten Tomatoes, 17+

A Bittersweet Life diisi oleh aktor Korea paling terkenal, Lee Byung Hun. Dalam film ini ia berperan sebagai seorang bodyguard, yang ditugaskan untuk menjaga pacar simpanan bosnya. Alih-alih menjaga, dia malah sepertinya jatuh cinta ama tuh cewek. Siapa yang ga bakal jatuh cinta wong cantik gitu, hehe.. Rada-rada mirip ama The Bodyguard From Beijing lah. Cuma bedanya A Bittersweet Life dikemas dengan cinematography apik dan makna yang filosofis. Ini tak lepas dari tangan salah satu sutradara terbaik Korea Selatan, Kim Jee Won yang juga menahkodai film Tale of Two Sisters. Urusan action, udah jaminan mutu, Lee Byung Hun bukan sembarang main film, disini banyak sekali adegan action dan fighting yang dahsyat dan memacu adrenalin. Bahkan bisa jadi film ini banyak dijadikan referensi oleh filmmaker-filmmaker lain dalam membuat sequence action, seperti adegan dalam gedung terbengkalai itu sepertinya menginspirasi Gareth Evans dalam film The Raid.

Kamis, 10 September 2020

Arrival (2016) Adalah (Mungkin) Film Sci-Fi Terbaik. No. 8 Bikin Kamu Terkejut!

Jika kamu belum nonton ato belum tau Arrival itu film apa, kamu bisa dulu baca review dan penjelasannya di link ini, Dan...Tanpa banyak basa-basi lagi, berikut 11 alasan kenapa Arrival adalah (mungkin) film scifi terbaik sepanjang masa. Komen dibawah apakah kalian sepakat ato ngga dengan list berikut ini. 

1. Denis Villenueve
Mendengar nama Denis Villenueve itu udah kayak denger nama Lord Voldemort The "You-Know-Who" tapi versi baiknya. Nama dia tuh udah jaminan pasti filmnya bagus. Denis orang yang perfectionist dan visionary. Tingkat kejeniusannya bisa jadi mendekati Lord lainnya yaitu Lord Nolan. Kalo kamu baru mengenal Denis lewat Arrival, bagusnya kamu juga ikut mengenal karyanya yang lain. Kalo dia lagi pengen bikin film rumit, dipastikan itu akan menjadi never ending discussion seperti Arrival dan Enemy. Kalo dia lagi pengen bikin film yang ga rumit, maka dia akan bener-bener fokus di aspek cerita, plot dan karakter seperti Incendies dan Prisoners, sekalipun harus memakan durasi yang lama. Satu hal yang jadi trademarknya adalah slow pace. Meskipun Blade Runner 2049 dan Sicario punya unsur action tapi tidak menggebu-gebu.


2. 94% di Rotten Tomatoes, 7,9/10 IMDB dan Box-Office Success
Di puja oleh tukang kritik, masyarakat biasa pun juga suka, secara duit juga udah laba banyak. So, ga ada celah untuk membuat film ini disebut film gagal. 

3. Academy Awards Level
Diisi oleh pemain-pemain yang udah pernah masuk Oscar yaitu Jeremy Renner di film The Hurt Locker, Amy Adams di film American Hustle dan Forest Whitaker di film The Last King of Scotland. Filmnya pun masuk di 8 kategori Piala Oscar, Best Director, Best Cinematography, Best Adapted Screenplay, Best Sound Editing, Best Sound Mixing, Best Film Editing, Best Production Design, termasuk yang bergengsi yaitu Best Picture.

4. Sound Yang Merinding
Yang ini ga bisa diungkapkan dengan kata-kata, dengerin aja beberapa sound merinding hasil bikinan mereka di dalam filmnya.

5. Time Travel Logic
Film ini menunjukkan pendekatan lain tentang time travel, bahwa waktu itu "satu", ga linear maju, ga ada banyak versi, ga ada opsi ubah masa lalu, time travel disini hanyalah berupa penglihatan. Ini seprinsip dengan saya bahwa time travel is impossible, silahkan change my mind kalo punya bukti. Saya udah kenyang film-film timetravel, tapi ga ada satupun yang bisa mematahkan paradox. Sekalipun ada teori gila Einstein tentang relativitas ruang dan waktu, but I'm with Stephen Hawking. Ibarat penganut bumi datar, nah saya penganut timetravel is impossible, call me stupid, but I'm just being realistic with the paradoxes. Setiap timetravel paradox itu sangat fundamental, sebut saja Predestination Paradox, Bootstrap Paradox, Grandfather Paradox etc.

Jumat, 28 Agustus 2020

Penjelasan Ending : Arrival (2017) - Pendekatan Alternatif Logis Tentang Time Travel

Arrival merupakan salah satu film jenius yang dibuat oleh sutradara jenius. Dan kali ini adalah penjelasannya, yuk simak sampai habis ya.


Banyak yang salah nih kalo ngira ni film adalah film action perang lawan alien, padahal ya memang ga gitu. Filmnya emang dibuat drama yang cenderung membosankan bagi penonton awam. Tapi nih.. justru film ini yang menurut saya film paling bener tentang alien. Maksudnya ya film ini menunjukkan ini lho yang terjadi sebenernya kalo ada alien datang ke bumi. Ya kita ga ujug-ujug langsung perang, alien juga ga ujug-ujug langsung nyerang bumi. Tapi hal pertama yang dilakukan adalah cari tau apa maksud kedatangan mereka, apakah mereka berniat jahat atau baik. Kalo baik ya jadi teman, kalo jahat baru hajarrr…

Dalam film ini, interaksi dengan alien malah sepenuhnya aman, justru masalah datang dari internal manusianya sendiri.
“People fear what they don't understand and hate what they can't conquer.” - Andrew Smith

Sebuah quote populer yang mana quote ini muncul juga dalam film-film lainnya seperti Transcendence, Man of Steel dan Batman Begins, manusia takut akan sesuatu yang mereka ga ngerti, begitu pula dalam film ini, disumbang oleh 3 pihak mulai dari level terbawah hingga tertinggi : rakyat yang histeria dan panik masal, tentara yang rela membelot, hingga pemimpin negara yang mempersepsikan kedatangan alien sebagai tindakan yang agresif. Jadi apa bener mereka agresif?

Untuk inilah diperlukan expert yang bisa memberi pencerahan. Tapi untuk bisa tau itu tentu harus berkomunikasi dengan alien, nah film ini mengajarkan gimana pendekatan yang bisa dilakukan untuk menjembatani komunikasi karena adanya perbedaan bahasa. Setelah dapat berkomunikasi baru deh kita bisa ngobrol dengan alien, nanya lu maunya apa, sini ngopi bareng dulu.. Arrival mendemonstrasikan tentang gimana reaksi manusia terhadap kedatangan alien, tapi juga secara simultan memanifestasikan gimana kita sendiri antar manusia berkomunikasi satu sama lain.


Ada lebih dari 1 kapal alien yang datang ke bumi dan tersebar di berbagai negara. Setiap negara, melalui pihak militer dan ilmuwan yang mereka punya melakukan penelitian secara kilat terhadap maksud kedatangan alien. Termasuk America, mereka mengandalkan Dr. Louise yang ahli bahasa dan Dr. Ian yang ahli fisika sebagai tim “translator”. Mereka beberapa kali masuk ke dalam kapal alien dan mempelajari bahasa alien tersebut. Tugas mereka berdua tidak mudah karena alien mempunyai bahasa yang aneh, berbentuk lingkaran. So, berhasilkah mereka menerjemahkan apa maksud kedatangan alien? Apa sebenarnya tujuan mereka? Filmnya akan menjawab semua pertanyaan tadi. Nah saya akan bahas film ini dengan sesimpel-simpelnya.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...