Senin, 29 Agustus 2022

Review : Mencuri Raden Saleh (2022) - The best Indonesian film so far yang berkualitas Internasional.

Sinopsis :

Piko, adalah seorang mahasiswa yang punya "usaha sampingan" sebagai pelukis, tapi khusus hanya membuat lukisan tiruan yang akan dianggap seolah-olah itu asli dan bisa dijual mahal oleh galeri. Kali ini, dia butuh uang yang besar, jadi dia terpaksa ambil job besar pula. Yaitu menduplikat lukisan milik Istana Negara karya Raden Saleh.

Tapi job ini malah membawanya ke misi yang lebih dari sekedar "melukis".
Ini menjadi misi heist yang sulit. Dapatkah dia dan teman-temannya melakukan ini dengan sukses?

Review :

Gila! Keren parah! Saya ga ekspektasi apa-apa. Tapi dapatnya luar biasa. Ini film harus mendapat pujian setinggi langit. Harusnya ini yang "Udah 7 juta penonton ikut mencuri lukisan Raden Saleh". Tonton lah rame-rame. Jadikan ini film terlaris Indonesia. Jangan cuma larisin film-film setan. Agar film Indonesia makin berkembang. Untuk ukuran film Indonesia ini mah udah sangat jauh diatas rata-rata kualitasnya, bahkan boleh dibilang ini udah level internasional. Plot, twist, action dan komedinya bahkan ga berasa film Indonesia sama sekali. This is the best Indonesian film so far.

Alur ceritanya ga gampangan. Tapi bukan berarti rumit ya, tetap bisa dinikmatin oleh setiap orang. Cuma ada plot twist beberapa kali yang unpredictable. Cukup untuk membuat kita betah dan fokus pada filmnya. Rasanya udah lupa entah kapan terakhir kali saya bisa betah dan fokus nonton film Indonesia. Dan untungnya film ini tidak menggunakan bahasa yang kaku, mereka sangat natural dalam berdialog.

Kemudian soal menghibur, ini seru, menegangkan dan juga lucu. Berkali-kali berhasil membuat saya tertawa lewat situasi dan kondisi dalam adegan komedinya yang tidak garing, ga seperti film-film Indonesia lainnya yang coba melawak dengan celetukan-celetukan receh mereka yang ga penting itu, yang cenderung bullying atau body shaming.

Kemudian terlihat sekali bahwa filmnya down to earth, ga terlalu sok keren-kerenan, bahkan cenderung dieksekusi dengan benar. Bahwa mereka ini bukanlah profesional heist team, jadi sangat wajar jika ada banyak kesalahan dan kekurangan di awal-awal. Memberikan tahap perkembangan karakter di misi heist berikutnya. Just remember, mereka hanya anak muda biasa. Dan terlebih lagi dalam setiap aksinya tidak banyak yang namanya "serba kebetulan". Shout out betul lah kepada si penulis naskah.

Pembagian tokoh dengan karakter khas masing-masing dari latar belakang dan skill berbeda juga menambah keunikan filmnya. Ini ibarat gabungan dari The Thieves korean movie dengan The Score si Robert De Niro serta Micmacs si filmmaker Amelie.

Oya ada satu adegan menarik yang ga banyak orang sadari. Yaitu ketika Ucup sedang membahas perekrutan anggota tim, dia blg "Kita membutuhkan seorang yang tajir, anak konglomerat yang punya sense of criminal". Trus disela ama Piko : "Siapa? Batman?". Disenyumin aja ama Ucup. Ternyata yang dia maksud adalah si Fella. Yang kebetulan adalah memang anak orang kaya yang hobinya nyari petualangan kriminal seperti judi balap liar dan kasino ilegal. Nah yang menarik itu adalah ada satu adegan yang membuatnya bener-bener seperti Batman. Yaitu ketika dia ditanya : "Eh gimana caranya kita bisa masuk ke pesta Permadi?. Dia jawab : "Gue beli EO-nya.". Ini mengingatkan kita persis dengan apa yang dilakuin Bruce Wayne a.k.a Batman di ending film Justice League ketika menebus rumah Clark Kent a.k.a Superman dari sitaan bank, dia bilang : "Gue beli banknya!".

Sekian. Segera tonton. Jangan banyak bacot.

- Om Chan -

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar