Jumat, 27 Mei 2022

Review Trilogy : I - Will - Survive (2021)

Kali ini ada film Indonesia yang berani melawan arus selera film Indonesia yang telah penuh dengan horor-hororan dan drama-dramaan. Dan dia hadir sekaligus 3 film yang di pecah ke dalam trilogy tapi bukan merupakan sekuel-sekualan, melainkan memiliki timeline plot yang hampir serentak. Trilogy ini memiliki judul I - Will Survive (2021). Mengusung genre thriller mystery, mampukah Anggy Umbara memberikan "perlawanan" yang terhadap selera penonton Indonesia?

I

Sinopsis :
Menceritakan tentang seorang suami muda, yang mana ia baru aja kehilangan istrinya, yang jadi korban pembunuhan. Tentu ga bisa dibayangkan gimana perasaannya waktu itu. Apakah harus mengikhlaskan kepergian sang istri dan membiarkan polisi melakukan tugasnya sendiri? Atau bertindak sendiri menjadi vigilante yang berambisi untuk membalaskan dendam kepada si pembunuh? Pilihan yang sulit, mengingat dirinya hanyalah mas-mas biasa, bukan seseorang yang memiliki kemampuan dan sumber daya untuk menjadi "Batman"nya Indonesia. Terlebih lagi, dia mempunyai pandangan tegas tentang "membunuh" manusia, dia sangat membenci hal tersebut, sampai-sampai dia rela hubungannya dengan ayahnya ga harmonis, dikarenakan ayahnya adalah seorang tentara yang tentu dalam bertugas harus membunuh orang jika diperintahkan atau terpaksa.

Sebelum sampai pada durasi 60 menit, plotnya masih terasa datar. Tapi setelah itu mulai naik tensinya, dan plot twistnya juga lumayan. Abaikan sedikit tentang unsur teknis seperti sinematografi, penggunaan bahasa dan akting, maka setidaknya film ini dirasakan dapat memberikan alur cerita yang bagus. Entah kenapa film Indonesia banyak yang terpaku pada penggunaan Bahasa Indonesia yang baku, padahal dalam film harusnya mengikuti bahasa sehari-hari. Dialog antar teman yang harusnya santai dengan slang-languange, malah terkesan kaku, ga natural.

Untuk segi teknis, camera movementnya terlalu banyak, overuse, kurang mendukung unsur mystery yang sebaiknya tenang dan stagnan. Kemudian urusan lighting, sepertinya ga berani main gelap, bahkan untuk scene yang krusial pun "salah" banget, contohnya saat dia jadi sniper, masa iya sniper mengambil spot yang terang di bawah cahaya lampu atau di lalu lalang kendaraan. Biasanya kan sniper menggunakan area gelap untuk posisi bersembunyi. Entahlah, atau mungkin memang disengaja seperti itu agar dapat mewakilkan "keamatiran" seorang warga sipil yang sok-sok-an jadi vigilante. Bisa jadi aja seperti itu, karena di adegan-adegan berikutnya si tokoh utama ini memang terlihat sangat polos dan rapuh dalam menjalankan ke-vigilante-annya.

Ya setidaknya film ini memiliki keunggulan di sisi cerita dan ending yang oke lah untuk ukuran standar film Indonesia. Saya suka dan saya support film-film Indonesia yang begini. Semoga aja makin banyak film Indonesia yang berani buat film ginian, yang mengusung genre selain horor dan drama. Film ini dapat temen-temen saksikan di aplikasi KlikFilm. Tolong bantu tonton, agar nambah-nambahin traffic dan revenue untuk film-film Indonesia yang berani bermain di genre selain horor dan drama tadi. Biar nantinya produser kalo liat data film Indonesia yang genre diluar horor dan drama juga ada peminatnya alias laku.

Will
Sinopsis :
Ada sepasang suami istri muda yang lagi ribut dan ga teguran.Bukan karena disebabkan oleh pelakor, melainkan karena baru aja mereka ditimpa musibah, anaknya meninggal. Saat berkabung seperti ini tentu rentan terkena tekanan psikis, sehingga mereka mengalah pada emosi dan saling menyalahkan satu sama lain, Sang suami, melampiaskan amarahnya lewat hobi gowesnya, wah bagus dong, kalo emosi lampiasannya begini menyehatkan. Namun sayang, gowesnya sendirian, di hutan pula, jadi pas sialnya ga fokus, kecelakaan deh. Luka? Pasti, patah mematah tulang lagi ada, ga bisa berdiri. Lantas, gimana nasibnya di hutan? Adakah yang nolong?
 
 
Untuk film yang ini, saya ga terlalu suka, karena lebih dominan unsur drama keluarganya ketimbang upaya survivenya. Ya boleh dibilang sebenernya dari dua film ini sih masing-masing punya unsur drama yang mensuplai demand warga negara berflower, yaitu dengan diselipin asupan-asupan konflik keluarga. Cuma, di film kedua ini rada overdosis aja. Jadi ga berasa film survival. Ada banyak scene atau dialog yang sengaja dipanjang-panjangin, ga penting sebenarnya, bisa aja dipangkas, karena ga mengurangi esensi ceritanya.

Karena ini drama, maka memang kuncinya adalah di akting si suami ini, karena ini seperti solo akting. Untungnya unsur ini dapat dipenuhi dengan baik oleh Morgan Oey. Selama penderitaannya dalam hutan kita juga disajiin pemandangan indah lokasi syuting yang berlokasi di perkebunan.

Nah terus kalian bertanya-tanya, ini trilogi nyambungnya dimana? Yang atu thriller, yang atu drama. Nah jawabannya ada di film ketiga berikut ini.
 
Survive
Sinopsis :
Ada seorang pria misterius karena dia pake topeng mulu dalam tiap aksinya. Apa aksinya? Dia menahan dan menginterogasi seorang wanita di sebuah ruang kayak penjara. Apa tujuan dan maksud dari si pria bertopeng ini? Siapa wanita itu? Saya ga bisa membeberkan sinopsis lebih jauh lagi. Yang jelas ini seperti psikopat ala-ala Joker gitu lah. Tanpa tau apa maksud dan tujuan si pria bertopeng ini, kita disuguhi pertunjukan sadis dari pelaku kepada korban. Jika di film kedua kita "dikurung" di dalam hutan, maka di film ini set lokasinya hanya di rumah yang ada ruang kayak penjara tersebut.
 
Film psikopat tipe ini sebenarnya udah terlalu pasaran, yang pake topeng, hobinya ngebacot, ketawa-ketawa ga jelas, tiba-tiba ngomong sok lembut trus tiba-tiba marah-marah dan nyiksa orang. Padahal sebenarnya ada banyak kreasi psikopat yang bisa digunakan, seperti psikopat di film thriller Indonesia lainnya Fiksi dan Modus Anomali. Kalo bukan karena unsur akting yang bagus dari si psikopat maupun si korban, mungkin film ini berasa hambar.


But..dengan menilai ini merupakan langkah berani dalam melawan arus drama percintaan dan hantu-hantuan perfilman Indonesia, ini udah lumayan kok, alur cerita dan backstorynya bagus. Trus juga cara mereka editing dengan meletakkan sequence flashback disela-sela scene terkait, itu cukup baik untuk membentuk fondasi cerita.

Ketiga film ini pada kenyataannya bisa dibilang bukan trilogi yang sambung menyambung gitu, lebih tepatnya ini adalah 3 film berbeda yang berada di satu universe dengan satu benang merah di dalamnya. Kalian ga harus nonton secara berurutan, kalian bisa pilih mau yang mana dulu. Cuma saran saya, jangan nonton before credit title di film kedua. Wah itu harus yang terakhir deh kalo bisa.

Sekian review kali ini. Sampai jumpa di review berikutnya.

Keep calm and watching movies.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar